4

1178 Words
Zavier melirik Zia yang tampak gelisah. Gadis itu sedari tadi jelas sekali mencuri-curi pandang ke arahnya. "Nasi gorengnya enak," ucap Zavier kemudian. Membuat wajah Zia langsung tampak begitu lega. Begitu rupanya, ucap Zavier dalam hati. Ternyata Zia khawatir masakannya tidak enak hingga merasa perlu berkali-kali melirik ke arah Zavier. Huh, daripada mencemaskan masakannya, seharusnya Zia lebih mencemaskan isi kepala Zavier. Yang mana sejak tadi terus menerus membayangkan hal yang berbahaya untuk Zia. Isi kepala Zavier jelas lebih mengerikan daripada masakan yang gagal. Tadi, Zavier buru-buru ke kamar Zia karena khawatir gadis itu telah pergi lebih dulu dan menyetir seorang diri ke kampusnya. Zavier tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi tebak apa yang dia dapat? Gadis itu berdiri di hadapannya, masih dengan kaus ketat yang dikenakannya semalam, serta rambut yang diikat asal tapi malah membuatnya terlihat sangat menggoda. Tidak sampai disitu, sebelum Zavier sempat mengumpulkan kembali kewarasannya, Zia malah lebih dulu menyeretnya ke dalam kamar lalu menariknya menuju tempat tidur. Zavier sempat membayangkan dirinya dan Zia berbaring di sana, namun gadis itu segera membuyarkan pikiran kotornya dengan cara memasangkannya dasi. Rupanya Zia mengira kemunculan Zavier di depan pintu kamarnya karena hal itu. Wajah Zia yang sejajar dengannya, lalu telapak tangan gadis itu yang menyentuh dadanya. Fokus Zavier yang semula berada di tempat tidur pun segera teralihkan. Tangan Zavier hampir saja terangkat untuk menarik pinggang gadis itu ke tubuhnya. Tapi untunglah, stok kewarasannya segera kembali. Jika tidak, mana mungkin mereka bisa duduk tenang menikmati sarapan saat ini. "Syukurlah," desah Zia kemudian. "Aku cemas sekali rasanya tidak sesuai dengan lidahmu." Zavier menoleh sekilas pada Zia, namun tak berkata-kata. Ia kembali fokus ke piring sarapannya. "Oh, ya, kopinya." Zia segera bangkit dari kursi dan menjauhi meja makan. "Habiskan sarapanmu dulu," panggil Zavier yang membuat langkah Zia seketika terhenti. "Kamu hanya perlu menuangkannya ke cangkir, kan? Nanti saja." Zia menurut. Gadis itu kembali duduk di kursinya dan mereka pun melanjutkan makan dengan tenang. Sarapan kali ini berlangsung cukup lama, karena Zavier bangun cukup pagi. Ia bahkan masih bisa menikmati kopi dengan tenang sambil memerhatikan Zia menghabiskan s**u dalam gelasnya. Hingga pada akhirnya Zavier melirik jam dan beranjak dari kursi. "Aku harus pergi sekarang," ujarnya seraya berdiri. Zia seketika ikut bangkit dari kursinya. Dilihatnya Zavier yang kini mendekat ke arahnya. "Hati-hati," ucap Zia dengan senyum tipis. Zavier mengangguk kecil, kemudian mengulurkan tangan ke arah Zia. Ada dorongan yang membuatnya ingin sekali menarik gadis itu dan menciumnya. Namun, Zavier berusaha keras menahan diri. Akhirnya, alih-alih menyentuh pipi gadis itu dan mendekatan wajah mereka, Zavier mengusap kepala Zia pelan. "Jangan nakal," ucapnya kemudian, lalu segera berlalu dari hadapan gadis itu. *** Jangan nakal? Apa-apaan itu? gerutu Zia dalam hati. Apa suaminya itu pikir ia adalah anak kecil nakal yang gemar membuat onar. Rasa gugup yang sebelumnya menyerang Zia seketika lenyap. Berganti dengan rasa sebal. Dengan cemberut, Zia kembali duduk di kursinya. Baru saja ia terserang panik karena Zavier mengulurkan tangan ke arahnya. Ia tadinya sempat berpikir bahwa Zavier akan menciumnya. Ya ampun. Untung Zia tadi tidak sempat memejamkan mata karena menantikan ciuman itu. Akan sangat memalukan sekali jika hal itu sampai terjadi. Hanya karena Papi yang gemar memberikan kecupan di pipi pada Mami sebelum berpamitan, Zia malah menganggap kebanyakan pasangan lain juga melakukan hal yang sama. Atau setidaknya mungkin Zavier akan melakukan hal itu padanya. Tapi nyatanya tidak demikian. Zia menghela napas panjang. Sebaiknya ia harus menata ulang lagi isi kepalanya mengenai kehidupan rumah tangga. Zavier yang punya muka sekaku serat entah apa pun itu sehingga sulit sekali tersenyum, jelas tidak akan bermurah hati memberikan kehidupan rumah tangga yang penuh hal-hal romantis padanya. Dan inilah yang menjadi salah satu penyebab Zia enggan sekamar dengan suaminya itu. *** Zavier sedang membaca sesuatu di monitor laptopnya, saat pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka. Ia segera mengalihkan pandangan, lalu menemukan seorang perempuan cantik tengah tersenyum lebar padanya. Zavier seketika mengeluh dalam hati. "Halo sepupu," sapa perempuan itu dengan seringai lebar yang sayangnya sama sekali tidak mengurangi kecantikan di wajahnya. "Kenapa cemberut? Apa istri kecilmu tidak memberi jatah semalam?" Zavier baru saja akan menjawab, ketika seorang anak kecil berusia satu setengah tahun muncul di sebelah kaki perempuan itu sambil berteriak menyebutkan "Mami". "Sebentar, Sayang. Kita ganggu Om Vier dulu ya," ucap perempuan itu lalu mengangkat anaknya ke dalam gendongan. "Hey, Kavier, kenapa diam saja dan terus cemberut?" Zavier menarik napas dalam sambil menatap perempuan di hadapannya. "Apa yang kamu lakukan di sini, Carissa?" tanyanya. "Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan Kavier." Carissa kembali tersenyum dan melangkah mendekat. "Tentu saja ingin menganggumu," jawabnya santai. "Sekaligus ingin mendapat kepastian kapan aku bisa bertemu dengan istri kecilmu itu lagi, Kavier." Zavier melotot. Namun, Carissa malah dengan santai berbalik dan duduk di sofa empuk yang ada di salah satu sisi ruangan. Anak kecil dalam gendongannya tampak menyandarkan pipi dengan nyaman di d**a sang Mami. Zavier berdiri. Ia pun melangkah dan duduk di dekat Carissa. "Aku rasa kamu baru saja tersesat, ini jelas bukan kantor suamimu," ucap Zavier, tapi tangannya terulur mengusap kepala bocah perempuan dalam pelukan Carissa. "Aku memang sengaja mampir kemari. Tadi kami sudah lebih dulu mengganggu Papi. Ya, kan, Sayang?" Carissa menunduk dan mengecup puncak kepala anaknya. "Tidak mau punya bayi?" tanya Carissa saat Zavier hanya menatap ia dan anaknya. Zavier menjawab pertanyaan Carissa dengan senyum masam. Adik sepupunya ini memang pengacau kelas berat. Pernikahan bahkan tidak membuat perangai buruknya itu menghilang. "Kenapa tidak mengganggu kakakmu saja, selain menggangguku di sini?" tanya Zavier kemudian. Mencoba mengalihkan topik. "Kak Anta sama sekali tidak asik untuk diganggu saat ini. Dia terlalu bahagia dengan bayinya. Apa pun kejailanku, semua dimaafkan dengan mudah. Lebih asik kalau aku menganggumu saja, pengantin lama yang baru memulai hidup baru bersama." Zavier mengembuskan napas tajam mendengar ucapan Carissa. Ia lalu menyandarkan punggung ke sandaran sofa. "Ada apa? Kamu kelihatan tidak baik," tanya Carissa dengan tatapan menyelidik. "Apa dia masih memanggilmu dengan sebutan 'Om'?" Zavier serta-merta mendelik. Dilihatnya Carissa nyengir dengan usil padanya. "Tidak. Dia tidak pernah lagi memanggilku seperti itu sejak aku mengoreksinya," jelas Zavier. "Dia cukup penurut dan tidak menyusahkan." Dulu, saat mereka baru menikah, Zia dengan takut-takut menyapa Zavier dengan sebutan "Om". Membuat Zavier cukup meradang. Sambil menahan marah, Zavier meminta Zia untuk memanggil namanya saja tanpa embel-embel lain. Ia tidak ingin memperjelas jarak usia mereka dengan kata sapaan satu sama lain. Dalam hal ini ia ingin mereka setara. Carissa tertawa pelan. "Lantas kenapa wajahmu begitu masam?" "Aku hanya banyak pekerjaan," elak Zavier. Enggan menyebutkan masalah sebenarnya. Bahwa ia gemas setengah mati pada istrinya. Bahwa ia menyesal karena hanya berani mengusap kepala Zia tanpa mencoba peruntungan dengan menciumnya. "Kamu berbohong," tembak Carissa tepat sasaran. "Tapi tak apa, sepertinya kamu pun saat ini sama sekali tidak asik untuk dikerjai." "Terima kasih pengertiannya," ucap Zavier seraya mengembuskan napas lega. "Omong-omong, aku serius dengan ucapanku sebelumnya," kata Carissa serius. "Jadi kapan aku boleh bertemu dengan istrimu?" "Tidak sekarang," jawab Zavier cepat. "Harus berapa lama lagi?" desak Carissa tak sabar. "Kau posesif sekali sih, masa untuk mengenalkannya padaku saja sulit sekali." "Nanti," sahut Zavier. "Aku akan mengenalkannya padamu nanti. Setelah membawanya bertemu dengan orangtuaku lebih dulu." Carissa yang semula berniat terus menuntut hingga Zavier menyerah, seketika mengurungkan niat begitu mendengar ucapan terakhir pria itu. Ditatapnya sepupunya itu dengan tatapan penuh pengertian. Kali ini usahanya untuk membuat rusuh di kantor Zavier tampaknya harus ditunda dahulu. Karena sepupunya ini, yang biasa menjadi bahan keusilan terfavoritnya, tampak sedang berada dalam suasana hati yang cukup buruk. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD