Bab 3: Patung, Bayangan, dan Kedekatan yang Terlarang

1133 Words
​Pertemuan malam itu menjadi rutinitas. Pukul 20:00, setelah semua pekerja konstruksi meninggalkan Museum Ananta, Aluna dan Ravian bertemu di salah satu ruang pameran yang sepi. Ruangan-ruangan itu, yang diselimuti terpal dan bayangan, menjadi semacam dunia rahasia mereka. Ruangan tersebut tidak terasa lagi seperti situs proyek, melainkan tempat di mana pertahanan diri mereka diizinkan untuk melunak. ​Malam ini, pertemuan dijadwalkan di Galeri Patung Klasik, sebuah aula dengan langit-langit tinggi yang kini diselimuti kain putih untuk melindungi koleksi marmer dari debu. Pencahayaan di sana sangat minim—hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela clerestory dan lampu pengaman kecil berwarna biru redup. ​Aluna tiba membawa mockup digital untuk tata letak pencahayaan patung. Ravian sudah menunggunya, berdiri di samping patung Venus de Milo tiruan yang diselimuti terpal. Posturnya, seperti biasa, memancarkan keagungan yang menyelimuti seluruh ruangan. ​"Anda terlambat dua menit," Ravian berkomentar, tanpa melihat jam. ​"Lalu lintas di luar cukup buruk, Ravian. Kami sudah di luar jam kerja," balas Aluna, meletakkan laptop dan gulungan rencananya di meja lipat sementara. Ia mulai merasa sedikit lebih berani dalam bersikap santai dengannya, sebuah kenyamanan yang ia benci karena terasa begitu alami. ​"Waktu adalah esensi, Aluna. Bahkan di luar jam kerja," Ravian melangkah ke arahnya, berhenti di seberang meja. Ia meletakkan selembar kertas tua di atas rencana Aluna. Itu adalah sketsa pensil—gambar detail sebuah patung malaikat yang tidak Aluna kenali. ​"Anda ingin membahas apa malam ini?" tanya Aluna, berusaha fokus pada pekerjaannya. ​"Patung. Secara spesifik, patung-patung ini. Anda berencana memasang lampu sorot LED di dasar mereka. Saya menentang," kata Ravian. ​"Lampu sorot dari bawah akan menonjolkan tekstur marmer dan memberikan drama bayangan yang ingin dilihat oleh pengunjung modern," jelas Aluna, membuka mockup di laptopnya. ​Ravian menggeser laptop Aluna dengan ujung jarinya, menutupnya. "Patung-patung ini tidak butuh drama. Mereka butuh keheningan. Mereka dimaksudkan untuk dilihat di bawah cahaya alami yang lembut, seperti matahari terbit atau cahaya bulan." ​"Tetapi museum tutup saat matahari terbit atau cahaya bulan penuh," Aluna membalas, rasa frustrasi perlahan naik. ​"Itu poin saya," kata Ravian. Ia berjalan mengitari meja, kini berdiri di samping Aluna. Kedekatannya sangat terasa di ruangan yang dingin ini. ​"Cahaya buatan Anda akan menciptakan bayangan yang salah, ilusi optik yang membuat patung ini terlihat kejam, atau terlalu seksual," Ravian berbisik, lalu ia mengulurkan tangan. Bukan ke Aluna, tetapi ke terpal yang menutupi patung Venus di dekat mereka. Ia menarik sedikit terpal itu, hanya cukup untuk memperlihatkan kaki patung yang tertutup kain, tetapi memberikan sedikit celah pada bagian torso. ​"Lihat," bisiknya, suaranya dalam dan rendah, berbisik tepat di telinga Aluna. Aluna menahan napas. Ia bisa merasakan kehangatan napas Ravian di kulit lehernya. Aroma rempah dan kulit yang selalu melekat padanya kini menjadi lebih intens. "Jika Anda menyinarinya dari bawah, Anda menciptakan bayangan yang menekankan lekuk tubuhnya dengan cara yang berlebihan, yang tidak pernah dimaksudkan oleh seniman." ​Aluna tahu Ravian benar secara seni. Tetapi ketepatan profesionalnya tenggelam oleh sensasi fisiknya. Ia terlalu dekat. Terlalu sadar. ​Aluna memutar kepalanya sedikit, mencoba melihat patung itu tanpa harus bergeser dari posisi. Gerakan kecil itu membuat pipinya bersentuhan dengan rahang Ravian. Kontak itu singkat, kurang dari sedetik, tetapi meninggalkan sengatan listrik yang melumpuhkan. ​Ravian membeku. Aluna juga. ​Keheningan yang terjadi terasa seperti ruangan itu telah berhenti bernapas. Suara-suara kota di luar, bahkan gemerisik terpal, menghilang. Hanya ada mereka berdua dan patung-patung marmer bisu. ​Mata Ravian yang gelap beralih dari patung ke wajah Aluna. Semua kemarahan dan chemistry yang selama ini tersembunyi di balik perdebatan profesional kini meledak ke permukaan. Tatapannya tidak lagi menganalisis patung; tatapannya menganalisis Aluna. ​"Ravian," panggil Aluna, suaranya terdengar serak bahkan di telinganya sendiri. Itu adalah peringatan, dan juga permohonan. ​Ravian mengabaikannya. Ia perlahan mengangkat tangannya yang lain. Kali ini, tangannya tidak menyentuh cetak biru atau patung. Ia menyentuh rambut Aluna, membiarkan ujung jarinya yang sedikit kasar menyentuh kulit pipi Aluna, kemudian menyelipkan sehelai rambut yang terlepas di belakang telinganya. ​"Patung ini dingin, Aluna," Ravian berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. Ia menundukkan kepalanya sedikit. "Tapi kau tidak." ​Aluna tidak bisa lari. Ia tidak bisa bergerak. Logika, yang selalu menjadi pelindungnya, telah meninggalkannya. Ia seharusnya marah karena Ravian melanggar batas, tetapi yang ia rasakan hanyalah gairah yang menuntut pengakuan. Ia merasakan tubuhnya condong sedikit ke arah kehangatan Ravian. ​Ravian menyadari pergeseran itu. Ia maju, menutup jarak antara tubuh mereka sepenuhnya. Kini, Aluna berdiri terperangkap di antara meja kerja dan tubuh Ravian yang hangat dan keras. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang kacau. ​"Aku seharusnya membencimu. Kau mencoba menghancurkan warisanku," Ravian bergumam, matanya turun ke bibir Aluna. ​"Aku hanya mencoba menyelamatkannya," balas Aluna, suaranya hanyalah hembusan napas. ​"Menyelamatkan," Ravian tertawa kecil, suara itu penuh gairah. "Tapi kita tidak bicara tentang bangunan sekarang, bukan?" ​Ravian membungkuk lebih jauh. Aluna memejamkan mata, menunggu, setengah menolak dan setengah memohon. Tiba-tiba, Ravian berhenti. Napasnya yang hangat menyentuh bibir Aluna, tetapi ia tidak melanjutkan. ​Ia menarik dirinya sedikit. Jaraknya kini hanya beberapa milimeter, jarak yang paling menyiksa. ​"Besok," Ravian berbisik, suaranya serak dan menuntut. "Besok kita akan membahas patung Winged Victory yang ada di lantai dua. Jangan bawa mockup digital. Bawa sketsa tangan. Tunjukkan padaku bagaimana bayangan yang benar seharusnya terlihat." ​Dengan pernyataan yang mengejutkan, Ravian menarik dirinya sepenuhnya. Ia melangkah mundur, mengambil kembali jarak profesional yang ia hancurkan beberapa detik sebelumnya. Ekspresinya kini kembali dingin, penuh kontrol diri yang menyakitkan. ​Aluna membuka matanya. Ia terengah. Ia merasakan jantungnya masih berdebar kencang. Itu adalah penolakan yang paling keras, karena dia berhenti tepat di puncak. ​"Patung itu... dilarang dipindahkan, Ravian," kata Aluna, mencoba memulihkan suaranya. ​"Aku tahu. Itu sebabnya kita akan melihatnya di tempatnya. Pukul 20:00. Sendirian," Ravian mengambil gelasnya, minum cairan bening itu sekali teguk. ​"Kau keterlaluan," kata Aluna, suaranya kini kembali normal, tetapi penuh amarah yang terbungkus gairah. ​Ravian hanya tersenyum tipis, kali ini senyum itu penuh kemenangan. "Aku hanya memastikan kau peduli pada detail. Sampai jumpa besok, Aluna." ​Ia pergi, meninggalkan Aluna yang masih berdiri di sana, di antara meja lipat dan patung marmer yang diselimuti terpal. Jantungnya berdetak kencang, tangannya gemetar. ​Ia tidak tahu apa yang lebih membuatnya marah: fakta bahwa Ravian mengontrol emosinya dengan sempurna, atau fakta bahwa ia telah menunggu sentuhan itu dan kini harus menunggu hingga malam berikutnya. ​Aluna menatap patung Venus di bawah terpal. Ia mengulurkan tangannya, dan perlahan, menyentuh bagian marmer yang terekspos. Dingin. ​Kau tidak dingin, kata-kata Ravian terngiang di benang pikirannya. ​Aluna mematikan lampu di meja kerjanya dan berjalan keluar. Ia tahu, mulai besok malam, perdebatan mereka tidak lagi tentang estetika arsitektur. Itu akan menjadi pertempuran yang jauh lebih pribadi dan intens. ​Bab 3 ini mengakhiri pertemuan malam mereka dengan klimaks terhenti, meningkatkan ketegangan dan rasa frustrasi antara kedua karakter.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD