6

1397 Words
Zavier tidak pernah menyangka bahwa akan melihat pakaian tidur Zia yang tersingkap saat membuka pintu kamar istrinya tadi. Ia sama sekali tidak terpikir akan mendapati pemandangan menghibur demikian. Istri kecilnya itu tampak asik bertelepon dengan posisi menelungkup, namun tidak menyadari kehadirannya. Membuat Zavier punya banyak sekali waktu untuk memandangi kaki mulusnya hingga ke ujung pakaian tidur Zia yang tersingkap. Jelas memperlihatkan bagian yang selama ini tertutup dan membuat Zavier penasaran. Zavier sangat menikmati saat-saat bebasnya itu, meskipun rasa ingin tahu juga sempat mengusiknya. Karena Zia sempat menyebutkan perihal dihukum oleh senior. Tapi Zavier menahan diri. Hal itu bisa ia tanyakan nanti tanpa harus menginterupsi Zia yang sedang sibuk bertelepon dengan seseorang yang terdengar seperti sepupunya. Dan tak disangka, begitu mendapati dirinya ada di sana, Zia tampak sangat terkejut. Bahkan sampai terjatuh dari atas tempat tidur. Setelah membuat gadis itu kaget dengan kehadirannya dan pada akhirnya mendapat penjelasan dari Zia mengenai hukuman yang ia terima, Zavier menawarkan diri untuk membantu Zia mengerjakan soal tersebut. Awalnya Zia tampak tidak yakin padanya dan mengatakan bahwa besok ia akan minta bantuan teman sepupunya saja. Membuat Zavier harus mengeluarkan stok kesabaran ekstra agar tidak mengeluarkan protes karena tidak terima dianggap remeh oleh Zia. Disiplin ilmunya adalah teknik sipil, yang mana membuat Zavier cukup kenyang bergaul dengan ilmu Fisika selama kuliah. Ketidakyakinan Zia jelas membuatnya tersinggung karena sempat memandangnya dengan sebelah mata. Mungkin gadis itu beranggapan demikian karena posisinya sebagai GM di sebuah hotel dan sedikit tidak nyambung dengan disiplin ilmunya. Tampaknya Zia tidak tahu bahwa selama kuliah ia juga mempelajari ilmu managemen yang tentunya juga cukup bermanfaat untuk posisinya sekarang. Tapi Zavier sadar istrinya itu masih terlalu belia. Jadi sengaja ditepisnya rasa tersinggung itu kali ini. Mungkin Zia juga beranggapan ia adalah tipikal orang sukses karena nepotisme, karena hotel tersebut merupakan milik saudara ibunya. Jadi tidak sepenuhnya salah gadis itu juga. Ia awalnya memang dipaksa untuk berada di posisi tersebut alih-alih terjun langsung di perusahaan properti milik keluarga. Jadi secara tidak langsung ia memang pelaku nepotisme, sekaligus korban dari sikap membangkang sepupunya yang menolak jabatan tersebut. Tapi Zavier tentu tidak perlu repot-repot menjelaskan hal itu pada Zia, bukan? Setidaknya sekarang bukan saat yang tepat untuk curhat-curhatan. Saat ini Zia juga sudah bersedia dibantu olehnya, sebelum besok mereka akan mengunjungi teman Mia yang merupakan guru Fisika. Jadi sekarang, Zavier harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena diberi kesempatan berlama-lama berada di kamar istrinya. Zia datang mendekatinya dengan beberapa buku dan kertas. Benda-benda itu diletakkannya di atas kasur, sementara Zia merangkak perlahan untuk duduk di sisinya. Zavier bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya gadis ini memang benar-benar polos atau wujud dari setan penggoda yang menyamar? Lihat apa yang sudah diperbuatnya. Baru saja dia merangkak mendekati Zavier. Membuat isi kepala Zavier seketika membayangkan hal-hal lain akibat dari gerakan tersebut. Sementara sebelumnya tadi, tanpa sadar saat mereka akan menuju meja belajar, Zia bilang sebaiknya mereka belajar di atas tempat tidur saja karena kasur itu masih luas dan cukup ditempati berdua. Jika harus belajar di meja belajar dengan satu kursi, Zavier akan lelah karena berdiri terlalu lama. Tahukah Zia apa efek kalimat itu padanya? Kalimat "belajar di atas tempat tidur" itu punya arti lain di benak Zavier. Begitu pula dengan "berdiri terlalu lama". Zavier ingin sekali menjawab dengan "Berdiri tidak akan membuatku capek. Kamu tidak tahu saja nikmatnya 'berdiri'", namun tidak sampai hati. Ia tahu Zia pasti tidak akan mengerti. "Jadi kita mulai dari soal yang ini?" tunjuk Zavier pada kertas yang tadi diletakkan Zia, lalu menoleh pada istrinya. Zia mengangguk. Gadis itu kemudian meraih sebuah bantal dan meletakkannya di pangkuan. Seketika pemandangan yang tadi sempat membuat fokus Zavier sedikit teralihkan segera tertutupi. Dengan wajah tak berdosa, Zia menatap soal kemudian bertanya pada Zavier. "Yang ini sudah aku coba kerjakan sendiri, tapi aku yakin bukan begini caranya. Kamu bisa bantu koreksi dulu?" Zavier mengerjap. Mata Zia yang menatapnya seakan mengirimkan kejutan listrik yang membuat tubuhnya tersengat. Ini tidak baik. Rupanya keputusan untuk berlama-lama berduaan dengan istrinya ini adalah keputusan yang sangat salah. Salah besar. Segalanya akan lebih mudah bila mereka tidak sedekat ini. Tapi lihat sekarang. "Zavi?" Zavier berdeham, lalu segera mengalihkan perhatiannya pada kertas. "Oke. Mari kita lihat," ajaknya agar Zia berhenti menatapnya dan kembali fokus pada kumpulan soal-soal sialan itu. "Yang ini," tunjuk Zia sekali lagi. Membuat Zavier mengangguk-angguk seraya berusaha berkonsentrasi. Untunglah, karena keinginan yang kuat, Zavier mampu menahan diri dan bertahan. Hampir satu jam mereka sibuk berdiskusi, mengingat kembali, mencoret di sana-sini, hingga pada akhirnya Zia yang tak sanggup menahan kantuk langsung terlelap begitu saja saat mereka baru menyelesaikan hampir empat soal. Gadis itu tidur dengan posisi duduk, sementara kepalanya nyaris jatuh ke depan. Zavier tersenyum geli. Diraihnya tubuh Zia dan direbahkannya secara perlahan ke posisi tidur yang benar. Kemudian Zavier membereskan kertas-kertas serta alat tulis yang berserakan di dekat kaki Zia lalu meletakkannya ke atas meja. Setelah meletakkan semuanya ke atas meja belajar, Zavier berbalik dan kembali menatap Zia yang terlelap. Ia melangkah mendekat, perlahan menyentuh kepala gadis itu dan mengusapnya. Berbagai perasaan berkecamuk di benaknya karena hal tersebut. Namun, tak lama setelah itu Zavier pun tersenyum. Sebuah ide melintas di kepalanya. Zavier meredupkan lampu, kemudian memutari tempat tidur dan segera naik ke atasnya. Diraihnya selimut untuk menyelimuti tubuh mereka hingga sebatas pinggang, lalu merebahkan diri di sebelah Zia. Dengan hati-hati, diulurkannya sebelah lengan ke bawah kepala Zia, dengan lengan bebas yang lain mengangkat sedikit kepala gadis itu. Setelah lengannya sukses menjadi bantal Zia, Zavier perlahan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Dengan sedikit harap-harap cemas jika Zia akhirnya terbangun karena gerakan itu. Tapi ternyata Zavier tak perlu khawatir. Bukannya terbangun karena merasa terganggu, gadis itu malah semakin merapatkan tubuh mereka,seakan merasa sangat nyaman. Zia kemudian menyurukkan kepalanya ke d**a Zavier, dengan sebelah lengan yang naik ke atas perut pria itu. Ini adalah hal intim pertama yang mereka lakukan sejak menikah. Tak terlukiskan bagaimana senangnya Zavier saat ini. Ia pun membalas apa yang dilakukan Zia. Dipeluknya gadis itu di dadanya lalu mengecup puncak kepalanya lama. Rambut Zia wangi. Zavier menyukai harumnya. Kemudian, ia pun bergerak sedikit ke bawah. Ke dahi Zia. Dikecupnya satu kali, lalu turun ke hidung Zia yang mancung. Namun, saat akan bergerak semakin ke bawah, Zavier berhenti. Ia mendadak merasa ragu. Dipandanginya bibir Zia selama beberapa saat. Bibir itu berwarna merah muda. Sedikit terbuka. Seakan mengundangnya untuk menyecap di sana. Akhirnya, Zavier merasa ia tidak akan bisa lagi menahan diri untuk kali ini. Didekatkannya wajah mereka, lalu dengan perlahan mulai menyatukan bibir mereka. Menyatukannya dalam ciuman lembut yang panjang. Dalam ciuman itu Zavier tahu, bahwa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, malam ini adalah malam dimana ia pada akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. *** Zia terbangun dengan kehangatan yang melingkupinya. Perlahan, ia membuka mata. Namun bukan pemandangan biasa yang didapatinya, melainkan Zavier yang berada di tempat tidurnya. Memeluknya pula! Keterkejutan itu membuat Zia seketika menarik diri menjauh. Rupanya gerakan itu menganggu Zavier, hingga meyebabkan pria itu juga ikut terbangun. Dengan mata yang masih sedikit terbuka, Zavier menatap Zia yang kini mundur menjauhinya. "Sudah pagi?" tanya Zavier dengan suara serak. "S-sepertinya," jawab Zia gugup. "Emmm... Zavi, apa yang sebenarnya terjadi? K-kenapa kamu tidur di sini?" Zavier kembali memejamkan mata seraya bergumam, "Aku juga lupa. Mungkin semalam aku terlalu mengantuk untuk kembali ke kamarku." Zia ingin sekali mengajukan protes. Hal-hal seperti ini masih begitu asing untuknya dan kamar Zavier tidaklah terlalu jauh dari kamarnya. Seharusnya Zavier kembali saja ke kamarnya semalam. Namun harus diakui, Zia bukannya tidak menyukai hal ini. Ia... bisa dibilang menyukainya. Tapi Zia merasa ini bisa berbuntut panjang untuknya. Lihat saja sekarang, dengan posisi bangunnya tadi, Zia tak kuasa menahan debaran di dadanya setiap menatap Zavier karena bayangan itu langsung terpampang di benaknya. Bahkan kehangatan yang didapat dari tubuh pria itu saja masih belum hilang dari kulitnya. "Apa hari ini kita jadi datang berkunjung ke rumah temannya Mia? Pukul berapa?" tanya Zavier kemudian. Matanya masih terpejam, untunglah. Jika tidak, ia pasti bisa melihat Zia yang terkejut karena sejak tadi sibuk menatap wajah Zavier. "Belum tahu," jawab Zia cepat. "Kak Mia belum memberi kabar." "Oke. Kalau begitu biarkan aku tidur beberapa jam lagi ya. Aku mengantuk sekali, kepalaku terasa berat." Zia ingin sekali mengatakan sebaiknya Zavier melanjutkan tidur di kamarnya sendiri saja. Tapi entah mengapa ia tak punya daya untuk mengucapkannya. Tidak tahu harus menjawab apa, Zia pun meraih ponselnya yang terletak di night stand untuk melihat jam. Masih cukup pagi memang. Tapi kembali tidur bukanlah pilihan yang tepat. Terlebih karena kini Zavier ada di ranjangnya. Zia pun beranjak turun dari tempat tidur, membiakan Zavier kembali terlelap di atas tempat tidurnya. Sekarang yang ia butuhkan adalah pengalih perhatian agar jantungnya berhenti berdentam-dentam dari tempo di atas normal seperti yang terjadi saat ini. *** Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD