Chapter 12 Diandra : Aku Enggak Hamil

1020 Words
Aku menatap undangan warna hijau muda yang ada ditanganku—warna favoritku yang pastinya Galih tahu dari Mami—dengan inisial nama lengkapku juga nama lengkap Galih termasuk sederet gelar rumit dari universitas luar negeri di belakang namanya. Galih Gumilang Louis bla bla bla. Semua keperluan untuk pesta pernikahan diserahkan kepada orangtua kami. Aku malas untuk memikirkannya. Pulpen yang ada di tanganku sudah separuh jalan menulis nama lengkap Farah. Seminggu setelah Ujian Akhir Nasional ini, aku akan menikah. Galih mengatakan bahwa aku bebas mengundang teman-temanku, tetapi masalahnya apakah teman-temanku akan aku undang atau tidak? Apa yang akan aku katakan kepada kedua sahabatku itu? Tidak mungkin aku mengatakan jika aku menikah dengan Galih karena kebangkrutan papi. Atau tidak mungkin pula aku menikah dengan Galih karena sudah dijodohkan sejak aku belum lahir. Dan pasti komentar miring tentangku akan mampir dalam waktu singkat seperti bom waktu yang siap meledak. Setelah sikapku pada Galih sebulan lalu, kupikir dia akan berubah. Tidak galak lagi maksudnya. Tetapi sama saja. Dia tetap bersikap menyebalkan. Membuatku ingin sekali menggigitnya atau memukulnya. Sebenarnya, aku ingin bekerja seperti wanita kebanyakan. Membantu bisnis Papi atau bekerja di restoran Kak Daffi. Untuk kuliah, aku sudah tidak lagi berminat. Anganku untuk kuliah sudah tidak ada lagi. Aku menerawang mengingat pembicaraan menyebalkan dengan Galih dua minggu lalu ketika kami berdua datang ke restoran milik kak Daffi. Pembicaraan mengenai karir yang ingin kuraih setelah selesai sekolah. Menjadi pelayan restoranpun tidak apa-apa. Pembicaraan yang berakhir dengan dia membentakku lagi. “Kamu dengar enggak, Diandra?!” bentak Galih yang membuatku terlonjak. “kamu enggak perlu kerja! Aku masih bisa biayai hidup kamu!” Aku hanya meneriakkan kata 'oke' dengan frustrasi. Aku tidak suka sifat protektifnya itu. “Kok kamu melamun?” Suara Mami membuatku terkejut. “Mami! Aku kaget.” Kataku sembari mengelus dadaku tempat di mana jantungku kini yang sedang marathon. “Kenapa melamun, Sayang?” tanya Mami kemudian duduk di sampingku. Mami membuka satu undangan lalu tersenyum ketika membacanya. Setelah itu menutupnya kemudian meletakkan kembali ke tempat semula. Mata Mami menatapku dengan berkaca-kaca. Seharusnya aku yang menangis. Bukan Mami. Kenapa Mami sedih? Tangan Mami terulur, mengusap lembut kepalaku. “Mami enggak bisa kasih apa pun buat kamu, Dian. Hanya doa yang Mami beri buat kamu. Moga hubungan kalian berdua langgeng, sampai tua nanti.” Aku tersenyum pada perkataan Mami. Bagaimana hidupku nanti setelah menikah? Apakah Galih akan terus bersikap seperti ini? Bagaimana kehidupan sehari-hari kami nanti? Bagaimana sikap asli Galih padaku? berbagai macam pertanyaan seakan menumpuk di kepalaku. Seolah-olah tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Tiba-tiba saja airmata meluncur deras dari kedua mataku. Ikut menangis seperti Mami. Mami yang melihatku menangis langsung memelukku. “Dian belum siap, Mi. Dian enggak tahu bagaimana caranya menjadi istri yang baik.” Keluhku. Mami tidak mengatakan apa-apa. Mami hanya memelukku dan mengusap punggungku. Walapun begitu, rasanya sungguh menenangkan. “Setelah kamu nikah, surga itu ada di telapak kaki suami kamu. Setiap perkataannya, kamu harus turuti.” Ucap Mami setelah keheningan yang begitu lama. Yah, aku tahu itu. Dalam Riwayat bahkan diceritakan jika sampai si istri meminta cerai suaminya maka di haramkan bagi si istri itu bau surga. Aku yang mendengar cerita itu dari guru agama islam di sekolah sudah membuatku merinding setengah mati. Mami melepas pelukannya, menatapku seraya tersenyum. “Mami tahu kamu bisa, Diandra. Sayangi suami kamu. Hormati keputusan dia. Dia imam di dalam rumah tangga kamu nanti.” Aku hanya mengangguk tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak tahu apakah aku bisa menghadapi Galih yang menyebalkan itu. Semoga saja Galih akan baik padaku nanti. Aku hanya berharap itu, tidak lebih atau kurang. *** Mata Farah dan Metha melebar ketika aku memberikan pada mereka undangan hijau muda yang bertuliskan namaku dan nama Galih. “Ya ampun!” seru Farah, “Aku enggak mimpi, kan?” tambahnya lagi menatap lebar-lebar undangan yang ada di tangannya. “Kamu ngajak kita ketemuan di restoran kakakmu weekend begini mau ngasih ini?” Metha menatapku tidak yakin, “kamu bercanda, kan? Jangan kelewatan!” “Enggak.” Jawabku singkat. Aku mengunyah Tiramisu favoritku dengan perlahan. Sebentar lagi pasti mereka berfikir yang bukan-bukan. “Jangan-jangan kamu sudah 'itu' ya?” tanya mereka serempak. Apa yang harus kukatakan pada mereka berdua? “Aku enggak hamil! Aku enggak segila itu!” Seruku pada mereka berdua. Mata Metha melirik kebalik bahuku. “Itu siapa yang pakai pakaian serba hitam?” bisik Metha menunjuk dengan dagunya pada orang yang ada di belakangku. Aku mengikuti petunjuk Metha dan mendapati Roy—si pengawal yang memang diutus Galih untuk mengikutiku kemanapun aku pergi, sedang berdiri seperti pantung tidak jauh dari kami duduk. Aku menghela nafas memikirkan tingkah Galih. Kupikir dia lupa pada ucapannya mengenai pengawal itu, tetapi tidak. Ingatan orang itu sungguh kuat. “Pengawal.” Jawabku dengan malas. “Heh?” alis kiri Farah terangkat tanda dia bingung akan jawabanku. “Sejak kapan seorang Diandra punya pengawal?” kikik Metha yang pasti sudah menyadari dari mana pengawal itu berasal. “Tunangan aku itu menyebalkan. Aku harus dikawal. Memangnya aku artis.” Gerutuku mengingat kejengkelanku pada Galih. “Ya ampun jadi itu dari tunanganmu? Terus mobil Ferarri putih yang di depan itu juga dari dia?” seru Farah saat mendengar gerutuan jelasku. Aku memang datang ke sini dengan salah satu mobil mewah milik Galih. Orang yang satu itu memang membuatku jengkel, aku memang terlahir serba berkecukupan bahkan berlebihan tetapi aku tidak suka pada mobil-mobil mewah. Aku hanya ingin mobil Karimunku saja. Galih mengatakan bahwa Karimunku sudah jelek layak diganti. Dan seenaknya saja dia mengirimkan mobilku itu ketukang jual beli mobil bekas. Apa yang ada di otak manusia satu itu, aku tidak tahu. Yang jelas aku kesal setengah mati. Dia menyogokku dengan mobil Ferarri yang tidak pernah dia pakai sama sekali, katanya sebagai ganti mobilku yang sudah di jual. “Hah!” Desahku sebal seraya menopang dagu di atas meja restoran Kak Daffi. “Iya itu juga dari Galih.” Sambungku melirik Metha dan Farah dengan malas. “Enggak terbayangkan aku kalau jadi kamu. Enak.” Metha menatapku sambil menerawang. Enak dari mana?! “Tapi, ketemu Bogi terus setiap hari,” timpal Farah bergidik, “enggak terbayangkan hidup barengan manusia langka yang satu itu.” Aku tertawa pada perkataan Farah. Ya, aku sekarang sudah kebal cibiran dan canda Bogi. Dia tidak terlalu buruk. Farah menghela nafas menatapku. Tatapan matanya sangat serius. “Kamu betul menikah sama Galih? Kok tiba-tiba? Kenapa?” tanyanya pelan dan disetujui dengan anggukan singkat Metha. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD