Chapter 3 Diandra : Perjodohan

1071 Words
Aku melemparkan majalah itu pada Kak Daffi yang sedang menggunakan laptop baru dibelinya dua minggu lalu. “Itu majalahmu, Kak.” Kataku kemudian merebahkan badan ke tempat tidurnya yang bernuansa cokelat. Aku menangis tersedu-sedu di sana seraya memeluk boneka lumba-lumba kado ulang tahun untuk Kak Daffi tahun lalu. Hatiku sangat perih. Aku sedih. Tiga tahun kulalui bersama Kevin hanya berakhir seperti itu. Kurasakan punggungku diusap. Kemudian terdengar suara Kak Daffi bertanya pelan padaku. “Kenapa, Di? Ada yang menyakitimu?” “Aku lagi sedih, Kak.” Gumamku. “Kakak paham. Tapi sedih ada alasannya. Sedih kenapa?” tanyanya masih mengusap punggungku. “Kakak pernah diselingkuhi pacar? Memangnya enggak cukup hanya satu saja?” aku sangat kesal mengingat wajah Kevin tadi. Dia tidak mengejarku saat aku pergi. Dia hanya duduk diam di sana seperti orang yang tidak peduli lagi. “Kakak sudah bilang kalau kamu enggak boleh pacaran. Kalau sudah seperti ini, siapa yang rugi? Kamu.” Aku membenamkan wajahku pada boneka lumba-lumba yang kupeluk. Ucapan Kak Daffi tidak membantu sama sekali. Dia malah memarahiku. “Sudah, cepat ganti baju. Mami Papi nunggu kamu. Jangan dipikir orang enggak berguna semacam Kevin itu.” Ucapan Kak Daffi sontak membuatku terlonjak kaget. Dalam sekejap saja aku sudah duduk berhadapan dengan Kak Daffi. “Kok kakak tahu? Tahu dari mana? Kakak mengikutiku?” Kak Daffi menatapku lembut kemudian menghela nafas, “Selingkuhan Kevin itu mantan Kakak. Jadi Kakak tahu semuanya.” “Veronika itu?” tanyaku masih kaget. Kak Daffi mengangguk, “Iya. Kakak sudah putus sebulan lalu. Sudahlah. Dia itu bukan jodoh kamu, Dian.” Tangisanku semakin kencang lalu memeluk Kak Daffi, yang dilakukan Kak Daffi yaitu memelukku kembali seraya mengusap punggungku. Kenapa Kak Daffi tidak mengatakannya saja padaku? kenapa Kak Daffi jahat seperti itu? “Daffi, kamu selalu buat Adikmu nangis.” Terdengar suara lembut Mami menegur Kak Daffi yang dijawab Kak Daffi hanya tertawa. Kak Daffi adalah Kakak jahil tetapi sangat menyayangiku. Dia selalu seperti itu tetapi dia sangat pengertian padaku. “Sudah, Diandra. Daffi, jangan kamu ganggu adikmu itu. Diandra, mandi cepat. Kita mau makan malam di rumah Om Louis. Kamu juga, Daffi. Kamu harus ikut.” Aku menatap Mami seraya mengusap airmataku. “Memangnya ada apa, Mi?” tidak biasanya Mami mengajakku makan malam. Biasanya, hanya mereka saja berdua yang pergi. “Om Louis itu sahabat Papimu. Sudah lama Papi enggak ketemu mereka. Sekarang Om Louis ada di Indonesia, jadi Papi kamu mau melepas kangen.” Ucap Mami kemudian tersenyum padaku. Lalu, apa hubungannya denganku? “Iya. anaknya Om Louis itu teman kecil Kakak, sudah lama Kakak enggak ketemu dia karena kuliah di Inggris, jadi Kakak juga mau melepas kangen sama dia.” Timpal Kak Daffi. Raut wajahnya sangat senang. Aku mendengus. Lalu aku? “Ya sudah, kalian saja yang pergi. Dian nggak ikut. Mau di rumah. Mau belajar.” “Kamu selalu seperti itu,” tegur mami lagi, “kamu harus ikut. Enggak ada penolakan.” “Iya. Tapi apa alasannya kalau Dian ikut?” sungguh tidak masuk akal. “Mandi dulu, nanti Mami Papi mau bicara penting ke kalian berdua.” Jelas Mami penuh dengan misteri lalu keluar kamar Kak Daffi. Aku menatap kak Daffi meminta penjelasan namun Kak Daffi hanya mengangkat bahu. *** Aku memandang gaun putih selutut yang berada di atas tempat tidur lalu kuangkat tinggi-tinggi dengan kedua tanganku. Aku tidak pernah memakai gaun sebelumnya. Pakaianku hanya celana jeans dipadukan dengan kaus dan sepatu kets. Aku tidak menyukai pakaian formal seperti ini—layer dress dengan ikat pinggang berbentuk pita berwarna hitam. Aksesoris manik-manik berwarna hitam dilengkapi dengan sepatu wedges. Oh, Tuhan, ini bencana bagiku. Alasanku tidak menyukai gaun karena aku tidak suka jika angin datang, gaunnya akan berkibar tertiup angin. Dan sepatu seperti ini hanya akan mempersulitku berjalan. Mau bagaimana lagi? permintaan Mami harus kuturuti walau aku ingin sekali memakai sepatuku sendiri. Mungkin setelah acara selesai, aku akan memberikan satu set gaun makan malam ini kepada anak Mbok Nah yang berada di kampung halamannya, di Solo. Pintu kamarku diketuk beberapa kali, setelah itu, terdengar suara Mbok Nah. “Non, sudah ditunggu tuan, nyonya sama Den Daffi di ruang tamu.” “Iya Mbok. Sebentar lagi Dian turun. Lagi pakai lipstick.” Sahutku seraya memoleskan lipstick berwarna peach ke bibirku. Warna lipstick yang sangat kutoleransi sejauh ini. Setelah selesai, perlahan aku keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga. Terdengar sayup-sayup suara kedua orangtuaku dan Kak Daffi sedang berbicara. Aku tidak bermaksud menguping, tetapi, aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. “Mi, Pi, Daffi yakin kalau Dian nolak.” “Belum ditanya sudah enggak yakin. Lagipula memang cuma itu satu-satunya cara, Daf.” Itu suara Papi. Cara apa, sih? Ah, lebih baik aku bergegas menghampiri mereka saja. Aku tidak mau mati penasaran. Semoga saja bukan masalah serius. *** Saat mendengar langkah sepatuku mendekat, mereka bertiga serempak menoleh menatapku. Kak Daffi tersenyum cerah menghampiriku lalu memujiku. “Wah, cantiknya.” Aku bersungut. “Risih aku, Kak, pakai pakaian ini.” kataku kemudian melewati Kak Daffi begitu saja lalu duduk di sofa berhadapan dengan orangtuaku. Aku berdehem, “sekarang, jelaskan, buat apa Mami Papi minta aku ikut juga makan malam? Enggak biasanya.” “Diandra,” ucap Papi pelan, “Papi mau kamu dengarkan dulu apa yang Papi katakan. Setelah itu, kamu boleh protes atau marah. Oke?” Melihat Papi yang sangat serius, aku tahu ada masalah pelik. Aku hanya berdoa bukan karena kenakalanku selama sekolah. “Usaha batubara Papi hampir bangkrut, Nak.” Mataku membulat mendengar kata ‘bangkrut’. Lalu bagaimana? “Terus?” tanyaku pelan. “Teman Papi yang namanya Louis ini mau bantu Papi. Memang, kamu belum pernah beremu mereka. Cuma Kakak kamu saja yang sudah. Tetapi ada syaratnya ….” Ucapan Papi terhenti lalu memandangiku lekat-lekat. “Syaratnya apa, Pi?” tanyaku parau. Apapun akan kulakukan jika itu bisa membuat usaha Papi bangkit lagi. Sungguh. Jika aku harus bersujud di kaki Om Louis, aku akan melakukannya. “Kamu menikahi putranya Om Louis.” Aku tersentak mendengar kalimat itu. Tidak ada dalam kamusku untuk menikah muda. Aku tidak ingin masa remajaku hilang jika aku menikah muda. Aku masih sekolah. Aku ingin kuliah. Aku ingin membahagiakan orangtuaku. Lagipula, aku belum melihat bagaimana rupa calon suamiku itu. Aku tidak mau memiliki suami yang tua, botak bahkan gendut. Aku takut membayangkan Datuk Maringgih dalam kisah Siti Nurbaya. Ingin sekali aku memrotes, tetapi, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku kembali mengingat kisah cintaku dengan Kevin yang dibangun hampir tiga tahun sudah hancur. Sampai sekarangpun aku masih tidak percaya jika aku  dan Kevin sudah putus. Rasanya dunia tidak adil bagiku. Mengapa itu harus terjadi padaku? Apakah takdir memainkan peranannya saat ini? Karena, aku sungguh tidak berdaya. “Kalaupun kamu menolak, perjodohan itu tetap berjalan, Sayang.” Suara Mami akhirnya membuatku kembali ke masa kini. Aku tertegun mendengar ucapan Mami. “Kenapa?” akhirnya hanya kata itu yang keluar. Apakah tidak ada cara lain lagi? perjodohan di abad sekarang ini? akibat perusahaan yang bangkrut? Kupikir itu hanya dalam cerita yang k****a. Sungguh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Siti Nurbaya saat itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD