Aku berlari kencang menuju kelas. Sekolah sudah sangat sepi. Pasti bel berbunyi sudah sejak tadi. Ini karena ulah Papi dan Kak Daffi yang mengajakku menonton pertandingan sepak bola semalam. Chelsea vs Averton yang yang pasti dimenangkan oleh Chelsea.
“Yah, telat lagi.” Aku semakin mengeluh saat teringat jam pelajaran pertama hari ini, “Pak Widi. Bisa lari keliling lapangan, deh.” Guru matematikaku yang satu itu terkenal galak sekali. Dari cerita yang beredar, guruku itu belum menikah. Siapa pula yang mau dengan guru garang macam Pak Widi itu. Amit-amit!
BRAK!
“kalian paham?!”
Jantungku hampir melompat karena mendengar gebrakan papan tulis yang bercampur dengan suara geram Pak Widi. Pasti Pak Widi sedang stress berat. Semoga dia tidak bertambah stress karena keterlambatanku.
TOK... TOK... TOK
Perlahan aku mengetuk daun pintu yang terbuka. Wajah Pak Widi sama seramnya dengan wajah teman-teman sekelasku. Pak Widi menoleh ke sumber suara. Aku menyengir melihat betapa seramnya wajah guru matematikaku itu tatkala menatapku.
“Diandra Dara Jelita.”
Mataku mengerjap ketika mendengar namaku disebut dengan jelas dan lantang oleh Pak Widi. Jantungku mulai berdegup.
“Sa... saya, Pak.” Aku mulai gugup sekaligus takut. Aku sebal jika harus berhadapan dengan Pak Widi. Tidakkah sekali saja dia tersenyum.
Pak Widi masih menatapku. Dia diam tak bergerak. “Siapa yang menang pertandingan bola semalam?”
Aku tersenyum. Sepertinya Pak Widi tidak marah. “Chelsea, Pak.”
“Lari keliling lapangan lima kali!”
Apa?! ya, Tuhan. Ternyata dia marah besar. Seharusnya aku tidak menjawab demikian. Seharusnya aku diam saja. Katakan tidak tahu atau aku ketiduran karena mengerjakan pe-er darinya. Aduh! Pe-er matematikaku lupa kukerjakan. Mati aku!
“Cepat!” aku terlonjak mendengar suruhannya itu. Aku mengangguk-anggukan kepala bagaikan pajangan gu-guk di mobil. “Tunggu apa lagi?” tanyanya saat melihatku masih diam tak bergerak.
Aku menyengir. “Lapangannya besar, Pak. Saya nanti pingsan, Pak.” Aku minta dispensasi.
Mata Pak Widi mendelik dari balik kacamata yang dipakainya. Alamak! “ditambah dua kali!”
Ya, ampun! Ini tidak adil. Kudengar kekehan pelan dari teman-teman satu kelasku. Ah, dasar teman-teman menyebalkan!
Aku menghela napas. Baiklah. “Ya, tujuh kali.”
Aku berlari kecil menuju lapangan olahraga yang letaknya berada tepat di hadapan kelas lalu mulai berlari dengan cepat agar cepat selesai dengan hukuman ini. Ah, hari yang sial.
“Eh pendek, telat, ya?” gumam suara seorang laki-laki di belakangku. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa yang selalu menjulukiku pendek.
“Bawel kamu, Bogi. Aku bukan pendek.” Kataku ketus. Aku terus berlari. “Baru dua. Tinggal lima kali lagi.” Gumamku. Aku lelah ya, Tuhan!
“Kalau bukan pendek, apa? cebol?” Bogi memang berperawakan tinggi, berkulit putih dan berwajah lumayan tampan tetapi dia playboy. Entah apa salahku padanya, dia senang sekali mengangguku. Dia suka sekali mencibirku pendek. Aku memang pendek dengan tinggi hanya 150 centimeter, tetapi apakah harus selalu dia sebut-sebut setiap hari kata itu?
Dengan kesal aku berbalik melototinya seraya bertolak pinggang. “Eh, dengar ya playboy cap gayung, aku bukan pendek atau cebol, Aku mungil. Ingat itu.” Semburku kemudian kembali berlari. “Panas-panas buat darahku naik. Dasar Bogi bego.” Gerut Diandra sepanjang berlari.
“Kamu cantik kalau marah.” Goda Bogi yang tanpa kusadari sudah mensejajarinya. Senyum menyebalkan tercetak jelas di wajahnya.
“Enggak mempan,” ketusku, “Aku adukan kamu ke Kevin baru tau rasa.” Kevin pasti akan membelaku. Bogi pasti akan dihajar habis-habisan nanti. Sudah hilang kesabaranku menghadapi Bogi.
“Hah! Cowokmu yang flamboyan itu, ya?” Cibir Bogi. “Silahkan saja.” Dia menantang.
“Ih, Bogi bodoh, sana jangan dekat-dekat. Alergi aku lihat mukamu yang sok ganteng.” Aku berusaha mengusirnya yang pastinya tidak akan mempan. Kembali aku berlari meninggalkannya yang terkekeh-kekeh sendiri. “Mentang-mentang anak yang punya sekolah, bisa seenaknya saja ganggu orang.” Aku mulai menggerutui Bogi sepanjang jalan.
“Eh, mau tau enggak kenapa aku suka gangguin kamu?”
Aku memutar mataku. “Enggak butuh!” aku tidak peduli alasan dia menggangguku setiap hari. Terserah dia.
“Karena kamu lucu kalau kuganggu.” Lalu dia tertawa.
Alasan macam apa itu. “Aku bukan ondel-ondel.”
Lagi-lagi Bogi tertawa. “Siapa bilang kalau kamu itu ondel-ondel. Aku cuma bilang kalau kamu lucu.”
“Bodo amat. Terserah.” Kataku lalu mempercepat lariku.
***
Aku mendesah mengingat kejadian malam minggu kemarin. Aku melihat Kevin sedang berdua dengan seorang wanita yang usianya mungkin lebih tua. Wanita itu berdandan tebal dengan lipstick merah menyala. Tangan wanita menggamit mesra pinggang Kevin. Aku mengakui bahwa Kevin sangat memesona dan banyak digandrungi orang. Predikat flamboyan memanglah tidak salah disandang Kevin. Karena pesona Kevin itulah yang membuatku terpikat.
Aku tentu saja meminta penjelasan pada Kevin namun setelah Kevin memberitahukan padaku bahwa wanita itu adalah saudara sepupunya, aku percaya. Kevin orang yang baik. Aku menyayangi Kevin. Kami berdua sudah berpacaran selama tiga tahun semenjak pertama kali aku mengenalnya di masa orientasi SMA hingga saat ini. Tidak kusangka sama sekali hubungan kami akan bertahan hingga hampir lulus SMA. Aku yakin, kami akan tetap bertahan hingga kuliah nanti dan menikah.
“Masalah Kevin?” pertanyaan Metha membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.
“Ke mana dia?” Mata bulat Farah melirik ke kiri dan ke kanan mencari Kevin di antara ramainya siswa yang berada kantin sekolah kami. Sekolah yang berada di jantung Kota Bekasi. SMA Tunas.
Aku sendiri tidak tahu ke mana Kevin. Bolos sekolah lagi? padahal, ini sudah mendekati Ujian Akhir Nasional. Aku tidak bisa mengekang seseorang sesuai dengan apa yang kuinginkan karena aku sendiri pun tidak ingin.
“Aku sudah bilang, Diandra. Kevin itu—” Ucapan Metha terhenti ketika melihat Adittrian Bogi berjalan menghampiri kami bertiga seraya tersenyum cerah.
Laki-laki ini adalah orang terakhir yang tidak ingin kulihat dan orang pertama yang ingin sekali kulenyapkan. Sifat playboy dia sudah memasuki taraf yang memprihatinkan. Hampir sebagian siswi di SMA Tunas ini sudah menjadi pacarnya.
Dia selalu mencari masalah denganku. Entah apa salahku padanya. Dia merupakan putra kedua pemilik sekolah ini. Putra pertama mereka yang kudengar sedang studi S2 di luar negeri dan akan kembali dalam waktu dekat ini. Namun, ada sebagian yang mengatakan bahwa putra pertama pemilik sekolah ini adalah seorang pengusaha kaya di luar negeri sana. Entahlah. Desas-desus seperti itu selalu ada karena berita mengenai Kakak beradik dari keluarga Bogi selalu enak didengar menurut mereka—para penggosip. Tetapi tidak menurutku.
Tetapi aku selalu bersyukur dalam hati jika Bogi terlibat masalah, pihak sekolah tidak akan segan-segan menghukumnya. Tidak pilih kasih karena Bogi adalah ‘Putra Mahkota’.
“Untuk apa dia kemari?” Aku menggerutu pelan melihatnya duduk tepat di hadapanku dengan semangkuk bakso di tangannya.
Bogi menoleh menatapku menyengir. “Nggak usah marah begitu, Di, nanti kamu suka aku loh.” Lalu, dengan ‘sangat sopannya’ dia menepuk kepalaku.
Sontak saja aku, Farah dan Metha yang mendengar itu berpura-pura muntah. Mata hitam Bogi yang tajam melirik ke arah Metha dan Farah kemudian mendengus, “Kalian berdua jangan begitu. Kena pesonaku baru tau rasa kalian.”
“Pesona apaan? Pesonamu sudah karatan!” dengus Farah seraya melempar kerupuk rambak yang ada di tangannya ke arah Bogi.
“Pe-de. Jatuh baru tau rasa. Sakit nanti.” Timpal Metha sebal.
Aku hanya diam saja melihat tingkah mereka bertiga. Pikiranku masih melayang pada penglihatanku kemarin. Apakah betul Kevin dan wanita itu saudara? Jika benar begitu, kenapa mesra sekali? Aku memang harus meyakinkan sendiri lagi nanti. Mungkin memata-matai Kevin. Tapi hari ini saja Kevin tidak terlihat batang hidungnya. Bagaimana bisa aku membuktikan kecurigaanku. Aku mau saja percaya pada ucapan Kevin, tapi laki-laki itu sudah berulang kali terpergok dengan wanita yang sama. Apakah aku harus percaya lagi?
“Di, ke mall yuk pulang sekolah. Aku mau beli sesuatu nih.” Ucap Metha membuatku menatapnya malas. Aku sedang dalam mood yang jelek.
“Beli apa sih?” tanyaku malas.
Mata sipit Metha malah menatap kami semua dengan gusar yang membuatku mengangkat alis. “Sesuatu buat Kakakku.” Jawab Metha.
Bogi hanya cuek saja sembari memakan bakso pesanannya. Sepertinya dia tidak tertarik pada pembicaraan kami.
Aku lihat Farah mengangguk paham. “Oh …. Buat Kak Tatia yang mau nikah itu, ya?” Sahut Farah seraya mengunyah kerupuknya yang dijawab Metha dengan anggukan kecil.
Aku tersenyum cerah mendengar ucapan Farah. Instingku untuk kado Kak Tatia pasti tidak akan meleset. “Beli lingerie, kan? Ayo deh. kuantar.”
Tiba-tiba Bogi terbatuk-batuk. Dia kenapa? Sedangkan Metha menepuk dahinya. Aku salah bicara? Bukankah lingerie adalah barang yang lumrah dipunyai setiap wanita yang akan menikah?
Aku melirik Bogi yang masih berusaha mengambil nafas, “kenapa matamu melotot begitu. Belum pernah dengar kata lingerie?”
“Dengarlah ... Bagus tuh di pake kamu, Di.” Cengir Bogi seraya menyesap air putihnya dengan sedikit gugup.
Aku melemparinya kerupuk yang ada di meja. “Dasar! Otakmu itu!”
Gila Bogi. Otaknya kenapa sampai di sana? Dan apa yang dilakukan anak itu sekarang? Dia hanya tertawa-tawa saja.
Farah mengerutkan hidungnya sebal mendengar ucapan sembarangan Bogi. “Otakmu itu harus disapu pakai sapunya Pak Sukur. Tukang kebun sekolah kita itu.” Timpal Farah jengah.
“Emang,” sahut Metha kemudian matanya menatapku sebal, “kamu juga, Di, jangan polos-polos banget. Otak Bogi yang konslet tambah konslet dengar kata itu.” Tambah Metha menatap jengkel Bogi yang hanya memakan baksonya dengan santai.
Aku mengibaskan tangan di udara. Bogi dengan segala kelakukan ajaibnya. “Sudah biar. Cuma Bogi ini,” ucapku malas, “ayo kita ke kelas. Aku malas di sini. Nggak ada Kevin.” Sambungku lagi kemudian berdiri dari kursi.
Bogi mendongak dari makanannya saat melihat kami serempak berdiri. Ditatapnya aku dengan seringaian jahil menghiasi wajah bulenya. “Eh kecil, mau ke mana? Nggak makan dulu sama cowok ganteng ini?” lagi-lagi Bogi dengan mulut buayanya.
“Kenyang aku lihat kamu makan.” Kataku kemudian pergi dari kantin diikuti Metha dan Farah.
Dari sudut mataku, kulihat Bogi sedang mengganggu siswa pindahan dari kelas XI IPS yang bernama Amanda. Aku menggelengkan kepala pada kelakuan Bogi. Benar-benar playboy cap gayung. Kapan dia bertobat?
***