12. Bu Naira

1024 Words
"Ibu rasa kalau Adev itu suka loh sama kamu, Van. Dia gak pernah sekhawatir itu sama orang lain, dia juga gak pernah peduli yang seperti itu ke orang lain. Dia itu dingin, sangat dingin. Melebihi es batu kali, tapi pas sama kamu, dia jadi hangat banget, menegangkan, memberikan berbagai macam perlindungan, ibu suka itu. Ibu suka saat kalian berdua saling mengerti, memahami, mengayomi, dan lain sebagainya. Ibu menyukai saat kalian saling membutuhkan satu sama lain." Bu Naira memberikan pendapatnya kepada Vania. Menurut Bu Naira, seseorang akan berubah jika memiliki tujuan tertentu, jika memiliki seseorang yang akan menjadi pacuannya berubah. Ia sangat yakin seratus persen, valid no debat kalau Adev menyukai Vania. Semua itu sangat kentara bagaimana Adev melihat tatapan Vania. Bagaimana Adev melihat senyum Vania. Bagaimana Adev mendengarkan kata Vania, kabar tentang Vania, dan lain sebagainya. Bu Naira sudah lama mengenal Adev, ia baru pernah merasakan Adev seperti ini saat bersama Vania. Saat Adev berusaha sekuat tenaga melindungi Vania. Vania memikirkan apa yang Bu Naira katakan. Memang iya jika Adev menyukainya? Memang mungkin jika Adev sayang kepadanya? Memang semua yang dilakukan Adev kepadanya berbeda? Apakah Adev memang benar-benar menyukai dirinya? Menyukai seorang Vania Raselia Arkarna? Ribuan pertanyaan Vania di benak, tak sedikitpun terucap. Ia bingung setelah kepayang, apakah dirinya dan Adev pantas bersama? Apakah ia sama sekali tidak akan terluka lagi jika mulai merasakan jatuh cinta? "Emang Adev beneran suka sama Vania ya, Bu? Vania gak ngerasain itu kok," sahut Vania yang meminta pendapat Bu Naira lebih dalam. Bu Naira mengangguk dengan sangat cepat. Ia menepuk pundak Vania dengan lembut pula. "Apa kamu gak merasakan kalau ada yang berbeda dari dia, Nak? Dia itu jauh lebih memprioritaskan kamu. Segala hal tentang kamu dia utamakan. Kamu harus tau, kalau gak semua orang di sekitar Adev, Adev perlakuan seperti itu. Ibu kenal dengan Adev sudah sangat lama, bagaimana dia mengagumimu pun ibu bisa merasakan itu. Itu sangat kentara, Nak. Entah kamu yang terlalu larut dalam kesedihan atau kamu yang tidak peka, ibu pun tidak mengerti sama sekali. Tapi sifat dan sikap Adev sangat jelas, coba rasakan itu semua. Apa kamu pernah diperlakukan sangat istimewa sama Adev? Apa kamu pernah merasakan kalau sikap Adev seperti itu hanya kepada kamu?" Bu Naira langsung mencari informasi lebih lanjut tentang Adev, bagaimana saat Adev bersama dengan Vania. Vania menjentikkan jarinya di dagu, berusaha berpikir keras tentang sikap Adev seperti apa yang Bu Naira maksud? Selama ini Vania sangat biasa sekali mendapatkan semua sikap itu. Ah iya! Gotcha! Vania mengingat dengan jelas sikap apa yang berbeda dari Adev, ia baru merasakan sikap kentara yang Bu Naira maksud itu. Mata Vania berbinar saat ingin menceritakan kepada Bu Naira. "Adev sangat manis sama Vania, dia mengecup lembut kening Vania, dia juga mengecup lembut punggung tangan Vania, dia juga bilang kalau Vania adalah segalanya bagi Adev. Vania adalah semesta Adev. Jadi kalau Vania hancur, Adev akan hancur juga. Kata Adev kaya gitu." Bu Naira langsung tersenyum geli mendengar curhatan Vania. Dugaannya benar. Semua analisisnya benar. Adev memang menyukai Vania pada pandangan pertama. Adev memang menyayangi Vania. Adev menganggap Vania segalanya. "Tuh kan, apa yang ibu bilang itu bener, jadi ibu paham banget sama Adev. Adev gak bakalan kaya gitu kalau dia gak suka sama kamu. Adev gak bakalan bersikap semanis itu kalau gak sayang sama kamu. Jadi ibu mohon sama kamu ya, Nak. Tolong banget sayangi Adev sebagaimana Adev menyayangi kamu." Bu Naira berpesan seperti itu kepada Vania. Oh ayolah, tanpa Bu Naira beritahu pun Vania akan melakukan seperti itu. Adev adalah segalanya bagi Vania. Adev adalah salah satu yang Vania punya saat ini. "Tanpa ibu kasih tau Vania, Vania juga udah ngerti kok, Bu. Vania juga akan melakukan itu semua. Karena apa? Karena Adev adalah segalanya bagi Vania. Karena Adev lah Vania masih bisa berdiri tegak seperti ini. Karena Adev lah Vania masih bisa merasakan kasih sayang yang tulus. Adev itu segalanya bagi Vania, Bu. Cuma Adev yang Vania punya, jadi Vania gak akan pernah meninggalkan Adev, sampai kapanpun juga. Jadi Vania gak akan pernah kecewakan Adev." "Bagus kalau gitu, Nak. Adev selalu ada buat kamu artinya dia gak mau kamu terluka, dia gak mau kehilangan kamu. Kamu segalanya bagi dia. Terus gimana sama pertunangan papahmu? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Bu Naira mulai membahas tentang pertunangan papah. Vania mengangguk sambil tersenyum tipis. "Baik kok, Bu. Sangat baik malah. Dia terlihat sangat bahagia, sangat senang, sangat gembira, dan lain sebagainya." "Kamu yang sabar ya, Van. Ibu paham banget sama situasi dan kondisi kamu saat ini. Yang ibu harapkan semoga kamu baik-baik aja. Yang ibu harapkan semoga kamu bahagia selalu. Kamu berhak bahagia entah dengan siapa nantinya. Kamu berhak bahagia entah dengan siapa ujungnya." Bu Naira menguatkan Vania, memberikan harapan yang sama seperti Adev. Harapan yang sama juga seperti yang Vania harapkan. Vania pun sangat mengharapkan itu semua. "Makasih ya, Bu. Vania pamit tidur dulu." Vania pergi dari ruang tamu menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang cukup empuk, yang setidaknya cukup untuknya tidur. Vania memikirkan apa yang dikatakan Bu Naira dan hal apa yang benar-benar terjadi. Adev yang memang benar-benar memperlakukan Vania dengan sangat istimewa. Adev yang benar-benar menganggap Vania segalanya. Apakah pantas Vania bersanding dengan Adev? Apakah pantas Vania mendapatkan pria setampan, sebaik Adev? Vania merasakan tidak pantas, Tuhan. Vania merasakan Adev berhak mendapatkan gadis yang jauh lebih istimewa daripada Vania. Vania merasakan Adev berhak bertemu gadis idamannya. Gadis yang segalanya. "Apa Adev emang beneran suka sama aku? Apa Adev emang beneran memperlakukan aku secara istimewa? Apa Adev gak akan menyesal nantinya? Aku takut Adev memperlakukan aku istimewa hanya karena rasa kasihan, Tuhan. Aku takut kalau Adev itu cuma melakukan janjinya untuk berteman dengan aku, aku rasa Adev hanyalah menjalani perintah papah." Vania berbicara pada dirinya sendiri. Ia bingung setengah mati harus seperti apa. Ia tidak sanggup menerima realitanya. Ia takut kalau Adev ujungnya akan sama, akan sama-sama meninggalkan Vania. Akan sama-sama menorehkan luka di hati Vania. Akan sama-sama mempermainkan Vania. Vania takut jatuh cinta, Vania takut mengistimewakan orang lain. Vania takut akan pengkhianatan. Vania takut akan kehilangan. Vania takut jika nantinya Adev akan menjadi papahnya, yang berujung bersama wanita lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD