Setelah keluar dari mobil hammer kesayangannya, Galih melangkah memasuki rumah itu. Di pikirannya hanya satu yaitu istrinya. Karena terjebak macet tadi, dia tiba di rumah hampir jam makan malam. Galih tersenyum kecil mengingat betapa marahnya Diandra saat tahu dirinya belum pulang juga. Ada sedikit rasa senang ketika Diandra memarahinya. Tetapi ada juga rasa tidak sukanya pada anak kecil itu karena sudah membentaknya ditelepon. Dan benar saja, di rumahnya sangat sepi. Orangtuanya mungkin pulang setelah makan malam. Dan adiknya—Bogi tidak terlihat batang hidungnya. Sambil menaiki anak tangga dan mengangkat satu tas besar pakaian Diandra, Galih meraih ponselnya yang berada di saku celananya kemudian menelepon Bogi. “Halo, Kak? kenapa?” Tanya Bogi dari seberang sana. “Kamu di mana, Gi?”

