Chapter 2 Diandra : Kecewa

1417 Words
Aku dan Metha memasuki toko pakaian dalam di Mall Metropolitan Bekasi. Satu-satunya Mall yang menjadi tempat favoritku untuk jalan-jalan. Sebelumnya, Metha memintaku menemaninya untuk membeli kado pernikahan Kakaknya. Farah tidak bisa ikut karena dia harus mengikuti les Biola. Berbicara mengenai les, aku paling tidak suka les-les begitu. Terlalu banyak kegiatan membuatku tidak akan bisa istirahat. Setelah menetapkan pada satu pilihan pakaian dalam yang dibantu oleh penjaga toko, dan menunggu untuk dibungkus kado, aku melihat koleksi lingerie di toko itu. Aku bergidik ngeri jika membayangkan memakai pakaian seperti itu walaupun hanya di dalam kamar. Sedang sibuk melihat, tiba-tiba saja ponselku berdering. Nama Kak Daffi terpampang di layar ponsel. Kakak yang paling kusayang dan pasti ada niat terselubung ketika dia meneleponku. “Adiknya kak Daffi yang paling manis, ada di mana?” Suara lembut Kak Daffi menyapa telingaku. Aku tahu apa maksudnya. “Aku di Mall, menemani Metha beli kado.” “Wah, kebetulan, belikan Kakak majalah otomotif. Yang biasa Kakak beli.” Aku mencibir diam-diam. Bukankah dia bisa membelinya sendiri? aku sedang tidak ingin berkeliling Mall. Aku ingin konsentrasi pada belajarku. “Beli sendiri.” Tolakku mentah-mentah. “Yah, Adik cantik, Sudah Kakak cari tapi kehabisan. Di majalah itu ada artikel yang Kakak cari.” Kak Daffi adalah seorang chef terkenal yang membuka restoran makanan Indonesia di Pusat Kota Jakarta sana. Kulit putih, hidung mancung, sorot mata yang tegas membuat siapa saja tergila-gila padanya. Namun tak satupun dari wanita itu yang menarik perhatian Kak Daffi. Papiku adalah pengusaha batubara yang cukup terkenal di Indonesia, yang namanya cukup diperhitungkan. Mami adalah penyanyi terkenal yang memilih pensiun dari dunia tarik suara. Bakat menyanyi mami menurun padaku. Aku pernah menyanyi dari café ke café ketika aku duduk di kelas dua SMA tetapi sudah tidak lagi karena ditentang oleh papi. Aku mendesah kalah. “Iya. Sebentar lagi Dian mampir ke toko buku.” “Terima kasih, Adik cantik. Uang jajan kamu Kakak tambah lima puluh persen.” Aku tersenyum cerah saat Kak Daffi menjanjikan padaku akan menambahkan uang jajan sebanyak 50 persen. Dengan semangat aku mengangguk bahagia. Setelah pesanan kado selesai, aku dan Metha berpisah. Metha ingin cepat pulang dan belajar. Sementara aku membeli pesanan Kakakku. Aku melangkahkan kaki ke lantai dua. Setelah sampai di toko buku, aku langsung ke bagian majalah-majalah. Mataku mencari-cari majalah otomotif pesanan Kakakku. Aku menggerutu saat tidak satupun majalah otomotif yang kucari. Memang sepertinya majalah itu sedang menjadi best seller sehingga habis. Aku terus menggerutu seraya ‘menggerataki’ susunan majalah. Setelah ini, pasti penjaga toko buku akan marah karena tumpukan bukunya sudah berantakan. Setelah mencari sekitar sepuluh menit, akhirnya aku menemukan apa yang kucari. Berteriak kencang, aku melonjak senang. Majalah otomotif itu ternyata terselip diantara majalah pernikahan. Untuk apa majalah ini disimpan di antara majalah pernikahan? Entahlah. Tanganku terulur menggapai majalah yang sudah dicari sejak tadi. “Akhirnya, uang jajan tambahan akan kudapatkan.” Gumamku. Namun, tanganku beradu dengan tangan besar milik seseorang yang juga mengambil majalah yang sama. “Hey, aku yang dapat duluan.” Ucapku menarik majalah itu dari tangan besar itu. “Saya yang lihat duluan, Adik kecil.” Ucap suara berat sang pemilik tangan itu. Aku bukan orang yang pemaksa tetapi jika sudah datang niatku, aku memperjuangkannya. Terlebih lagi, ini adalah perjuangan untuk mendapatkan buku yang sejak tadi kucari. Aku kembali menarik buku itu darinya. “Om cari yang lain. Masih banyak.” Kataku lalu mendongakkan kepalaku. Ingin tahu seberapa menyebalkannya pria yang tidak mau mengalah ini kepadaku. Mataku beradu dengan mata biru cerah pria yang masih berusaha menarik majalah itu dariku. Aku mengerutkan kening tatkala melihat pria asing ini. Kulitnya berwarna cokelat bukan putih pucat seperti kebanyakan pria asing lainnya. Bahasa Indonesianya sangat fasih sekali seperti sudah tinggal di Indonesia begitu lama. Hidung mancung, bibir tipis dan rambutnya yang hitam seperti arang. Tetapi secara keseluruhan, tampak serasi. Aku memiringkan kepalaku seraya masih memperhatikannya. Apakah mata itu memakai contact lens atau mata itu adalah mata asli miliknya? karena, warna mata itu tampak sangat bagus sekali. Tiba-tiba saja majalah itu sudah berpindah tangan kepada pria itu. “Terima kasih majalahnya, Adik kecil.” Ucap pria itu tanpa adanya senyum sama sekali kemudian melangkah pergi meninggalkanku. “Hey, tunggu!” Aku berteriak lantang mengejar pria itu. Tidak peduli pandangan terganggu orang lain. “Apa?” tanya pria itu tidak peduli seraya terus berjalan ke kasir. “Itu majalah buat saya saja, Om. Saya lagi butuh.” Rengekku menepuk-nepuk pundak kanan pria itu. “Kamu cari yang lain. Saya juga lagi butuh.” Ucap pria itu datar masih terus berjalan. Mengacuhkanku yang terus mengikutinya dari belakang. Pria keras kepala. “Dasar tua bangka.” Gumamku sebal. “Saya bukan tua. Saya masih 30 tahun.” Jawab pria itu ketus masih terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tidak ada cara lain selain merebut majalah itu dari pria tua itu. “Pokoknya majalah itu buat saya. Saya butuh majalah itu untuk tugas.” Kataku kemudian merebut majalah yang di pegang pria itu. Secepat kilat aku berlari menghindari kejaran pria itu dan segera membawanya ke meja kasir. “Cepat, Mbak.” Ucapku setelah sampai di meja kasir dengan ngos-ngosan. Sang penjaga kasir hanya mengangguk dan mengerjakan dengan cepat. “Hey, Anak kecil! Jangan lari!” Teriak pria bermata biru itu. Aku berbalik dan menjulurkan lidahku pada pria itu kemudian berlari lagi. Kulihat pria itu tidak mengejarku. Aku berhasil. Setelah menuruni tangga dari lantai dua, perutku bergejolak, merasa lapar juga haus. “Ini akibat Om itu, perutku sakit minta diisi.” Gerutuku. “Kamu lapar?” “Aaaa!” aku berteriak lantang. Pria itu lagi! sejak kapan dia berhasil mengejarku? Terbuat dari apa langkah kakinya? “Berisik!” bentak pria itu lalu pria itu menghela nafas kemudian mengeluarkan dompetnya dan menarik beberapa lembar uang lima puluhan kepadaku. “Ini, saya beli majalahnya.” Ucap pria itu melayang-layangkan uang ke depan wajahku. Beberapa lembar uang lima puluh ribuan itu seakan melayang-layang di dalam otakku. Banyak sekali uang yang pria itu berikan padaku jika aku menyerahkan majalah ini padanya. Namun, janji Kak Daffi mengenai uang jajan membuatku berpikir ulang. Ah, aku tidak akan tergoda. Aku bukan jenis perempuan yang mudah tergoda. “Enggak.” Tegasku menggeleng, “ini untuk tugas sekolah saya, Om. Seharusnya Om mengalah dari saya yang om bilang anak kecil.” Ucapku melotot kepadanya. “Memang.” Jawab pria itu menatapku dengan mata birunya. “Terserah.” Ucapku kemudian berjalan pergi. Aku menyerah. “Hey, mau ke mana?” Cegah pria itu menghalangiku dengan berdiri menjulang di depanku. Masih tidak mau mengalah. Aku tidak menjawab pertanyaan pria itu. Mataku sedang memperhatikan lekat-lekat dua orang yang berjalan mesra dari balik lengan pria asing aneh ini. “Kevin?” gumamku tidak percaya. “Benar enggak, sih?” gumamku lagi memicingkan mata melihat Kevin dan wanita itu yang memasuki salah satu restoran cepat saji yang cukup ramai dikunjungi pembeli. Saat aku bermaksud untuk mengikuti orang yang kusangka Kevin, tangan pria itu mencegahku. “Kamu mau ke mana? Kamu enggak mau uang ini?” Ucap pria itu padaku. “Enggak. Terima kasih, Om. Saya mau mengikuti pacar saya.” Kataku lalu berjalan pergi. Aku tidak peduli reaksi pria itu.  *** Aku memasuki restoran cepat saji yang berisi berbagai macam donut. Perlahan aku duduk di meja yang berseberangan dengan meja Kevin dan wanita yang sudah kulihat beberapa kali itu, yang menurut Kevin merupakan sepupunya. Aku bisa mendengar jelas apa yang diucapkan Kevin pada wanita itu. “Kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Kevin pada wanita itu dengan lembut. Sayang? Kevin tidak pernah memanggilku dengan kata itu sejak awal kami berkomitmen untuk berpacaran. “Apa saja. Terserah kamu.” Balas wanita itu dengan suara tidak kalah manja. “Oke.” Jawab Kevin kemudian mencium pipi wanita yang duduk di sampingnya itu. Wanita itu membalas ciuman Kevin dengan ciuman singkat di bibir. Darahku seakan menggelegak melihat pemandangan di seberang meja itu. Kevin bohong. Saudara mana mungkin lengket begitu. Kenapa aku percaya saja penuturan Kevin selama ini? Apa kurangnya aku dengan wanita itu? Kalau dikatakan cinta, aku masih mencintai Kevin. Tetapi kalau sudah seperti ini, kata ‘masih’ akan berganti menjadi ‘mungkin’. Aku tidak bisa marah. Marah bukan tipeku. Jika emosi itu sudah mencapai batasnya, aku hanya bisa menangis seperti sekarang. Aku sudah terlalu banyak berharap pada Kevin. Berharap apa yang dikatakan kedua temanku mengenai Kevin itu bohong. Berharap itu hanya sekedar candaan teman-temanku. Berharap cinta Kevin hanya untukku seorang. Benci benar aku dengan apa yang kulihat. Dengan airmata masih bercucuran, aku menghampiri meja itu lalu berkacak pinggang di depan mereka berdua. Kevin yang melihatku datang menjadi gugup. Pasti Kevin tidak pernah menyangka aku ada di hadapannya seperti sekarang ini. “Diandra.” Gumam Kevin dengan nada suara yang gugup. Aku tidak memedulikan Kevin. Mataku fokus pada wanita yang ada di sampingnya. “Kamu siapa?” Wanita itu berdiri lalu mengulurkan tangannya kepadaku dengan pongah. “Kenalkan, aku Veronika. Pacar Kevin.” Wanita yang bernama Veronika menatap Kevin lalu tersenyum, “Iya, kan, Sayang?” Kevin tidak mengatakan apapun pada ucapan Veronika. Aku yang melihat gelagat Kevin menjadi yakin bahwa Veronika adalah pacarnya. “Selamat, Kevin.” Ucapku masih bercucuran airmata kemudian berlari pergi. Sungguh sakit rasanya ketika mengetahui jika orang yang kucintai ternyata mendua. Apalagi melihatnya dengan mata kepala sendiri. Bersyukur jika aku tidak melihatnya lagi. Tetapi aku setiap hari melihat dia. Apakah aku tahan? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD