(Kejadian yang sesungguhnya) Aku menguap lebar. Memikirkan hal itu membuatku mengantuk. Kupejamkan mataku mencoba menghilangkan ketakutanku. Semoga orang itu tidak meneleponku dalam waktu dekat. Kurasakan bahu kananku berguncang pelan. Rasanya belum lama aku tertidur. “Di, hei, bangun.” Sontak saja mataku terbuka lebar. Hal pertama yang kulihat adalah mata biru milik Galih. Dia duduk di tepi tempat tidur. “Galih!” Aku memekik memangil namanya lalu memeluknya. Kejadian tadi seakan berputar lagi. “Aku takut! Ada orang yang neror. Bilang kalau hidup kita enggak akan bahagia. Terus dia nyebut-nyebut peringatan. Dian enggak ngerti.” “Kamu enggak perlu mikir itu, Di. Itu cuma orang iseng.” Ucap Galih datar. Dia bahkan tidak memelukku kemba

