2| Bukan Makhluk Halus

1208 Words
Hari ini benar-benar hari yang menyebalkan bagi Flo. Setelah tadi di sekolah ia harus menerima hukuman dari Pak Asep, sepulang sekolah ia tidak bisa dijemput oleh abangnya. Alhasil cewe itu harus pulang menggunakan angkutan umum yang sumpeknya melebihi gudang di rumahnya. Tatkala dirinya sudah menginjak teras rumah, Flo mengucapkan salam dengan suara yang lemah. Rita yang tengah selonjoran di depan televisi. Hanya melihat anak perempuannya sekilas dan menjawab salam itu. “Cepet ganti baju sana terus makan siang.” Flo menjawab dengan deheman malas. Langkah gontainya ia arahkan pada kamarnya di lantai atas. Ia sudah merencanakan sesuatu yang akan dia lakukan setelah ini. Seusai makan nanti dia akan tidur di kamar, menempatkan badannya di atas kasur nan empuk itu dan melupakan kepenatan yang ia rasakan sekarang ini. Dan hal itu akan ia lakukan sampai menjelang malam. Setidaknya sebelum ia kembali disibukkan untuk menyelesaikan hukuman yang tadi diberikan Pak Asep. Ia memutar kenop pintu kamarnya. Aroma pewangi ruangan berbau strawberry menyambut indra penyiumannya. Flo kembali menutup pintu kamar itu, dan meletakkan asal ranselnya. Baru saja ia hendak membuka lemari, tetapi ekor matanya seperti melihat sesuatu kala ia melewati meja belajarnya. Flo menelan salivanya susah payah, dan ketika nyalinya cukup terkumpul untuk melihat siapa yang sedang berdiri tepat di samping meja belajarnya. Saat itu juga ia seperti ingin mati saja. "E-elo si-siapa?" "Gue--" Bruk! Flo terjatuh pingsan sebelum makhluk itu sempat menyebutkan dirinya. Flo tidak takut dengan siapa pun bahkan Sesil yang notabenenya ditakuti siswi-siswi lain pun dapat Flo lawan. Namun, beda halnya dengan sesuatu berbau mistis. Ia rela dimasukan ke dalam kandang harimau asalkan jangan di dalam gudang sendirian. *** Flo terbangun ketika ia mencium aroma minyak gosok yang aromanya sangat menusuk. Flo menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menghindari minyak yang masih dengan gencarnya di arahkan ke hidungnya. Ia memaksakan diri membuka mata, mengerjap kala sinar lampu ruangan itu masuk ke retina matanya. "Nah, bangun juga. Dicky bilang apa, Ma, nggak usah panik." Suara kakaknya yang sedang berbicara dengan ibunya. Rita tak memedulikan ucapan anak laki-lakinya malah memijat-mijat tangan Flo sembari berkata cemas. "Flo kenapa, Nak? Kok bisa pingsan gitu?" Flo terdiam, ia berusaha memutar memorinya mengingat apa penyebab ia pingsan. "Ma!" seru Flo ketika mengingatnya. "Flo tadi ngeliat setan, Ma!" "Hah?" ucap berbarengan Rita dan Dicky. *** Setelah ia mendengar isakan tangis seorang perempuan, Sandy seperti terlempar ke sebuah dimensi lain. Ia terus terlempar tanpa dapat membuka matanya kembali. Yang ia rasakan hanyalah embusan udara yang sangat kencang di sekitarnya. Tubuhnya juga berguncang hebat. Ia masih tidak menyadari apa yang terjadi. Apakah truk itu sudah berhasil menabraknya? Mengapa ia tidak merasakan kesakitan itu? Apa ia masih hidup? Lalu ada apa ini? Berbagai pertanyaan bergelut di pikirannya berusaha menyaingi apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Hingga akhirnya semuanya lenyap. Kini yang ia rasakan hanya kedamaian. Tak ada lagi embusan yang kencang, tubuhnya tak lagi berguncang. Dan ketika ia berusaha membuka mata, kedua kelopak matanya dengan mudah terbuka. Sandy menghela napas lega, bersyukur tak terjadi apa-apa. Namun, setelahnya ia menyadari sesuatu. Ruangan ini asing baginya. Ia menelusuri setiap jengkal dari ruangan itu, kembali berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Kakinya mulai bergerak mengelilingi ruangan itu. Melihat dan memandangi seluruh benda di ruangan itu. Ia tengah berdiri di antara lemari dan tempat tidur. Ia berjalan ke arah meja belajar yang berada tepat di seberang kasur melewati meja yang berisikan peralatan anak perempuan. Yang ia tahu saat ini adalah ia berada di dalam kamar anak perempuan. Dan ketika Sandy melihat meja belajar itu ia mengetahui bahwa anak perempuan itu adalah pelajar SMA. "Ini kamar siapa, sih?" "Horor banget gue tiba-tiba bisa di sini," gumamnya pada diri sendiri. Setelah ia cukup puas menelusuri ruangan itu, Sandy berniat keluar dari kamar dan sekali lagi ingin mengetahui di manakah saat ini berada. Namun, niat itu terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Cowo itu tidak bisa memegang kenop pintu itu. Ia berlari menuju kaca di atas meja rias. "Gue tembus pandang." Sandy berdiri membeku. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Ia memilih duduk di atas kasur, berusaha kembali mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Namun, semuanya nihil, tidak ada yang bisa ia ingat kecuali kejadian beberapa waktu lalu. "Argh! Gila, bener-bener gila, gue nggak mungkin setan 'kan. Lah, kapan gue mati coba." Ia memegang dadanya tepat di mana jantung berada. Tangannya merasakan detakan itu. Jantungnya berdetak. "Gue masih hidup. Tapi kenapa gue bisa tembus pandang?" Sandy kembali berdiri dan berjalan mondar mandir. Ia bingung apa yang selanjutnya harus ia lakukan. Dia harus kembali, kembali ke rumah. Ia harus kembali menjadi manusia semula. Namun, apa yang harus ia lakukan agar dapat menjadi seperti semula. Siapa yang akan membantunya? Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Menampilkan sesosok anak SMA masuk dengan raut muka kusutnya. Ia memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah. Ketika pandangannya kembali ke atas pandangannya bertubrukan dengan mata gadis itu. Gadis itu terlihat terkejut, matanya membelalak seperti bola mata itu ingin keluar. "E-elo si-siapa?" "Gue--" Belum sempat kalimatnya usai tubuh gadis itu langsung tergeletak tak sadarkan diri. "Yaelah make pingsan." Sandy menyugarkan kepalanya gusar. "Flo!" Terdengar jeritan suara wanita dari arah luar pintu. Sandy panik, belum sempat ia bersembunyi pintu itu kembali terbuka. "Flo! Ya ampun!" jerit wanita berusia seperti mamanya itu. Ia berdiri berhadapan dengan wanita itu, tetapi sepertinya ia tidak dapat dilihat. Tak beberap lama kemudian seseorang yang berusia sama dengannya masuk. Mungkin itu kakaknya, pikirnya. Sang kakak tampak tenang menggotong adiknya ke atas kasur, dan sang ibu yang sangat terlihat jelas khawatir. Sandy hanya memperhatikan semua itu di samping tempat tidur. Sampai akhirnya perempuan itu terbangun. "Ma! Flo tadi ngeliat setan, Ma!" "Hah?" ucap berbarengan Rita dan Dicky. Sandy sudah dapat menebaknya. Perempuan itu pingsan karena mengiranya makhluk halus. "Masa sih? Mana ada di sini setan, kita udah tinggal di sini lama, Flo." "Lo ada-ada aja deh, Dek." "Ya ampun Flo ngga bohong. Tadi Flo ngeliat." Flo berusaha menjelaskan, tetapi kakak dan ibunya malah mengibaskan tangan. "Udahlah, mungkin kamu capek kali karna ditolak masuk senmus, haha!" Dicky kembali menggoda adiknya lalu tanpa memedulikan raut wajah dongkol adiknya ia berlalu pergi dari kamar itu. "Ma." Flo memasang wajah memelas. "Flo, kamu itu terlalu takut setan, mungkin itu cuma halusinasi kamu doang. Makanya jangan 'terlalu' takut sama sesuatu." "Tapi, Ma, aku bener-bener--" "Floo, udah ah, kamu mungkin lagi kecapean. Kamu belum makan 'kan? Mau Mama bawa ke sini atau mau makan di luar?" "Di luar aja!" tukas Flo, ia masih takut berada sendiri di kamarnya. Rita mengangguk dan mengusap kepala anak perempuannya menenangkan. "Yaudah, Mama keluar dulu." Kini tinggalah ia sendiri di kamarnya. Sebenarnya tidak sendiri, jika ia mau menoleh ke samping kirinya ia akan menemukan sesosok laki-laki yang tengah menatapnya dengan bertopang dagu. Sandy dapat melihat gelagat bahwa cewe itu akan segera melihatnya kembali. Dengan gerakan tangan ia menghitung dari angka 1, 2, dan ketika jari manisnya terangkat menjadi 3, pada saat itu juga Flo menoleh ke arahnya. "JANGAN TERIAK!" tegas Sandy ketika Flo baru akan membuka mulutnya. "JANGAN PINGSAN JUGA!" ucapnya lagi kala cewe itu sudah ingin menjatuhkan tubuhnya. Sontak Flo langsung melotot tak percaya. Mulutnya mengap-mengap sulit bicara. "Aduh, muka lo kenapa kayak lagi liat setan gitu, sih." "Emang lo setan!" tukas Flo. Ia memegang lehernya, suaranya kembali. "GUE BUKAN SETTAN!" Flo terlonjak, settan itu mengaku bukan settan? Dasar setan nggak tahu diri!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD