Papi tersenyum tipis memandangku lalu menjawab, “Papi dan Om Louis bersabahat. Kami berdua membuat perjanjian kalau anak kami laki-laki dan perempuan, kami akan menjodohkan mereka agar lebih mempererat lagi persahabatan kami. Kami sepakat. Tetapi ternyata anak kami sama-sama laki-laki jadi perjodohan itu kami anggap batal. Tanpa direncanakan, Mamimu mengandung kamu, Sayang. Dan tahu kalau kamu perempuan, Jadi mau enggak mau, kami harus menepati janji kami.”
Aku ingin menangis mendengar ucapan Papi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku nanti. “Memangnya enggak ada cara lain, Pi? Diandra enggak akan mau menikahi Datuk Maringgih.” Ya, Tuhan, aku salah apa?
Aku mendengar deheman Kak Daffi. Aku meliriknya yang tengah tersenyum-senyum sendiri. Apa yang lucu?
“Teman kakak itu ganteng, Di, jangan kamu samakan dengan Datuk Maringgih. Gantengnya macam Kakak, kalau kamu bisa membayangkannya.”
Tidak lucu!
Pikiranku seakan-akan penuh. Dalam satu hari saja sudah banyak kesialan. Mulai dari harus berkejar-kejaran dengan Om bule karena majalah, melihat Kevin selingkuh, mengetahui selingkuhan Kevin adalah mantan Kak Daffi, Papi terancam bangkrut dan yang terakhir adalah menikah dengan pilihan orangtua yang secara tidak langsung adalah menjual diriku sendiri karena terancam bangkrut. Astaga! Aku ingin berteriak kencang dengan pemikiranku yang terakhir. Aku ingin menangis meraung sekarang juga.
“Papi menjualku, begitu?” aku yakin, mataku sudah mulai berkaca-kaca. Pandanganku buram akibat menahan airmata yang jatuh.
Papi terhenyak mendengar ucapanku. “Kalau ada cara lain, Papi lakukan apapun, Sayang. Tetapi ini diambang batas kemampuan Papi dan Kakakmu.”
“Papi juga salah, kenapa harus percaya pada Robert itu.” Celetuk Kak Daffi dengan marah.
Robert? Apakah Pak Robert pria gendut yang botak itu? bukankah pria itu sudah meninggal? Apakah orang itu yang membuat usaha Papi menjadi seperti ini?
“Walaupun Papi jual rumah dan isinya,” ucapan Papi terhenti kemudian memandangi rumah mewah kami yang terletak di perumahan Tambun, Bekasi, “enggak bisa menutupi semuanya, Daf. Mungkin cuma seperempatnya saja.”
jadi, aku harus menguburkan cita-citaku kuliah di Cambridge University. Bertambahlah satu kesialanku. Aku hanya menghela nafas pelan. Kalau hanya aku yang bisa diandalkan, aku akan melakukannya. Tapi pertama-tama aku harus tahu dulu bagaimana calon suamiku.
“Dian?” suara Mami mengingatkanku bahwa aku saat ini adalah pemegang keputusan penting.
“Ya, Mi?” jawabku lesu.
“Apa keputusan kamu, Sayang?” Tanya mami lembut.
Aku menatap Mami kemudian tersenyum tipis. “Kalau itu bisa buat keuangan kita membaik, Dian terima.”
Aku melihat kedua orangtuaku menghela nafas sangat lega. Kak Daffi yang duduk di sampingku hanya bisa merangkul bahuku. Memberi dukungan setidaknya.
Papi beranjak berdiri dan tersenyum padaku, diikuti oleh Mami. “Kita siap-siap kalau begitu. Ayo.” Ujar Papi kemudian berjalan keluar rumah. Aku hanya bisa mengangguk mengikuti mereka dari belakang.
“Kalau bisa, kakak yang gantikan kamu, Dik.” Bisik Kak Daffi.
Aku mengusap lengannya yang merangkul bahuku. “Enggak perlu, Kak,” jawabku pelan, “Kalau ini cara Dian harus berbakti pada orangtua, pasti Dian lakukan.”
“Kalau kamu butuh bantuan kakak, kakak selalu ada buat kamu.”
Ucapan Kak Daffi itu membuat hatiku menghangat. Tidak disangka, Kakakku yang jahil dan iseng ini bisa jadi sangat perhatian padaku.
***
“Kamu enggak akan kecewa, Sayang. Calon kamu itu baik juga perhatian. Dia sayang keluarganya. Pasti, dia juga sayang kamu nantinya.”
Aku tahu, Mami menghiburku dengan perkataannya itu. Tetapi itu tidak berpengaruh padaku sama sekali padaku. Saat ini kami dalam perjalanan menuju kediaman rumah keluarga Louis di Kemang, Jakarta. Sepanjang perjalanan, aku lebih memilih diam memperhatikan jalan-jalan yang dipadati kendaraan bermotor. Tidak bermaksud menanggapi ucapan mereka. Asalkan calon suamiku itu tidak seperti Bogi yang playboy. Membayangkannya saja aku sudah bergidik.
“Iya, Sayang, dia sangat sopan. Papi sudah ketemu dia kemarin.”
“Iya.” Hanya itu jawabanku. Aku sedang tidak mau menjawab yang lain. Aku membiarkan orangtuaku mempromosikan bagaimana sifat dan perilaku calon suamiku. Terserah.
Mami menoleh ke belakang—tempat di mana aku duduk—lalu menatapku dengan pandangan bersalah. “Maafkan kita, Sayang. Kamu jadi korban.”
Ucapan berbisik Mami membuatku tersenyum tipis. Walau bagaimanapun, mereka adalah orangtuaku. “Enggak apa-apa, Mi. Dian mau.”
Aku masih memikirkan Kevin. Setelah semua, kami telah melewati berbagai banyak hal. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Begitu banyak tempat-tempat yang kami berdua datangi selama tiga tahun. Tempat mana yang belum? Semua sudah. Mulai dari Dufan, pantai, pusat-pusat perbelanjaan, arena permainan, restoran-restoran dan masih banyak lagi.
Bohong rasanya jika aku membenci Kevin. Bohong jika aku bisa melupakan Kevin. Tidak. sampai saat ini pun tidak. Entah kapan aku bisa melupakan Kevin. Mengingat Kevin, membuat mataku memanas. Ada sesuatu yang mendesak berusaha menjebol pertahanan kelopak mataku.
“Ayo, Sayang, kita sudah sampai.” Suara Mami membuatku mengerjap-ngerjapkan mata. Aku mendengar pintu mobil terbuka dan tertutup pelan. kedua orangtuaku sudah keluar terlebih dahulu. Setitik airmata akhirnya jatuh dan terus jatuh membasahi pipiku.
“Hey,” suara lembut Kak Daffi terdengar dekat di telingaku. “Adiknya Kakak enggak boleh nangis.” Bisik Kak Daffi kemudian menghapus airmata dari pipiku.
“Enggak kok.” Elakku. Aku sedang tidak ingin digoda Daffi.
“Terus apa?” tanya Kak Daffi. Aku hanya diam tidak menjawab. “Maaf, Kakak enggak bisa melakukan apapun, Di.”
Setelah itu, Kak Daffi memelukku erat. Aku menyayangi Kakakku. “Iya, Kak. Enggak masalah.”
“Ya sudah, sekarang kita keluar. Sudah ditunggu Mami Papi.”
Aku dan Kak Daffi keluar dari mobil. Kulihat Papi dan Mami sedang berbincang dengan seorang wanita seusia Mami di depan teras rumah mewah bergaya Eropa. Cantik. Itu satu kata yang ada di pikiranku ketika melihat wanita itu. Rambutnya yang ikal sempurna, Mata yang indah dan senyumnya yang juga sangat cantik.
“Ah, ini anakku yang perempuan.” Ucap Mami seraya menggamit lenganku ketika aku mendekat. Aku tersenyum berusaha bersikap ceria pada wanita itu. Aku tidak ingin bersikap jahat padanya.
Aku mengulurkan tangan lalu mencium tangan wanita itu. “Diandra Dara Jelita, Tante.” Kataku memperkenakan diri padanya seceria mungkin.
“Nama kamu cantik. Seperti orangnya,” ucap wanita itu, “nama Tante, Susan Louis. Panggil saja Susan.”
Mata tante Susan kemudian beralih pada Daffi yang berdiri di samping Papi. “Eh, Daffi. Apa kabar kamu? Katanya kamu sekarang sudah jadi chef terkenal?” Sapa tante Susan ramah. Sepertinya memang Kak Daffi sudah dikenal baik oleh keluarga Louis ini.
Kak Daffi tersenyum merendah. “Saya masih seperti biasa, Tante.”
Tante Susan mengangguk kemudian mengajak kami masuk ke dalam rumahnya. “Ayo mari masuk. Silahkan duduk dulu.” Ucap Tante Susan mempersilahkan kami duduk ketika sudah memasuki ruang tamunya yang luas. Lebih besar dua kali lipat dari rumah kami.
“Louis mana, San?” tanya Papi pada Tante Susan.
“Louis mengunjungi kantor barunya. Mungkin sebentar lagi pulang,” jawab Tante Susan sembari tersenyum, “akhirnya kita jadi besanan juga ya.” Sambung Tante Susan senang. Mami dan Papi tertawa seraya mengangguk. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum tipis. Yah, semoga anak Tante Susan itu tampannya seperti Kak Daffi.
“Mom?” Panggil suara laki-laki yang sepertinya dari lantai dua.
Aku yang sejak tadi terdiam menjadi tegang. Apa orang ini yang akan menjadi calon suamiku nanti? Aku seperti pernah mendengar suaranya.
“Mom di ruang tamu, Sayang.” Balas Tante Susan setengah berteriak. “Kemari, ada yang mau Mom kenalkan padamu!” Teriak tante Susan lagi.
“Okay!” Jawab suara laki-laki itu lagi.
Jantungku semakin berdegup kencang. Otakku berfikir keras mencoba mengingat-ingat suara milik siapa itu. Aku seperti pernah bahkan sering mendengar suara itu disekitarku!
Tak lama kemudian seorang laki-laki tinggi, memakai pakaian kasual muncul di hadapanku. Terdengar sapaan laki-laki itu pada Kak Daffi. Kak Daffi berdiri lalu menyambut laki-laki itu. Mataku membulat sempurna ketika melihat siapa yang berdiri di hadapanku. Tak mungkin kalau laki-laki ini yang akan menjadi calon suamiku. Tidak mungkin!
“Diandra, kenalkan ini anak Tante.” Suara tante Susan membuatku tersenyum gelagapan karena aku masih dalam fase terkejut.
Ya, Tuhan! aku harus bagaimana jika memang dia yang menjadi calon suamiku? Aku bisa mati muda!
“Loh, ini kamu, Pendek? Cantik.”
Betul! Ini aku! Diandra. Dan laki-laki ini adalah Adittrian Bogi. Kenapa harus dia? Playboy yang selalu kusebut ‘cap Gayung’.
***