Chapter 5 Diandra : Calon Suami

1000 Words
“Hey, playboy cap gayung, buat apa kamu di sini?” aku tidak peduli lagi pandangan tidak suka kedua orangtuaku. Aku tidak sudi jika menikahinya! Dia memandangku dengan pandangan sebal. “Ini rumahku. Ya, aku ada di sini.” Kak Daffi tertawa menggelegar. Apa yang lucu? Kurasa tidak ada yang lucu. “Kalian sudah saling kenal? akrab. Ada panggilan kesayangan pula.” Sempat-sempatnya Kak Daffi menggoda disaat seperti ini! “Loh kalian sudah saling kenal?” tanya Tante Susan heran. “Aku kenal baik Bogi, Tan.” Jawabku sebal karena merasa kejatuhan durian tepat di kepala. Sakit bukan berarti beruntung. Aku menunjuk Bogi tepat dihidungnya. “Dia ini playboy yang paling menyebalkan di sekolah, Tan.” Biarkan saja aku membuka kartunya. Semoga saja perjodohan ini tidak dilaksanakan ketika mendengar Bogi adalah seorang playboy. Bogi bersungut-sungut saat mendengar ucapanku. Memintaku agar tidak membuka kejelekannya. Aku hanya menjulurkan lidahku. Rasakan! “Sudah-sudah. Kalian ini seperti kucing dan tikus.” Lerai Mami. “Jaga kelakuan kamu, Di.” Nasehat Papi yang kutanggapi dengan anggukan. Ini tidak akan berhasil. Kurasa, perjodohan ini akan tetap berlanjut. Aku harus bagaimana? “Dilanjut nanti.” Tante Susan berkata seraya tertawa pelan. kenapa aku selalu ditertawai? Apa aku lucu? Kurasa aku tidak sedang melucu di sini. Kulihat Bogi mengerlingkan matanya padaku. Oh, tidak. Semoga ini hanya mimpi. Aku tidak mau jika Bogi menyebalkan ini menjadi suamiku. Tak lama kemudian kudengar deru mobil memasuki rumah. Lalu terdengar pintu mobil tertutup dua kali. Ada suara-suara dua orang pria. “Ah, itu mereka pasti sudah datang.” Ucap Tante Susan lagi seraya keluar rumah. Diikuti Papi, Mami dan Kak Daffi. “Mereka?” maksudnya? Aku sungguh tidak mengerti. Apakah ada makan malam besar untuk malam ini bersama dengan keluarga besar Bogi? “Diandra, kenapa melamun? Ayo berdiri. Sambut yang datang.” Bogi menegurku tatkala aku sedang malas untuk beranjak dari dudukku. Untuk apa? “oya, sebentar lagi kita ketemu setiap hari.” Sambungnya lagi setengah berbisik. Aku bergidik. Dalam mimpimu, Bogi! “Aku di sini aja.” Ucapku. Perjodohan ini tidak bisakah dibatalkan? Aku tidak ingin menikah dengan Bogi. Yang lain tidak masalah, asalkan jangan dengan Bogi. Aku bisa mati! “Ya sudah. Terserah kamu.” Terdengar langkah-langkah sepatu memasuki rumah. Dan beberapa orang sedang mengobrol. “Nah ini putriku. Diandra Dara Jelita namanya.” Ucap Papi memperkenalkanku pada entah siapa. Aku tidak berani mengangkat kepalaku. keberanianku sudah hilang semenjak melihat Bogi. Lebih baik aku menikah dengan Datuk Maringgih. Yang kulakukan setelahnya adalah menjulurkan tanganku kepada orang yang ada di hadapanku. Orang itu mengulurkan tangan putih pucatnya ke arahku. Aku bahkan tidak berani berdiri. Aku takut pingsan nantinya. “Diandra.” Ucapku pelan masih menundukkan kepala. “Oh ini anakmu, Prastiyo?” Tanya pria berkulit putih pucat itu pada papi. “Cantik seperti ibunya. Saya Louis. Teman Papi kamu.” Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalaku pertanda paham. Aku tidak berani membuka suaraku. “Ayo, kita ke ruang makan saja. Kita tunggu Galih dan Daffi di sana.” Ajak Om Louis lagi. Mendengar kata Daffi, aku sadar Kakakku itu tidak ada. Dan, Galih itu siapa? Akhirnya aku menyenggol pinggang Bogi yang berjalan di sampingku. “Gi, Galih itu siapa?” Bogi menjawab pertanyaanku dengan tidak minat, “Kakakku. Kamu kira siapa? Memang orangtuamu atau Daffi enggak kasih tahu kamu?” Aku hanya mengedikkan bahu mendengar ucapan Bogi. Oh, mungkin Kakaknya yang di luar negeri itu. Niat sekali orang itu datang hanya untuk menyaksikan perjodohanku dengan Bogi. “Ya sudah, nanti kamu tahu bagaimana wajahnya.” Entah kenapa, ucapan Bogi ini penuh misteri, “eh, kalau diperhatikan, kamu cantik pakai gaun ini.” Bisiknya tepat di telingaku. Aku mendengus mendengar ucapan Bogi. “Jangan merayu. Aku enggak kegoda. Dasar payah!” Mataku memerhatikan punggung Om Louis yang berjalan di depanku. Tinggi dan putih. Aku tahu darimana Bogi berkulit putih. Dia mendapatkannya dari Om Louis. “Ayo, silahkan duduk.” Ucap Om Louis pada kami. Aku hanya menunduk memandangi piring kosong yang ada di hadapanku. Aku selalu membatin bahwa kesialan tak pernah libur walau hanya satu hari saja dalam hidupku. Dan sekarang, harus berjodohan dengan Bogi. Bogi bukan tipikal pria baik bahkan perhatian. Sopanpun tidak ada dalam kamus hidupnya. Tak beberapa lama kemudian terdengar suara Kak Daffi dan suara seorang pria seperti sedang bercanda. Melepas rindu mungkin. Aku tidak berani mengangkat wajahku. Daya semangatku sudah berkurang dan semakin berkurang. Aku kehabisan baterai. *** Berbagai macam hidangan tersedia di hadapanku. Tak ada satupun yang membangkitkan seleraku. Masih saja aku merutuki hidupku. Benci benar aku dengan keadaan seperti ini. Terdengar kursi di sampingku ditarik. Bisa kulihat Kak Daffi duduk di samping kananku. Tangan Kak Daffi mengelus kepalaku singkat. Walaupun jahil, Kak Daffi selalu jadi orang pertama yang akan membelaku. “Diandra, Sayang, kenapa kamu diam saja? Enggak biasanya.” Suara Mami berbisik tepat di telinga kiriku. Aku hanya menggeleng tanda tak apa-apa. “Gugup mungkin, Mi, ketemu tunangannya.” Suara Kak Daffi di sebelahku mulai menggodaku disaat yang tidak tepat seperti ini. Aku hanya memutar mataku diam-diam. Malas untuk mencerna ucapan Kak Daffi. Aku kemudian menghela nafas lalu meminum air putih milikku tanpa mendongakkan kepala. Pasta yang berada di piringku masih banyak, aku hanya memakannya sedikit demi menghormati tuan rumah. Aku tidak semangat lagi. Otakku masih berputar pada kejadian di restoran tadi. Mengingat Kevin yang terlalu jahat padaku lalu pada Bogi. Kenapa bisa Bogi yang jadi calon suamiku? Apa salahku? Ah! Satu lagi kursi di depanku di tarik. Seseorang duduk di depanku. “Bagaimana karirmu, Daf? Bisa aku mampir ke restoranmu besok?” tanya suara berat milik pria. “Karirku biasa,” ujar Kak Daffi, “Kalau mau mampir, boleh. Aku kasih diskon. Menu aku besok makanan khas Kalimantan.” “Katanya kamu buka anak cabang di sini, ya, Galih?” Timpal Papi yang duduk di sebelah Mami. “Iya, Om. Yang di Inggris di pegang sama Dad. Itu juga kemauan Dad.” Jawab pria itu. Terdengar sekali nada bangga dari suaranya. Pamer! “Kalau enggak begitu, Galih pasti sampai tua di Inggris.” Timpal suara Om Louis sambil terkekeh. “Iya, enggak akan ketemu calon tunangannya. Kerja terus kamu, Kak.” Aku hanya mendengus mendengar ucapan Bogi yang sejak tadi selama makan hanya memilih diam. Jadi, Galih ini sudah mempunyai calon tunangan juga? Jangan-jangan menikah nanti akan bersama-sama juga. Bisa kubayangkan mata Bogi berbinar lihat perempuan-perempuan cantik. “Eh, Pendek, kenapa diam? Sakit gigi?” celetuk Bogi lagi. Orang ini membuat kesabaranku habis. Ingin rasanya menyumpal mulutnya itu dengan garpu yang kupegang. “Bogi!” Suara Om Louis terdengar sedikit membentak. Aku hanya tertawa pelan seraya menyuapkan pasta dalam satu sendokan besar ke mulutku. “Jaga bicara kamu,” lanjut Om Louis lagi, “hormati sedikit calon Kakak ipar kamu.” UHUK... UHUK... UHUK.... ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD