“Iya,” kataku tersenyum tipis, “lagipula ini enggak tiba-tiba. Kita sudah saling kenal lama. Jauh sebelum aku pacaran sama Kevin. Aku juga enggak nyangka Galih datang ke rumah melamarku.” Akhirnya, aku harus berbohong kepada mereka berdua.
Mereka berdua tersenyum pada jawaban bohongku. “Yah, seenggaknya kamu enggak akan sakit hati lagi. Galih sepertinya sayang. Buktinya saja dia enggak mau kamu luka.” Ucap Metha senang.
“Teman-teman kamu undang semua, Di?” timpal Farah.
Aku menggeleng. “Hanya teman-teman di kelas kita saja. Aku harap kalian datang.” Kataku penuh harap.
“Pasti kita datang.” Sahut mereka serempak.
***
“Roy, kita ke kantor Galih dulu.” Kataku menepuk bahu Roy yang sedang menyetir.
“Baik, Bu.” Angguknya.
Berulang kali aku sudah mengatakan jangan memanggilku dengan sebutan Ibu, tetapi masih saja memanggilku seperti itu. Ini pasti ulah Galih. Kalau bukan karena titipan dari Kak Daffi, aku tidak akan datang ke kantor Galih setelah menemui Farah dan Metha tadi.
Kak Daffi pun aneh, menitipkan makan siang untuk Galih. Kakakku yang satu itu entah ke mana jalan fikirannya. Mungkin akal-akalan Kak Daffi saja. Galih juga, ditelepon tidak bisa. Ponselnya mati. Apa dia sibuk? Bisa kena marah jika aku mengganggunya.
Setelah sampai di kantor Galih, aku di sambut oleh sekretarisnya yang berpakaian seksi. “Selamat siang, Dik. Mau cari siapa?”
Dik? Galih! Memangnya karyawannya tidak diberitahu? kalau sudah seperti ini akan sulit aku masuk ke ruangannya yang hanya berjarak sepuluh langkah dariku berdiri.
“Galih. Ada, Mbak?” tanyaku sopan padahal aku sangat jengkel.
Dia menatapku dari atas sampai bawah. Tampak menilai. Memangnya belum pernah melihat perempuan manis sepertiku?
“Pak Galihnya berpesan enggak bisa diganggu, Dik. Kalau mau datang harus janji dulu.” Ucapnya dengan nada sedikit sombong. Uh, perempuan ini!
Aku melotot sebal pada perempuan di depanku ini. “Saya tunangannya Galih. Saya enggak butuh janji dulu sebelum ke sini.”
Perempuan itu tertawa pelan mendengar jika aku tunangan Galih. Memangnya ada yang lucu?
“Enggak mungkin,” tawanya lagi, “Pak Galih itu seleranya tinggi. Kalau adik mau bohong, jangan keterlaluan.” Cibirnya.
Apa dia katakan! Aku mengepalkan tanganku hendak menjambak rambutnya yang diluruskan dengan cara di catok itu.
“Loh, Nyonya kok ke sini? Tumben.” Suara berat khas laki-laki terdengar di belakangku.
Kuputar mataku karena sudah tahu siapa yang memanggilku begitu. Ya, dia Pak Udin. Supir keluarga Galih. Setelah Roy yang memanggil Ibu, giliran Pak Udin yang memanggilku Nyonya. Tidak bisakah mereka memanggil Diandra saja? Ada Pak Udin pasti ada Bogi.
“Eh, Pendek, tumben datang? Kangen ya sama kakakku.”
Aku berputar pada tumitku dan melihat Pak Udin juga Bogi yang cengar-cengir menatapku.
“Eh, Mas Bogi, ini, adik ini mau ketemu sama Pak Galih. Katanya dia itu tunangannya Pak Galih. Enggak mungkin, kan.” Seloroh sekretaris Galih itu.
Lagi-lagi perempuan ini membuatku marah. Tanganku sudah terangkat ingin menjambak rambutnya tetapi ada tangan lain yang mencegahku.
“Kamu saya pecat!” Suara Galih terdengar jelas di telingaku. Aku mendongak lalu mendapati Galih sedang menatap sekretarisnya dengan garang.
Sekretarisnya menatap Galih dengan kaget. “Kok saya dipecat, Pak? Bapak enggak adil.” Rengeknya.
Apa-apaan perempuan ini? memangnya Galih itu siapa dia? Hanya boss dan sekretaris! Tidak lebih.
“Rapikan barang-barang kamu, Joana. Mulai besok kamu jangan masuk kerja lagi di sini.” Tegas Galih.
Sepertinya Galih tidak main-main pada ucapannya.
“Pak, dia itu cuma anak kecil yang mengaku tunangan Bapak. Kenapa cuma karena hal itu, saya dipecat?” Perempuan yang bernama Joana itu masih saja merengek.
“Diandra itu tunangan saya. Enggak ada hak kamu mengatakan itu padanya.” Tegas Galih lagi.
Seisi kantor yang tadi sedikit ramai menjadi sepi. Mata seluruh karyawan menatap kami.
“Sudahlah, Joana. Rapikan saja barang kamu. Cepat keluar dari sini.” Timpal Bogi dengan malas seraya melambaikan tangannya—memberi tanda untuk orang itu menyingkir.
Galih memandang Bogi, “Bogi, pastikan Joana keluar sekarang juga. Katakan ke bagian keuangan untuk mengurusi gajinya.” Ucap Galih dengan garang.
“Siap, Kak.” Ucap Bogi tegas.
“Ayo, Diandra.” gumam Galih kemudian menyeretku ke dalam kantornya.
“Duduk.” Perintahnya menyuruhku duduk di depannya. Aku hanya mengangguk menurutinya. “Kamu kenapa datang ke sini?” tanyanya. Mata birunya menatap lekat-lekat layar laptop yang ada di depannya.
Kuletakkan pesanan Kak Daffi ke atas meja. “Disuruh kasih ini ke kamu. Sudah dingin. Tadi ditahan di depan gara-gara nenek sihir.” Kataku sebal mengingat wajah sombong Joana.
“Oh.” Dehem Galih. Aku tahu, dia berdehem pasti ada sesuatu yang lucu. Apanya yang lucu? Aku sedang kesal, dia hanya tertawa.
Galih mengulurkan tangannya lalu membuka kotak penutup makanan yang kubawa. “Kamu sudah fitting kebaya pengantin?” tanya Galih kembali berkutat pada laptopnya.
“Nanti habis dari sini,” jawabku, “Itu dimakan dulu. Kerja terus, tadi enggak perlu Dian bawa. Harus berantem dulu sama Joana.” Keluhku panjang lebar.
Galih menatapku dengan mata menyipit. “jangan memerintah.” Ucapnya pelan tetapi sungguh terdengar menyebalkan.
Selang lima belas menit kemudian pintu kantor Galih terbuka. kupikir Joana, ternyata bukan. Seorang wanita cantik seusia Galih berdiri di ambang pintu. Pakaiannya sungguh modis. Layaknya seorang model. Dengan balutan busana selutut berwarna pink lembut dipadukan sepatu wedges warna senada, wanita itu menghampiri kami berdua. Galih yang masih sibuk dengan makanannya pasti tidak tahu kalau wanita itu masuk kantor.
“Galih, Kamu apakan Joana?” tanya wanita itu.
Galih mendongak dari makanannya lalu menatap wanita itu. “Aku mengeluarkan dia. Memang ada apa? Keberatan?” ucap Galih dengan nada tidak peduli.
Siapa wanita ini? Apakah dia teman Galih atau mungkin ….
“Loh, kamu sudah makan siang? Enggak jadi kita makan siang di luar?” tanya wanita itu lagi.
Wanita ini sepertinya tidak menganggap aku ada atau malah memang sengaja? Dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Membuatku sedikit merasa sebal.
“Kenapa kamu ke sini?” tanya Galih datar pada wanita itu kemudian menyingkirkan makan siangnya padaku.
“Kamu bagaimana, sih! Aku itu—”
“Maaf Galih, toiletmu di mana?” Potongku. Aku merasa tidak termasuk dalam pembicaraan mereka, lebih baik aku menyingkir. Kalaupun aku bilang ingin pulang, pasti Galih melarangku.
Mata biru Galih menatapku seperti meneliti. “Di sana.” Tunjuknya ke arah kanan.
“Terima kasih.” Kataku kemudian berjalan ke arah toilet yang dia tunjukkan.
Kututup pintu toilet dengan pelan kemudian bersandar di pintunya. Siapa wanita itu? Pacar? Atau saudara? Apakah boleh aku bertanya pada Galih mengenai wanita itu? Kenapa denganku ini? Kenapa aku tidak suka melihat Galih dengan wanita itu?
Ponselku berdering pertanda pesan masuk. Ternyata dari Bogi yang menawarkanku untuk pulang bersama dia. Mungkin aku pulang saja. Kebetulan Bogi menawarkan jasanya padaku. Lagipula aku datang ke sini hanya mengantarkan pesanan kak Daffi.
Dengan cepat, aku membalas pesan dari Bogi. Dengan singkat pula dia menjawab pesanku.
Siap kakak.
Aku terkekeh sendiri melihat isi pesan dari Bogi. Bisa kubayangkan dia mengirim pesan ini sembari tertawa. Masih tertawa, aku membuka pintu toilet. Dan apa yang kulihat? Galih dan wanita itu sedang berciuman! Wanita itu duduk di pangkuan Galih. Mereka berciuman di bibir.
***