3

1083 Words
Zavier mengembuskan napas panjang begitu menutup pintu kamarnya. Beragam emosi memenuhi rongga dadanya. Sementara suara Zia tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Selamat malam, Zavi. Zavi. Hanya gadis itu yang menyebutnya Zavi. Kebanyakan, orang-orang yang mengenal Zavier memenggal namanya dengan Vier, bukan Zavi. Dan sungguh, tidak ada yang spesial dengan hal itu bukan? Lantas mengapa Zavier rasanya ingin sekali berlari menuju kamar Zia yang terletak empat puluh lima derajat dari kamarnya ini? Untuk apa? Tadi saat makan malam, Zia memberanikan diri bertanya-tanya. Itu juga bukan hal spesial. Sebelumnya mereka juga sering berkomunikasi dengan saling melempar pertanyaan. Jadi jelas bukan hal ini pula penyebabnya. Selesai makan, Zavier berinisiatif mengajak Zia menonton. Mencoba membuat Zia merasa nyaman. Mereka berdua pun akhirnya duduk bersebelahan di sofa panjang menghadap televisi. Saling diam, hingga pada akhirnya film selesai dan waktu untuk tidur pun tiba. Apa karena hal itu? Atau saat mereka sama-sama menaiki tangga, berjalan menuju kamar masing-masing, lalu Zia mengucapkan selamat malam padanya dan langsung menghilang di balik pintu sebelum Zavier mengucapkan balasan? Ya, pasti gara-gara hal itu. Ia belum sempat membalas ucapan selamat malam pada istrinya. Gagasan itu serta-merta membuat Zavier tertawa sumbang. Sebenarnya berapa umurnya sekarang? Apa sekarang ia berlagak seperti bocah ingusan yang baru mengenal perempuan? Zavier jelas tahu bukan semua itu yang menjadi alasan sesungguhnya atas keinginan ia berlari ke kamar Zia. Bukan itu. "Bodoh," maki Zavier pada dirinya sendiri. Gadis kecil yang dulu dinikahinya jelas sudah mulai berubah. Terutama secara fisik. Zavier sendiri menyaksikannya karena hampir setiap bulan datang untuk mengunjungi Zia. Tapi mengapa ia merasa berbeda dengan Zia malam ini? Tentu saja karena celana selutut dan kaus putih sedikit ketat yang dikenakannya. Yang mana memperlihatkan betis mulusnya, juga bagian d**a yang tumbuh dengan pesat. Sejenak Zavier membiarkan pikiran isengnya membayangkan saat tangannya menangkap pinggang ramping Zia dan mendekap tubuh itu ke dadanya. Namun, suara papi Zia yang berpesan padanya kemarin mendadak muncul dan langsung menghapus bayangan itu secepat kilat. "Vier, Papi harap kamu bisa menahan diri. Tolong jangan sentuh Zia dulu ya. Setidaknya sampai dia berusia dua puluh tahun." Dan Zavier memang menyetujuinya. Lelaki sejati pantang ingkar janji, bukan? Tidak. Tentu saja hal itu bisa dilanggarnya, dengan syarat Zia pun juga punya pikiran yang sama dengannya. Tapi sayangnya tidak demikian. Maka beginilah ia sekarang. Tersiksa akan janji bodoh yang ia sanggupi sendiri. Frustrasi dengan pikiran-pikiran yang tak menentu, Zavier melangkah menuju kamar mandi. Ia memang terbiasa mandi sebelum tidur, dan berharap air dingin dapat menenangkan isi kepalanya yang kacau. Saat hendak melangkah menuju bilik shower, mata Zavier menangkap kelopak-kelopak kecil berwarna merah yang mengambang di dalam bath tub yang telah terisi air. Lengkap dengan tiga buah Hello Kitty karet berjejer di pinggirannya. Zavier tersenyum masam. Ulah Bi Inah. Asisten rumah tangganya itu memang melakukan sesuai perintah Zavier. Tapi apa wanita itu tidak tahu, tadi siang jelas Bi Inah sendiri yang memindahkan koper Zia ke kamar yang lainnya. Zavier batal sekamar dengan Zia. Lantas untuk apa lagi taburan kelopak mawar dan barisan kucing Jepang yang imut itu? Membuat Zavier terkesan? Kesal, Zavier urung melangkah menuju bilik shower dan memilih mendekati bath tub. Diraihnya Hello Kitty karet itu dan segera dibuangnya ke dalam tong sampah. Tadinya ide itu tercetus untuk membuat Zia yang menyukai Hello Kitty merasa senang saat menggunakan kamar mandinya. Tapi rupanya hal itu tak berjalan sesuai rencana. Dia bahkan masih suka Hello Kitty. Batin Zavier kecut. Wajar. Istrinya itu jelas masih belia. Dan Zavier memang harus lebih bersabar lagi. Ah, sudahlah. Zavier berbalik dan kembali melangkah menuju bilik shower. Setidaknya sekarang ia sudah bisa mandi dengan tenang tanpa merasa ditonton oleh barisan kucing karet berpita tersebut. *** Pagi-pagi sekali Zia mendapati pintu kamarnya diketuk. Saat membukakan pintu, ditemukannya Zavier tengah berdiri di hadapannya. Suaminya itu sudah rapi dengan setelan kerja. Minus jas dan dasi yang masih berada dalam genggamannya. "Ah, Zavi," ucap Zia tampak terkejut. "Ada ap—oh kemarilah." Gadis itu kemudian membuka pintu kamarnya lebar-lebar, dan mempersilakan Zavier memasuki kamarnya. Melihat jas dan dasi yang dibawa Zavier di tangannya, Zia langsung bisa menebak bahwa Zavier ingin dirinya yang memasangkan dasi untuk pria itu. Ya tentu saja. Itu adalah salah satu tugas istri, kan? Sebelum Zavier sempat berucap, Zia telah lebih dulu meraih dasi yang ada di tangan suaminya dan mencoba melingkarkan kain tersebut ke leher Zavier. "Ah, kamu tinggi sekali," ucap Zia yang puncak kepalanya hanya sebatas d**a Zavier. "Ayo sini, sulit bagiku melakukannya sambil berdiri." Zia menarik Zavier mendekati tempat tidur, lalu menekuk lutut di atasnya hingga posisi tubuh gadis itu jadi sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan cekatan Zia memasangkan dasi ke leher Zavier. "Kamu bisa memasang dasi?" tanya Zavier. Suaranya terdengar heran. "Kadang aku bantu memasangkan dasi Papi dalam kesempatan tetentu," jawab Zia dengan fokus masih pada dasi Zavier yang belum selesai. "Oh." Hanya itu tanggapan dari Zavier, hingga Zia mengusap dadanya pelan dan berkata "Sudah" saat dasinya telah terpasang dengan baik. "Jam berapa kamu ke kampus?" tanya Zavier yang mengikuti gerakan Zia turun dari tempat tidur. "Bukankah seharusnya ada ospek atau segala macam jenis sambutan untuk mahasiswa baru?" "Ospeknya besok," jawab Zia dan berdiri menghadap Zavier. "Hari ini aku berangkat siang untuk mengikti pra-ospek atau semacam itulah." Zavier mengangguk. "Nanti Bambang yang akan mengantar-jemputmu. Atau kamu ingin menyetir sendiri?" tanyanya. "Tapi kurasa lebih baik tidak. Lebih aman kalau kamu tidak menyetir seorang diri." "Tidak, tentu saja," sahut Zia cepat. "Lebih baik aku diantar-jemput saja. Aku juga tidak berani menyetir seorang diri di sini." Zavier kembali mengangguk. Suasana di sekeliling mereka mendadak hening. Karena tidak tahu ingin bicara apa lagi, Zavier pun mengucapkan terima kasih seraya menunjuk simpul dasi yang telah terpasang, kemudian berbalik keluar kamar. "Eh, Zavi," panggil Zia saat suaminya itu hendak beranjak dari kamarnya. "Emmm... tadi... aku membuat nasi goreng untuk sarapan," ucap Zia gugup saat Zavier menghentikan langkah dan berbalik untuk menatapnya. "Dan secangkir kopi. Apa itu bisa diterima sebagai menu sarapanmu hari ini?" Zavier memandangnya dengan ekspresi yang tak terbaca. Membuat Zia yang menantikan jawaban cemas setengah mati. Takut menu pertamanya ditolak. Meskipun semalam Zavier bilang bisa makan apa saja, tentu tidak menjamin menu pilihan Zia pagi ini sesuai dengan seleranya. Selera orang bisa berubah setiap waktu, bukan? Siapa tahu Zavier sedang bosan dengan nasi goreng dan menginginkan menu lain untuk sarapan. Tapi, Bi Inah yang tadi membantunya menyiapkan bumbu sama sekali tidak melarang atau mengucapkan apa pun. Jadi, tidak apa-apa, kan? Duh, Zia betul-betul takut ditolak. Ia pun merutuki kebodohannya. Seharusnya semalam ia bertanya saja Zavier ingin makan apa untuk sarapan hari ini. "Kedengarannya enak," jawab Zavier. Membuat Zia tanpa sadar mengembuskan napas lega. "Tunggu apa lagi? Ayo ke bawah untuk sarapan," ajak Zavier karena Zia masih terpaku di tempatnya. Sudut-sudut bibir Zia perlahan terangkat membentuk sebuah senyuman. Ia pun mengangguk dan melangkah cepat mendekati Zavier. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju dapur untuk menikmati sarapan pertama di permulaan kehidupan baru mereka. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD