11b

1078 Words
Zia datang dengan dua mangkuk berisi salad buah. Diberikannya satu pada Zavier yang duduk menunggunya di sofa teras belakang. Tempat mereka menghabiskan sore beberapa hari lalu. “Terimakasih,” ujar Zavier seraya menerima mangkuk berisi salad buah dari Zia. Gadis itu duduk di sebelahnya dan mulai menyantap isi mangkuknya sendiri. Mereka baru saja selesai makan siang. Dengan masakan yang dimasak bersama dan dari hasil belanjaan yang dilakukan bersama pula. Meskipun melelahkan, tapi Zia merasa ia akan senang sekali melakukannya sesering mungkin bersama Zavier. Belanja bersama, lalu dilanjutkan dengan memasak bersama. Hal tersebut membuatnya merasa bahwa mereka menjadi semakin dekat satu sama lain. “Nanti kita makan malam di luar saja, ya.” Zavier memulai obrolan setelah mengunyah sepotong kiwi yang sudah dicampur dengan yogurt. “Dimana?” tanya Zia. Gadis itu menoleh sambil mengunyah. Zavier tersenyum kecil dan mengulurkan tangan ke arah Zia. Ibu jarinya menyapu sudut bibir Zia yang membuat gadis itu seketika terpaku. “Ada yogurt di sudut bibir kamu. Pelan-pelan saja makannya,” kata Zavier lalu kembali menarik tangannya. Zia seketika salah tingkah. “Maaf, jadi berlepotan begini.” Gadis itu menunduk pada mangkuknya, tidak berani menatap Zavier. Lagi-lagi jantungnya berdetak di atas normal. “Jadi bagaimana? Mau?” tanya Zavier lagi. Zia tidak punya alasan untuk menolak. Maka, ia pun mengangguk tanpa mengangkat kepala. “Ya.” Zavier tidak membalas lagi ucapan Zia setelah jawaban pendek gadis itu. Keheningan melingkupi mereka. Mungkin percakapan telah selesai. Tapi bagi Zia ada baiknya memang mereka tidak melanjutkan pembicaraan. Zia butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Beberapa menit pun berlalu, hingga akhirnya Zavier kembali bersuara. “Zi,” panggilnya dengan suara pelan. Zia perlahan mengangkat kepalanya untuk menoleh. “Bagaimana tanganmu?” Zia melirik ibu jarinya yang diplester. Tadi saat memotong asparagus, jarinya sempat terkena pisau dan berdarah. Saat itu Zia ingin sekali menangis karena sakit. Tapi ia sekuat tenaga menahannya karena malu dilihat Zavier. “Baik,” jawab Zia. “Yakin tidak sakit?” tanya Zavier lagi. Zia tersenyum meyakinkan. “Tidak. Ini cuma luka kecil kok.” Lalu, sebersit pemikiran lain menerpanya. “Apa karena ini kamu ngajak aku makan malam di luar?” Zavier diam. Tampak sedang menimbang-nimbang untuk memberikan jawaban. “Ya ampun, Zavi. Aku masih bisa masak kok kalau cuma luka kecil begini.” Zia mengangkat ibu jarinya yang terluka. “Nih lihat. Cuma luka kecil begini.” Dalam hati Zia merasa perasaannya menghangat. Tadi saat ia menjerit karena tangannya yang teriris, Zavier tampak tenang-tenang saja. Pria itu hanya bertanya ada apa, lalu setelah melihat apa yang dialami Zia, langsung melangkah ke kotak obat dan membawakannya plester tapi ekspresinya tidak menunjukkan rasa khawatir sedikit pun. Membuat Zia sempat merasakan sedikit kekecewaan karena Zavier tampak tidak terlalu peduli padanya. Tapi untunglah, sekarang hal tersebut sudah dihapus dengan pertanyaan Zavier barusan. Rupanya diam-diam Zavier juga mengkhawatirkannya. “Coba lihat.” Zavier menarik tangan Zia ke depan matanya. Tampak sama sekali tidak percaya dengan ucapan Zia sebelumnya. “Aku buka plesternya ya.” “Jangan!” jerit Zia seketika. Itu memang luka kecil. Tapi cukup dalam dan masih terasa nyeri. Zavier menatap Zia dengan tatapan “aku-bilang-juga-apa”. Zia seketika menundukkan kepala karena merasa bersalah. “Pasti masih sakit, ya? Berarti jarinya masih harus istirahat. Jangan diajak kerja terus. Apa lagi kalau kena air. Pasti terasa pedih.” “Ya,” jawab Zia pelan. “Jangan terlalu memaksakan diri, oke.” Zia mengangguk dan masih menunduk, sampai telapak tangan Zavier tahu-tahu hinggap di pipinya. Gadis itu perlahan mengangkat kepala dan langsung menemukan mata Zavier yang menatapnya dalam. Jantung Zia bekerja lebih ekstra. “Kalau sakit, bilang sakit. Jangan disembunyikan.” Wajah Zavier mendekat. Dengan mata yang terkunci di mata Zia. Zia kembali mengangguk. Dengan d**a yang berdentam tak keruan. “Kalau capek, istirahat. Jangan memaksakan diri.” Wajah Zavier semakin dekat. Zia mengangguk lagi. “Kalau...” Ibu jari Zavier mengusap pipi Zia dengan lembut. “Kalau aku seperti ini...” Zia merasa pening. Wajah Zavier sudah terlalu dekat hingga tak bisa lagi dilihat oleh matanya dengan jelas. Napas Zavier terasa hangat di kulit wajah Zia. Bibir mereka semakin dekat. Dekat... sekali... Zia seketika memejamkan mata. Hingga... Ting tong... Zia berani bersumpah ia mendengar geraman marah dari tenggorokan Zavier. Bunyi bel itu terus berlangsung dan mengganggu. Namun, pria itu akhirnya bangkit juga untuk melihat siapa gerangan yang mengganggu kegiatan romantis mereka yang nyaris saja terjadi.   ***   “Halo Zia...” Carissa melangkah dari pintu teras dan langsung menyalami Zia. “Kamu manis sekali.” Zavier yang melangkah di belakang menggeram marah. Si pengganggu ini benar-benar tidak sopan. Ada suami Carissa dan anaknya yang juga ikut menyusul. Sementara Zia yang masih duduk di sofa tampak kebingungan. Carissa langsung duduk di sebelah Zia. Perempuan itu kemudian memperkenalkan dirinya sendiri beserta suami dan anaknya. Sementara Zavier dan suami Carissa yang menggendong anak mereka masing-masing mengambil tempat duduk pada sofa untuk satu orang di sana. Dan belum apa-apa, berikutnya Zavier sudah mendengar pertanyaan gila dari mulut Carissa. “Kavier suka minta jatah berapa kali sehari?” Zia yang mendapat pertanyaan tersebut tampak kebingungan. Sementara Zavier ingin sekali menyumbat mulut sepupunya itu dengan mangkuk yang ada di atas meja. “Sering-sering diberi jatah ya, Zia. Kasihan mukanya masam terus kalau kerja.” Kalau bukan karena interupsi darimu, kami sudah memulai tahap pembukannya tadi. Dasar pengacau! Rutuk Zavier dalam hati. “Oh ya, Zia,” Carissa tidak memberi Zia kesempatan untuk menjawab. Perempuan itu terus saja berbicara. “Kapan-kapan datang ya ke rumahku. Nanti kita bisa jalan sama-sama. Aku juga akan kenalkan kamu pada kakakku. Kamu jangan mau dikurung terus-terusan sama Kavier. Dia memang tidak berniat mengenalkan kamu pada kami.” “Jangan sembarangan,” Zavier langsung menyela. “Bukannya tidak mau. Waktunya saja yang belum ada.” “Alasan.” Carissa mencibir. Lalu, siang itu pada akhirnya disita habis oleh si usil Carissa dan celotehannya. Zavier hanya bisa menghela napas dengan sabar karena waktunya untuk berduaan dengan Zia semakin  berkurang.   ***   Menjelang pukul tiga, Carissa akhirnya pamit. Sebelum pulang, perempuan itu sempat berbisik di telinga Zavier. “Tadi sebelum kami datang, kalian sedang apa? Wajah Zia merah banget seperti habis dimesumin.” Zavier melotot. Namun sebelum ia sempat menjawab, Carissa sudah berlalu menuju mobilnya. “Maaf sudah mengganggu. Aku akan sering-sering berkunjung. Bye, Zia.” Zia tersenyum dan balas melambai. Sementara Zavier hanya bisa menatap adik sepupunya itu degan muka masam. Lalu keluarga kecil bahagia itu pun berlalu dari hadapan mereka. Meninggalkan Zavier dan Zia yang berdiri berdampingan di teras rumah. Namun tak bisa dipungkiri, pertanyaan Carissa tadi rupanya membuat Zavier ingat bahwa ia harus mengatakan sesuatu pada Zia. “Hmm... Zi, yang tadi itu...” Zavier menoleh dan melihat Zia tampak gelisah. “Eh, a-aku... Aku ngantuk. Aku ke kamar dulu ya. Mau istirahat.” Tanpa memandangnya, Zia langsung berlari ke dalam sebelum Zavier sempat menyelesaikan kalimatnya. Pria itu lalu mengembuskan napas panjang. Begini rupanya efek perbuatannya tadi. Istrinya langsung kabur seperti ketakutan. Sejujurnya Zavier memang ingin mencium Zia. Gadis itu membuatnya ingin melakukan hal tersebut sejak tadi pagi. Entaha bagaimana, hari ini Zia menjadi begitu menggemaskan daripada biasanya. Hingga Zavier merasa akan sedikit melonggarkan pengendalian diri. Hanya menciumnya saja tidak masalah, kan? Tapi Zavier tak menyangka akan begini jadinya. Baru akan dicium saja reaksi Zia sudah seperti ini. Bagaimana jika lebih dari itu?   *** Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD