Chapter 8 Diandra : Mister Galih

1243 Words
Dia mencium keningku? Kenapa jantungku berdetak cepat? bukankah Kevin sering mencium keningku? Tetapi kenapa dengan Galih, degupan itu semakin cepat? Kuhembuskan nafas dengan pelan. “Jangan cium aku.” Kataku mencoba menetralkan suasana yang tidak enak. “Kamu ini,” tegur Mami, “Galih itu sayang kamu.” Aku hanya terdiam pura-pura memejamkan mata walau sesungguhnya aku sudah tidak mengantuk lagi. “Enggak apa-apa, Tan. Sudah biasa.” sahut Galih datar. Ya, sekarang aku tahu, Galih melakukan itu karena hanya di depan Mami. Kenapa aku baru sadar akan hal itu, sih! Tetapi, kenapa jantungku dag... dig... dug...? *** Berulang kali aku menggosokkan keningku dengan kedua tanganku sembari merengut. Galih telah membuatku tidak bisa tidur lagi. Kupandangi jam di meja belajarku. Jam dua belas malam. Jam berapa besok acara dimulai? Aku lupa bertanya pada Mami. Tak berapa lama, ponselku bergetar di meja kecil di samping tempat tidurku. Enggan, aku meraihnya dan melihat siapa yang mengirimiku pesan. Dahiku berkerut ketika melihat nomor baru. Tanpa banyak berfikir, aku membukanya dan membaca isi pesan yang ternyata dari Galih. Saya lupa kasih tau kamu kalau acara tunangannya jam delapan malam. Siangnya kamu ikut saya. Kita ke restoran Kakak kamu setelah itu ke salon. GALIH G. LOUIS “Ih, seenak jidat dia ngatur-ngatur. Tukang paksa!” aku menggerutu seraya membalas membalas pesannya. Iya, SIAP! Tak berapa lama kemudian dia membalas pesanku. Heh anak kecil! kenapa jam 12 belum tidur?! Cepat tidur. Saya enggak mau besok kamu pingsan. Nanti saya yang repot. “Bodohnya!” aku merutuki kebodohanku. Ini adalah hal terbodoh yang kulakukan dipukul dua belas malam. Seharusnya aku tidak perlu membalas pesan darinya. Lagipula, aku gemas jika tidak membalas pesan menyebalkan darinya tadi. Dengan jengkel, aku melemparkan ponselku ke meja belajar. Aku tidak peduli jika ponselku rusak. Toh aku masih bisa membeli lagi yang baru. *** “Diandra ….” Terdengar suara Mami. Kurasakan bahuku bergoyang. “Hei, bangun. Sudah siang.” Ucap Mami lagi masih menggoyangkan bahuku. “Lima menit lagi, Mi.” Kataku kemudian membenamkan diriku ke dalam selimut. Apakah Mami tidak tahu kalau anaknya ini masih mengantuk parah? “Nggak bisa.” Sergah Mami. Kurasakan selimutku ditarik kuat oleh Mami. “Masa calon pengantin malas begini. Ayo bangun.” Aku kembali menarik selimutku. “Nggak mau. Pengantinannya masih lama.” Kataku lagi. “Diandra, itu Galih sudah datang.” Apa? sontak saja mataku terbuka mendengar kata 'Galih'. Aku menatap Mami tidak percaya. “Masa sih, Mi?” Aku tidak mau mendengar Galih mencak-mencak menungguku. Buang-buang waktu nanti katanya. Mami malah tertawa melihatku. Ih, Mami! Apanya yang lucu coba. “Iya. Sudah dari tadi. Jangan sampai datang ke sini.” Ujar Mami masih tertawa. Apa? ke sini? Ke kamarku? Oh. Tidak bisa! Aku tidak mau bule menyebalkan itu ke kamarku. Membayangkannya saja aku sudah bergidik. Secepat kilat aku bangun dari tidurku. Dengan terbirit-b***t, aku lari ke kamar mandi. “Bilang sama Galih, jangan naik ke atas.” Teriakku pada Mami dari kamar mandi. *** Setelah selesai mandi dan berpakaian santai. Pakaian kebanggaanku. Celana jeans dan kaus oblong tak lupa sepatu kets, aku berjalan menuruni tangga. Seraya meneriakkan namanya. “Galih! Ayo cepat!” Malas aku mencarinya di rumah sebesar ini. Siapa yang tahu dia ada di mana. Aku menghela nafas. Sepertinya tak ada sahutan dari orang yang kupanggil. Kutarik nafas dalam-dalam lalu berteriak, “GALIIHHH!” Aku berteriak sekencangnya. “Berisik Diandra.” Kak Daffi muncul dari bawah tangga. Menatapku dengan pandangan terganggunya. Ke mana Galih? Kenapa Kak Daffi yang muncul, sih? “Galih di mana?” Tanyaku sebal. Hampir saja aku batuk-batuk tadi karena berteriak kencang. Kak Daffi hanya mengangkat bahu. Lalu cengiran jahil terbit di wajahnya. Oh, sial. Pasti dia ingin mengangguku. “Kangen betul kamu, Di. Siang-siang sudah teriak panggil dia. Tunggu sampai nanti malam.” Nah, kan. Dasar! Aku mengerucutkan bibir. Bertanya apa, dia jawab apa. aku tidak mengerti apa yang dia maksud. “Kak Daffi, mana Galihnya!” Teriakku jengkel pada kakakku yang satu itu. Yang diteriaki hanya tertawa lalu menghilang entah ke mana. Untung saja aku menyayangi Kakakku ini. Kalau tidak, aku sudah melemparinya dengan sepatu yang kupakai. “Mami!” kembali aku memanggil Mami. Mami datang lalu berkacak pinggang dari anak tangga paling bawah. Pasti Mami bohong lagi. Ini pasti akal-akalan Mami agar aku bangun cepat. Mami biasanya begitu. “Diandra kenapa teriak-teriak?” Aku merengut lalu menuruni anak tangga. “Mami bohong, ya? Galih belum datang, kan?” Mami berdecak. “Mami enggak bohong. Galih di ruang tamu.” Oke. Baiklah. Masih menahan sebal, aku menuju ruang tamu. Setelah sampai di ruang tamu aku menggelengkan kepala. Pantas saja dia dipanggil tidak ada sahutan. Saat aku berdiri di depannya sambil berkacak pinggang, Dia mendongak, melepas earphone dari telinganya kemudian berdiri lalu berjalan melewatiku. “Ayo.” Apa? Cuma itu? tak ada kata lain? Minta maaf, begitu! Aku yakin dia pasti dengar tadi. Ini orang benar-benar menjengkelkan. Dia, Bogi juga Kak Daffi sama saja! “Heh anak kecil, kenapa masih berdiri di situ? Mau jadi patung?” Ujarnya lagi menatapku. Dengan menghentak-hentakkan kaki, aku mengikutinya dari belakang. Benar-benar makhluk Tuhan yang paling menyebalkan. *** “Kita nggak jadi ke restoran Daffi. Hari ini restorannya tutup.” Ujar Galih padaku ketika kami berkendara entah ke mana. Aku memutar mataku. Aku sudah tahu. Mana mungkin Kak Daffi ada di rumah siang bolong seperti ini jika restorannya buka. Kakakku yang satu itu lebih suka di restoran daripada di rumahnya sendiri. “Sebagai gantinya, aku temani kamu ke mana saja kamu mau. Mau nonton film? ayo, mau ke mall? ayo.” Mataku berbinar mendengar dia mengatakan hal tersebut. Sudah lama aku tidak jalan-jalan. Namun aku bingung mau pergi ke mana. Aku bosan menonton film. Kalau pun jalan-jalan ke mall, aku lebih senang bersama sahabatku dibandingkan dengan Galih. Orang sekaku Galih mana mungkin bisa diajak mengobrol. Aku berdecak. Sepertinya orang ini pintar sekali membaca keadaan. Saat aku tak tahu harus ke mana, dia malah menawarkan jasa yang sangat menarik. Benar-benar disengaja! “Ya sudah kalau begitu kita ke salon.” Ucapnya lagi. Aku bersidekap. Kesal dengan apa yang dia ucapkan. Perintahnya itu menyebalkan. Baru saja aku memikirkan untuk mengajaknya makan es krim di Ragusa Es Italia. Ah, tapi sudahlah. “Terserah kamu saja.” Kataku akhirnya. Lagipula, pasti akhirnya dia yang mengatur akan hendak ke mana kami berdua nanti. Mobil akhirnya berhenti di sebuah salon kecantikan yang mewah di wilayah Jakarta Pusat. Lagi-lagi aku tidak bisa memilih salon mana yang mesti aku datangi. Padahal, aku lebih suka salon langganan Mami yang letaknya masih di area perumahan kami. Salon yang aku dan Galih datangi ini memiliki warna cat hijau muda. Kami di sambut karyawan yang memakai seragam dengan gradasi warna putih hijau. “Selamat datang, Mister. Ada yang bisa kami bantu?” Sapa seorang penjaga resepsionis pada Galih. Ucapan resepsionis itu membuatku tertawa diam-diam. Mister katanya? Membuatku tertawa diam-diam. Yah, mungkin karena mata Galih yang biru jadi disapa Mister. Coba kalau matanya warnanya coklat atau hitam pasti dibilang Bapak. Bapak Galih. Aku jadi terkekeh pelan akan pikiran konyolku sendiri. “Heh, malah ketawa. Sudah sana ikuti mba itu.” Suara Galih yang tepat di telingaku membuatku berhenti tertawa. Dia menunjuk seorang karyawan wanita yang sedang berdiri tidak jauh dariku. “Mau ke mana aku?” Tanyaku pada Galih dengan bingung. Galih menatap lalu menghela nafas. “Sudah ikuti sana. Tiga atau empat jam lagi juga selesai.” Jawabnya kemudian mendorong bahuku pelan. Apa? Lama sekali. Tiga jam? Untuk apa waktu tiga jam di salon? Bukankah hanya setengah atau satu jam. Aku hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk memotong rambut dan keramas. Aku menggeleng berusaha membuang jauh pemikiran aneh di kepalaku. Ah! Biarkan saja. Pasti juga Galih tidak betah menungguiku lalu pergi. Empat jam adalah lumayan. Terlebih bagi dia yang sibuk. Menungguiku hanya buang-buang waktunya saja. Itu adalah mottonya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD