Hari berikutnya terasa lebih panjang bagi Aluna. Setiap jam terasa seperti beban. Ia mencoba fokus pada jadwal konstruksi, pada spesifikasi kerangka baja, dan pada email-email klien, tetapi pikirannya terus kembali pada satu hal: janji pukul 20:00 di lantai dua.
Ravian telah memaksanya ke titik yang terasa absurd. Pertemuan mereka sekarang jelas bukan lagi hanya tentang museum; itu tentang permainan kekuasaan, dan yang lebih penting, permainan gairah yang dibangun di atas penolakan yang disengaja.
Aluna memutuskan untuk memenuhi permintaannya. Ia menghabiskan sebagian besar sore harinya membuat sketsa tangan—sketsa tebal, hitam di atas kertas putih kaku—menganalisis bagaimana pencahayaan alami dan buatan akan berinteraksi dengan Patung Kemenangan Bersayap (Winged Victory) di Galeri Puncak. Ini adalah patung utama museum, sebuah mahakarya yang berdiri di tengah ruangan melingkar dengan dome kaca di atasnya.
Tepat pukul 20:00, Aluna tiba di lantai dua.
Ruangan itu sangat berbeda dari Galeri Patung yang gelap dan tersembunyi. Galeri Puncak ini luas, terbuka, dan didominasi oleh Patung Kemenangan Bersayap yang menjulang tinggi, sayapnya yang terbuat dari logam kuningan tampak siap terbang. Dome kaca di atasnya membiarkan cahaya bulan masuk, memberikan kesan dramatis.
Ravian sudah di sana, tetapi ia tidak berdiri menunggu. Ia sedang duduk di tangga teratas yang menuju ke balkon galeri, kakinya ditekuk, membelakangi Aluna. Kamera Leica-nya berada di lantai di sampingnya. Ia mengenakan turtle neck hitam malam ini, yang membuat garis rahangnya terlihat semakin tegas.
"Kau tepat waktu," Ravian berkata, tanpa berbalik. Nada suaranya santai, tetapi ada lapisan ketegangan di bawahnya yang Aluna kenali dengan baik.
"Saya selalu tepat waktu, Ravian. Ini adalah profesionalisme," balas Aluna, suaranya kembali ke mode formal. Ia berjalan ke tengah ruangan, di mana patung itu berdiri.
"Profesionalisme tidak berguna dalam seni. Seni membutuhkan keikhlasan," Ravian akhirnya berdiri dan berbalik. Ia berjalan menuruni tangga batu yang dingin. "Tunjukkan sketsamu."
Aluna menyerahkan dua lembar sketsa padanya. Sketsa pertama menunjukkan patung di bawah cahaya lampu sorot modern yang tajam, bayangan keras yang membelah sayap patung. Sketsa kedua menunjukkan patung di bawah cahaya alami yang menyebar dari dome dan beberapa lampu aksen lembut—bayangan yang halus, mendalam, dan mulia.
Ravian mengambil sketsa itu dengan kedua tangannya, membiarkan jari-jari mereka bersentuhan sebentar. Sentuhan ini sekarang terasa seperti bahasa rahasia mereka—singkat, panas, dan segera ditarik kembali.
Ia membolak-balik kedua sketsa itu. Aluna berdiri diam, membiarkan dia menganalisis karyanya.
"Kau melakukannya dengan sengaja," ujar Ravian, mengangkat pandangannya dari sketsa ke mata Aluna.
"Melakukan apa?"
"Kau membuat sketsa pertama menjadi mengerikan, sehingga aku akan terpaksa memilih yang kedua," Ravian tersenyum, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Kau memanipulasiku."
"Saya hanya menyajikan perbandingan ekstrem untuk mempermudah keputusan Anda," Aluna membela diri. "Kami tidak punya waktu untuk bermain-main, Ravian. Kami harus menentukan tata pencahayaan permanen untuk Patung Kemenangan."
Ravian melipat kedua sketsa itu menjadi gulungan kecil dan menyisipkannya di saku celananya. "Baik. Aku setuju dengan yang kedua. Cahaya lembut, mendalam. Jangan menciptakan bayangan yang menyakitkan."
Keputusan yang tiba-tiba ini mengejutkan Aluna. Setelah semua penolakan, Ravian setuju begitu cepat.
"Hanya itu yang ingin Anda bahas malam ini?" tanya Aluna, alisnya terangkat.
Ravian mengangguk. "Itu bagian profesionalnya. Sekarang, bagian pribadi."
Ia mulai berjalan, bukan ke pintu keluar, melainkan ke balik Patung Kemenangan Bersayap, ke sudut ruangan di mana dome kaca itu berawal.
"Ikut aku," Ravian memerintah pelan.
Aluna ragu sesaat, tetapi rasa ingin tahu dan dorongan emosional yang mematikannya lebih kuat daripada kehati-hatiannya. Ia mengikutinya.
Di sana, di balik patung itu, terdapat jendela sempit di lantai yang menghadap ke atap. Ravian menunjuk ke bawah, ke atap sayap timur museum yang rendah.
"Di sana. Tepat di bawah sana," Ravian menjelaskan, suaranya tenang. "Itu adalah loteng tempat ayahku biasa mencetak fotonya. Ketika aku masih kecil, aku sering menyelinap ke sana, mencium aroma developer dan cairan fixer."
Ravian berbicara tentang masa lalunya. Ini adalah hal paling pribadi yang pernah ia bagikan kepada Aluna. Ia berbicara tentang bagaimana ayahnya, seorang seniman yang diabaikan, mencintai museum ini lebih dari segalanya.
"Ayahku ingin Patung Kemenangan ini selalu terlihat diselimuti kabut. Tidak pernah benar-benar jelas, selalu ada sedikit misteri. Dia bilang, kejelasan menghilangkan gairah," Ravian menghela napas.
Aluna merasakan perubahan dalam dirinya. Pertahanan Ravian, yang selama ini sekeras marmer, mulai retak. Dan ia, si arsitek logis, tiba-tiba sangat tertarik pada emosi.
"Saya mengerti sekarang mengapa Anda begitu takut pada kejelasan," kata Aluna, menyandarkan dirinya di dinding dingin, berjarak nyaman.
Ravian berbalik. Wajahnya disinari cahaya bulan dan biru redup dari lampu pengaman, memberikan kontras yang menyakitkan.
"Kau tidak pernah takut pada kejelasan," Ravian mengamati, melangkah ke arah Aluna. Ia menyandarkan kedua tangannya di dinding di sisi kanan dan kiri kepala Aluna, menjebaknya di antara dinding dan tubuhnya, persis seperti yang ia lakukan pada pertemuan sebelumnya. Namun, kali ini, niatnya terasa berbeda.
"Aku takut pada ilusi. Aku takut pada hal-hal yang tidak bisa diukur," balas Aluna, suaranya nyaris tercekik. Ia merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh Ravian.
"Dan ilusi apa yang paling kau takuti, Aluna?" Ravian bertanya, suaranya mendalam, rendah, menggerus batas pertahanannya.
"Ilusi bahwa sesuatu yang intens bisa bertahan," Aluna mengakui, ini adalah pengakuan yang sangat pribadi, yang keluar tanpa ia sadari.
Mendengar pengakuan itu, Ravian tersenyum, tetapi kali ini senyum itu lembut. Ia mengangkat tangan kanannya, bukan lagi sebagai ancaman, tetapi sebagai sentuhan. Jarinya mengusap lembut tulang pipi Aluna, membelai garis rahangnya.
"Aku juga takut pada ilusi, Aluna," Ravian berbisik. "Aku takut pada ilusi profesionalisme yang kita ciptakan setiap malam."
Jari-jarinya berhenti di dagu Aluna, dan Ravian menekannya dengan sangat lembut, memaksa Aluna mendongak lebih dalam untuk menatap matanya.
"Aku tahu kau menginginkannya. Kau telah menantangku. Kau telah melanggarku. Dan aku telah menunggumu untuk berhenti bersembunyi di balik cetak birumu," Ravian berbisik, napasnya yang hangat kini terasa sangat nyata di bibir Aluna.
Aluna tidak bisa berpikir. Ia hanya bisa merasakan desakan. Desakan untuk mengakhiri permainan ini. Logikanya berteriak, tetapi tubuhnya merespons Ravian dengan intensitas yang mengejutkan.
"Kalau begitu," kata Aluna, suaranya nyaris tanpa volume. "Hentikan. Hentikan permainan ini."
Ravian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan tindakan. Ia menundukkan kepalanya, dan akhirnya, setelah semua perdebatan, sentuhan singkat, dan penolakan yang menyiksa, ia menciumnya.
Bukan ciuman yang lambat, romantis, atau penuh kehati-hatian. Itu adalah ciuman yang menuntut, mendesak, dan penuh gairah yang terpendam. Ravian menciumnya seperti orang yang kelaparan, seperti orang yang akhirnya mendapatkan sesuatu yang ia buru dengan susah payah.
Aluna merespons dengan intensitas yang sama. Tangannya secara refleks naik, mencengkeram kemeja turtle neck hitam Ravian di sekitar bahunya, menariknya lebih dekat. Ia membiarkan semua ketegangan yang ia tahan selama seminggu ini meluap dalam responsnya.
Ciuman itu dingin di permukaan, karena mereka berada di ruangan batu yang dingin, tetapi membakar di intinya. Itu adalah konfirmasi diam-diam: perselisihan profesional mereka hanyalah selubung tipis untuk tarik-menarik yang lebih dalam dan tak terhindarkan.
Ravian akhirnya melepaskan ciuman itu, dahinya bersandar di dahi Aluna. Mereka berdua terengah-engah.
"Itu... bukan profesional," Aluna berbisik, suaranya bergetar.
Ravian tertawa kecil. "Itu sangat tidak profesional. Dan kita akan membahasnya besok, Aluna."
Ia kembali menciumnya dengan kelembutan yang lebih lambat dan lebih mendalam kali ini, mengakhiri perdebatan mereka untuk malam ini. Setelah beberapa saat, ia melepaskan Aluna. Ia melangkah mundur, mengambil kameranya, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia pergi, meninggalkan Aluna sendirian di samping Patung Kemenangan Bersayap.
Aluna menyentuh bibirnya yang bengkak. Ia menyentuh Sayap Kemenangan yang dingin. Ia telah menyerah pada ilusi yang paling ia takuti, dan ia tahu, besok malam, ia akan kembali lagi ke dalam bayangan itu.