Flo mematutkan dirinya di depan cermin. Sambil bersenandung ia menyisir rambut bergelombangnya.
"AAKU WANITAA YAAANG SEDANG JATUH CINTAAA!"
Oh, mungkin lebih tepatnya sedang berusaha membuat gendang telinga orang rusak.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu yang keras dari arah luar.
"Flo! Masih pagi ngapain jerit-jeritan gitu!"
Flo terdiam kala mendengar teriakan mamanya dari luar. "Siapa yang jerit-jeritan?" tanyanya pada diri sendiri. Pintu itu terbuka. Mama dengan celemek kesayangannya dan tangan kanan yang memegang spatula berdiri di muka pintu dengan raut kesal.
"Ma, aku tuh lagi latihan vokal," sahut enteng Flo lalu kembali melanjutkan aktifitas menyisirnya. "Mama nggak tau kalo minggu depan aku mau duet bareng BCL."
"Belum Cebok Lari! Yang bener ah kamu, malu sama tetangga, pagi-pagi udah berisik," ujar Mama lalu keluar. Flo melihat kepergian sang mama dengan gerutuan tidak jelas. "Nama bagus-bagus Bunga Citra Lestari kok jadi itu."
Gadis itu kembali menghadap cermin. Diletakkannya sisir itu di atas meja rias. Ia melihat penampilannya dari atas sampai bawah dan pandangan itu terhenti pada benda indah yang melingkari leher mulusnya. Tangannya terangkat untuk menyentuh benda itu. Flo tersenyum, ia tampak sangat menyukai benda temuannya.
"Kalo yang punya nyariin gimana, ya?" Ia bergumam.
"Ah, bodo amat lah, siapa suruh dijatohin." Flo kembali merapikan baju seragamnya yang sedikit berantakan setelah itu ia langsung menyambar ranselnya lalu keluar dari kamar.
Tepat setelah ia menutup pintu samar-samar sesosok makhluk tiba-tiba muncul sedang berdiri di samping tempat tidurnya dengan mata terpejam.
***
Meja makan itu kembali ramai karena kehadiran dua anak manusia yang memiliki sifat tidak beda jauh. Flo yang sudah terbiasa meladeni kejailan kakaknya dan Dicky yang terbiasa mendengar jeritan sang adik. Benar-benar membuat orang yang mendengarnya ingin melempar mereka berdua dengan bantal atau kasurnya sekalian.
"Dari kelas sepuluh sampe sekarang belum jadi anak senmus juga?" tanya Papa pada Flo.
Flo baru hendak menjawab, tetapi Dicky sudah menyelanya. "Nggak bakal diterimalah, ngancurin reputasi senmus kalo dia diterima."
"Sok tau!"
"Eh padahal kalo dipikir-pikir harusnya lo diterima, Dek. Lumayan 'kan, buat jadi asisten mereka kalo mereka lagi tampil."
"Bang Dicky!"
"Bawain barang-barang mereka. Bawain minuman, mayan tuh job sampingan lo," lanjut Dicky membuat sang adik mengamuk.
"Bang Dickkyyy!"
Dicky tertawa geli melihat respon adiknya yang saat ini malah melemparinya dengan irisan ketimun. "Sekali lagi resek, gue lempar pake ini!" Flo mengacungkan garpu yang ada di tangan kirinya.
"Ntar gue lempar balik pake ini." Dicky membalas ucapan adiknya dengan menunjuk piring makanannya.
"Sekali lagi kalian berisik, mama lempar pake ini." Mama menunjuk meja makan. "Makan cepet kalo nggak mau dimakan."
"Mama mau makan nasgor kita?"
"Makan kalian!"
Flo meringis mendengar seruan mama. Dicky berdehem lalu minum air di gelasnya. "Kenapa mama nggak 'makan' papa aja?"
"DICKY!" seru Papa menggelegar.
"Aw!" Dicky meringis kala sang mama yang memukul kepalanya menggunakan sendok nasi. Dan sialnya sendok nasi yang dipakai saat ini terbuat dari besi.
***
SMA Cakrawala sudah ramai di datangi penghuninya. Hari ini adalah hari penerimaan murid baru jadi tak heran kalau wajah-wajah baru akan muncul saat ini.
Sepuluh menit lagi jam menunjukan pukul tujuh, dan Flo baru saja tiba di sekolah. Keadaannya saat turun dari motor sang kakak sangat berbeda ketika ia berada di depan kaca sebelumnya.
"Parah lo, Bang, jantung gue kayak ketinggalan gitu tadi."
Dicky membuka helm full facenya. Ia terkekeh ketika melihat penampilan sang adik. Rambut yang digerainya berantakan, dasi yang ia pakai miring, serta muka pucat sang adik yang tambah membuat Dicky bahagia setengah mati.
"Kata lo udah terlambat tadi, udah sana masuk." Dicky mendorong tubuh Flo yang masih kaku karena baru pertama kalinya merasakan diboncengi lorenzo tadi.
Dengan kondisi jalan yang padat kendaraan, Dicky dengan lihai melewati, menyalip, dan menerobos sela-sela sempit di antara kendaraan. Membuat Flo selama di perjalanan itu merasakan panik dan waswas. "Bang Dicky! Mati jangan dicari, Bang, nanti juga nongol sendiri, ya ampun," ucapnya ketika di perjalanan tadi.
Dengan kaki yang lemas dan jantung yang masih berpacu cepat Flo berjalan masuk ke sekolahnya. Pandangannya lurus ke depan, langkahnya santai padahal sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Di saat murid-murid lain berlarian berhambur ke kelas, Flo masih dengan santainya berjalan tidak menghiraukan kondisi sekeliling. Sampai-sampai seseorang yang berlari tak sengaja menubruk tubuh lemasnya. Flo terjatuh, baru ia hendak memarahi orang itu, tetapi suaranya tertahan ketika suara orang yang menubruknya terdengar terlebih dulu.
"Sorry, gue nggak sengaja. Sini gue bantu." Orang itu membantu Flo berdiri kembali. Kemudian orang itu kembali berlari meninggalkan Flo yang kini tengah memandang kepergiannya.
"Kalo yang nabrak lo, gue rela memar kok, Kak," racau Flo sambil tersenyum lalu kembali berjalan dengan semangat. Rasa lemas, panik, waswas, dan shock yang ia rasakan hilang begitu saja.
***
"Lo yakin mau daftar di senmus lagi?!" pekik Tiara ketika melihat formulir pendaftaran yang baru saja Flo dapat dari salah satu anggota seni musik.
Keadaan kelas yang hening membuat pekikan Tiara terdengar oleh teman-teman satu kelasnya. Mereka serempak melihat ke arah Flo dan Tiara yang duduk di bangku ketiga barisan paling pojok.
"Flo mau daftar senmus?" tanya Sesil, musuh bebuyutan Flo sejak SMP.
"Lo nggak kasian sama Kak Bagas, apa? Nanti dia ganteng-ganteng bisa budek gara-gara lo." Sesil tertawa disusul oleh teman satu kelasnya.
"Eh, Sesil bener juga, Flo," ucap polos Tiara yang dihadiahi cubitan kecil oleh Flo. "Ngeselin banget sih lo, Ra!"
"Aaa! Sakit Flo." Flo melepas cubitannya. Tiara mengerucutkan bibirnya sambil mengusap lengan yang menjadi korban kekerasan Flo.
"Kenapa lo, sirik aja sama gue. Bilang aja lo iri 'kan nggak punya kesempatan bisa deket-deket Kak Bagas."
"Ngapain gue iri sama orang yang nggak tau malu!"
"Sesil! Terus mau lo apa? Mau ribut lo sama gue?! Nggak takut!" balas sengit Flo.
Sontak teman-teman satu kelasnya segera berdiri. Bukannya menghalangi atau melerai mereka justru mempersilakan jalan untuk kedua cewe yang sedang berseteru itu dan mulai menyoraki keduanya.
Flo dan Sesil mulai berjalan berhadapan. Keduanya sama mengepalkan tangan, wajah mereka memerah sudah siap meluapkan emosi masing-masing.
Anak laki-laki yang awalnya berkumpul di pojokan kelas kini mereka sudah mengelilingi Flo dan Sesil yang sudah berhadapan. Sedetik kemudian keduanya sudah berada dalam perkelahian. Para murid laki-laki menyoraki mereka memberi semangat.
"Gue pegang Flo nih, pitingannya jago."
"Gue megang Sesil, liat dong 10 senjatanya tuh runcing-runcing."
Mereka tambah gencar meneriaki nama Flo dan Sesil ketika dilihat kedua cewe itu sudah sama-sama kelabakan. Keadaan kelas yang sangat berisik mengundang tanda tanya dan rasa penasaran bagi kelas-kelas sekelilingnya. Murid-murid dari kelas sebelah mengerumuni kelas yang sudah berganti fungsi menjadi arena bertarung itu.
Tak lama seorang guru BK masuk lalu meneriaki nama Flo dan Sesil.
"Yailah, si Asep ngapain dateng sih," keluh anak laki-laki berbisik karena melihat Pak Asep yang sedang berusaha memisahi Flo dan Sesil.
"Kalian kenapa pada ngeliatin?! Bantuin Bapak misahin mereka!"
Pak Asep meminta bantuan kepada anak-anak lain, ia kewalahan karena tak bisa memisahi Flo dan Sesil yang sedang mengamuk.
Dengan berat hati anak-anak cowo itu pun mendekat dan memisahi kedua cewe paling top di kelas mereka itu.
"Kalian berdua, ikut saya ke kantor!"
Lagi, untuk kesekian kalinya Flo harus memasuki ruang BK. Ia menatap sinis rivalnya yang berpenampilan sama berantakan dengannya.
"Apa lo liat-liat?!" seru Sesil yang dibalas dengkusan kasar oleh Flo.