Sepeda motor itu berhenti di depan rumah Zavier. Zia langsung turun dan mengucapkan terima kasih seraya melepas helm yang dikenakannya. Seniornya itu tersenyum, membalas ucapan Zia dengan ucapan “sama-sama” sambil menerima helm yang dikembalikannya. Zia langsung salah tingkah. Pemuda di hadapannya ini belum menunjukkan tanda-tanda akan beranjak pergi. Sementara Zia bingung harus mengatakan apa lagi. Seniornya ini sudah berbaik hati mengantarnya pulang, sementara Zia tadi lupa menanyakan dimana rumahnya. Mungkin saja berbeda arah dan cukup jauh, tapi pemuda ini memilih untuk mengantarnya. Zia ingin berbasa-basi sekedar menawarkan untuk mampir, tapi rasanya ia seperti menghianati Zavier. Pulang dengan pemuda ini tanpa memberitahu Zavier saja sudah salah, apalagi menawarkannya mampir. Sen

