Jogja selalu punya cerita dan romansa setiap sudutnya. Sudut Jogja bercerita melalui lampu kotanya. Semua itu adalah sebuah kenyamanan, kedamaian, dan cinta. Bersama Jogja segala kenangan tersimpan rapi. Serta selalu ada yang tersisa dari Jogja untukmu; rindu.
-Vania Raselia Arkarna.
---------------------------------------------
Stasiun kereta pagi itu sangat ramai. Banyak orang yang berlalu lalang di stasiun. Ada yang mau naik kereta, ada yang mau turun dari kereta, ada juga yang menjemput sanak saudara mereka yang baru saja pulang kampung.
Salah satu tangan Adev memegang koper milik Vania, satu tangan lainnya menggenggam jari Vania. Kaki kedua manusia keturunan Adam dan Hawa melangkah melewati pintu keluar stasiun yang cukup terkenal di Yogyakarta. Stasiun yang menjadi awal cerita Adevania di Yogyakarta.
Sebuah mobil yang dipesan khusus oleh Adev menghampiri pasangan yang sedang menatap bangunan stasiun dengan bahagia. Mobil tersebut melaju membelah keramaian kota menuju salah satu hotel ternama yang ada di jalan kenangan. Jalan Malioboro.
Sesampainya di hotel Adev mengantar Vania menuju depan kamar gadis tersebut. "Siap-siap ya, Van. Mandi, tidur, solat. Nanti aku jemput untuk sarapan. Oke?"
"Siap, Dev."
Adev mendorong tubuh Vania dengan pelan memasuki kamar gadis tersebut. "Sana masuk!" perintahnya. Lalu Vania mengangguk dan memasuki kamarnya.
Setelah melihat Vania memasuki kamar, Adev melangkahkan kakinya menuju kamar sebelah. Mempersiapkan diri untuk sarapan. Solat, istirahat sebentar lalu mandi. Sesudah mandi Adev membuka ponselnya. Rupanya gadis di kamar sebelah memberinya pesan.
Vania Raselia♡: Udah siap, Dev? Aku laper:(
Adev terkekeh membaca pesan yang Vania kirim. Lalu melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Pukul 06.15 rupanya.
Raffasya Adev: Udah, Van. Tunggu sebentar. Aku jemput di depan kamar
Vania Raselia♡: Oke, cepetan.
Adev membuka pintu kamarnya lalu melangkahkan kaki menuju kamar Vania. Mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelan dan muncul sosok wanita dengan sweater baby pink.
"Pagi Van!" sapa Adev dengan senyum yang mengembang.
"Pagi, Dev. Ayo sarapan," ajak Vania.
"Mau makan apa?" tanya Adev dengan penuh pengertian.
Mata Vania berbinar saat diberi pertanyaan oleh Adev. "Aku mau gudeg yang ada di Jalan Malioboro," pintanya.
Adev mengulurkan tangan kanannya dan Vania menerima uluran tangan tersebut dengan senang hati. Mereka berjalan menuju Jalan Malioboro. Jalan dengan plang hijau sebagai identitasnya.
Seperti biasa, pagi itu, Kota Yogyakarta merupakan kota yang selalu mempunyai cerita dan romansa di setiap sudutnya tidak pernah lepas dengan keramaian jalan raya. Asap knalpot mengepul bersamaan dengan perubahan rambu lalu lintas. Bunyi klakson yang bagai denyut nadi tak henti-hentinya berdetak, para pengguna jalan berlomba-lomba mencapai tujuannya lebih dahulu, ada yang menuju kantor, ada yang menuju sekolah, dan ada yang menuju kampusnya.
"Gudeg dua pak," pesan Adev kepada penjual gudeg.
"Nggih," balas penjual gudeg dengan logat jawanya.
Vania duduk di lesehan pedagang kaki lima yang menjual gudeg. Matanya menatap keindahan Kota Yogyakarta dengan takjub. Kota yang akan memberikan kenangan manis dengan Adev selama satu minggu ke depan.
"Liatin apa Van?" tanya Adev kesal karena didiamkan oleh Vania sejak tadi.
"Jogja indah ya," ucap Vania antusias.
"Iya."
"Nanti aku mau ke sana ya, aku mau beli baju yang banyak." Vania berkata sambil menunjuk pedagang yang berjejer di Jalan Malioboro.
"Oke. Apa yang enggak buat tuan puteri sih?" goda Adev dengan mengacak rambut Vania lembut.
Vania yang diperlakukan seperti itupun mengerucutkan bibirnya. "Jangan diacak-acak, nanti berantakan," rengeknya.
"Kamu bahagia, Van?" tanya Adev dan dibalas anggukan oleh gadis di sebelahnya.
"Bahkan sangat bahagia," jawab gadis itu dengan posisi tangan yang mengambil gudeg pesanannya.
Adev tersenyum, sangat bahagia. Akhirnya gadis di samping tidak merasakan kesedihan terus-menerus. Akhirnya gadisnya tidak murung selama-lamanya. Akhirnya gadis itu sangat bahagia, sebelum badai akan datang—pernikahan Arka dan Safira.
Adev melihat gerak-gerik Vania saat sedang memakan gudeg. Mata gadis tersebut langsung berbinar sangat antusias saat merasakan suapan pertama.
"Ternyata bener ya, Dev. Kata orang-orang gudeg di Jalan Malioboro itu enak-enak. Aku suka," puji Vania pada makanan khas Yogyakarta itu.
"Kalau kamu mau, nanti kita makan malam di sini lagi."
"Beneran Dev?"
"Iya, Sayang. Habiskan."
Adev memakan makanannya. Vania pun memakan makanannya sembari memuji cita rasa makanan tersebut dan tak lupa sembari menatap keadaan sekitar. Keadaan malioboro.
Setelah selesai makan Vania mengajak Adev menuju pedagang yang berjejer di Jalan Malioboro. Berlari dari satu pedagang ke pedagang lainnya. Membeli dagangan semua pedagang yang berjualan. Dirinya membeli sangat banyak baju, tas, gelang, kalung, dan semua barang yang dijual di sana.
"Buat siapa aja Van? Kok sebanyak ini?" Adev menggeleng melihat Vania yang kesusahan membawa sekitar lima belas kantong belanjaan.
"Ada yang buat aku, buat mamah, papah, kamu, Tante Safira, mamah kamu, papah kamu, anak-anak panti," balas Vania dengan tatapan berbinar.
"Tapi sayang aku gak punya temen, Dev." Tiba-tiba raut wajah yang berbinar menjadi murung.
"Bukan gak punya temen lagi, tapi emang gak punya siapa-siapa. Keluarga gak punya, saudara gak ada, temen apalagi," murung Vania lagi.
"Kamu gak butuh siapapun, Van. Kamu cuma butuh aku. Aku siap jadi apapun yang kamu mau. Kamu butuh keluarga? Aku akan jadi keluarga kamu, kita akan kabulin mimpi itu suatu saat nanti. Kamu butuh teman? Aku ada di sini. Aku ada di sekitar kamu, bersama kamu, menjaga kamu, menjadi tempat keluh kesah kamu, menjadi sandaran kamu saat rapuh." Adev menguatkan Vania. Menaruh barang-barang yang Vania beli di kursi. Mendekap tubuh Vania supaya sedikit tenang.
Tangis Vania pecah saat mendengar ucapan Adev. "Makasih, Dev."
"Jangan nangis, Sayang. Aku bawa jauh-jauh ke sini supaya kamu bahagia," ucap Adev sambil mengusap air mata Vania.
"Janji sama aku, Van. Kalau kamu harus selalu bahagia," pinta Adev membuat Vania menggeleng lemah.
"Aku ini lemah, Dev. Aku rapuh, aku gak mungkin bisa kuat. Aku gak akan terus menerus bahagia."
"Oleh karena itu, kamu harus kuat."
"Gak ada alasanku untuk kuat."
"Ada, Van. Aku orangnya."
"Udahlah Dev, aku capek. Ayo ke hotel," ajak Vania dibalas anggukan oleh Adev.
Mereka berjalan menuju hotel tanpa pembicaraan apapun. Bukan karena tidak mau berbicara, tapi Adev paham kalau Vania butuh waktu menenangkan diri.
"Kamu tenangin diri dulu, nanti kita ke alun-alun kidul," ucap Adev saat berada di depan kamar Vania.
"Oke, aku masuk dulu."
Adev yang melihat Vania masuk langsung menuju ke kamarnya, merebahkan diri di kasur hotel. Cukup melelahkan menghadapi Vania, tapi Adev tak akan pernah menyerah. Adev mengambil ponselnya yang ia letakkan di nakas tadi. Rupanya Vania memberikannya pesan.
Vania Raselia♡: Dev aku pengin ke alun-alun:(
Adev tersenyum melihat permintaan gadisnya.
Raffasya Adev: Siap-siap, Van. Nanti aku jemput di depan kamar.
Vania Raselia♡: Oke, cepetan.
Adev menjemput Vania di kamar, lalu berjalan keluar lorong hotel dan menaiki salah satu becak yang ada di Jalan Malioboro. Becak tersebut mengantarkan mereka menuju Alun-Alun Kidul Yogyakarta—tempat yang terdapat mitos tentang pohon beringin kembar.
Sesampainya di alun-alun kidul, mereka menghabiskan waktu selayaknya seorang kekasih.
"Kamu tau apa yang istimewa dari alun-alun kidul?" tanya Adev pada Vania.
Vania menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Adev. "Enggak," ucapnya.
"Beringin kembar," jawab Adev singkat.
"Aku ingin cinta kita seperti beringin kembar di alun-alun kidul, tak terpisah sampai tua, dan selamanya." Adev menjelaskan hasil pemikirannya lalu mengaitkan jemarinya dengan jemari Vania.
"Semoga."
Hari pertama di Jogja cukup bahagia. Jogja memberikan banyak kisah pada hari pertama tentang berjalan berdua melewati malioboro. Tentang mengukir kisah di alun-alun kidul dan mengharapkan kesetiaan seperti pohon beringin kembar.