Sejak sarapan hari itu, Zavier tidak lagi memiliki kesempatan sarapan bersama Zia. Istrinya itu disibukkan oleh serangkaian OKK dan OPK atau apa pun itu istilahnya untuk mahasiswa baru di kampusnya. Pagi-pagi sekali Zia sudah berangkat bersama Bambang, pemuda yang dipekerjakannya sebagai sopir pribadi Zia, kemudian pulang dalam keadaan capek. Saat makan malam pun istrinya itu tampak nyaris melakukannya dengan mata terpejam.
Singkatnya, Zia tidak memberi Zavier kesempatan untuk mendekatkan diri karena kesibukannya. Bahkan Zavier yang semula berencana untuk mengambil kesempatan sejak insiden pemasangan dasi yang tanpa disengaja itu—ia berencana ingin membuat Zia yang memasangkannya dasi setiap hari sejak hari itu—sama sekali tak bisa diwujudkan. Selama nyaris dua minggu Zia tampak begitu sibuk. Dan juga lelah. Bahkan di hari minggu pun ada saja kegiatannya. Zavier jadi tidak tega untuk meminta waktu pada Zia agar mereka bisa saling mendekatkan diri, dengan jalan berdua di hari libur atau akhir pekan misalnya, sedang menemaninya mengobrol selepas makan malam saja begitu sulit didapat.
Zavier berusaha maklum. Zia sedang berada dalam masa semangat-semangatnya menikmati fase sebagai mahasiswa baru. Jadi ia akan bersabar hingga kesibukan Zia mulai berkurang dan ritme kehidupan mereka berjalan kembali normal.
Tapi yang amat mengganggu Zavier saat ini adalah Zia yang belakangan tampak begitu akrab dengan Bambang. Zavier merasa tanpa sadar sudah kecolongan. Entah bagaimana proses itu berlangsung, saat ini tiba-tiba saja Zia sudah menganggap Bambang sebagai teman akrabnya. Seakan mereka telah saling mengenal sejak kecil.
Dan Zia tidak melakukan hal itu padanya.
Bukannya Zavier cemburu. Ia tahu Bambang jelas tidak cocok dianggap sebagai saingan. Dirinya dan Bambang jelas berbeda. Lagi pula, pemuda kampung yang tak lain adalah keponakan Bi Inah itu juga adalah pemuda yang baik, sopan, dan jujur. Setahun belakang, sejak memperkerjakannya Zavier jelas bisa melihat hal itu. Ia seharusnya tak perlu merasa khawatir. Bambang tampak tahu batasan.
Tapi tetap saja.
Bisa jadi karena dirinya terlalu tua, Zia merasa Bambang lebih enak diajak bicara. Dan bermula dari rasa nyaman dengan teman bicara tersebut, lambat laun muncul hal-hal berbau romansa lainnya. Lalu, di belakangnya kedua insan itu akan melakukan pertemuan rahasia di malam hari. Untuk saling melepas rindu.
Astaga. Zavier menarik napas tajam. Kenapa ia sampai berpikir sejauh itu? Bahkan kamar yang ditempati Bambang tidak terhubung langsung dengan rumah. Jika pemuda itu nekat ingin menyelinap masuk, resikonya jelas lebih besar.
Tapi bagaimana jika Zia yang datang menemuinya?
Zavier seketika menjambak rambutnya keras-keras dan merutuki pikiran ngawurnya. Duduk diam sembari membiarkan pikiran-pikiran tidak sehat itu menggerogotinya sama sekali bukan pilihan yang bagus. Lebih baik ia temui saja Zia sekarang. Agar segera mendapat jawaban atas rasa penarannya.
Sambil mengacak rambut, Zavier beranjak dari ranjang. Dengan langkah besar-besar, ia melangkah keluar dari kamar dan bergegas menuju kamar Zia. Dengan harapan gadis itu masih terjaga di jam seperti ini.
***
"Huaaa... jadi Zi harus gimana, Kak?" jerit Zia dengan ponsel menempel di telinga. Tubuhnya berguling ke kiri dan kanan, demi menghilangkan keresahannya. "Ini lusa sudah harus dikumpul," sambungnya lagi.
Saat ospek fakultas beberapa waktu lalu, entah bagaimana Zia mendapat hukuman. Sementara ia sendiri merasa tidak melakukan satu kesalahan pun. Seorang senior laki-laki tiba-tiba saja mendatanginya, dengan berbagai macam alasan yang Zia sendiri tidak mengerti, namun jelas membuat seakan-akan Zia telah melakukan kesalahan kelas berat, menyerahkan beberapa lembar kertas berisi soal-soal Fisika yang sangat tidak disukai Zia sebagai hukuman.
Meskipun tidak terlalu menyukai Fisika, Zia tetap memutuskan kuliah di fakultas teknik. Hal itu tidak akan menjadi penghalang baginya. Tentu saja ada cara lain untuk menghindari salah satu cabang ilmu alam tersebut. Seperti program studi yang dipilih Zia saat ini, yang mana paling sedikit pelajaran fisikanya. Setidaknya hal itu sudah bisa mengurangi bebannya. Meskipun memang tidak bisa benar-benar menghindari cabang ilmu alam tersebut.
Tapi malangnya, Zia malah terjebak saat ospek. Entah apa yang sudah dilakukannya hingga senior itu tega memberinya tugas mengerikan seperti ini hanya dalam waktu singkat. Dua hari.
Saat itu Zia merasa ingin berhenti kuliah saja. Karena selain ancaman mengerikan si senior, Zia harus menjalani ospek jurusan pula setelahnya. Ia jelas tak punya banyak waktu untuk mengerjakan soal-soal tersebut. Ia jelas tak akan selamat. Namun, entah bagaimana, akhirnya senior itu pun sedikit berbaik hati. Ia memberi Zia batas waktu hingga dua hari setelah Zia selesai dengan serangkaian ospek yang dijalaninya. Dan itu adalah lusa.
Zia menelungkupkan kembali badannya ke atas kasur, seraya mendengarkan balasan dari seberang sana.
"Kakak mau bantuin kamu," jelas Kak Mia. "Tapi ya kan tadi kamu dengar sendiri, ini si kecil lagi demam. Mencret pula. Rewel banget. Ditinggal sebentar nangis."
"Jadi Zi harus gimana, Kak?" desah Zia lesu. "Bahkan untuk mata kuliah Fisika saja Zi baru akan ketemu semester depan. Eh ini senior malah tega banget."
"Kamu kerjakan sendiri saja dulu. Nggak apa-apa kalau salah. Nanti kamu kirim ke Kakak juga jawabannya, biar kakak coba koreksi kalau Abi udah nggak rewel lagi."
Mendengar jawaban sepupunya, Zia mendadak merasa tak enak. Ia pasti akan merepotkan Kak Mia. Mengurus bayi yang sedang sakit itu tidaklah mudah. Dan dirinya malah menambah beban.
"Eh atau kamu temui temannya Kakak saja!" seru Kak Mia sebelum Zia menanggapi ucapan sebelumnya. "Kami saling kenal saat diklat beberapa tahun lalu. Dia sama seperti Kakak, guru Fisika di SMA, tapi suaminya itu kalau tidak salah adalah dosen Fisika. Kamu belajar sama dia saja, nanti Kakak hubungi dia dulu. Mau?"
Mendengar ucapan sepupunya, Zia seketika merasa lega. Sebenarnya ia berusaha mati-matian mengerjakan soal itu bukan karena takut pada seniornya. Zia bisa saja mengumpulkan tugas tersebut dengan hasil apa adanya. Hanya saja ia sedikit khawatir hal itu akan berbuntut panjang, yang mana akan membuat senior itu punya alasan mengerjainya lagi di kemudian hari. Zia tidak suka hal seperti itu. Ia ingin kehidupan kampusnya berjalan dengan baik tanpa ditambah masalah-masalah lainnya lagi.
"Mau banget kak!" Zia menjawab nyaris menjerit. Kakinya ia goyang-goyangkan karena merasa sangat senang akhirnya berhasil mendapat bantuan.
"Oke. Nanti Kakak kirim alamatnya ya. Tapi Kakak harus tanya dia dulu. Kemarin kabarnya dia habis melahirkan. Takut nanti mengganggu."
"Yaaah..." Zia yang semula semangat mendadak kembali lemas. "Habis diterbangkan sekarang Zi dihempas lagi ke bumi."
Mia tertawa mendengar gerutuan Zia. "Tapi dia melahirkannya lebih dari sebulan yang lalu kok. Bisalah nanti kalau Kakak minta tolong sama dia."
"Ini betulan kan, Kak?" Zia merebahkan kepalanya ke atas bantal, masih dengan posisi menelungkup. "Habis ini Zi nggak dihempaskan ke bumi lagi, kan?"
Mia kembali tertawa. Kemudian Zia mendengar suara tangis keponakannya yang baru berusia sembilan bulan.
"Eh, Kak, Abi jadi bangun gara-gara kita ya?" tanya Zia khawatir. Tadi di awal telepon sepupunya itu bilang si kecil memang sedang dalam gendongannya.
"Iya nih, gara-gara suara tawa Kakak agak keras," sahut Kak Mia. Terdengar lagi suaranya yang berusaha menenangkan anaknya.
"Duh, maafin Ante Zi ya, dek Bi," ucap Zia penuh penyesalan. "Zi matiin aja teleponnya ya, Kak."
Kak Mia menjawab dengan susah payah karena tangis anaknya terdengar semakin keras. Zia pun akhirnya mematikan telepon setelah Mia berjanji akan segera memberi kabar begitu selesai menghubungi temannya.
Zia baru saja bangkit dari posisinya ketika suara Zavier terdengar dari balik punggungnya. "Kamu dihukum senior?"
Terkejut, Zia pun buru-buru menoleh. Zavier berdiri di depan pintu kamarnya, dengan tangan terlipat di depan d**a.
"Eh, Zavi. Sejak kapan ada di—Kyaaaaa!!!" Zia yang hendak turun dari tempat tidur seketika hilang keseimbangan. Ia terjerembab dengan telapak tangan dan lutut yang menghantam lantai lebih dulu. Untung bukan kepalanya.
"Kenapa ceroboh sekali?" Tubuh Zia seketika terangkat, lalu segera berpindah dari lantai dan kembali ke atas kasur. "Ini sakit?" tanya Zavier setelah menurunkan Zia dan mengusap lutut gadis itu.
"Kamu yang bikin aku kaget," balas Zia. Tak terima disebut ceroboh. "Kenapa tidak mengetuk dulu sih?"
"Apa aku harus mengetuk jika ingin bertamu ke kamar istriku?" tanya Zavier balik. Ekspresinya santai, tapi Zia mendadak merasa menggigil melihat sorot mata Zavier yang sangat dekat dengannya saat ini.
"T-tapi sebelumnya... kamu mengetuk lebih dulu."
"Itu karena pintunya dikunci," sahut Zavier tenang.
"B-bagaimana kalau aku sedang ganti baju?" tanya Zia. Sekelebat bayangan saat ia sedang berganti pakaian dan Zavier tiba-tiba muncul di kamarnya membuat pipi Zia terasa panas.
"Salahmu sendiri karena tidak mengunci pintu kamarmu dengan baik."
Mendegar itu, Zia bersumpah pada diri sendiri mulai sekarang akan mengunci pintu kamarnya dengan baik.
"Masih sakit?" tanya Zavier yang masih betah berlutut di depan kaki Zia sambil memijat pelan lutut gadis itu.
"Sudah lumayan enakan," jawab Zia. Melihat tangan Zavier dilututnya membuat Zia malu. Pakaian tidurnya hanya berupa terusan sebatas paha. Ditambah pula tadi Zavier sempat meggendongnya. Meskipun hanya sebentar.
Zavier menepuk pelan lutut Zia kemudian beranjak ke kasur. Duduk di sebelah gadis itu. "Jadi kamu habis diapain seniormu?" tanyanya.
"Kamu menguping pembicaraanku?" tanya Zia balik. Namun yang mengusiknya adalah fakta bahwa ternyata Zavier sudah cukup lama berdiri di pintu kamarnya sebelum menyerukan pertanyaannya tadi.
"Aku tidak berniat menguping," jawab Zavier. "Aku hanya menemukan kamu sedang mengobrol saat membuka pintu. Dan aku tidak ingin menganggu, jadi aku menunggu hingga kamu selesai."
Ya ampun. Desah Zia dalam hati, menyadari ada hal berbahaya lain yang terjadi. Tadi posisi tengkurapnya membelakangi pintu. Dan jelas pakaiannya tersingkap lebih ke atas. Apa Zavier melihatnya? Ya, tentu saja dia melihatnya. Zia mendadak ingin segera mengunci diri ke kamar mandi. Ia diterpa badai rasa malu yang begitu hebat sekarang.
"Jadi, kenapa kamu bisa dihukum seniormu?" tanya Zavier sekali lagi.
Zia tidak berani menoleh. Ia merasa tak punya daya untuk menatap wajah suaminya.
"Zia?"
"Apa kamu akan menghajarnya karena telah menghukumku?"
Zavier tersenyum tipis. "Aku tidak akan bertindak konyol seperti itu," jawabnya. "Aku hanya ingin tahu kesalahan apa yang sudah kamu perbuat sampai harus dihukum seperti itu."
Zia cemberut mendengar jawaban suaminya. Semula ia pikir Zavier akan bersikap layaknya pelindung sejati. Tapi ternyata tidak demikian. Ya, Zia memang seharusnya tidak perlu banyak berharap pada pria di sebelahnya ini.
Sambil mengembuskan napas sekaligus membuang rasa kecewanya, Zia pun menceritakan kronologi proses hukuman yang diterimanya itu. Tapi dengan wajah yang menghadap ke depan, tidak berani menatap Zavier terlalu lama.
***
Bersambung...