Tamat
-Vania Raselia Arkarna.
Detak detik yang berdetak
Gelora yang tak pernah tamat
Pilu yang semakin berontak
Selalu saja dipenuhi penat
Pada malam yang sepi
Gigilku menyeruak nadi
Kenangan manis berujung nanar
Kisahnya memudar
Pada tepian pembuka yang penuh warna
Kini hilang bersama rasa
Harapan akan hal manis
Kini berujung tragis
---------------------------------------------
Adev tetap di bahu Vania. Nyaman, satu kata yang Adev rasakan. Bahu Vania seperti terbuat hanya untuknya.
"Van!" panggil Adev manja.
"Hm?" gumam Vania karena merasa mengantuk.
"Besok nonton yuk?" ajak Adev.
"Besok sekolah, Sayang."
Jawaban Vania membuat Adev menekuk wajahnya. Menyebalkan!
"Bolos aja, ya? Sehari bolos gak bikin bodoh kok, mau ya?" rayu Adev.
"Iya." Vania pasrah, tidak mampu mengatakan tidak jika wajah Adev menggemaskan seperti ini.
"Makasih, Sayang." Adev tersenyum manis pada Vania.
"Sama-sama."
"Kamu tidur di sini ya?" Adev menunjukan puppy eyes-nya supaya Vania menyetujui.
"Ini kamar laki-laki, aku gak bisa sekamar sama laki-laki, Dev."
"Maksudku di rumah ini, Van. Kamu bisa tidur di kamar tamu. Kamu pengin cepet-cepet aku nikahin?" ledek Adev yang dihadiahkan getakan oleh Vania.
"Apa-apaan sih, Dev!"
"Sayang Vania deh," ledek Adev semakin menjadi-jadi.
"Bodo!"
"Cinta sama Vania deh," kekeh Adev.
"Bodo!"
"Mukanya biasa aja dong, sampai pipinya merah segala." Adev sangat menyukai wajah Vania yang memerah karena ledekannya.
"ADEV BISA DIEM GAK SIH!" bentak Vania.
"Maaf, Sayang." Tangan Adev menjewer dua telinganya, seolah sedang dihukum karena melakukan kesalahan.
"Udah jangan gitu lagi." Vania melembut memaafkan Adev.
Adev kembali menyenderkan kepalanya di bahu Vania. Tangan Vania masih mengusap-usap pipi Adev. Ada perasaan nyaman saat Vania bersama Adev. Ada perasaan bahagia saat Adev meledeknya. Ada perasaan senang saat bersama Adev walaupun hidupnya dipenuhi kesedihan.
"Vania tidur di sini aja ya? Kamar tamu masih kosong," ucap Rasya—Mamah Adev yang datang ke kamar puteranya.
"Manja banget sih anak mamah ke calon pacar," ledek Mamah Adev kepada Adev. "Sampai nyender-nyender segala," lanjutnya.
"Apa sih, Mah! Pergi sana! Ganggu kebahagiaan anaknya aja, lagi berduaan nih!"
"Mamah gak ada urusan sama kamu! Mamah cuma bawa calon mantu mamah ke kamar tamu!"
"Vania mau tidur sama Adev, Mah."
"RAFFASYA ADEV AZAIN!!!"
Vania terkekeh melihat pertengkaran anak dan ibu itu. "Udah deh, gak baik ribut gitu. Aku ke kamar tamu ya, Dev."
"Besok bangunin aku ya, Sayang?" Adev memohon dengan nada manja.
"Iya, tidur sana."
Vania telah sampai di kamar tamu, sama-sama mewah. Kini Vania tahu jika orang tua Adev sama-sama pembisnis yang hebat seperti orang tuanya. Bunyi notif ponsel membuyarkan lamunan Vania.
Raffasya Adev♡: Sayang gak bisa tidur ih:(
Vania terkekeh melihat pesan yang Adev kirim, bisa-bisanya Adev seperti anak manja sekarang.
Vania Raselia: Tidur, jangan mikirin aku terus. Aku gak mikirin kamu wle.
Raffasya Adev♡: Vidcal ayo:(
Vania Raselia:Gak, tidur!
Raffasya Adev♡: Ya udah, ucapannya mana?
Vania Raselia: Malem orang jelek^.^
Raffasya Adev♡: Malem juga orang cantik♥
Vania terkekeh. "Adev benar-benar manja." Chat terakhir yang Adev kirim hanya diread oleh Vania. Vania mencari posisi terbaik dan ternyaman untuk tidur. Lima menit kemudian dirinya sudah terlelap di alam mimpi.
Detik berlalu menjadi menit, menit berlalu menjadi jam, hingga tak sadar pagi sudah menyingsing sang surya. Vania terbangun melihat ponsel yang ia taruh di nakas. Pukul 05.02.
Vania pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melakukan ibadahnya. Selepas itu Vania mandi dan turun ke bawah.
"Pagi, Mah!" sapa Vania dengan senyum cerah melihat Rasya yang sedang masak.
"Pagi, Sayang. Tolong bangunin Adev di kamarnya, ya."
"Oke, Mah."
"Makasih ya, Sayang."
"Sama-sama, Mah."
Vania menaiki anak tangga satu persatu lagi, menuju kamar Adev lalu membukanya. Ternyata Adev masih tertidur.
"Adev, bangun!"
"Dev ...."
"Lima menit lagi, Mah."
Apa? Mah? Jadi Adev pikir Vania adalah Rasya mamahnya?
"Sayang," panggil Vania dengan nada menggoda.
Cup.
Vania mengecup pipi Adev membuat sang empu bangun.
"Masa cuma sekali sih, Van?" rengek Adev.
"Emang mau berapa kali?"
"Yang banyak dong sampai aku bangun."
"Itu kamu udah bangun. Cepet mandi sana, bau!"
"Ucapannya mana dong?"
Vania mengusap rambut Adev pelan. "Pagi Adev, sayang ayo bangun!"
"Tunggu ya, nanti aku ke sini lagi. Bye!" Adev pergi menuju kamar mandi dan mengecup pelan pipi Vania.
Vania membereskan tempat tidur Adev. Wangi parfum Adev membuat candu khusus bagi Vania. Sepuluh menit kemudian, Adev menghampiri Vania dengan wajah tampan.
"Ayo turun," ajak Adev.
Setelah sampai di meja makan, mereka makan dan pergi pamit kepada kedua orang tua Adev.
"Mah, Pah, Adev sama Vania pergi ya," pamit Adev.
"Kalian gak sekolah, Sayang?" tanya Revan—Papah Adev.
"Bolos sehari gak bikin bodoh, Pah. Bye," balas Adev.
"Pamit Mah, Pah." Vania pamit kepada kedua orang tua Adev lalu menyalaminya.
"Kapan-kapan main ke sini lagi ya, Sayang. Ajak orang tuamu makan malam juga," ujar Rasya.
"Iya, Mah."
Vania memasuki mobil Adev. Tercengang, karena baru pertama kalinya Adev membawa mobil.
"Kenapa gak naik motor sih, Sayang?" tanya Vania membuat Adev yang sedang fokus menyetir menoleh.
"Pengin aja."
"Ih, nyebelin!"
"Gak bisa peluk-peluk aku ya?"
"Dih!"
Hari ini mereka gunakan untuk menonton film di bioskop. Vania memandang wajahnya di depan cermin ajaib yang selalu membuat perempuan tersenyum dan terlihat cantik. Yap, cermin toilet yang berada di bioskop.
Vania mengambil lip-balm di dalam tasnya, mengoleskan secukup mungkin di bibir mungilnya agar tak kering, setelah merasa cukup ia keluar dari toilet. Adev sudah menunggunya.
"Sudah selesai, Tuan Puteri?" goda Adev.
"Sudah pangeran hehe," balas Vania.
Mereka berdua masuk ke dalam studio satu, mencari tempat duduk urutan kedua dari atas dengan nomer enam dan tujuh. Kursi paling strategis dan pas untuk berduaan. Setelah banyak orang yang masuk dan duduk. Kondisi film remang-remang, lampu masih menyala. Di layar dipertontonkan film-film comingsoon.
"Thanks ya Van, kamu udah melengkapi kehidupanku saat ini."
Ucapan tulus terlontar dari Adev.
"Aku yang seharusnya bilang makasih ke kamu, kamu tempatku berbagi keluh kesah saat keluargaku sendiri gak bisa aku percaya," jawab Vania dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku sayang kamu, Van."
"Aku juga sayang kamu, Dev."
Seperti itulah kisah cinta mereka, saling menyayangi tetapi tak ada kepastian. Tidak pernah ada kita. Mereka kembali fokus dengan film romance yang mereka tonton dengan satu kantong popcorn kesukaan Vania.