Alasan

1581 Words
Setelah memaksa masuk ke selimut dan melakukan lagi aktivitas seperti semalam, Bima tidak mengatakan apa-apa lagi. Termasuk saat dia bergegas berpakaian dan bersiap pergi. Lelaki itu tidak mengeluarkan suara sama sekali. Padahal sebelumnya lelaki itu tampak begitu b*******h dan membuat Flo nyaris kewalahan. Tapi sikapnya yang berubah drastis sempat membuat gadis itu bertanya-tanya. Sampai kemudian sepertinya cowok itu menyadari bahwa Flo sedang menatapnya lama dan begitu lekat. Bima hanya mendekat, mengecup lembut keningnya lalu keluar dari apartemennya tanpa bicara. Flo bingung. Kenapa cowok itu mendadak jadi diam seribu bahasa? Tentu saja Bima tidak tahu kalau Flo bukan tipikal perempuan yang bisa one night stand with strangers every single time. Atau dengan mudah masuk ke perangkap seseorang seingin apapun tubuhnya menuntut kepuasan. Namun, sepertinya berbeda alasan saat dengan Bima. Atau mungkin cowok itu sejak awal sudah bisa membaca semuanya dengan mudah? Entah. Bisa jadi sejak Amanda memperkenalkannya, matanya tidak bisa berhenti menatap Bima. Perawakannya yang tinggi, tegap, dan garis wajahnya yang tegas sungguh membuatnya tergoda. Meski dari situ juga Flo sudah bisa menyimpulkan bahwa cowok itu adalah pemain sejati. Namun tentu saja, satu fakta yang tidak Flo tahu adalah entah berapa gadis yang sudah pernah ditaklukkan Bima di depan meja bar hingga akhirnya pasrah dibawa ke ranjang. Gadis itu sudah bisa memperkirakan kemungkinan tersebut sejak Bima menunjukkan ketertarikannya.  Apa mungkin karena mereka berdua sudah membuat kesepakatan bersama bahwa apa yang terjadi saat itu, di ruangan itu tidak akan dibawa keluar, maka Flo pun tidak perlu mencari tahu alasan diamnya Bima. Namun, Flo tetap saja penasaran. Karena dari pengalaman sebelumnya, Flo tidak pernah ingin tahu atau sengaja mencari tahu. Flo justru bersyukur jika pria yang sudah bermalam di apartemennya tersebut tidak menghubunginya dan memperpanjang urusan.  Ketika mendengar penjelasan Amanda bahwa Bima sudah membayar ongkos bengkel karena telah membuat dua ban belakang Baby bocor, Flo mulai bisa menyimpulkan bahwa Bima cukup menghargai kesepakatan mereka. Jadi, mungkin sebaiknya sekarang Flo tidak perlu lagi mencari tahu kenapa Bima melakukan itu. Apalagi pagi tadi cowok itu pun tidak mengeluarkan suara apapun, mungkin adalah penanda kesepakatan itu mulai berlaku.  Akan tetapi, keberadaannya saat ini, di sini, di kantornya dan membuat suasana kantor jadi lebih mirip pesta partai tentu harus ditanyakan sejelas-jelasnya. Masalahnya bagaimana cara Flo harus bertanya? Sedangkan informasi yang baru didengarnya dari Maria saja sudah cukup membuat Flo shock dan tidak bisa berpikir apa-apa. “Tuh, lihat! Yummy banget kan pemegang saham kita sekarang,” komen Maria sambil memandang ke arah Bima yang sedang berjalan menuju podium. Saat Flo melirik ke arah temannya ini, pandangannya sudah mirip seperti orang kelaparan akut yang sedang melihat sepiring nasi tunjang, sambel ijo dan daun pepaya plus es teh manis di atas meja. Menggoda. “Bawaannya pengen gue bawa pulang aja tuh laki. Ih, gemes deh!” Flo sebaliknya. Dia tidak ingin membawa lagi pulang Bima. Dia takut perasaannya tidak bisa dikontrol lagi jika ada babak kedua hingga seterusnya. Semalam saja sudah cukup bikin pusing kepala. Walaupun diam-diam dia mengakui, penampilan cowok itu pagi ini begitu mempesona. Senyumnya tipis namun justru menambah kharisma. Flo agak kesulitan menelan ludahnya ketika melihat senyum itu justru mengingatkannya pada petualangan mereka semalam. Bagaimana bisa dia bersikap biasa saja jika lelaki itu sudah pernah membuatnya mengeluarkan berbagai jenis suara dalam satu waktu? Sesuatu yang sudah dituntaskannya semalam justru menyeruak lagi dan membuat bagian bawah tubuhnya hangat. Ah, tidak di sini! Untuk sekarang, Flo rasanya belum siap untuk bertatapan langsung dengan Bima. Meskipun jika teringat perbuatan cowok itu yang membuat kedua ban belakang Baby boncos membuat darahnya mendidih dan ingin memberikan cowok itu pelajaran. Tapi tidak. Flo kini justru berubah pikiran. Pokoknya, Bima tidak boleh menyadari bahwa Flo adalah bagian dari kantor ini. Sementara ini jangan. Gadis itu bukan orang yang pandai bersembunyi atau menyelinap diam-diam. Jadi, gerakannya yang sangat tidak natural itu justru membuatnya jadi diperhatikan beberapa orang. Yang sialnya, langsung diperhatikan Pak Andre, bosnya sendiri. “Siapa itu yang ngumpet-ngumpet?” tanya Pak Andre menggunakan microphone. Kenapa juga harus pakai microphone, sih? Kan, bisa manggil biasa aja, Flo merutuk sebal. Karena suara menggema Pak Andre itulah semua orang jadi memperhatikan ke arah Flo, termasuk Bima.  Mata cowok itu sampai menyipit untuk memastikan ke arah seorang tampak bersembunyi. Bima terus mengikuti ke arah gadis yang memakai blazer navy itu menyembunyikan wajah di balik orang-orang namun di satu kesempatan akhirnya Bima bisa melihat jelas siapakah gadis itu. Bima tersenyum penuh arti karena merasa hari ini keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya. Bima segera tersadar akan satu hal. Segera dia membuka berkas laporan dan data yang dibacanya tadi pagi. Sepertinya dia menemukan sebuah petunjuk. Saat Bima membuka halaman akhir, Bima semakin mantap. Tidak dia sangka kalau nama Florencia Quinn yang tertulis di sana adalah perempuan yang semalam tidur dengannya. “Flo, itu kamu kan?! Nggak perlu malu-malu kamu, saya tahu kamu lagi menghindari saya, kan?!” Pak Andre sepertinya masih belum mau berhenti membuat posisi Flo makin terdesak.  PD gonjreng banget tu orang, gerutu Flo sebal dalam hati. Meskipun lo nyebelin, tapi gue nggak perlu ngehindarin lo sampe kayak gini, Pak. Bima segera tentu tahu bagaimana caranya agar Flo bisa dekat dengannya. Segera dibisikkannya sesuatu pada Pak Andre. Meskipun Bima tahu cara ini terasa licik, tapi hanya ini yang bisa membuat gadis itu segera datang padanya.  Pak Andre langsung paham. “Siap, Pak,” ucapnya dengan patuh. “Florencia, kamu sebaiknya ke sini daripada saya cabut izin cuti kamu bulan depan.” Semua orang di ruangan tersebut tentu saja langsung khawatir. Sementara Flo rasanya ingin melarikan diri karena sudah tidak sanggup menanggung malu. Tapi tentu saja dia tidak akan mampu melakukannya. Apalagi Pak Andre sudah mengancam akan mencabut izin cutinya bulan depan. Tidak boleh. Tiket jalan-jalan ke Lombok tidak boleh refund. Dia sudah merencanakannya dari tahun kemarin. Persiapan, rencana perjalanan dan semuanya sudah dia siapkan jauh sebelum ini. Tidak boleh gagal. Flo akhirnya mengalah dan mulai berjalan menuju podium, di mana Pak Andre dan Bima berdiri. Saat Flo berjalan ke arah mereka, gadis itu menyempatkan untuk melirik Bima yang tampak menahan senyum penuh makna. Sepertinya dia menahan senyum atau seringai, ah entahlah. Yang jelas, Flo benar-benar tidak siap melihat dan bertatap mata dengan Bima sekarang.  Begitu sampai di hadapan Pak Andre, gadis itu seketika protes. “Kok tega sih, Pak? Ngancem pake nyabut izin cuti saya? Kan, itu hak saya. Saya nggak pernah absen atau izin sakit dan tetap masuk meski saya flu. Tapi kenapa bapak tega mau nyabut cuti saya?”  Pak Andre nampak tidak enak hati. “Ah, cuma itu yang bisa bikin kamu berdiri di samping saya saat ini.” Diliriknya Bima yang melihat ke arah mereka. Pak Andre segera berbisik. “Ini bos kita yang baru. Kita harus menjaga sikap dan nurut dulu sementara waktu. Jangan bikin dia kecewa pokoknya.” Kalimat tadi jelas bukan Pak Andre banget. Kenapa? Tidak ada satupun yang bisa membuatnya diperintah. Termasuk oleh pemilik saham sebelumnya. Jika Pak Andre saja bisa tunduk dan patuh pada apa yang Bima minta, pasti karena power yang dimiliki Bima sangatlah kuat. Karena fakta itulah, Flo akhirnya hanya menganggukan kepalanya kecil. “Nah, bagus. Kamu sekarang berdiri di samping saya dulu. Habis acara ini, saya akan ceritakan sesuatu ke kamu.” “Ceritain apa, pak?” tanya Flo penasaran. “Nanti saja,” balas Pak Andre langsung memasang tampang serius dan berbisik pada Bima. Sebelum menghadap seluruh karyawan di depan, Bima sempat melirik Flo yang tidak sengaja juga Flo sedang menoleh ke arahnya. Saat bertatapan itulah, Flo merasa jadi gelisah. Bagaimana bisa lelaki ini memberinya pandangan seakan bisa melihat apa yang ada di balik pakaian Flo saat ini. Dasar m***m! Kutuk Flo. Acara pembukaan pun dimulai. Bima memberikan sambutan singkat terkait statusnya di kantor. Lelaki itu meminta kerja sama yang baik dan solidaritas yang tinggi dari seluruh karyawannya. Namun yang membuat Flo ingin bunuh diri saat itu juga adalah ketika Bima memberikan sebuah kalimat penutup yang mencengangkan. “Untuk bisa mengontrol perusahaan ini, saya ingin memberikan dukungan langsung pada rekan-rekan semua dengan ada di kantor ini setiap hari. Saya harap rekan-rekan semua tidak keberatan.” Ya, siapa juga yang berani menyatakan keberatan? Kalau dia berstatus sebagai bos dari bosnya bos dengan jabatan utama. Mungkin kalau ditelusuri, Bima adalah pemilik dari tanah dan gedung perusahaan yang mereka tempati sekarang. Jadi, bagaimana mungkin orang-orang di aula ini tidak setuju, kan?! Flo tidak bisa memikirkan apa-apa sekarang. Sungguh. Mau pasrah saja. Mungkin kedepannya Flo akan membuat strategi agar tidak terlibat komunikasi atau interaksi dengan cowok ini. Sementara itu saja dulu yang bisa Flo siapkan. Sebelum rencana itu terealisasi, saat pesta mulai dibubarkan, Flo sudah dipanggil Pak Andre lagi. “Iya, pak?”  “Begini, karena di lantai empat ruangannya itu nggak ada yang kosong, dan kebetulan ruangan kamu itu cukup luas, saya mau minta tolong untuk membuat sekat agar bisa dibuat ruangan baru.” Gadis itu sudah memiliki firasat untuk siapa ruangan baru tersebut. “Pak Bima kan nggak mungkin berada di ruangan anak-anak lain. Saya nggak bisa percaya. Keselamatan dan kenyamanan dia adalah prioritas utama kita sekarang, Florencia.” Flo tahu itu pasti jadi permintaan khusus dari Bima. Gadis itu kemudian mengangguk. “Iya, Pak. Silakan saja. Lagian saya bisa apa kalau yang mengajukan permintaan bos saya sendiri. Daripada karir saya berhenti di sini,” ujar Flo terus terang. Pak Andre menyeringai. “Ah, saya suka nih kamu yang langsung setuju dengan ide saya. Nggak biasanya.” Memang bukan Flo yang biasanya. Sebab sehari-harinya, Flo pasti mendebat dan mempertanyakan dulu landasan permintaan Pak Andre sebelum menyanggupinya. Tapi hari ini lain cerita. “Teruskan, ya. Siapa tahu bulan depan saya berubah pikiran buat naikin gaji kamu. Kerja bagus, Florencia. Sekarang ruangan kamu pasti sudah dibongkar.” Pak Andre mengacungkan kedua jempolnya kemudian meninggalkan Flo. Sudah tak bisa Flo bayangkan akan jadi apa dirinya esok hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD