Chapter 11 Diandra : Cemburu?

1066 Words
Bogi menatapku kemudian melengos. “Enggak sudi aku suka dia.” Sahut Bogi malas. Aku hanya mencibir pada perkataannya. Lagipula, aku juga tak sudi suka dengan Bogi. Amanda, anak pindahan dari Bandung berjalan melewati kami lalu tersenyum pada kami. “Halo Amanda.” Sapa Bogi sembari melambaikan tangannya pada Amanda yang hanya tersenyum sekilas. “Huuu ….” Aku mengacak-acak rambut Bogi. “Jangan mau sama Bogi, Manda. Dia playboy cap gayung.” Tambahku. Bogi berdecak lalu menyingkirkan tanganku dengan risih. “Kalau kamu suka aku, nggak perlu acak-acak rambutku.” Ujarnya lagi menyeringai usil. Ih, pedenya anak ini. “Tak sudi!” *** Saat aku keluar gedung sekolah, aku melihat Galih berdiri di samping mobil Hammernya dengan menyilangkan tangan di d**a. Dengan gontai, aku menghampirinya. Tetapi, langkahku terhenti karena Kevin berdiri tepat di hadapanku. “Diandra, aku mau bicara sama kamu.” Jelasnya menatapku memohon. Jika saja aku masih memiliki rasa cinta pada Kevin, aku akan luluh hanya dengan melihat wajahnya itu. “Bicara saja di sini.” Kataku datar. Dia meraih kedua tanganku kemudian menggenggamnya. Apa-apaan dia? “Aku minta maaf atas kelakuanku tadi.” Aku menggertakkan gigi mendengar ucapan itu dari bibirnya, “permintaan maaf ditolak.” Kataku kemudian menghentakkan tangannya yang masih menggenggam tanganku dengan sekali hentakan. Dengan jengkel, aku berjalan melewatinya. Aku melihat Galih berjalan dengan cepat. Langkahnya sangat lebar sekali. Aku melihat kemarahan menghiasi wajahnya. Oh, tidak. Galih pasti salah paham. Tanpa basa-basi lagi, Galih menarik tanganku lalu menyeretku. “Enggak perlu bicara sama dia.” Katanya masih terus menarikku. “Dia yang mulai.” Belaku. Aku tidak ingin Galih seenaknya saja menuduhku. Aku bukanlah seperti yang dia pikirkan. “Diandra!” teriak Kevin, “Aku sayang kamu!” Ucapannya itu membuatku ingin berbalik dan memeluk Kevin. Tetapi, aku terlanjur sakit hati dengan apa yang dia lakukan dengan wanita itu di restoran cepat saji. Dengan cepat, Galih membuka pintu mobilnya untukku. “Masuk.” Perintahnya dingin. Setelah aku dan Galih masuk ke dalam mobil, secepat kilat Galih menginjak pedal gas lalu melesat keluar dari sekolah. Kenapa orang ini? Aneh! Apakah dia marah? *** “Sudah aku bilang, kamu jangan macam-macam.” Ucap Galih saat keheningan panjang menyelimuti seisi mobil. Aku menatapnya jengkel, “Aku enggak macam-macam, Galih!” “Jangan dekati orang enggak jelas itu.” Geramnya tanpa melihat padaku. Oh Tuhan, Galih sangat menakutkan jika sedang marah. Tetapi, aku tidak mau menjadi orang yang disalahkan dalam hal ini. “Aku enggak dekati dia! Dia yang dekati aku!” “Kamu jangan melawanku, Diandra. Aku tunangan kamu. Kamu harus nurut sama aku. Kamu mengerti?!” Ucapnya dengan sedikit membentak. Aku tidak mau berargumen lagi dengan Galih. Lagipula, dia selalu menang. Entah kenapa aku sangat takut dengannya apalagi ketika dia marah seperti ini, mata birunya nampak menakutkan. Aku tidak menjawab lagi. Aku hanya menghembuskan nafas terhadap sikapnya yang seperti ini. *** “Kamu mau jalan-jalan atau langsung pulang?” tanya Galih setelah keheningan yang cukup lama. Untuk apa dia menanyakan itu padaku? ingin merayuku? Menyogokku? Aku tidak akan tergoda. “Pulang. Mau belajar.” Kataku singkat. Keinginanku untuk hangout sudah tidak ada lagi. “Ya sudah.” Tukasnya pelan. Baiklah, permainan baru saja dimulai! Setelah sampai di rumah, tanpa basa-basi lagi aku langsung masuk ke dalam rumah. Mami yang sedang duduk membaca majalah di ruang tamu, mendongak dan tersenyum padaku. “Halo, Mi.” Kataku kemudian menaiki anak tangga ke lantai dua—kamarku. “Dian, kamu kenapa?!” tanya Mami setengah berteriak saat melihatku melompati dua anak tangga sekaligus. “Istirahat, Mi.” Kilahku terus melangkah tanpa menoleh ke arah Mami. “Kamu enggak menemani Galih?” tanya Mami lagi. Kuputar mataku dan mendengus. Untuk apa aku menemaninya? “Mami saja yang temani.” kataku kemudian membuka pintu kamar. Terdengar Mami meneriaki namaku mengatakan bahwa akulah yang harus menemani Galih. Setelah berganti seragam, yang aku selanjutnya adalah belajar karena tidak akan lama lagi memasuki Ujian Akhir nasional. Aku ingin sekali lulus. Tak perlu nilai yang bagus. Hanya lulus saja sudah cukup. Toh, nilai bagus juga percuma, hanya berakhir di dalam rumah. Tidak akan dibiarkan aku berkeliaran kemanapun. Jika bisa, mungkin aku akan dikurung di dalam rumah. Galih, pria yang aneh. Kugigit pensilku dengan gemas. Mimpi apa aku harus berjodoh dengan Galih? Dulu ketika aku masih kecil, aku ingin sekali seperti putri-putri dalam kisah dongeng yang menemukan pria pujaan hatinya kemudian menikah lalu hidup bahagia selamanya. Jauh panggang dari api. Itu tidak terjadi. *** Bukan hal yang mudah sebenarnya. Menerima kenyataan bahwa aku tidak akan bisa menghirup udara kampus. Tergesa-gesa menuju kelas karena dosen yang tidak ingin mahasiswanya terlambat. Aku menghela nafas. Kuperhatikan teman-teman sekelasku yang sedang asyik membicarakan di mana mereka akan berkuliah. Sebenarnya bisa saja aku kuliah setelah menikah, namun aku yakin, Galih bukan pria yang mau memberikan penawaran itu. Aku yakin, prinsip dia adalah setinggi-tingginya wanita, dia pasti di dapur juga. Aku menelungkupkan kepalaku di meja. Tidak kupedulikan suara dua orang temanku yang sedang asyik berbincang di hadapanku. “Kenapa?” suara Metha. Aku menggeleng. “Ngantuk.” Jawabku asal. “Begadang?” Kali ini Farah menimpali. Aku mengangguk. “Biasa Kak Daffi. Ngajak  nonton bola.” “Oh.” Sahut suara Farah dan Metha bersamaan. Aku sedang tidak ingin membicarakan masalahku dengan mereka berdua. Aku sedang tidak ingin mengatakan apapun. “Eh, Pendek!” Aku mengintip dari balik lenganku. “Apa?” kataku padanya yang tiba-tiba datang lalu duduk di sampingku. Orang ini mau apa sih? Melihat dia, aku jadi teringat Kakaknya. Aku sedang kesal dengan Kakaknya. “Mau apa sih ke sini?” Kali ini Metha bertanya pada Bogi dengan nada suara tidak suka. “Ganggu aja orang lagi ngobrol.” “Apa sih, Meth. Aku tuh mau ketemu Diandra.” “Jangan diganggu.” Bela Farah. “Dia ngantuk. Mumpung guru lagi rapat mendadak, biar dia tidur.” “Semalam abis teleponan sama abangku, ya?” Bogi bertanya tepat di telingaku yang membuatku bergidik geli. Aku duduk tegak lalu mengusap telingaku. “Apa sih, Gi? geli tau!” gerutuku sebal yang malah membuat dia tertawa terbahak. “Diandra nonton bola semalam sama Kakaknya.” Timpal Metha yang diangguki Farah. Hal itu membuat alis Bogi berkerut. “Bola apa? perasaan semalam enggak ada bola.” Aku menginjak kakinya secara spontan yang membuatnya mengaduh. “Ada.” Kataku tambah kesal. Dasar Bogi! Saat dia hendak membuka mulutnya lagi, aku buru-buru bertanya, “mau apa ke sini?” Mendengar pertanyaanku, Bogi menyengir. “Pinjem pulpen.” Aku memutar mataku lalu berdecak mendengar jawabannya. “Gi, duitmu tuh banyak. Beli pulpen seharga dua ribu perak enggak bisa? Ya ampun, Gi! Malu sama ketek aku, Gi!” Farah dan Metha tertawa-tawa mendengar ucapanku sedangkan Bogi hanya tersenyum-senyum. Abang dan Adik sama saja. Sama-sama tidak jelas. “Koperasinya tutup, Diandra.” Jawab Bogi dengan wajah tidak berdosa. Gi, tinggal bilang sama satpam. Mau fotokopi. Beres.” Bogi ini otaknya ke mana sih? “Satpam enggak percaya, Diandra.” Aku berdecak. Seringnya Bogi berbohong pada Satpam membuat Satpam tidak memercayai apapun alasan Bogi. Kukeluarkan tempat pensil kainku dari laci meja. Aku sedang malas berdebat dengan Bogi lebih lanjut. Jadi, aku memberikan pulpenku padanya. “Wih,” decak Bogi melihat tempat pensilku, “pulpenmu banyak. Jualan?” Aku memutar mataku. “Nih, sana bawa pergi.” Kataku sebal, “memangnya kamu. Satu saja enggak ada. Bawa apa kamu ke sekolah memangnya?” “Aku bawa cinta ke sekolah.” Jawabnya lalu kabur. Aku berdiri, hendak melemparnya dengan tempat pensil namun kuurungkan karena wali kelas masuk ke dalam ruangan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD