“Aw, Sialan!” Suara Galih mengerang lalu berteriak. Apa dia marah padaku? Takut-takut aku mendongak dan yang kudapati Galih terduduk di lantai dengan kedua tangan berada di kepala. Jendela kaca kamar yang tertutup tirai putih terlihat berlubang dengan pecahan kaca di mana-mana. “Galih!” Setengah berteriak, aku mendekati Galih. Kutarik kedua tangannya dari wajahnya. “Coba Dian lihat.” Kataku. Perlahan Galih melepas tangannya. Galih mengerang, menutup matanya rapat-rapat. Mataku melebar melihat kening Galih berdarah. Ada luka robek di kening kirinya. “Kepalaku kayak ketimpa batu. Pusing!” Desisnya menahan sakit. Kalau darah itu tidak segera ditutup, bisa-bisa Galih kehabisan darah. “Mana kotak obat kamu?” tanyaku panik. “Enggak perlu.” Erangnya. “Enggak perlu? Ini luka. Kalau engga

