16. Berita Tunangan

1178 Words
Aku sesosok embun, bergantung pada dedaun. Aku sesosok uap pada bara putus asa, dinding-dindingku penuh kecewa. Aku sesosok ratu drama, penuh gelagak tawa. Aku secerca cahaya, menyilaukan semua netra. Aku menciptakan sejarah, yang tak selalu indah. -Vania Raselia Arkarna. --------------------------------------------- Vania semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan orang tuanya dan orang tua Adev. Oleh karena itu sekarang Vania hampir kesiangan. Vania memang tinggal di rumah mamahnya semalam. "Vania berangkat dulu, Mah." Vania mencium punggung tangan mamanya yang mengangguk dan tersenyum ramah padanya. Sudah dua hari Vania tidak sekolah, membuat dirinya sangat merindukan sekolah. Vania sudah berada di mobil Adev dengan segala kecanggungan. Vania yang membuka ponsel langsung melotot melihat banyak berita dengan judul "Putera tunggal Revanar Azain dan Rasya Alkirana Putri Azain akan segera bertunangan dengan puteri tunggal Arkavino Arkarna dan Kiara Avia Arkarna." Mengapa begitu cepat berita ini tersebar? Ah iya, Vania melupakan jika bisnis Arkarna dan Azain memang sangat terkenal. Tak jarang banyak teman-teman Vania yang iri saat mengetahui nama belakangnya. "Kenapa, Van?" tanya Adev melihat gerak-gerik Vania yang nampak terkejut. "Putera tunggal Revanar Azain dan Rasya Alkirana Putri Azain akan segera bertunangan dengan puteri tunggal Arkavino Arkarna dan Kiara Avia Arkarna." Vania menjawab pertanyaan Adev dengan judul artikel yang membuat berita ini gempar membuat Adev terkekeh. "Kamu seneng kan mau tunangan sama aku?" ledek Adev yang mendapatkan tatapan tajam dari Vania. "Apa sih, Dev! Lagian tunangannya juga abis lulus SMA!" sentak Vania dengan suara melengking. Vania menolehkan wajahnya pada jendela mobil. Sudah Vania duga, pasti pipinya akan bersemu merah. "Kamu mau aku tunangan nanti malem? Aku sih ayo aja," ledek Adev kian menjadi-jadi. "Dev!" peringat Vania yang masih memiliki kesabaran. Peringatan Vania malah membuat Adev tertawa sangat kencang. Sesampainya di sekolah banyak sekali yang memberi opini tentang Adev dan Vania. "Eh itu Vania anaknya Arkavino Arkarna yang pembisnis hebat?" "Itu Vania Raselia Arkarna yang hari ini jadi trending kan?" "Itu Adev anaknya Revanar Azain?" "Mereka yang katanya mau tunangan kan?" "Mereka yang jadi trending topic hari ini, kan?" "Putera tunggal Revanar Azain dan Rasya Alkirana Putri Azain akan segera bertunangan dengan puteri tunggal Arkavino Arkarna dan Kiara Avia Arkarna. Itu mereka?" "Anjir masih kelas sepuluh udah mau tunangan." "Cocok sih mereka." "Van!" panggil Adev seraya mencekal tangan Vania lembut. "Hm?" "Kamu setuju gak kalau kita tunangan malam ini?" Lagi-lagi Adev menggodanya. s****n! "Aku gak mau tunangan sama cowok yang suka bolos," sindir Vania mulai jengkel. "Kok kamu gitu sih, Sayang? Katanya kamu mau nikah sama aku?" Adev merayu Vania yang ngambek. "Dev! Jangan mikir gitu dulu, kamu sekarang belajar yang rajin, banggain orang tua dulu, baru mikir nikah!" "Maaf." Adev menjewer dua telinganya dengan wajah menunduk. "Belajar yang rajin dulu, Sayang. Nikmati masa remaja dulu. Kalau udah takdirnya kita bakal menikah kok." Vania tersenyum memberi pengertian pada Adev. Adev mengecup kening Vania lembut walaupun kecupan itu tak lama, tapi kecupan itu berarti. "Kamu juga yang rajin, ya. Aku ke kelas dulu. Bye," pamit Adev. Vania bahagia melihat Adev sekarang banyak tersenyum, tidak kaku seperti pertama kali bertemu. Vania menjalankan hari-hari seperti biasa. Tanpa seorang teman satu bangku. Tanpa sekelompok teman. Tanpa sahabat-sahabat. Semua orang menjauhinya saat tahu bahwa Mamah Vania menjalani hubungan gelap dengan Papah Thalia. Hanya satu yang Vania punya saat ini, hanya seorang Raffasya Adev Azain. Seseorang yang dengan berbaik hati menawarkan bahu untuk meluruhkan segala keluh kesahnya. Seseorang yang dengan baik hati menjadi tempatnya berlindung. Pelajaran demi pelajaran telah dilalui. Sekarang lonceng antik milik SMA Kirana berbunyi menandakan seluruh pelajaran hari ini telah selesai. Ada satu pengumuman tadi, bahwa dua minggu ke depan seluruh kelas sepuluh dan kelas sebelas akan diliburkan karena kelas dua belas akan melakukan ujian praktek dan latihan ujian. "Kamu mau liburan gak, Van?" tanya Adev dengan niat mengajak liburan. "Ke mana?" tanya Vania. Semenjak pertengkaran kedua orang tuanya Vania menjadi malas memikirkan liburan. Tak ada tempat favorit lagi, menurutnya. "Jogja, katanya Jogja tempat paling istimewa," balas Adev. Adev sangat menyukai Jogja. Menurutnya Jogja adalah satu destinasi paling berharga yang sangat pas untuk membuat kisah. "Boleh, satu minggu ya?" pinta Vania. Adev tersenyum sangat manis pada Vania. "Iya, Sayang." "Kamu mau makan di mana, Van?" Adev bertanya saat keduanya memasuki mall. "Mana aja deh," balas Vania. "Ya udah, ke korean food aja," putus Adev. Mereka berjalan menuju korean food, memesan makanan yang akan mereka makan. Tak butuh waktu lama untuk berlama-lama di sana. Mereka akan pergi membeli persiapan untuk di Jogja soalnya. "Apa lagi, Van?" tanya Adev. Vania membawa dua buah sepatu yang ia pilih. "Aku bingung mau ambil yang ini atau yang ini," keluh Vania seraya menunjukan sepatu berwarna putih dan biru jeans. "Ambil semua aja. Biar aku yang bayar." Adev menggenggam tangan Vania menuju kasir. Membayarkan semua belanjaan Vania. "Kamu ngapain bayarin aku terus sih, Dev?" tanya Vania dengan nada marah. "Selagi aku bisa Van," balas Adev dengan senyum simpul. "Kita ke stasiun dulu ya? Nanti malem kita berangkat, aku pengin kita liburan dengan bahagia di sana. Gapapa kan naik kereta?" tanya Adev memastikan. "Yang penting sama kamu hehe." "Oke." Saat ini jarum jam menunjukkan pukul 17.30 atau setengah enam petang, Vania dan Adev sedang memesan tiket kereta dengan tujuan Kota Yogyakarta di stasiun. "Jakarta-Yogyakarta," ucap Adev pada salah satu petugas stasiun yang sedang mengurus tiket keberangkatan. Petugas yang sedari tadi sibuk melihat komputer untuk melihat jadwal kereta api mengalihkan pandangannya pada Adev. "Untuk jadwal terdekat, nanti malam pukul setengah delapan malam, Kak," ucapnya sopan. "Jakarta-Yogyakarta jam setengah delapan, dua tiket," pesan Adev sembari memberikan ATM miliknya. "Baik, Kak. Bisa lihat KTP atau Kartu OSIS?" tanya petugas tersebut membuat Adev dan Vania memberikan Kartu OSIS mereka, karena mereka belum memiliki KTP. "Oke, dua tiket tujuan Yogyakarta pukul sembilan belas tiga puluh ya, Kak. Terima kasih." Petugas tersebut memberikan dua tiket kereta api bertujuan Yogyakarta kepada Adev. Tak lupa memberikan Kartu ATM dan Kartu OSIS. Adev dan Vania melangkahkan kaki menuju tempat mobil mereka parkir. Memasuki mobil tersebut dan membelah jalanan jantung perekonomian Indonesia. Lima belas menit kemudian Honda Brio milik Adev berhenti di Kediaman Kiara Avia, rumah Mamah Vania. Adev tersenyum sambil mengacak rambut Vania. "Kamu siap-siap ya, aku mau pulang terus siap-siap juga, nanti aku jemput," ucapnya. "Iya, bye." Vania turun dari mobil putih milik Adev. Melangkahkan kaki menuju rumah Mamahnya. Vania memberi salam saat memasuki rumah mamahnya. "Assalamu'alaikum, Mah." "Wa'alaikumsalam, Sayang!" jawab Mamah dari ruang keluarga. "Mah nanti Vania mau izin liburan sama Adev ke Jogja," pinta Vania antusias. "Berapa lama, Sayang?" balas mamah dengan senyum manisnya. "Satu minggu, Mah. Vania sama Adev libur dua minggu, soalnya kakak kelas ujian." "Oke. Have fun ya, Sayang. Sana siap-siap." Vania mengecup kening mamahnya sekilas lalu berlari menuju kamarnya. Mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa lalu mandi. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.30. Saat ini Adev bersama Vania sudah tiba di Stasiun Jakarta. Mereka sedang melihat kembali barang bawaan mereka, lalu mereka memasuki kereta api setelah diperiksa tiket dan kartu pengenal lainnya. Perjalanan yang akan dua sejoli itu tempuh sekitar sembilan jam, cukup lama. Diperkirakan kereta api akan tiba di Yogyakarta pada pukul 04.30.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD