Secerca angan dan harapan kembali menghampiriku. Seolah mengajakku untuk kembali bermimpi, tetapi aku sudah nyaman dengan kenyataan ini. Hatiku seolah memblokir bualan kosong semata. Tak ingin lagi mengharapkan sesuatu yang ujungnya sia-sia:)
-Vania Raselia Arkarna.
---------------------------------------------
Selepas menonton film bergenre romance itu, Adev membawa Vania jalan-jalan, menghabiskan waktu di mall, mulai dari makan, ke kedai eskrim, mengajak ke time zone, ke gramedia, ke toko baju, toko sepatu, dan menghabiskan waktu mengelilingi mall sampai lelah.
Vania yang kelelahan langsung mengajak Adev pulang ke panti. "Ayo pulang ke panti, Dev."
"Nanti aja deh." Adev menolak halus permintaan Vania. Ia ingin tetap berdua bersama Vania.
"Kamu beneran mau tinggal di panti, Van? Kamu tinggal di rumah aku aja kalau enggak kamu tinggal di rumah yang Om Arka beli untuk kamu." Pembicaraan Adev dialihkan ke tempat tinggal.
Vania tersenyum tipis. "Aku nyaman di panti."
"Tapi kalau di panti kita jadi jarang ketemu. Aku takutnya anak-anak panti lainnya ngerasa gimana. Kamu tinggal di rumah aku ya?" bujuk Adev mengeluarkan jurus puppy eyesnya.
"Gak! Aku tambah gak mau diomong sama tetangga gara-gara satu atap sama kamu," tolak Vania mentah-mentah.
"Ya udah, kamu ambil rumah yang Om Arka kasih ke kamu aja, ya?"
"Nanti aku pikirin lagi."
Tiba-tiba ponsel Adev bergetar, menandakan ada telepon masuk. Benar saja, mamahnya menelpon Adev.
"Hallo, Adev!" Suara Rasya—Mamah Adev dari sebrang sana.
"Iya, Mah. Ada apa?"
"Besok anniversary mamah sama papah. Kamu lupa?"
"Maaf, Mah."
"Papah ternyata udah siapin pesta anniversary. Jadi mamah mau undang Vania sama orang tuanya. Jangan lupa bilangin ke mereka lho!"
"Ini Adev lagi sama Vania, Mah."
"Mamah mau ngomong sama calon mantu."
"Bentar, Mah."
Adev memberikan ponselnya kepada Vania.
"Hallo, Mah!" Vania membuka suara dengan riang.
"Hallo, Sayang. Mamah mau ngundang kamu ke pesta anniversary mamah sama papah. Jangan lupa dateng, ya. Oh iya, jangan lupa undang orang tua kamu juga, ya."
"Kapan, Mah?"
"Besok malem. Nanti kamu mampir ke rumah ya. Adev suruh anterin kamu ke sini. Mamah udah siapin baju yang cocok untuk kamu. Kamu pasti suka."
"Ga usah repot-repot, Mah. Lagian Vania bisa pakai baju yang Vania punya."
"Kamu harus tampil sempurna, Vania. Mamah mau kamu sempurna saat dateng ke pesta. Mamah mau kenalin calon mantu mamah yang cantik ini."
"Mamah bisa aja."
"Udah dulu ya, Vania. Mamah lagi ada di jalan soalnya. Ini mamah lagi pilih-pilih baju yang bagus. Bye."
"Iya, Mah."
Sambungan telepon dimatikan.
"Kamu dateng ke pestanya, kan?" tanya Adev pada Vania. Vania mengangguk sebagai jawaban.
"Orang tua kamu?" tanya Adev lagi.
Vania tersenyum sangat manis. "Mereka pasti seneng diundang ke pesta sahabatnya."
"Ayo aku anter ke rumah orang tuamu." Adev berbicara sambil meraih tangan Vania. Membawa Vania menuju mobilnya.
Vania masuk ke dalam mobil Adev, lalu mobil berjalan membelah jalanan ibu kota yang padat. Sesampainya di kantor Arka. Vania turun, berlari menuju ruangan papahnya.
"Papah!" teriak Vania sambil berlari membuka pintu ruangan papah.
"Vania?" Bukan, itu bukan suara papahnya. Itu adalah suara Tante Saf—tunangan papah.
"Papah mana?" tanya Vania pada Tante Saf.
"Papahmu sedang meeting tidak bisa diganggu," jawab Tante Saf seolah mengusir Vania secara halus.
Vania melotot mendengar Tante Saf mengusirnya secara halus. "Vania mau ketemu papah!"
"Papahmu sibuk Vania!" bentak Tante Saf.
Vania berjalan menghampiri sekretaris papahnya yang baru.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Arka. Telepon dia sekarang!" perintah Vania pada sekretaris itu, tak tahu siapa namanya.
"Tuan Arka sedang meeting penting. Apakah Anda sudah ada janji dengan beliau?" tegas sekretaris tersebut.
"Saya puteri tunggal Tuan Arka. Apakah saya harus membuat temu janji?!" murka Vania.
"Tuan Arka sedang tidak bisa diganggu," katanya mutlak.
"Cepat telepon papah saya, jika tidak Anda saya pecat!" ancam Vania pada sekretaris yang tak tahu diri. Dirinya hanya ingin bertemu papah, apakah harus membuat temu janji?
"Saya tidak bisa meng—"
Vania berteriak. "SAYA MINTA TELEPON PAPAH SAYA SEKARANG!"
"Nona Vania tenang, jangan berteriak. Ada apa ini?" lerai Pak Agus—keamanan kantor.
Vania menghela napas gusar. "Pak Agus saya ingin bertemu papah."
"Tuan Arka sedang meeting."
"Sekalipun Tuan Arka sedang meeting saya berhak menemuinya. Dia tidak pernah melarang saya mengganggu aktivitasnya!" bentak Vania.
Pak Agus kewalahan melerai puteri bosnya. "Tuan Arka memperbolehkan puterinya masuk kapanpun itu, sekalipun saat meeting penting," jelas Pak Agus.
"Ada apa ini?" Arka—Papah Vania mendekati puterinya dengan mengernyitkan dahi, bingung karena puteri tunggalnya berteriak.
"Pah dia disuruh telepon papah malah minta Vania buat temu janji. Padahal Vania cuma kangen sama papah. Dasar gak tau aturan. Pegawai baru juga!"
Papah terkekeh mendengar cercaan Vania. "Lain kali jika puteri saya datang ke sini telepon saya saja, Nis."
"Baik, Tuan."
"Kamu kenapa ke sini, Vania? Adev mengantarmu? Bukannya kalian berdua sekolah?" tanya papah.
"Ada yang mau Vania bicarain, Pah. Adev anter aku tadi. Kita bolos sekolah sehari aja, gak bikin bodoh kok tenang." Vania berjalan memasuki ruangan papahnya lalu duduk di kursi papahnya. Memang seperti itu tingkahnya, tak ada yang berani melawan, sekalipun papahnya.
"Mau bicara apa, Sayang?" tanya papah membelai rambut puterinya.
"Beliin Vania rumah," pinta Vania dengan nada manja.
"Cari saja rumah impian Vania. Berapapun akan papah bayar."
"Papah cari sendiri lah! Yang Vania suka, harus mewah pokoknya. Vania gak mau ya kalo gak mewah." Vania mengerucutkan bibirnya.
"Iya nanti papah belikan, Sayang. Lalu apa lagi? mobil apa yang kau inginkan? Supir perlu? Pembantu butuh berapa?" Seperti itulah Arkavino Arkarna, selalu memanjakan puterinya.
"Mobil juga, yang keluaran terbaru. Gak usah supir, kan ada Adev yang nemenin Vania ke mana-mana. Gak usah pembantu, Vania gak perlu."
Ucapan Vania membuat papah terkekeh.
"Pah, orang tuanya Adev besok anniversary. Mereka ngundang mamah sama papah. Dateng ya?" pinta Vania dibalas anggukan oleh papa.
"Jam berapa acaranya, Dev?" tanya papah kepada Adev.
"Jam tujuh malem, Om."
"Besok papah jemput mamahmu, Sayang. Kamu harus cantik, datang ke salon kalau perlu. Nanti papah hubungi salon langganan kita supaya puteri papah satu-satunya istimewa."
"Makasih, Papah."
"Sama-sama, Sayang."
"Semua permintaan Vania harus ada besok, Pah! Vania mau tinggal di rumah itu besok!"
"Siap, Tuan Puteri," balas papah sembari memberi hormat.
"Vania pulang dulu ya, Pah. Inget besok jam tujuh malem sama mamah. Jangan lupa!"
"Oke, see you tomorrow, Princess."
"Ayo, Dev."
Adev dan Vania berjalan memasuki mobil. Mobil melaju menuju rumah Adev karena Rasya sudah menelpon menanyakan Vania kapan mengambil bajunya.
"Adev pulang, Mah." Suara Adev menggema membuat Rasya turun dari tangga menghampirinya.
"Vania sini masuk. Nih mamah udah siapin baju yang bagus buat kamu. Kamu mau yang mana Van? Yang putih, biru, merah, atau apa? Mamah beli semua untukmu. Ini dari butik terkenal langganan mamah. Oh iya mamah udah telepon salon langganan mamah supaya besok kamu dateng ke sana. Kamu tidur sini aja ya? Jadinya besok kita ke salon bareng-bareng. Oke?"
"Satu-satu, Mah!" peringat Adev yang pusing mendengarkan ocehan mamahnya.
"Vania ikut mamah aja," ucap Vania tersenyum tipis. Dress di depannya memang sangat bagus. Dirinya pun tahu harga kisaran dress tersebut, karena mamahnya sering membelanjakannya ke butik tersebut.
"Adev, dress mana yang bagus?" tanya Rasya pada puteranya.
"Semuanya bagus, Mah."
"Yang paling bagus, yang spesial buat calon mantu mamah."
"Yang putih aja, Mah. Netral nanti serasi sama Adev yang pakai tuxedo."
"Mamah setuju sama Adev. Vania suka sama dress yang putih?"
Vania mengangguk untuk pertanyaan yang Rasya lontarkan. "Suka, Mah."
"Kamu besok gak usah berangkat dulu ya, Van. Biar besok pagi kita ke salon bareng-bareng sampai sore, abis itu siap-siap pesta. Oke?" tanya mamah yang dibalas anggukan oleh Vania.
"Adev juga gak berangkat ya, Mah?" pinta Adev dibalas pelototan oleh Rasya.
"Apa-apaan sih kamu, Dev! Kamu udah banyak bolos. Mamah gak mau ya kamu makin banyak bolosnya!" sentak Rasya.
"Tapi Mah—"
"Ga ada tapi-tapian kalau gak mamah sita fasilitas kamu!" ancam Rasya membuat Adev menggeleng.
Seperti yang diperintahkan Rasya, kini Vania tinggal di Kediaman Azain karena besok Vania dan Rasya akan ke salon untuk mempersiapkan diri di pesta. Vania sudah terlelap di alam mimpi karena jam sudah menunjukkan pukul dua malam. Namun sebaliknya, Adev masih berjaga karena sibuk mencari alasan untuk mendapat izin bolos dari orang tuanya.
"Apa gue minta izin ke papah ya? Biasanya papah izinin gue buat bolos." Adev bermonolog memikirkan ide yang pas.
"Jangan deh, nanti ketauan mamah malah fasilitas disita. Atau gue minta papah untuk mempersiapkan diri? Gue bilang aja kalau papah butuh waktu untuk santai sama anaknya," monolognya lagi.
"Ya udah deh, gue chat papah aja," putusnya.
Raffasya Adev: Pah, besok papah mau gak santai sama Adev? Ke mana gitu supaya papah gak stres mikirin kerjaan.
Adev tahu kalau papahnya belum tidur karena harus mengurus berkas-berkas penting minggu ini. Terbukti dengan balasan papahnya yang masuk beberapa detik lalu.
Papah: Mau ke mana? Besok papah mau meeting sebentar, Dev. Abis itu siap-siap pesta.
Raffasya Adev: Ya ke mana gitu, Pah. Mumpung besok hari kebahagiaan papah sama mamah, masa gak mau ajak Adev jalan sih?
Papah: Besok kamu sekolah, Adev!!! Jangan pikir kamu ngerayu papah jadi mamah kasih izin ke kamu, gak akan! Papah tadi cerita ke mamah kalau kamu niat bolos, makanya sekarang mamah yang bales chat ini!!!
"Mampus gue! Pasti besok nyita fasilitas gue. Emang papah laknat, gak mau diajak kerja sama," kesal Adev. Lalu Adev membaca chat yang mamahnya kirim tanpa membalasnya. Dirinya memilih tidur.
Matahari menyingsing pagi yang indah. Celah-celah cahaya masuk melalui jendela kamar Adev yang dibuka oleh seseorang.
"Den Adev, bangun. Sudah pagi, Den. Nanti Nyonya marah jika Aden tidak bangun. Tadi saya dengar hukuman Aden akan diperbanyak oleh Nyonya jika Aden gak sekolah." Bik Jum masih berusaha membangunkan putera semata wayang majikannya.
Vania yang mendengarnya terkekeh melihat Adev dan Bik Jum bekerja sama. Memang seperti itu, Bik Jum akan menjadi mata-mata lalu memberi tahu informasi pada Adev.
Vania menghampiri Bik Jum. "Biar Vania aja yang bangunin, Bik."
"Makasih, Nona Vania. Kalau gitu saya turun dulu."
Bik Jum keluar dari kamar Adev. Vania membelai rambut Adev lembut.
"Dev, bangun. Udah pagi, Dev." Vania membangunkan Adev dengan lembut.
"Pagi, Sayang!" sapa Adev ketika membuka mata.
"Pagi juga, kamu siap-siap ya. Nanti kamu terlambat," tutur Vania sambil membereskan tempat tidur Adev.
Adev melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Lalu melakukan ritual bernama mandi. Setelah siap dengan seragam sekolahnya Adev menuruni anak tangga satu persatu.
"Pagi, Mah. Pagi, Pah. Pagi semuanya," sapa Adev saat duduk di meja makan.
"Mamah sita rekeningmu, Dev! Kamu itu kapan mau nurut sama orang tua sih?!" sentak mamah membuat Adev bungkam. Biarlah, mamah pasti akan tetap seperti itu.
"Iya, Mah. Maaf," lirih Adev melihat wajah marah mamahnya.
"Kamu itu harus sekolah, Adev! Mamah gak mau ya kalau mamah denger kamu bolos lagi. Mamah minta Vania bolos supaya siap-siap di salon. Kalau kamu kan gak usah siap-siap di salon segala macem!"
Ucapan Rasya membuat semua orang bergidik ngeri. Pantas saja, jika Rasya marah ia tak menerima pembelaan atau apapun itu.
Adev mengangguk pasrah, mamahnya memang tidak suka dibantah jika sudah marah. "Iya, Mah."
"Adev berangkat, Mah, Pah, Van." Adev meninggalkan meja makan tanpa menyentuh dan memakan apapun. Keluar menuju motor kesayangannya dan melajukan motor kesayangannya menuju SMA Kirana.
Adev yang sampai di sekolah mendadak menjadi pendiam karena mood-nya sedang hancur.
Vania sudah berada di dalam salon bersama dengan Rasya. Vania masih memejamkan matanya sembari melakukan ritual yang entah apa namanya, Vania saja lupa. Mencoba menikmati ritual di mulai dari keramas rambut lalu kepalanya dipijat pelan, setelah itu rambutnya dikeringkan dan dicurly, lalu kini dirinya melakukan perawatan muka.
Hari berlangsung cepat, saat ini jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Pasti Adev sudah pulang. Vania benar-benar merindukan pria itu!
Setelah selesai melakukan perawatan Vania dan Rasya kembali ke rumah. Melakukan persiapan untuk pesta. Dress berwarna putih bersih sudah melekat di tubuh Vania Raselia Arkarna.
"Cantik," batinnya.
Vania sangat cocok memakai dress yang dipilihkan Rasya dan Adev. Dirinya tampak cantik natural melihat make-up yang tak terlalu menor melekat pada wajahnya.
Saat ini jam menunjukkan pukul 18.45 tapi para tamu sudah banyak yang hadir. Vania menanti kedua orang tuanya yang berjanji akan datang tapi saat ini batang hidung mereka tak muncul sedikitpun.
Sejak tadi banyak yang menatapnya kagum dan bertanya secara terang-terangan pada keluarga Azain. Namun keluarga Azain menjawab "calon mantu," membuat rona merah di pipi Vania semakin menjadi-jadi.
"Papah, Mamah!" teriak Vania melihat orang tuanya yang baru memasuki gedung acara. Disambut pelukan hangat dari kedua orang tuanya.
Papah mendekati Om Revan dan Tante Rasya lalu memberi ucapan selamat. "Congrats Rev, Ras."
"Thanks, Ka. Lo apa kabar?" tanya Om Revan—Papah Adev seraya ber-tos ria ala-ala rekan bisnis.
"Kabar gue baik. Lo sendiri, baik dong?" tanya papah dibalas kekehan oleh Om Revan.
"Lama gak ketemu makin cantik aja lo, Ra," puji Tante Rasya pada Kiara—Mamah Vania.
"Bisa aja lo, Ras. Lo juga makin cantik nih," puji balik mamah.
"Hehe bisa aja. Lo ke mana aja, kok jarang kumpul arisan?" tanya Tante Rasya lagi.
"Maklum abis ngurus perceraian," balas Mama dengan nada sumbang.
Pukul tujuh malam acara di mulai. Semua awak media meliput acara tersebut. Revanar Azain dan Rasya Alkirana Putri Azain memang pasangan yang serasi karena mampu melewati masa-masa pernikahan selama tujuh belas tahun. Dan kini sosok Raffasya Adev Azain selaku putera tunggalnya hadir memberi kedamaian dan ketentraman. Jujur, Vania sangat iri dengan keluarga Adev.
"Tuan Revan apakah Anda bisa menjelaskan tentang hubungan putera tunggal Anda dengan puteri tunggal Tuan Arka? Apakah mereka sudah bertunangan atau mereka sedang dijodohkan?" tanya salah satu awak media disetujui oleh awak media yang lain.
"Di sini saya Revanar Azain bersama istri saya Rasya Alkirana Putri Azain dengan Arkavino Arkarna dan mantan istrinya Kiara Avia Arkarna menyatakan bahwa putera dan puteri kami akan segera bertungangan." Papah Adev menjawab mantap pertanyaan awak media membuat Vania membulatkan mata."Apa? Tunangan?" tanyanya dalam hati.
"Kami tidak melakukan perjodohan apapun. Ya, tadinya semasa SMA kami berniat menjodohkan putera puteri kami tapi saat melihat putera dan puteri kami dekat dengan sendirinya kami tidak perlu menjodohkan lagi, bukan? Sehabis lulus SMA mereka akan tunangan." Papah melanjutkan ucapan Papah Adev dengan anggukan mamah, Tante Rasya, dan Om Revan.
"Apa mereka gila?" batin Vania lagi.
"Kita akan menikah, Van." Adev membisikan ucapannya tepat di telinga Vania membuat Vania kembali bersemu merah.
"Lalu apakah mereka setuju Tuan Arka dan Tuan Revan?" tanya salah satu awak media lagi.
"Tentu saja," balas papah dan Om Revan bersamaan.
Vania merasa gila berhadapan dengan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Adev. Menyebalkan!