Chapter 10 Diandra : Kakaknya Bogi

1064 Words
Akhirnya, aku mengalah. Dengan malas, aku menghampiri Galih yang masih sibuk sendiri. “Halo, Galih.” Sapaku. Setengah takut, aku mencium pipi kanannya. Singkat! Kemudian duduk di sampingnya. Hishh! “Hai, Di.” Sapanya mencium pipi kiriku kemudian kembali membaca majalah itu seperti tidak terjadi apa-apa. Aku merengut. Untuk apa dia ikut mencium pipiku? Kak Daffi malah tersenyum-senyum seraya mengunyah makanannya yang membuatku sebal lalu kulempar potongan mentimun yang ada di piringku kepadanya dan tepat mengenai dahinya. Rasakan! “PMS kamu ya, Dek?” Gerutu kak Daffi. Aku mendengus. Selera makanku hilang. Aku hanya meraih dua potong roti lalu menggigitnya kemudian berdiri. “Galih, ayo kita jalan. Aku sudah telat.” Kataku diantara kunyahanku. Dia menutup majalahnya lalu menatapku tajam, “Duduk.” Katanya. Namun sedikit memerintah. “Makan dulu nasi goreng kamu baru kita jalan.” Sambungnya lagi menarikku duduk. Percuma adu opini dengan Galih. Dia pasti menang. Dengan cemberut, aku kembali duduk lalu memakan sisa rotiku dengan sangat beringas. “Papi senang sekali sama kamu, Galih.” Ujar Papi seraya mengunyah rotinya lalu tersenyum pada Galih. “Kamu bisa mengendalikan Diandra. Kami bertiga saja tidak bisa.” Tawa Papi. Kuputar mataku. Memangnya aku macan yang harus dikendalikan? “Biasa saja, Pi.” Jawab Galih. Huh! Biasa apanya? Memangnya aku ini anak buahmu! “Mami juga setuju sama Papi. Kamu lebih pintar mengendalikan Diandra.” Timpal Mami kemudian tersenyum. “Biasanya, dia itu paling susah kalau bangun pagi dan sarapan pagi.” Aku semakin merengut. Untuk apa Mami membuka kartu matiku segala? Dan, pria sombong di sampingku itu tersenyum tidak jelas. Apa yang lucu? “Saya cuma mau mengimbangi Diandra, Mi.” Jawab Galih masih tersenyum-senyum tidak jelas. Kak Daffi yang biasanya membelaku malah menertawakanku. Menyebalkan. Dengan beringas, aku menyuapkan nasi gorengku lalu meminum s**u coklatku sampai habis. “Sudah selesai.” Desahku kekenyangan. “Ayo berangkat.” Lanjutku kemudian berdiri. “Dah, Mami, Papi sama Kakak Daffi menyebalkan!” Teriakku sambil lalu. “Ayo Galih. Cepat.” Perintahku. Kali ini pria sombong itu harus menuruti aku. *** “Dah Galih.” Kataku melambaikan tangan pada Galih yang hendak bersiap-siap pergi meninggalkan sekolah. Berharap dia cepat-cepat pergi dengan cara melambaikan tangan dengan manis kepadanya. “Heh kecil, belajar yang rajin. Jangan sampai bolos.” Tegasnya menatapku dengan mata birunya dari balik kemudi. “Kecal … kecil … kecal … kecil ….” Gerutuku. “Nama aku Diandra.” Kataku berkacak pinggang menatapnya kembali dengan sebal. Yang ditatap hanya melengos. Kakak dan adik sama saja. “Hei, Pendek!” Hah, panjang umurnya serta mulia. Baru saja dibatin, orang itu sudah muncul entah dari mana. Bogi berjalan riang menghampiri kami berdua. “Eh ada, Kak Galih.” Sapanya cengar-cengir. “Sudah sana masuk.” Usir Galih. Aku mencibir, tidak perlu diusir juga aku akan masuk kelas. “Iya. bawel.” Gerutuku lalu  meninggalkan mereka berdua. “Pulang sekolah nanti aku jemput. “ Suara Galih berteriak lantang. Membuat para siswa menatapku heran.  Ah, apa peduliku. Biarkan saja. “Iya!” Teriakku tanpa berbalik lalu berlari ke dalam sekolah. Sayup kudengar Bogi meneriaki namaku layaknya maling. Aku semakin mempercepat lariku. Tepat setelah aku masuk kelas, bel berbunyi. Hah! Syukurlah. Kali ini aku tidak terlambat. Farah—teman sebangkuku tersenyum padaku lalu duduk di sampingku. “Keren tadi yang antar kamu, Diandra.” Bisik Farah. Aku menatapnya. Keren katanya? Dari sudut mananya keren. “Orang menyebalkan begitu dibilang keren.” Dengusku kemudian kembali menatap papan tulis dengan malas. “Pacar baru, ya?” Bisik Farah lagi. “Bukan.” Kataku pelan. Ingin rasanya aku bercerita pada Farah. Namun aku tidak bisa. Galih sudah mewanti-wanti untuk tidak menceritakan pada siapa pun termasuk pada kedua temanku ini. “Terus siapa dong pria tampan itu?” Tanya Farah dramatis. Bagaimana reaksinya jika tahu Galih itu kakaknya Bogi, ya? “Kakaknya Bogi.” Kataku kalem. “AP—” Sebelum dia berteriak lantang, buru-buru kututup mulutnya dengan kedua tanganku. “Jangan berisik.” Gerutuku. Farah mengangguk dalam bekapan tanganku. Setelah kupastikan dia tidak berteriak, baru kulepaskan bekapanku. “Ih, paling juga dia dan Bogi enggak jauh beda.” Ujar Farah bergidik. “Sebelas dua belas.” Lanjutnya. “Memang.” Gerutuku mengepal-ngepalkan tangan kananku lalu memukul meja dengan gemas. Farah mengangguk setuju. *** “Aduh, aku mau pipis. Aku ke toilet dulu, ya.” kataku pada Farah dan Metha yang sedang mengantri di kantin. “Titip buat aku juga. Samakan saja seperti pesanan kalian.” Kataku lagi kemudian berlari cepat ke toilet siswa yang berada tidak jauh dari kantin. Aku mendesah lega saat keluar dari toilet. Namun, baru beberapa langkah, sebuah tangan menarik tangan kananku, membuatku berhenti berjalan. Tangan itu menarikku cepat dan menyeretku ke belakang toilet sekolah. Mataku melebar ketika tahu siapa yang menarik tanganku. “Mau apa kamu, Kev? Lepas tanganku!” kataku meronta mencoba keluar dari cengkeraman tangannya yang lumayan kuat. Dengan kasar, dia memojokkanku ke dinding. “Tadi pagi kamu diantar siapa?!” tanya dengan nada marah. Untuk apa dia menanyakan kepadaku dengan siapa aku pergi? Dia sendiri pergi dengan wanita itu beberapa kali, aku masih percaya. “Enggak perlu kamu tahu sama siapa aku pergi. Kita sudah selesai.” Kataku kesal. Kemana saja dia selama ini? Dia tidak pernah perhatian kepadaku, aku tidak apa-apa. Aku mengerti. Dia selalu beralasan sedang sibuk, aku juga mengerti. Futsal, basket, dan masih banyak lagi kesibukannya, aku paham. “Kita masih pacaran, Diandra. Aku perlu tahu kamu diantar jemput siapa.” Jawabnya lagi menatapku dengan tajam seakan siap untuk mengulitiku. “Kita sudah putus!” teriakku, “kamu bukan siapa-siapa aku. Terserah aku mau pergi sama siapapun! bukan urusanmu!” “Kamu!” tangan kanan Kevin terangkat tinggi pasti siap memukulku. Kupejamkan mataku dan siap menerima apa yang akan dia lakukan. Tetapi tidak ada yang terjadi, tangan itu tidak juga mendarat di wajahku. Kubuka sedikit mataku, bisa kulihat Bogi memegang tangan Kevin dengan wajah memerah. Marah. “Enggak ada satu pun yang boleh menyentuh Diandra!” bentak Bogi, “kamu ngerti?!” “Aku pacar Diandra. Jadi aku boleh melakukan apa pun!” bentak Kevin kembali. Orang gila. “Aku enggak peduli!” bentak Bogi, “Kalau aku mau, kamu bisa saja kukeluarkan dari sekolah ini!” ancam Bogi. Mata Bogi kemudian beralih menatapku. Mata itu berubah melembut tatkala melihatku yang masih kaget dengan perlakuan Kevin. “Diandra, pergi dari sini. Aku masih ada urusan sama dia.” Aku hanya bisa mengangguk pada ucapan Bogi. Jika dia sudah seperti itu, dia seakan seperti Galih. Dengan setengah berlari, aku kembali ke kantin lalu duduk di depan Farah dan Metha yang sedang menertawakan sesuatu. Melihatku duduk di depan mereka, mata mereka berdua menatapku. Alis Metha berkerut melihatku. “Kenapa kamu?” pertanyaan serempak mereka berdua membuatku menangis. “Kok nangis?” Lanjut Farah sembari menyodorkan tissue kepadaku. “Kevin.” Kataku pelan kemudian menghapus airmata yang mengalir. “Kenapa memangnya?” Tanya Metha bingung. “Yah, yang kalian bilang ternyata benar.” Jawabku apa adanya. “Aku sudah mengira.” Dengus Metha kesal. Aku menghela nafas, akhirnya menceritakan pada mereka berdua kejadian apa yang aku alami di belakang toilet sekolah. Tak berapa lama kemudian Bogi datang menghampiriku. “Kamu enggak apa-apa, kan?” Tanyanya menatapku khawatir. “Enggak.” Dengusku. Aku menatapnya sebal. Ada apa dengan Bogi? “Tumben perhatian sama aku. Ada angin apa?” Cerocosku sebal akan tingkahnya yang aneh. “Ye, pendek!” Tukasnya. “Perhatian salah, iseng juga salah. Maumu apa sih?” Sambungnya kemudian menepuk-nepuk kepalaku. “Iya nih, tumben baik.” Ujar Farah menatap Bogi seperti curiga. “Kamu suka Diandra, ya?” Timpal Metha tertawa-tawa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD