Chapter 7 Diandra : Perjanjian Pra Nikah

1373 Words
Apa? Kenapa dia yang mengaturku? Dia mementingkan pekerjaannya daripada perasaanku? Lalu bagaimana dengan masa depanku? Aku memandangnya melas juga putus asa. Aku bisa membayangkan sifat otoriternya nanti setelah kami menikah. “Aku enggak ada pilihan lain?” Dia menggeleng tegas. Menatapku tajam dengan mata birunya itu. “Saya calon tunangan kamu dan calon suami kamu. Kamu yang harusnya ikuti saya. Bukan saya yang mengikuti kamu. Saya calon imam kamu nanti.” Tandasnya. Itu harga mati yang mau tidak mau harus dituruti. Aku ingin marah. Aku ingin menangis sekarang juga. Kutarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Aku tidak boleh menangis. Aku tidak mau ada yang mengolokku. Aku tidak boleh menangis! Oke. Aku akan mengikuti aturannya. Akan menjadi calon istri yang penurut. “Baiklah tuan Galih, saya setuju penawaran anda.” Kataku sebal.  Benar-benar tidak ada pilihan lain! Bisa kulihat Galih berdehem di kursinya. Apa yang lucu? aku di sini tersiksa dan dia sibuk menahan tawa? Ya Tuhan! apa ada yang lucu? “Oke,” dehemnya lagi kemudian menarik nafas, “karena kamu sudah kelas tiga SMA, setiap pagi kamu saya jemput dan pulang saya jemput juga. Enggak ada acara hangout keluar. Kamu harus belajar.” “APA?!!” Teriakku kaget. Apa aku tidak salah dengar? “Berisik!” Serunya menutup telinga saat mendengar protesku. Dia melakukan hal yang sama ketika aku berteriak tepat di depan wajahnya siang tadi. Terbuat dari apa hatinya itu? kenapa dia mengajukan syarat seperti itu? Aku menyandarkan punggungku di kursi. Dengan jengkel, aku melemparinya dengan sayur-sayuran penghias makanan yang ada di depanku. Secara sigap dia menangkap apa yang kulempar dan memasukkannya ke dalam mulutnya. “Menyebalkan! kamu tahu, kamu itu menyebalkan!” Pekikku lagi. Dia memelototkan mata birunya padaku. dia sepertinya tidak suka dengan apa yang aku lakukan. “Hey, jangan buang-buang makanan. Kasihan yang masak.” Ucapnya. “Seminggu sekali, Om.” Kataku meminta belas kasihan padanya. Tegakah dia denganku? Calon tunangannya sendiri? “Jangan panggil saya Om. Panggil saya Galih.” Itu perintah. Aku bukan anak buahnya yang bisa dia perintah sesuka hati. Tiba-tiba saja muncul ide di otakku. Semoga saja dia akan mempertimbangkannya lagi. “Oke aku enggak akan manggil 'Om'. Syaratnya, aku boleh hangout seminggu sekali.” Kataku dengan cengiran lebar. Semoga berhasil. Dia menyipitkan matanya padaku. Mencium hal yang mencurigakan mungkin. “Kamu memanfaatkan saya?” Kenapa dia bisa tahu? “enggak,” sergahku, “rugi saya memanfaatkan Om.” Kulihat dia tampak berfikir. Mungkin memikirkan untung rugi jika aku hangout seminggu sekali. “Boleh.” Jawabnya mengangguk. Aku tersenyum cerah. Akhirnya! “Tapi saya ikut.” Lanjutnya lagi yang membuatku melotot kaget. “Om menyebalkan!” teriakku kesal. Aku sudah menuruti apa yang dia mau. Semuanya. Tetapi kenapa hanya sekedar berkumpul dengan teman-teman, gerakku dibatasi. Aku tidak bisa marah. Emosi yang kukeluarkan dengan cara menangis. Dan, kali ini aku menangis. Kebebasanku sudah direnggut begitu saja. “Hey, kenapa nangis? jangan nangis.” Galih nampaknya terlihat gusar melihatku menangis. Aku melemparkan sendok dan garpu yang kupegang ke arahnya dengan kesal. “Galih! Kenapa kamu ikut? Kamu enggak percaya Diandra?” Kataku merengek berharap dia luluh. “Bukan begitu,” ucapnya masih gusar, “maksudnya,  ya ….” Galih tidak melanjutkan kata-katanya. Malah terdiam melihatku menangis. Apa yang dia takutkan? Takut jika aku akan bertemu Kevin lagi? aku saja tidak mau bertemu dengan Kevin. “Dian tahu, Galih cemburu sama Dian?” Godaku diantara tangisan. Dia mendelik. “Enak saja. Siapa yang cemburu sama anak kecil macam kamu.” Bantahnya mentah-mentah. Aku menghapus airmataku dengan punggung tangan kananku dan menghela nafas pelan. Lelah argumen dengan orang yang jika dari lahir sudah ada aura pemimpin. Selalu tidak mau kalah dan harus tetap menjadi yang paling terdepan tidak peduli apapun. Keras kepala! “Ya sudah. Enggak apa-apa. Aku di rumah saja belajar.” Kataku pura-pura kalah. Jangan panggil aku Diandra kalau tidak bisa membuat seseorang menyerah. Galih menghela nafas, menatapku tajam. “Kamu boleh hangout seminggu sekali. Saya enggak akan ikut. Tetapi kamu ditemani pengawal saya.” Terangnya. Apa? pengawal? Membuatku malu. Aku bisa membayangkan pengawal itu memakai baju hitam dan memakai kaca mata hitam pula seperti yang ada di film-film, membuatku menjadi pusat perhatian. Yang benar saja! “Enggak mau. Lagipula, enggak akan ada yang mau culik aku.” Kataku menyilangkan tangan di d**a. Matanya menyipit ke arahku. Dia mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan. “Saya ini Galih Gumilang Louis, CEO perusahaan IT terkenal se-Inggris. Saya enggak mau kamu kenapa-kenapa. Nanti nama saya yang tersangkut. Kamu harus mengerti itu.” Ucapnya dengan nada yang sangat mengancam. Aku menatapnya kesal. Kenapa dia hanya mementingkan dirinya sendiri? kenapa dia tidak mau mementingkan perasaanku. Perasaan calon istrinya? “Terserah tuan Galih Gumilang Louis saja.” “Oke. Sekarang kita keluar.” Itu bukan ajakan. Itu perintah. Aku bisa bedakan antara ajakan dan perintah. Dia berdiri dari kursinya lalu menatapku. “Ayo berdiri.” Dengan sebal aku mengikutinya dari belakang. “Mau kemana kita?” Kataku masih merengut. Kebebasanku sudah berakhir. “Mengambil pesanan kebaya kamu buat pertunangan besok.” Jawab Galih datar malah terkesan tak peduli. “Oh.” Hanya itu yang aku lontarkan dan terus mengekor di belakangnya hingga ke garasi yang tepat di depan dapur. Di sana bisa kulihat Kak Daffi dan Bogi yang sedang sibuk mengutak-atik motor baru berwarna merah milik Bogi. Mereka berdua mendongak ketika melihat Galih menghampiri mereka. “Mau mengambil kebaya, Kak?” Tanya Bogi tersenyum cerah. Galih hanya menjawab dengan gumaman. Aku mencolek bahu Kak Daffi yang sedang sibuk dengan motor. “Apa, Dik?” tanya Kak Daffi melirikku sekilas. “Bilang Mami Papi kalau aku ikut Galih.” Kataku. “Mami Papi sudah tahu, Dik.” Jawab kak Daffi kemudian tertawa. Apa? benar-benar menyebalkan mereka semua. Kenapa hanya aku yang tidak tahu? “Ayo, Diandra.” Ajak Galih kemudian membuka pintu mobil Hammer miliknya. Galih dan perintahnya. Semoga aku sanggup. *** Mataku berkeliling melihat orang yang lalu lalang di mall terbesar se-Asia Tenggara ini. Mall of Indonesia. Namun, mataku berubah menjadi lesu ketika melihat salah satu restoran cepat saji di sini. Di tempat itu pula, Kevin menyatakan cintanya padaku untuk pertama kalinya. Tuhan, rasanya baru kemarin aku dan Kevin bersama. Tega benar dia mengkhianatiku. “Kamu mau makan di sana?” suara Galih membuat lamunan sedihku buyar. Aku menggeleng padanya, “enggak. Tadi di rumahmu sudah makan.” Kataku pelan. “Ya sudah, ayo cepat. Setelah mengambil kebaya, kita langsung pulang. Saya enggak mau lama-lama di sini.” Ujarnya kemudian menarik tanganku dengan cepat. Saya juga enggak mau lama-lama. Buat sakit hati! Kami memasuki butik yang menjual gaun-gaun pengantin. Di toko ini, kami di sambut pemiliknya. “Halo, Galih.” Sambut wanita itu menghampiri Galih dan memeluknya singkat. “Mau ambil pesanan?” “Iya. Sudah jadi?” tanya Galih. Wanita itu mengangguk dan masuk ke dalam. “Galih?” Panggilku pada Galih yang sibuk dengan gadgetnya. “Hm? Kenapa?” tanyanya cuek. “Memangnya kamu sudah tahu ukuranku?” “Sudah. Mami kamu yang beritahu.” Jawabnya santai.  Benarkah? Aku bahkan tidak ingat sama sekali. Tidak lama kemudian pemilik toko membawa bungkusan berisi kebaya. Aku yang malas untuk mencoba kebaya itu, hanya meminta pulang. Setelah berpamitan dengan pemilik toko, Galih mengajakku ke toko perhiasan. Apakah dia tidak ada persiapan sebelumnya? Ah, aku tidak peduli. Dan lagi-lagi aku tidak bisa memilih cincinku sendiri. Galih memilih cincin emas putih dengan batu sapphire besar berwarna hijau di atasnya. Terlalu mencolok. Aku tidak bisa berbuat apapun lagi. *** “Kuantar kamu pulang ke rumahmu. Daffi sudah mengirim pesan teks kalau mereka sudah pulang.” Jelasnya ketika kami berkendara pulang. “Boleh kalau sekolah, cincinnya aku lepas?” Alih-alih menjawab ucapannya, aku bertanya mengenai cincin yang sudah ada di saku celananya itu. “Boleh.” Ucapnya singkat. Aku tersenyum senang. Benar-benar senang. “Seharusnya kamu seperti itu. Gembira. Aku enggak suka kamu sedih sepanjang hari.” Ucap Galih yang membuatku diam. Kusipitkan mataku kearahnya yang sedang santai mengemudi. “Dari mana kamu tahu?” “Mata-mataku banyak,” liriknya sekilas, “kalau kamu macam-macam, aku tahu.” Imbuhnya lagi. Aku mendengus. “Pasti dari Kak Daffi.” “Itu termasuk mata-mataku.” Jawabannya itu membuatku kesal. Tidak ada gunanya berdebat dengan Galih. Aku pasti selalu kalah. Daripada aku kesal akan ulahnya yang menyebalkan, lebih baik aku tidur. Lumayan, untuk mengurangi energi otakku yang satu hari ini terkuras untuk menangisi Kevin bodoh itu. Dengan menguap, kupejamkan mataku. “Galih, aku mau tidur sebentar.” “Hm.” Hanya itu jawabannya. *** Aku merasakan seseorang menggoyangkan bahu kiriku. Menggangguku sekali. “Diandra, bangun.” suara Galih berbisik tepat di telingaku, “Sudah sampai rumah. Ayo bangun.” Berisik sekali dia. “Iya, bangun.” kataku kemudian membuka mata. Dengan menguap, aku meraih kantung kebayaku kemudian keluar dari mobil. Masih ada sisa-sisa kantuk membuat berdiriku sempoyongan. Kudengar Galih tertawa geli. Entah apa yang dia tertawakan. Aku tidak peduli. Aku mau tidur di kasur empukku sekarang juga. “Eh anak Mami sudah pulang.” Suara Mami terdengar di sampingku lalu kurasakan rangkulannya. Dengan malas, kusandarkan kepalaku di bahu Mami sambil memejamkan mata. “Kalau begitu saya pulang dulu, Tante.” Ucap Galih pada mami. Ya, pulang sana. Aku mau tidur sahutku dalam hati. “Kamu enggak mampir dulu, Galih?” tanya Mami lagi. “Enggak. Terima kasih, Tante. Lagipula Diandra sudah mengantuk.” Jawab Galih. “Ya sudah, hati-hati di jalan.” Pesan Mami pada Galih. Aku ikut melambaikan tanganku pada Galih agar dia cepat pergi dengan mata masih terpejam. Lalu, kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh keningku dibarengi bunyi kecupan. Sontak saja membuat mataku nyaris terbuka kalau tidak kutahan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD