13. Azain's Day

1304 Words
Adakah yang lebih menyedihkan daripada ini? Saat kau membutuhkan pelukan tapi orang yang seharusnya memelukmu tidak mengulurkan tangannya. —Vania Raselia Arkarna. --------------------------------------------- Tadi di sekolah Vania melihat bagaimana banyaknya wali murid yang mengambil hasil ulangan anaknya. Vania sedih, sangat sedih karena orang tuanya tidak datang sama sekali. Sesampainya di panti Vania nampak murung, selalu melamun entah memikirkan apa. Adev sampai kewalahan mengatasi Vania. "Vania, kamu makan, ya?" bujuk Adev yang tak dibalas apa-apa oleh Vania. "Vania!" panggil Adev. "Vania." Adev menggenggam tangan Vania lembut, seolah memberi ketenangan di sana. "Aku harus apa, Dev?" tanya Vania dengan tangis sesenggukan. "Kamu harus kuat, Van. Aku selalu ada di samping kamu. Kamu makan, ya?" bujuk Adev menghasilkan gelengan Vania. Vania tidak membutuhkan asupan makanan, yang ia butuhkan hanyalah keluarga yang tentram. Adev menyenderkan kepala Vania di bahunya. Mengelus puncak rambut Vania. Dikecupnya kening Vania. "Kenapa?" tanya Adev saat Vania kaget. "Kenapa kamu kecup keningku?" tanya Vania heran. "Memberi ketenangan, aku sayang kamu, Van. Kamu harus bahagia, lupain keluargamu sejenak. Kamu pasti bisa," jawab Adev. "Kamu gak akan pergi kan Dev?" "Gak akan, kamu tuan puteriku satu-satunya. Aku akan tetap menjagamu," jawab Adev menghasilkan senyuman di bibir Vania. "Vania kamu harus makan, ya?" rayu Adev lagi. "Aku rindu masakan mamah," ucap Vania lirih. "Kamu mau ke rumahku?" ajak Adev. "Untuk apa?" "Mamahku akan jadi mamahmu juga. Kamu bisa makan masakan mamah." "Apakah mamahmu akan menerimaku?" "Tentu saja, Sayang." "Ayo!" seru Vania sangat bahagia. "Mau ke mana Vania dan Adev? Kalian baru saja pulang, Nak." Bu Naira bertanya kepada Adev dan Vania. "Anak asuhmu ini menyebalkan, Bu. Dia tidak mau makan selain makanan mamahnya. Oleh karena itu aku membawa dia ke rumahku untuk memakan makanan mamahku. Menyebalkan sekali bukan?" Jawaban Adev membuat Bu Naira terkekeh. "Ada-ada saja kalian ini, baiklah jaga dia baik-baik ya, Dev." "Tentu saja, Bu. Ayo, Van." "Apakah aku menyebalkan, Dev?" "Sangat menyebalkan, membuat aku semakin sayang." "Ih Adev mah!" Vania menyilangkan tangannya di depan d**a. Memberi tahu bahwa dirinya sedang marah. Adev memakaikan Vania helm, dan mengaitkannya. "Jangan marah, Sayang. Ayo." Adev mengendarai motornya membelah jalanan ibu kota. Langit malam selalu saja membuat Vania kagum. Vania juga tidak terlalu suka berpergian pada malam hari. Dingin, Vania tidak tahan dengan angin malam ini. Adev yang melihat wajah Vania dari spion langsung memahami bahwa gadis itu kedinginan. Satu tangan Adev meraih tangan Vania, membawa tangan itu untuk memeluk tubuhnya. "Modus, bilang aja pengin dipeluk!" ucap Vania yang masih marah. "Kamu kedinginan, Sayang." Tangan Adev yang satu masih menggenggam Vania, mengusap-usap tangan Vania lembut. Memberi kehangatan di sana. Vania menyenderkan kepala di punggung Adev. Berusaha menenangkan pikirannya. Lima belas menit berlalu, motor yang Adev dan Vania tumpangi kini sudah sampai di rumah mewah. Kediaman Azain. "Ayo masuk!" Adev menggenggam tangan Vania. "Assalamualaikum, Mah. Adev pulang!" Adev memasuki rumahnya. "Waalaikumsalam, Sayang," jawab perempuan cantik kisaran seusia mamahnya, Vania paham itu adalah Mamah Adev. "Siapa yang kau bawa, Adev?" tanya Mamah Adev memberi senyum pada Vania. "Vania tante, temen Adev." Vania menyalami tangan Mamah Adev. Menunjukan sopan santun yang orang tuanya ajarkan. "Beneran temanmu, Dev? Mamah kira pacarmu, dia cantik lho, Dev." Mamah Adev meledek putera tunggalnya. "Sudah siap makanannya, Mah?" tanya sosok pria menuruni anak tangga. Vania pastikan dia adalah Papah Adev. "Siapa yang kau bawa, Dev?" tanya Papah Adev tersenyum kepada Vania. "Vania, Om. Temen Adev," jawab Vania menyalami tangan Papah Adev. "Om pikir pacarnya Adev, kalian cocok lho," ledek papahnya Adev. "Pertama kali Adev membawa perempuan ya, Pah? Berarti Adev suka dong sama Vania." Mamah Adev masih meledek Adev, dan menghasilkan anggukan Papah Adev. Menandakan bahwa papah setuju kalau Adev menyukai Vania karena Vania gadis pertama yang Adev bawa ke rumah. "Apa sih, Mah, Pah!" Adev menekuk mukanya. Membuat Vania tertawa dengan sikap Adev. "Vania sudah makan? Mamah baru saja masak, papah baru saja mau makan. Vania ikut ya?" tanya Mamah Adev. "Vania belum makan tante. Boleh kalau tidak merepotkan," jawab Vania. "Jangan panggil tante dong, panggil mamah supaya sama kaya Adev," ralat Mamah Adev. "Ayo makan Vania!" ajak Papah Adev. Mereka berempat langsung ke meja makan. "Biar Vania bantu, Mah." Vania membantu Mamah Adev. "Menantu idaman." Kata-kata itu yang Mamah Adev sampaikan membuat Papah Adev mengangguk setuju. Setelah siap semua makan malam dengan tenang. "Siapa nama panjangmu, Nak?" tanya Papah Adev pada Vania. "Vania Raselia Arkarna," jawab Vania. "Arkarna? Apakah kau puteri tunggal dari Arkavino Arkarna dan Kiara Avia Arkarna?" Papah Adev begitu semangat mendengar nama Arkarna di belakang namanya. Vania tersenyum canggung. "Iya, Pah." "Apa kabar orang tuamu, Vania? Papahmu itu pria yang sangat hebat, dia sahabat SMA papah. Mamahmu juga sangat hebat." "Baik, Pah." "Pantas saja kau mirip dengan Kiara, rupanya kau puterinya Kiara." Mamah terkekeh mengakhiri kalimatnya. "Sama-sama cantik," lanjut mamah. "Terima kasih, Mah." "Sampaikan salam kami kepada orang tuamu, Vania," ucap papah. "Iya, Pah. Waktu itu juga Adev ketemu sama orang tua Vania, dia memberi salam kepada papah. Katanya dia mengajak makan malam bersama." Adev menyampaikan salam Papah Vania kepada orang tuanya. "Mamahmu ini lama tidak arisan, mamah jadi kangen sama mamahmu," ucap Mamah Adev kepada Vania. "Iya, Mah. Mamah lagi sibuk urusan perceraian jadinya jarang arisan." Ucapan Vania membuat orang tua Adev tersedak. "Perceraian?" tanya Mamah Adev. "Iya." "Perceraian siapa, Vania?" tanya Papah Adev. "Perceraian Mamah dan Papah." "Arka dan Kiara?" "Iya. Papah juga sudah bertunangan dengan wanita lain. Waktu itu Adev menemani Vania datang ke tunangan tersebut." "Papah tidak menyangka jika kedua orang tuamu bercerai, Vania. Padahal mereka pasangan yang serasi." Padahal mereka pasangan yang serasi, banyak yang mengatakan itu. Tetapi tak ada yang membuat papahnya dan mamahnya kembali bersama. Mamah Adev memberi senyuman hangat kepada Vania. "Yang kuat ya, Vania." "Iya, Mah." Setelah selesai makan malam Vania membantu Mamah Adev mencuci piring. "Kamu satu sekolah dengan Adev, sayang?" tanya Mamah Adev. "Iya, Mah." "Adev pria yang sangat dingin. Dia tidak pernah membawa temannya ke sini. Bahkan teman prianya sekalipun. Oleh sebab itu mamah kaget, untuk pertama kalinya Adev membawa teman apalagi teman itu perempuan. Mamah harap kamu dan Adev mempunyai hubungan. Mamah baru pertama kali melihat Adev tersenyum karena orang lain. Baru pertama kali melihat Adev berusaha melindungi orang lain sampai menggenggam tangannya. Apakah kamu suka dengan Adev, Vania?" "Adev sangat baik kepada Vania, Vania tidak tau perasaan Vania, Mah." Adev tiba-tiba datang ke dapur. "Vania nanti ke kamarku ya, kasih tau Vania kamar Adev ya, Mah." Mamah mengangguk mendengar perintah anaknya. "Iya, Sayang." Setelah selesai mencuci piring. "Vania ke kamar Adev, ya. Kamar Adev di atas, pintu putih ada tulisan Raffasya di depan pintunya," perintah mamah. "Baik, Mah." Vania menaiki anak tangga satu-persatu. Andai keluarganya masih tetap seperti ini. Tetap bersatu. "Adev," panggil Vania. "Masuk, Sayang." Vania memasuki kamar Adev, kamar berwarna abu-abu. Sangat tertata rapi. Rupanya Adev sedang bermain game di ponselnya. "Kenapa?" tanya Vania sembari duduk di sofa tempat Adev duduk. Adev tak kunjung menjawab pertanyaannya membuat Vania kesal. Vania merebut ponsel Adev, menjauhkan ponsel tersebut dari Adev. Adev pasrah, tak mengatakan apapun. "Maaf ...." Adev merasa bersalah karena telah cuek kepada Vania. Adev menyenderkan kepalanya di tubuh Vania. Vania mengusap-usap pipi Adev. "Maaf ya aku ambil ponselmu, kamu cuekin aku sih!" ucap Vania penuh dengan kekesalan. "Gapapa, Sayang. Kamu berhak ambil ponselku saat aku berbuat salah." Adev merasa nyaman di bahu Vania. "Mamah bilang apa aja ke kamu?" tanya Adev pada Vania. "Katanya aku temen kamu yang pertama kali dibawa ke rumah," jawab Vania. "Iya, kamu yang pertama kali." "Kenapa?" "Karena aku sayang kamu." "Dev, serius!" "Serius, Sayang." Adev mengecup tangan Vania lembut. "Aku trauma sama cinta." "Aku tau makanya aku mau nunggu kamu." Vania mengecup pipi Adev. "Makasih, Sayang." "Masa cuma yang kiri, yang kanan enggak?" ledek Adev yang langsung mendapatkan tatapan mematikan dari Vania "Nyebelin!" Adev memeluk tubuh Vania. Mengusap puncak kepalanya lalu mencium keningnya. "Aku sayang kamu, Van." "Aku juga sayang kamu, Dev."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD