2. Kamu hanya perlu mengodaku.

1462 Words
Pagi itu mata Liana masih bengkak akibat tangisnya akan kenangan kehidupannya yang dahulu. Namun, kali ini Liana kembali menangis tersedu-sedu di hadapan pasangan yang terlihat mesar. "Sayang, kamu sudah janji akan makan denganku tapi kamu malah makan dengan wanita ini?" "Kamu tega sekali. Kamu mengkhianati aku?" "Kamu bilang akan bersama denganku, tapi apa ini?" Liana menarik lengan seorang pria dengan kasar. Matanya yang bengkak itu mendelik tajam dengan pipinya yang merah dan hidungnya yang tersumbat, serta air mata yang juga mengalir dengan deras. "A-apa apaan ini?" "Ada apa?" tanya pria itu bingung sambil melirik kesana kemari mencari pertolongan. Berharap ada satu orang saja yang peduli pada mereka. Sayangnya, semua orang hanya menonton. Menyaksikan hal menarik yang tak berani mereka ikut campur. "Kamu masih bertanya ada apa di situasai seperti ini?" teriak wanita yang sebenarnya sedari tadi bersama dengannya. "Ti-tidak. Aku sama sekali tidak mengenal wanita itu. Aku tak mengerti apa yang wanita itu katakan padaku!" Pria itu membela diri dan terus berusaha untuk meluruskan situasi yang semakin menarik perhatian orang banyak. Sejatinya pria dan wanita itu saat ini sedang makan malam di sebuah restoran mewah yang populer di antara para bangsawan kelas atas sebagai tempat berkencan yang romantis. "Apanya yang tidak mengerti bukankah semuanya sudah jelas?" teriak wanita itu sekali lagi sementara Liana masih menangis hingga ia terduduk di lantai. Suasana semakin riuh atas apa yang saat ini terjadi. Semua orang mulai berkumpul dan mulai berbisik satu dan lainnya. "Ya ampun, apa yang terjadi?" "Pria itu berselingkuh?" "Wah, dia mengkhianati tunangannya?" "Benar-benar sebuah perbuatan yang hina!" Sementara itu, pria tersebut semakin panik setelah mendengar bisikan dari orang-orang tersebut. Pasalnya perselingkuhan dan poligami merupakan berbuatan dari orang-orang rendah. Rakyat jelata yang tenu saja akan di anggap hina oleh para bangsawan. Sebagai bangsawan tentu saja, menjaga keturunan tetap murni adalah sebuah keharusan. Bila mereka melakukan pernikahan lebih dari satu orang maka penentuan penerus nantinya akan menjadi masalah yang bisa memicu perdebatan bahkan perang. Sehingga sebagai langkah aman, para bangsawan hanya diperbolehkan memiliki satu istri saja dan berkat hal tersebut, bahkan di saat hubungan asmara biasa pun sebuah pengkhianatan cinta atau yang biasa di sebut dengan perselingkuhan itu akan dipandang sama rendahnya oleh kalangan bangsawan. "Sungguh aku tak mengenal wanita itu." "Aku mohon percayalah." "Pernikahan kita sudah di atur, pertunangan kita juga akan segera di tentukan tanggalnya." "Sayang.. percayalah!" "Aku mohon Sinta, percayalah padaku." Pria yang panik itu mendekati kekasihnya, memeluknya kasar demi bisa membuat sang wanita percaya. Tapi, tentu saja wanita itu ketakutan. Gerakan kasar yang dilakukan oleh pria itu membuat sang wanita menjerit ketakutan. "Lepaskan aku.." "Ah.. sakit.. lepaskan aku!" Teriakan wanita itu semakin menjadi-jadi membuat orang di sekitar tak bisa lagi membiarkan begitu saja apa yang pria itu lakukan. Sikap kasarnya terlihat dengan jelas dan untung saja prajurit penjaga pun sudah datang untuk melerai. Akan tetapi, di saat para prajurit itu terlihat dan bisikan orang-orang semakin terdengar jelas. Pria itu murka, ia langsung melepas Sinta dengan kasar, membuat tubuh Sinta ikut terjatuh ke lantai dan beralih pada Liana yang saat itu masih terduduk lemas di lantai. "Hei.. ini semua gara-gara kamu!" "Siapa kamu sebenarnya?" "Kenapa kamu menghancurkan hubunganku dengan Sinta?" Pria itu sudah diselubungi oleh emosi yang bergejolak. Membutakan matanya dan hanya bersisa kata-kata kasar serta perbuatan yang tidak menyenangkan. Ia terus mencecar Liana tanpa jeda, tentu dengan tangannya yang juga terus menghentak kasar tubuh Liana. "Kami akan bertunangan, jika seperti ini semua akan berantakan!" "Semua salahmu!" Bersama dengan seluruh murka yang terlihat dari wajahnya, pria itu terlihat akan memukul Liana. Namun, di saat yang sama pula kali ini Liana mulai berontak. Terlebih lagi desas desus saat para prajurit penjaga akan datang membuat Liana jauh lebih berani. "Apa? kamu mencoba memukul aku?" "Kamu menyebut diri kamu seorang pria?" "Beraninya kamu hendak memukul wanita. Jika kamu benar memukul aku, bahkan untuk menjadi seorang manusia pun kamu tak pantas apa lagi kamu itu seorang bangsawan!" Gagah berani, Liana pun berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Ia berkata lantang dan penuh keyakinan. Segala pendapat Liana pun di setujui oleh semua yang ada di sana. Membuat pria itu semakin kehilangan muka dan semakin terlihat murka. "A-apa kamu bilang?" "Kamu sedang menghinaku?" "Kamu berani menghina seorang bangsawan?" "Siapa kamu berani-beraninya. Aku saja tak pernah melihat kamu di kalangan bangsawan!" Berkat teriakan itu semua orang semakin heboh dengan pendapat mereka. Terus berbisik satu dan lainnya membuat suasana semakin memanas. Bila mana Liana adalah rakyat jelata yang mungkin memang memiliki kebiasaan poligami untuk bertahan hidup. Maka apa yang saat ini sang pria itu lakukan benar-benar sudah di luar batas kehormatan seorang bangsawan. Mendengar segala ucapan dari orang sekitar, tentu pria itu benar-benar murka. Kali ini ia tampak berani untuk memukul Liana dan untung saja, prajurit keamanan yang sudah di panggil oleh pengelola restoan pun datang. Memegangi pria yang masih murka itu dan membuatnya tak berkutik. "Aku tak percaya dia tega malakukan ini padaku!" isak Liana kala itu yang jga di sambut dengan tangisan Sinta yang penuh emosi. "Pertunangan kita batal. Aku akan mengatakan semua ini pada ayahmu!" teriak Sinta seiring dengan pria tersebut yang dibawa oleh prajurit keamanan. "Tidak, tidak.. ini semua salah paham. Sungguh, aku bisa jelaskan semuanya!" teriak pria itu juga di saat tubuhnya yang sudah terseret-seret oleh prajurit penjaga. Suasana mulai terlihat tenang, keduanya kini mendapatkan perhatian dari para tamu di restoran tersebut. Segelas air mineral pun mereka berikan agar keduanya tenang dan kata-kata penyemangat juga mereka ungkap untuk Liana dan Sinta. "Sudahlah, pria seperti itu memang tak layak untuk di pertahankan!" "Semuanya sudah berakhir dan kalian sebaiknya menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Semoga kalian menemukan cinta sejati yang tidak akan mengkhianati cinta kalian!" Doa-doa itu begitu tulus di torehkan untuk Liana dan juga Sinta. Membuat senyuman dari mereka kini kembali mekar dan air mata pun susut. "Ah, maaf.. aku malah menghancurkan pertunangan kalian!" kata Liana lirih dengan suaranya yang parau. Sinta menggelengkan kepalanya, "Seperti yang kamu dengar. Pria seperti itu memang tak layak untuk di pertahankan!" "Aku malah bersyukur mengetahui lebih cepat perbuatan dari pria itu!" lanjut Sinta lagi. Semua orang tampak setuju dan terus mendukung perpisahan tersebut. Lalu, sebagai wujud terima kasih Sinta yang terbukakan matanya akan sosok p****************g itu akhirnya menawarkan untuk mengantarkan Liana pulang dengan kereta kuda milik keluarganya itu. "Wah, saya merasa terhormat bisa diantar pulang oleh nona," jawab Liana dengan senyuman ketirnya. "Sudahlah, keadaan kamu juga sama kacaunya denganku!" ujar Sinta dan kini mereka pun memutuskan pergi dari restoran tersebut. Di dalam kereta kuda, suasana hening pun tercipta. Liana dan Sinta pun saling berpandangan satu dan lainnya. Pandangan yang lekat dan nyaris tak berkedip. "Eheeeems..." deham Sinta kemudian yang memecah keheningan di kereta kuda tersebut. "Kita berhasiiiiiiil...." Teriakan pun memenuhi kereta kuda tersebut. Menjelaskan rencana mereka yang menjebak sang pria itu benar-benar telah sukses besar. "Akhirnya aku tidak perlu bertunangan dengan pria kasar itu!" teriak Sinta girang. Begitu pula dengan Liana, ia juga turut senang dengan apa yang terjadi pada Sinta. Lalu, dengan sigap memeluk Sinta penuh dengan rasa bahagia. Entah sejak kapan Liana mulai berprofesi sebagai seorang pelakor. Ia sendiri tak menyangka bila dia akan menjadi populer di kalangan para bangsawan wanita yang ingin mengakhiri pernikahan politik mereka. Dengan berbagai alasan mereka datang pada Liana untuk menghancurkan pernikahan mereka dan menjadi seorang pelakor. Mulai dari ingin menikah hanya dengan pria yang mereka cintai, tidak suka dengan pasangan yang kasar, atau karena pernikahan politiknya bersama dengan pria tua yang baru saja kehilangan istrinya serta beragam alasan lainnya. "Yah.. apapun itu aku senang membantu kalian menghancurkan hubungan politik seperti itu." "Cinta itu perlu dan semoga kita menemukan cinta sejati kita!" Liana tentu kini menjadi bangga dengan apa yang ia lakukan dan setelah selesai pada satu misi pasti akan ada banyak misi lain yang datang menghampirinya. Hingga suatu hari, yang datang untuk menggunakan jasanya sebagai seorang pelakor pun sangat tidak terduga. "Ma-maaf, saya pelakor!" "Saya perebut laki orang!" Lania menatap heran pada tamu yang kini duduk di hadapannya. Seorang pria tampan dengan parasnya yang luar biasa dan juga senyumannya yang teduh. Pria tegap tersebut sedang meminta jasa Liana untuk menjadi pelakor. Membuat Liana pusing tujuh keliling. "Mohon maaf nih.. Biasanya tamu saya itu wanita dan saya menggoda pria mereka. Tapi, anda ini pria dan anda ingin membuat saya menghancurkan hubungan anda dengan tunangan anda?" "Maaf sekali.. saya tidak bisa menggoda wanita!" tegas Liana dengan pikirannya yang kacau. Pria itu malah tersenyum di tengah dilema yang saat ini tengah Liana rasakan. Liana pun terperanjat heran dengan ekspresi tenang pria tersebut. Tak lama, pria itu pun bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mendekati Liana dan menyentuh helaian rambut Liana yang terurai panjang. "Kamu hanya perlu menggodaku Putri Liana!" katanya seraya mencium ujung rambut Liana. Menjadikan mata Liana yang sudah bulat itu semakin membulat dan mulunya yang menganga lebar. "A-apa?" teriak Liana beberapa saat setelah ia berhasil mencerna setiap ucapan yang pria itu katakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD