"Lo jangan kabur," peringat Flo. Telunjuknya teracung ke arah Sandy. Flo menguncir rambutnya membentuk ekor kuda. Sebelum menginjakkan kaki ke dalam ruangan itu, Flo memejamkan matanya merapalkan doa dan kalimat penenang di hatinya. Setelah merasa tenang, barulah Flo masuk.
Aroma pengharum dengan wangi apel itu menyapa indra penciuman Flo. Orang yang pertama kali Flo temui adalah guru IPS nya.
"Maaf, Pak, Bu Tuti ada?" tanya Flo sopan.
"Bu Tuti sakit jadi izin nggak masuk."
Kalau boleh Flo berteriak sekarang juga, tak menyangka kalau ujian remedialnya akan diundur. Perempuan itu melangkah keluar. Sandy terdiam menunggu Flo memberikan instruksi kepadanya.
Lalu yang terjadi perempuan itu menari-nari kegirangan. "Enggak jadi ulangan, enggak jadi ulangan!"
Sandy mengerjapkan matanya. Keningnya mengeriput. "Enggak jadi?"
Flo mengangguk sambil terkekeh. Tubuh cewek itu masih bernari sambil berjalan ke arah kelas. Tiara yang melihat tingkah aneh Flo hanya memalingkan wajah seakan tidak mau melihat dan ikut malu.
"Ra! Gue enggak jadi ulangan."
Tiara berdecak panjang. "Gara itu lo kayak kecacingan?"
Flo duduk di kursinya masih dengan kekehan. Rasa senang tidak ulangan seperti melebihi kesenangan apa pun. Padahal itu hanya kesenangan sementara alias ujian itu bisa aja dilakukan besok.
Tapi tetap saja Flo menari kegirangan. Perempuan itu lalu menyapukan pandangannya ke ruangan untuk mencari Sandy.
Matanya memandang datar ke arah makhluk yang kini tengah meniup-niup leher temen sekelasnya. Saat kedua matanya berpapasan, Flo menyuruh Sandy mendekat dengan satu jarinya.
Sandy melangkah ke arah Flo. "Apa?" tanya cowok itu.
"Lo nggak ada kerjaan lain selain gangguin manusia?" Flo melipat kedua tangan di depan dadanya. Sambil bergeleng tak habis pikir.
"Gue, kan, gabut," jawab Sandy santai.
"Mending lo ngelakuin hal bermanfaat. Seperti ngikutin Bagas misalnya. Biar masalah lo cepet selesai."
Sandy mengendikkan bahunya. "No problem!" kata makhluk itu lalu menjentikkan jari dan menghilang.
Flo sampai berjengkit. Ia mengusap dadanya karena kaget. Masih tak menyangka kalau dia bisa berteman dan bergaul dengan makhluk yang dulu ia takutin.
***
Sandy berjalan santai ke arah kelas Bagas. Beberapa kali ia menabrak tubuh manusia. Saat bertabrakan seperti ada sengatan kecil menyerangnya. Lelaki itu melangkah dan sampailah di depan ruang kelas Bagas.
Ruang kelas cowok itu memiliki ukuran lebih kecil dari ruangan Flo. Mungkin karena perbedaan kelas di antara keduanya. Flo berasal dari kelas IPS, dan Bagas dari kelas IPA yang memiliki jumlah siswa lebih sedikit.
Netra Sandy bergerak mencari keberadaan Bagas.
"Itu dia," gumamnya lalu melangkah ke arah Bagas.
Sandy mendudukan bokongnya di kursi samping lelaki itu. Tampaknya teman sebangku cowok itu belum datang.
"Lo tau nggak sih, kalau bukan karena gue terpaksa, gue ogah ngintilin lo gini."
Bagas masih terdiam di bangkunya. Tangannya sibuk membolak-balikan buku. Sampai akhirnya Bagas berdiri. Sandy pun ikut berdiri.
Bagas berjalan keluar. Sandy mengekorinya. Ia masih tak tahu mau ke mana Bagas berjalan.
"Lo nggak pernah suka ngomong sendiri gitu?" tanya Sandy. "Sumpah gue gabut banget nggak diajak ngobrol gini."
Sampai tubuh Bagas berbelok ke kamar mandi. Barulah Sandy menghentikan langkahnya.
Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Sandy terbiasa terlihat oleh Flo. Maka ketika ia menjadi orang yang tak terlihat sama sekali seperti ini, Sandy merasa ketidaknyamanan itu.
Cowok itu sudah mulai menunjukkan ketidakbetahannya. "Ah, elah kencing doang lama banget."
Tepat saat Sandy mengeluh seperti itu Bagas keluar dari toilet.
Bagas mengerut keningnya lalu menghela napas berat. Sandy menaikkan satu alisnya. "Lo nggak ngobrol sendiri gitu? Ayolah ngobrol, ceritain masalah lo apa. Ayolah, Bro!"
Sandy makin frustrasi tatkala Bagas malah berjalan menabrak dirinya. Sandy menghela napas pasrah.
Sampai pada akhirnya Bagas berhadapan dengan Alia. Sandy sudah hampir ingin meninggalkan Bagas saja. Namun, urung ketika melihat raut ketegangan di antara keduanya.
"Nggak usah dipaksa lah, Gas. Kalau emang nggak bisa ya udah kita batalin."
Bagas mengernyitkan dahinya. Matanya memandang Alia tak menyangka. "Lo enteng banget bilang gitu," ujar Bagas tak menyangka dengan apa yang ia dengar.
Pasalnya Alia tahu, sangat paham kalau ini adalah keinginan dia dari kelas sepuluh. "Gue bakal ngelakuin cara biar pentas seni ini terwujud." Lalu Bagas pergi meninggalkan Alia.
Alia menggeram kesal, ia tak mau menurunkan egonya. Tak mau mengalah dengan hal apa pun. Untuk itu ia mengejar Bagas, kembali mendebat lelaki itu dengan apa yang ia pikirkan.
"Lo pikir aja, Gas. Waktu yang sekolah kasih buat kita ngadain acara itu dua minggu lagi. Lo pikir sekarang gimana dapetin uang selama dua minggu, hah? Mau ngepet lo?" sarkas Alia. Cewek itu berusaha berpikir rasional. Tak mungkin mengadakan acara tanpa ada biaya. Dan biayanya tidak akan kecil. Sedangkan uang kas ekskul mereka tidak cukup untuk membiayain pentas yang dimaksudkan oleh Bagas.
"Gue bakalan berusaha nyari sponsor."
Seperti alarm, kepala Sandy sudah merekam setiap adegannya. Sampai ke kesimpulan akhir kalau Bagas tengah mencari sponsor.
"Udah ketemu lagi? Kita udah ditolak waktu itu."
Bagas tersenyum miring. "Cuma sekali ketolak, gara-gara itu lo nyerah?" sindir Bagas. Cowok itu merubah ekspresi wajahnya kembali datar. Tangannya ia masukkan ke dalam saku. Matanya lurus menatap Alia.
"Gue nggak pernah maksa lo untuk ngelakuin sesuai sama apa yang gue mau. Kalau lo ngerasa keberatan silakan lo tinggalin aja. Itu lebih baik ketimbang lo berusaha merubah keputusan gue kayak sekarang ini," telak Bagas. Kemudian ia berlalu melewati tubuh cewek itu.
Sandy yang melihat Alia terdiam dan sedikit menggeram itu hanya menepuk bahu Alia. "Sabar ya, Al," kata Sandy sok akrab. Padahal Alia pun tidak dapat melihatnya.
Sandy lalu berlari mengikuti Bagas lagi. Cowok berpenampilan rapi itu tampak kesal. Ia sampai menggeser bangkunya dengan kaki. Membuat kegaduhan sendiri sehingga teman-temannya menoleh.
Kemudian Bagas terlihat memainkan ponselnya. Mendial salah satu kontak dan menempelkan ke telinga.
"Udah ketemu?" tanya Bagas kepada orang di seberang sana.
"Ngerjain gini aja nggak bisa lo," kata Bagas tajam lalu mematikan sambungan itu. Dirinya sangat frustrasi saat ini, Bagas mengacak rambutnya. Apakah acara yang ia idam-idamkan selama dua tahun ini harus pupus begitu saja? Batin Bagas bertanya.
Sandy yang melihat itu seperti muncul lampu di kepalanya. Ia langsung berbalik dan berlari ke arah kelas cewek itu.
Saat Sandy sudah berada di ambang pintu sepersekian detik ia melongo karena Flo yang tengah mengadakan konser dadakan di depan kelasnya.
Apa dia sudah putus urat malu? Batin Sandy bertanya-tanya.
Lalu cowok itu berdiri di depan Flo. Flo seketika terdiam.
"Loh kok diem Flo?" tanya teman lelaki Flo. Flo melempar gagang sapu yang ia pakai. Ke arah temannya itu.
"Penyanyi papan tas udah capek."
Kemudian Flo berjalan ke arah bangkunya. "Jadi apa yang udah lo temuin?" bisik Flo.