Salah Mengenal

1578 Words
Jatuh cinta. Ah, entah kapan terakhir Flo sungguh-sungguh merasakannya. Dibuai dan dimanja. Ditatap penuh cinta dan dituruti permintaannya. Hal-hal manis meskipun terkesan picisan, tapi tetap bisa mengundang senyum dan hangat dalam hati. Sayangnya, hal tersebut sulit sekali untuk dialami Flo saat ini. Saat dirinya kehilangan sosok lelaki panutan, Flo sibuk mengubur kesedihan. Meski keras dan tegas, tapi nasihat dan dukungan Papi lah yang menguatkannya. Tentu saja ketika Papi tiada, Flo seperti kehilangan pegangannya. Ditambah Mami yang seperti tidak mau tahu pada kondisi Flo yang masih menata hati dan hidup. Ide perjodohan dan ‘dikenalkan pada anak teman’ menjadi topik pembicaraan yang sudah membuat Flo bosan. Namun dia tidak bisa mengelak sampai akhirnya emosinya memuncak. Malam di mana dia bertengkar dengan Mami sekaligus malam di mana dia bertemu dengan seorang lelaki yang mengundang rasa penasaran teramat hebat. Naluri perempuannya sampai bergejolak dan tak dapat ditahan.  Dahsyatnya, Bima memberikan sebuah sensasi luar biasa padanya di satu malam itu. Flo sampai kebingungan sendiri merangkai kata atau menyusun kalimat untuk mengungkap betapa indah rasa yang dialaminya.  Namun, pagi ini Flo sepertinya sadar bahwa kesepakatan untuk tidak saling berjumpa lagi sepertinya hanya akan jadi wacana. Entah Bima itu sengaja atau ini memang takdir saja yang mengutuknya, Flo tidak tahu harus mencari tahu asal muasalnya dari mana. Sementara untuk berhadapan langsung dengan Bima, dirinya tidak memiliki cukup keberanian saat ini. Kapan-kapan saja. Mumpung Bima belum terlalu menyadari, perlahan Flo berjalan menjauh dari cowok itu. “Hati-hati kalau jalan menunduk begitu. Bisa-bisa kamu menabrak sesuatu.” Satu kalimat itu sontak menghentikan langkah Flo. Kenapa ketahuannya cepet banget, sih? Rutuk Flo kesal. Mau tak mau, gadis itu menoleh dan mendapati Bima sudah berdiri di belakangnya. “Halo?” hanya itu sapaan yang mampu Flo berikan pada Bima. Senyumnya juga dia paksakan untuk lebih terlihat ramah.  Akan tetapi, ekspresi dan respon cowok itu malah membuat Flo bingung. Kedua alis Bima terangkat, tak paham. “Sorry?” “Hmm, hai?” Flo seolah mengulang sapaannya dengan kata yang berbeda. Bima hanya menggeleng sekali kemudian berlalu tanpa bicara apa-apa. Tindakan Bima itu tentu saja membuat Flo tak mengerti. Maria yang sejak tadi memperhatikan kemudian tidak sabar untuk mendekat. “Kok, bos baru kita dingin banget sih?” komennya sebal. “Kan, lo nyapa doang? Kenapa dia nggak bales?” rutuk Maria sambil melirik ke arah pintu aula di mana Bima dicegat oleh Pak Andre. Flo masih memperhatikan cowok itu dalam diam. Jelas-jelas tadi dia menyadari Bima terlihat menahan senyum geli saat menyadari keberadaannya di sini. Namun sekarang mengapa respon dan reaksi cowok itu lain lagi. Benar-benar kontradiktif sekali. Jangan-jangan... Bima memang sengaja tidak ingin menggubrisnya? Atau memang Bima adalah orang yang menghargai kesepakatan yang terjadi maka memilih untuk mengabaikan kehadiran Flo?  “Begitu lo keluar dari kamar ini, kita bakal jadi dua asing lagi, kan?!” “Gue udah bilang, semuanya tergantung sama kehendak lo,” balas Bima sambil mengenakan celananya. Dia kemudian berbalik dan memandang Flo dengan tatapannya yang lembut. “Semua akan berjalan seperti yang lo mau kok. Gue akan menyepakati itu.” Percakapan terakhirnya tadi pagi terngiang kembali di kepala Flo dan membuatnya sedikit tidak nyaman. Maria kemudian menyentuh lengannya.  “Oh, sorry, Mar. Gimana? Lo tadi ngomong apa?” “Bos baru kita itu… ternyata nggak sopan. Masak lo nyapa tapi dia nggak nyahut. Apaan malah ‘sorry’?” Maria geleng-geleng kepala. Ekspresi wajahnya masih seperti tak habis pikir pada reaksi yang dilihatnya tadi. “Dia pasti nggak pernah TK. Makanya tidak diajarkan sopan santun dan tata krama sejak dini.” Ucapan Maria itu sempat membuat Flo tersenyum. “Iya, mungkin aja begitu.” “Pasti begitu Flo. Gila aja. Nih, ya, para pemegang saham lain sebelum dia, meski nggak presentable tapi sopan-sopan Flo. Ketika di sapa ya mereka akan menyahut. Meskipun dengan ekspresi wajah yang biasa aja. Tapi… tadi itu apa? Kenapa dia dingin banget? Ish, benar-benar nggak tahu aturan.” Flo pun merasa demikian. Tapi karena paham bahwa bisa saja tindakan Bima berdasarkan apa yang sudah mereka sepakati bersama, maka tidak perlu diperpanjang. Tutup kasus saja sampai di sini.  “Ya, udah lah, Mar. Biarin aja. Mungkin doi belum sarapan jadi nggak punya energi cukup buat jawab salam.” Rekan kerjanya itu tertawa tanpa suara. “Iya, bisa jadi.” Maria kemudian mengajak Flo untuk kembali ke ruangan mereka tanpa banyak bicara lagi. Meski dalam diamnya, Flo jadi memikirkan apa yang pernah diucapkan pada Bima sebelum cowok itu pergi. Apa Bima sungguh-sungguh sudah melupakannya? Dan sungguh hanya akan menganggap Flo orang asing saja? Bukannya Flo harusnya bahagia? Karena paling tidak cowok itu tidak mengingat momen kemarin malam, saat mereka tidur bersama? Ralat! Momen di malam dan pagi saat mereka bersama. Begitu Flo sampai di ruangannya, pintunya sudah terbuka. Pak Andre sudah mengatakan bahwa ruangannya akan dibongkar dan dibuat sekat. Jadi harusnya dia tidak begitu kaget. Saat Flo masuk, tiba-tiba ada seseorang yang secepat kilat menutup pintu ruangan dan mendesaknya ke pintu. Sebelum Flo sempat berpikir dan meronta, bibirnya sudah dibungkam lebih dulu oleh seseorang. Bodohnya, mata Flo malah terpejam. Secepat mungkin dia sadar, membuka matanya dan sontak tertegun. Cowok ini… yang kemarin memperlakukannya dengan sangat baik dan manis di tempat tidur. Yang mengecup keningnya sesaat sebelum pergi. Saat ini berada di depannya, menghisap bibirnya sambil memejamkan mata. Apakah Flo harus segera melepaskan diri atau menikmati sebentar saja? Pikiran Flo kacau. Namun kaca ruangan yang tembus pandang rupanya berhasil membuat Flo mendorong wajah lelaki itu. Mungkin Flo berhasil melepaskan ciuman Bima, tapi kedua tangannya yang kokoh saat ini masih memeluk pinggangnya dengan erat.  Flo berusaha melepaskan tangan Bima dari pinggangnya namun justru pelukan itu semakin ketat.  “Lepasin!” pinta Flo sambil memperhatikan sekitar, takut ada orang yang memergoki mereka. Bima masih tidak bicara dan hanya menggeleng sambil menahan senyum dikulum. Jangan senyum kayak gitu, please. Bisa-bisa jadi gue yang nggak bisa nahan diri, keluh Flo dalam hati. “Ada banyak orang di luar. Kita bisa kena masalah kalau ada yang ngeliat kita kayak gini,” bisik Flo lagi masih mencoba melepaskan tangan Bima. Seketika Bima melepaskan pelukannya dan berdiri tegap seolah tidak terjadi apa-apa.  Tidak disangka juga alasan akan dipergoki orang kantor membuat Bima langsung kooperatif dan tidak lagi mengurungnya dalam pelukan.  Cowok itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menekan satu tombol. Namun pandangannya masih tertuju pada Flo. “Halo? Pak Andre? Saya bisa minta tolong sediakan beberapa tukang untuk mengganti kaca ruangan saya?” Mulut Flo langsung ternganga tak percaya. “Iya. Tentu saja saya nggak nyaman kalau aktivitas dan pekerjaan saya jadi tontonan banyak orang. Sekarang juga saya tunggu ya, Pak. Terimakasih.” Bima mematikan ponselnya dan memasukannya lagi ke saku celana. “Done.” Apa? Apa yang selesai? Ingin rasanya Flo berteriak di kuping Bima untuk melontarkan makian dan sumpah serapah yang saat ini sangat ingin dia keluarkan. Namun, jenjang karir, cuti, pesangon dan jerih payahnya selama ini hanya akan jadi kenangan yang menyakitkan nanti. Flo akhirnya hanya bisa menahan itu semua sendiri. “Nggak ada yang pengin kamu tanya gitu?” Kamu? Kenapa dia jadi manggilnya manis banget begitu? “Nanya apa?” Flo malah balik tanya. “Aku juga terus terang takjub dan nggak nyangka kalau ternyata perusahaan yang saya beli punya satu karyawan yang kompeten. Data yang kamu buat itu luar biasa. Saya udah bilang Pak Andre juga untuk naikin gaji kamu 130 persen.” Bukannya Flo munafik dan mau sok jual mahal. Tapi kalau Bima memberikan kemudahan seperti itu karena Flo pernah tidur dengannya, lebih baik dirinya resign sekarang saja. “Maaf… Pak,” Flo memanggil Bima dengan sebutan itu agak ragu. Namun dia sudah memantapkan hati. “Tapi, saya nggak bisa nerima komplimen yang tadi bapak sebutin ke saya karena kita… udah saling kenal sebelumnya.” Bima melipat kedua tangan di depan d**a sambil menatap Flo. “Memang kita sudah saling kenal sebelumnya, gitu?” ulang Bima dengan nada bertanya yang tidak dibuat-buat. Sekarang dahi Flo keriting betulan. Dia bingung luar biasa. “Hmm, iya.” Flo saja tidak begitu yakin untuk menjawabnya. “Jangan karena kamu kira pernah melihat orang seperti saya sebelumnya, lalu kamu menganggap kita sudah saling kenal. Jangan berlebihan.” Dahi Flo sudah keriting sekarang. Ini bukan Bima yang amnesia atau dia ternyata punya kembaran, kan?! Sumpah, Flo bingung dengan kalimat cowok ini. “Terus… yang tadi, maksudnya apa?” kini Flo tidak menahan emosi. Bima sudah seenaknya menciumnya dan membuat darahnya agak berdesir tadi. Paling tidak cowok ini harus memberi penjelasan dari tindakannya barusan. Meski begitu dia masih mengucapkannya dengan nada yang ditekan. “Oh, itu,” cowok itu tersenyum seperti mengingat sesuatu. “Saya dulu pernah tidur sama seseorang yang saya rasa punya kemiripan sama kamu. Matanya, hidungnya bahkan…” tatapan kurang ajar Bima jatuh ke bibir Flo. “Bibirnya.” Suara Bima yang mendadak seperti berbisik itu tentu membuat Flo agak merinding. “Tadi saya cuma mau mastiin kamu dia atau bukan. Ternyata bukan, kamu orang lain.” Perasaan apa ini? Kenapa saat Bima mengucapkan itu dengan tatapan dingin, hati Flo jadi sedih.  “Oh…” Flo hanya mampu mengeluarkan kata itu. Namun setelah dipikir-pikir, yang tidur sama Bima bisa jadi bukan dia. Dan yang dimaksud Bima tadi itu juga bukan Flo.  Flo mulai menata emosinya dan menoleh ke arah lain. “Jadi, ternyata bapak salah mengira saya sebagai orang lain. Lain kali coba dipastikan lagi pak, sebelum bertindak melewati batas seperti tadi. Hal itu bikin saya nggak nyaman,” tutur Flo dengan tajam dan bersiap berjalan ke mejanya.  Tangan kiri Bima menghalanginya dan membuat Flo mau tak mau menatapnya.  “Permisi, Pak. Saya harus mulai kerja,” lanjutnya ketus. “Hari ini semua karyawan dibebastugaskan.” “Saya mau mencicil pekerjaan saya untuk forecast bulan depan. Karena bulan depan saya ada cuti dua minggu, jadi saya harus mencicilnya dari sekarang.”  “Kamu nggak akan boleh ke mana-mana tanpa izin saya.” Apa yang barusan diucapkan oleh Bima itu jelas membuat darah Flo mendidih seketika. Sementara Bima masih bisa mengulas senyum, meski gadis di depannya sudah terlihat siap untuk mengulitinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD