15| Perhatian Kecil

1051 Words
Sandy mendudukan bokongnya di atas meja Flo. Bersiap menyusun rencana dalam otaknya. "Gue butuh minum dulu," kata Sandy sambil mengambil botol minum milik Flo. Walaupun tidak tersentuh, Sandy masih berpura-pura seakan ia sedang menegak minum. "Ah, haus gue hilang." Flo mengerutkan kening, ia merasa semakin gila kalau berlama-lama menghadapi makhluk di depannya. Meski begitu, dalam hati ia masih bertanya apakah setiap ocehan yang Sandy katakan memang benar. Sandy mengangkat wajahnya, memberikan tampang serius kepada Flo. "Jadi, gini ternyata ekskul seni musik mau buat pentas seni dua minggu lagi." Flo masih menyimak setiap perkataan Sandy walau dalam hati ia berpikir kenapa ia tidah tahu masalah ekstrakulikuler sendiri. "Dari wajah lo gue udah nebak lo nggak tahu masalah ini." "Terus apa yang harus gue lakuin?" Flo menghela napas panjang. "Masalahnya di sini," sergah Sandy. "Ternyata mereka belum nyiapin biaya. Kayaknya emang sekolah lo ini nggak suport." Jujur, Flo baru tahun ini masuk keorganisasian. Ia tidak paham dengan prosedur dan tata caranya. Jadi, ia hanya menyimak penjelasan dari Sandy. Bagaimana seharusnya bendahara ekskul sudah menyiapkan biaya sebelum mengajukan proposal izin mengadakan kegiatan. Flo berpikir sepertinya dari awal memang sekolah sengaja menghambat kegiatan ekstrakulikuler seni musik. "Tapi dari omongan Bagas sama Alia kayaknya mereka dikasih waktu dua minggu itu dari sekolah bukan keputusan dari ekskul seni musiknya sendiri." Tepat seperti apa yang dipikirkan Flo. Kini Flo mulai berpikir bagaimana membantu mengumpulkan biaya dalam waktu dekat. "Terus maksud lo gue bantu jualan risol?" celetuk Flo. Sandy berdiri. Loncat dari atas meja yang ia duduki lalu menggeleng cepat. "Gue udah ada ide. Tadi Bagas sama Alia berdebat masalah sponsor. Jadi, lo harus bisa nyari sponsor." "Gimana caranya jir," desis Flo. Flo sama sekali tidak pernah tahu atau berpengalaman dengan masalah seperti ini. Rasanya ia ingin nyerah saja. Bukan apa-apa, kalau sampai nanti malah merugikannya Flo juga harus berpikir lebih dari sekali. Ia sedikit menoleh ke arah Tiara yang sudah menarik ujung bajunya. Matanya bertanya ada apa ke sahabatnya itu. "Duduk Flo, lo udah mulai diliatin orang-orang." Tiara memberi kode dengan alisnya yang naik turun. Ia melihat ke sekelilingnya. Baru menyadari kalau beberapa temannya sudah memandangnya bingung. Flo reflek melakukan senam dan berkomat-kamit menghitung satu dua tiga berulang-ulang. Kemudian Flo duduk di kursinya. Ia berbisik rendah kepada Tiara. "Kenapa baru ngasih tau, sih, lo," protes Flo. "Ya gue aja dari tadi lagi ngerjain tugas. Lagian kalian lagi ngomongin apa, sih?" tanya Tiara. "Kata Sandy, Bagas lagi nyari sponsor. Waktu itu kan tim bola-nya Beni juga pakai sponsor, bisa pake itu aja nggak sih?" "Ya enggaklah. Beni kan sport lu musik. Beda. Ini yg ngasih sponsor merk dari toko sepatu olahraga." Penjelasan Tiara kembali membuat Flo mendesah lemas. Ia menjatuhkan kepala di atas meja. "Gue perlu bantu apa kalau gitu." "Gimana kalau lo buat poster berisikan promosi buat nyari sponsor di internet." Tiara memberi usul. Ia juga ikut berpikir bagaimana caranya Flo agar bisa membantu Bagas. Flo melirik ke area Sandy. Seakan bertanya pendapat cowok itu. Sandy jelas mengangguk mengiyakan. "Ide bagus!" kata Sandy. "Nanti pulang sekolah kita desain poster itu." Sandy memutuskan untuk cepat melakukan itu. Ia tidak tahu apakah benar bisa membantu Flo atau tidak. Tapi ia akan berusaha. Setidaknya, dia tidak akan mau berleha-leha di saat orang kesusahan hanya karena dia. *** SMA Cakrawala adalah salah satu SMA swasta di ibu kota. Bukan termasuk jajaran SMA elit, tetapi peringkatnya masih masuk dalam sepuluh besar SMA swasta terbaik. Flo membuka loker miliknya, mengambil satu kunciran yang ia taruh di sana dan jas hujan. Flo memang menaruh jas hujan di lokernya untuk berjaga-jaga kalau ia lupa membawa jas hujan di tas. Benar saja, hari ini ia lupa membawa jas hujan sedangkan air dengan ramainya berjatuhan dari atas langit. Gadis itu mengikat rambutnya membentuk seperti ekor kuda. Setelah itu ia menggunakan jas hujannya. Pergerakan tangan Flo terhenti kala matanya menangkap sosok tembus pandang itu tengah berdiri di tengah lapangan. Air yang mengenai tubuhnya terlihat bersinar. Kepala Flo menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari tahu apakah benar-benar hanya dia yang bisa melihat itu? Namun, melihat orang di sekitarnya yang acuh tak acuh, Flo sadar kalau memang hanya dia yang menyadari itu. Flo segera memakai jas hujan itu. Meritsletingnya hingga rapat, lalu kakinya mulai mengayun menembus hujan itu. Sandy berdiam sambil memejam. Walaupun cowok itu sudah berdiri lama di bawah hujan, tetapi tidak ada satu pun air yang menempel di tubuhnya. Semuanya jatuh begitu saja. Menganggap Sandy sama seperti udara. "Mentang-mentang nggak bakal masuk angin," celetuk Flo. Suaranya terendam dengan suara rintikan. Namun, Sandy masih bisa mendengarnya. Sandy memperlihatkan tangannya yang menengadah. "Airnya jatuh gitu aja," kata Sandy sambil terkekeh. Namun, dalam kekehan itu terdapat kesedihan yang mendalam. Flo terdiam memerhatikan raut wajah laki-laki itu. Kemudian tangan Flo iku menengadah tepat di bawah tangan lelaki itu. Melihat ada tangan lain membuat Sandy mengangkat dagunya. Flo menyatukan tangan mereka. "Sekarang lo liat lagi nih," ucap Flo. "Tangan lo udah basah, kan?". Sandy kembali melihat tangannya yang sudah menyatu dengan tangan gadis itu. Sebenarnya, tidak ada yang Sandy rasakan. Semua terasa sama saja. Namun, ia tetap tersenyum tipis dan mengucapkan kata-kata hanya untuk menghargai usaha perempuan di depannya itu. "Ternyata dingin, ya," kelakar Sandy. Flo terkekeh karenanya. Sekitar tiga puluh detik mereka seperti sampai Flo merasa tidak ada lagi hujan di antara mereka. Flo mendongak, sebuah payung menghalangi jatuhnya air. Kemudian tatapan Flo perlahan turun hingga ke tangan yang menggenggam gagang payung itu. "Gue tau lo udah pake jas hujan, tapi lo bisa sakit kalau lama-lama di bawah hujan gini." Kelopak Flo bergerak, ia memastikan kembali netranya tak salah menangkap bayangan itu. Otaknya tidak salah dalam memproses siapa orang di depannya ini. "Kak Bagas," gumam Flo. Bagas sendiri heran kenapa ia tertarik sekali untuk memayungi seorang gadis yang terlihat asyik bermain hujan di tengah lapangan padahal ia sudah mau buru-buru pulang. Lelaki itu mengambil tangan Flo, menempatkan tangan itu di gagang payung. Bagas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kala payung itu sudah berpindah tangan. "Meskipun lo udah pake jas hujan, tetep pake payungnya, nih. Besok jangan lupa balikin." Bagas sudah mau berbalik, tetapi Flo sudah menahannya. "Kak Bagas gimana?" Bagas melihat cubitan di ujung jaketnya. "Gue naik motor jadi pake jas hujan, nggak mungkin pake payung, kan?" Setelah mengatakan itu, Bagas menutup kepalanya dengan tudung di jaket itu kemudian berlari dengan langkah lebarnya menuju tempat parkir motor. "Thanks, Kak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD