Chapter 6 Diandra : Calon Kakak Ipar

985 Words
Langsung saja aku tersedak pasta dan batuk-batuk. Kakak ipar? Bukankah aku yang akan menikah dengan Bogi? Ya 'kan? Apa Maksudnya itu? “Diandra, kamu bagaimana sih makannya?” Suara Mami terdengar khawatir. Kak Daffi dan Mami menepuk-nepuk pundakku. Rasanya pasta itu tersangkut di tenggorokanku dan tak mau turun. Membuat tenggorokanku sakit. “Ini, minum.” Pria yang ada di depanku itu menyodorkan segelas air putih ke arahku. Bisa kulihat tangannya yang besar itu. Tanpa peduli siapa orang itu, aku menyambar gelas yang disodorkannya lalu meneguk airnya hingga habis. Akhirnya pasta itu turun juga dari tenggorokanku. Aku mendesah panjang penuh syukur. “Oiya, kalian berdua pasti belum kenalan satu sama lain,” Suara Tante Susan terdengar senang sekali, “sejak tadi Diandra sama Galih Cuma saling diam.” Tawa tante Susan lagi. “Malu mungkin, San.” Celetuk Mami. Mendengar penuturan Tante Susan, entah kenapa aku mendesah sangat lega. Setidaknya aku tidak akan menikah dan tidur satu ranjang dengan Bogi. Membayangkannya saja membuatku ngeri. Tidur dengan Bogi? Amit-amit jabang bayi! “Ya sudah, kalian berdua berkenalan dahulu.” Ujar tante Susan. Terdengar suara kursi di depanku bergeser. Tangan besar berwarna cokelat sedikit kemerahan itu terulur. Masih menundukkan kepala, aku ikut berdiri lalu menyalaminya. “Aku Galih.” Ucap suara itu memperkenalkan dirinya. Aku mendongak dan mencoba tersenyum, “Dian—” Tak sampai aku melanjutkan kata-kataku. Mataku melebar ketika tahu siapa yang menjadi calon suamiku. Tidak mungkin dia? bagaimana bisa? ya Tuhan! Ini hanya mimpi. Ya 'kan? Ya ampun! “Om tukang paksa?” Kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa bisa kucegah. Orang yang sama. Aku pasti tidak salah. Mata biru cerah itu adalah matanya. Wajahnya juga. Kulitnya yang cokelat itu juga sama. “Kamu, Anak kecil?” “Eh, sudah saling kenal?” tanya Mami heran. Kak Daffi dan Bogi hanya tertawa-tawa. Pasti ada yang lucu. Dasar mereka berdua! “Kamu itu.” sela seorang pria seumuran Papi pada pria di hadapanku pada orang yang bernama Galih. “Kenapa bicaramu begitu? ke mana sopan santunmu, Galih!” Kulitnya putih, dengan rambut berwarna cokelat, dan mata yang biru cerah. Pasti itu Om Louis. Aku bisa tahu dari mana mata Galih berasal. Kulit Galih sama seperti kulit Tante Susan yang cokelat kemerahan. Aku melirik Bogi, dia mirip kulitnya saja dengan Om Louis. “Sudah jabat tangannya. Jangan lama-lama.” Celetuk Kak Daffi kemudian menarik tanganku. Aku bahkan tidak sadar masih memegang tangan Om yang katanya bernama Galih itu. “Kok kamu memanggil Galih begitu, Dian?” tanya Mami padaku. Aku kembali mengingat kejadian menyebalkan di toko buku itu, yang membuatku ingin sekali mencakar wajahnya. Aku merengut. “Om ini mau merebut majalah yang aku beli, Mi. Dia memaksa.” Kataku keki jika mengingat-ingat hal itu. “Lagipula, saya duluan yang dapat.” Ucap Galih. Dia masih saja keras kepala. Seharusnya dia mengalah padaku. “Akibat tubuh pendekmu itu, kamu bahkan enggak lihat di mana letak majalah itu.” Imbuhnya datar yang membuatku benar-benar ingin mengacak-acak rambutnya itu. “Om seharusnya mengalah sama saya yang Om bilang kecil itu,” kataku sebal, melotot ke arahnya, “Om Galih dan Bogi sama saja. Menyebalkan.” Aku benar-benar cemberut. Mereka yang melihat aksi kami, hanya tertawa. Apakah ada yang lucu? “Jangan panggil saya Om.” Ucapnya kesal. Matanya yang biru itu menatapku tidak suka. “Hey, sudah berhenti,” lerai Om Louis. Matanya beralih menatap Papi. “Sepertinya kita enggak perlu pengenalan lebih lama lagi, Pras. Mereka sudah saling kenal sebelumnya. Syukurlah.” “Iya, benar.” Jawab Papi. Om Louis beranjak dari duduknya, diikuti Papi. “Ya sudah, kita ke ruang kerja saya. Kita bicarakan bisnis kerjasama kita.” Ucap Om Louis beranjak pergi bersama dengan Papi. Selanjutnya, Tante Susan meletakkan garpu dan pisau steaknya di atas piringnya hingga berbunyi. Dia tersenyum menatap Mami.”Oh ya Tania, aku mau tunjukan tas baru yang kubeli itu,” ucap Tante Susan pada Mami, “mungkin kamu berminat. Aku membeli dua.” Tambah tante Susan. “Ayo. Aku sudah lama enggak beli tas branded lagi.” Angguk Mami kemudian berdiri lalu mengikuti tante Susan entah ke mana. “Kak Daf, motor baruku ada masalah. Kamu bisa bantu?” ujar Bogi pada Kak Daffi yang sejak tadi sibuk dengan makanannya. Galih memandang Bogi dengan heran, “Memangnya ada yang salah?” “Iya, Kak. Enggak tahu kenapa.” Ucap Bogi mengangkat bahu. Tanpa menyelesaikan makannya yang masih banyak, Kak Daffi berdiri dari duduknya. “Ayo, Gi,” ajak Kak Daffi, “kebetulan, kerja sampinganku jadi montir.” Cengir Kak Daffi akhirnya, kemudian mengikuti Bogi ke garasi. Mungkin. Setelahnya, aku tidak mendengar suara apapun. Hanya terdengar denting suara sendok dan garpu milik Galih beradu. Aku menolehkan kepalaku ke kiri juga ke kanan, dan benar saja, semua orang pergi. Hanya tersisa aku dan Galih. Eh ... Eh .... Bagaimana dengan aku? aku mulai panik. Aku tidak mau satu ruangan dengan dia. “Kak Daffi!” Aku berteriak memanggil Kakakku itu. Ke mana janji yang selalu menemaniku walau apapun yang terjadi? “Sudah, kamu di sana saja. Temani Galih!” teriak Kak Daffi. Apa? Tidak akan! “Selamat pendekatan untuk Kak Galih juga anak Pendek!” tambah Bogi kemudian terdengar suara tawanya menggelegar. Aku tidak bisa berkata apapun. Aku hanya bisa merosot di kursiku. Apa yang akan kubicarakan dengan Galih? Sepertinya orang semacam Galih ini tidak suka berbasa-basi ataupun bercanda. Raut wajahnya terlalu serius. “Kamu dan Bogi, satu sekolah?” tanya Galih memecah kesunyian. Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya. “Bogi bagaimana sifatnya?” tanya Galih lagi masih seraya makan. Aku mengangkat bahu, memainkan spaghetti yang tidak kumakan dengan garpu. “Yah, seperti yang Om lihat. Menyebalkan.” Kataku. “Jangan panggil saya Om.” Ucapnya terdengar tidak suka. Aku memutar mataku lalu menatapnya kesal. “Lalu saya panggil apa?” Dia mendengus kemudian menatapku kembali. “Besok kita tunangan. Kamu enggak perlu sekolah besok. Siap-siap saja untuk acara pertunangan kita.” Apa? Mataku berkedip-kedip beberapa kali. Aku bahkan belum lulus sekolah SMA? Ujian Akhir Nasional saja akan dilaksanakan dua bulan lagi. Apa kata orang nanti? Aku tidak mau orang lain memandangku buruk. Aku tidak mau cibiran miring padaku yang mengatakan aku hamil diluar nikah. “Ta—tapi, aku … aku ….” Aku tidak bisa berkata-kata. Diletakkannya garpu dan sendok yang dia pegang ke atas piring lalu menatapku tajam. “Acara ini cuma keluarga kita. Bogi enggak akan cerita ke siapa pun. Bisa saya pastikan itu.” ucapnya. Kenapa dia berbicara dengan kata ‘saya’? dia seakan berbicara dengan teman bisnisnya. “Setelah kamu selesai Ujian Akhir Nasional, kita menikah. Saya enggak mau pekerjaan saya tertunda begitu lama.” Tambahnya lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD