Beberapa menit yang lalu Flo harus mengaku dia merasa sangat bahagia. Diperlakukan dengan manis, istimewa dan sedemikian romantisnya, siapa juga yang tidak terlena? Meskipun hal tersebut menjadi penanda bahwa Bima sangat berpengalaman untuk urusan asmara, Flo tidak ambil pusing.
Apa yang sedang terjadi saat ini, di sini, dalam ruangannya ini, ya terjadilah seperti yang mereka sama-sama inginkan. Tidak perlu ada pembatas, tidak perlu ada keraguan. Karena semua sudah disepakati bersama secara sadar.
Tapi kalau sampai ada trik murahan yang membuat kerugian besar untuknya, apalagi sampai berani melibatkan Baby, orang itu pasti sedang cari gara-gara.
“Halo? Flo? Lo masih di situ? Halo?” Manda memanggil sahabatnya itu karena tidak ada sahutan.
“Oh, iya, Nda. Gue masih denger lo.” Flo akhirnya menyahut.
“Jadi mau gimana?”
“Iya, anterin aja ke kantor gue. Nanti tagihannya gue transfer ke lo, ya.”
“Oh, soal itu." Amanda pun kemudian teringat sesuatu. "Lo nggak perlu khawatir. Tagihannya udah lunas kok.”
Dahi Flo mengerut. “He? Siapa yang bayar?”
“Bima,” jawab Manda enteng. Namun saat Flo mendengar nama itu disebut lagi air mukanya kontan berubah. Kenapa harus cowok itu? “Katanya itu permintaan maaf karena udah nyerobot parkiran lo semalam.”
Tunggu! Apa maksudnya Bima membayar tagihan bengkelnya? Apa dia takut kalau Flo akan mengamuk setelah sadar dia menyentuh Baby? Kemudian mengantisipasi dengan membayar tagihan bengkelnya tersebut?
“Eh, Flo, emang ceritanya gimana sih kok bisa dia nyerobot parkiran lo? Lo kok nggak ceritain ke gue sih, Flo? Terus semalam dia nganterin lo dengan selamat sampai ke apartemen lo kan?! Dia kagak nurunin lo di tengah jalan, kan?!” Flo sudah membuka mulutnya hendak menjawab, namun gadis di seberang sana seolah tidak memberikan kesempatan. "Tapi, ya, semalam itu gue juga sebenarnya khawatir sih sama lo. Mana si Mario ngomongnya aneh-aneh. Kan bikin gue parno. Lo pulang sampai rumah dengan selamet kan, Flo?"
Dialah Amanda, sahabat Flo yang paling ajaib dan suka bertanya tanpa menyadari situasi lawan bicara. Manda mungkin tidak menyadari bahwa statusnya sebagai Nona Muda tentu tidak perlu capek dan repot bekerja pun, hidupnya akan tetap senantiasa makmur sejahtera.
Sementara kondisi Flo sebaliknya. Kalau tidak bekerja, dia hanya akan jadi manusia tidak berguna yang tak ada artinya di mata dunia. Lama-lama Mami akan datang ke rumah membawa calon pasangan yang sama sekali tidak dikenalnya. Bukan masalah. Yang penting masa depan Flo terjamin. Urusan cinta dan perasaan bisa diatur belakangan.
Jika Flo tidak sepakat pun, Mami bergeming. Dengan memegang teguh falsafah ‘orangtua tahu mana yang terbaik’ membuat Flo tidak bisa menyerukan protes atau keberatan.
Itu yang Flo antisipasi sekuat tenaga.
“Amanda Karen Gilbert, kita bisa nggak sih nge-ghibahnya ntar-ntaran aja? Gue mesti pesen taksi sekarang buat ke kantor. Pemegang saham yang baru bakal datang dan kalau gue sampai telat, habislah riwayat gue di masa depan. Okay? Nanti gue telepon lagi. Bye, Manda!”
“Eh, Flo, gue…”
Gadis itu mematikan teleponnya sebelum Manda kembali mengoceh panjang lebar. Flo melongok jam di pergelangan tangan kirinya. Riwayatnya tinggal beberapa menit lagi dan dirinya tidak akan datang tepat waktu.
Sambil berjalan keluar gedung apartemennya, Flo mengirimkan satu pesan singkat pada Maria.
Mar, gue habis ngurus mobil
gue dulu di bengkel. Lo bisa
sampein ke Pak Andre kalo
gue telat dan minta maaf?
Sungguh, Flo tidak berharap bosnya itu akan bermurah hati dan memberinya kesempatan. Tapi paling tidak dirinya harus tetap memberi pertanggungjawaban agar tidak dinilai sebagai karyawan yang suka melepaskan wewenang.
Begitu Flo keluar dari gedung, dia langsung mendapatkan taksi.
*
Sesampainya di kantor, Flo agak bingung karena hampir semua orang yang dia tahu tidak ada di ruangan. Saking sepinya, gadis itu menyempatkan diri melihat kalender. Siapa tahu dia salah lihat tanggal dan ini ternyata 1 April atau justru ulang tahunnya. Tapi ternyata tidak.
Lalu, kemana mereka semua? Flo membatin. Setelah mengalungi kartu identitasnya, Flo bergegas ke ruang rapat. Mungkin mereka di sana.
Saat Flo membuka ruang rapat, kosong. Gadis itu makin bingung. Diceknya ponsel pintar miliknya. Maria belum membaca Telegram darinya. Tidak ada harapan. Yah, semisal kemungkinan terpahitnya harus di PHK sekarang, minimal Flo sudah memiliki tabungan. Bagaimana nasibnya di masa depan, dipikir lagi belakangan.
Flo kemudian berjalan ke aula, di mana biasanya hanya digunakan saat ada perayaan besar saja. Dari jauh sudah terdengar suara riuh tertawa dan musik menggema. Flo makin heran. Ada perayaan besar apa kira-kira?
Begitu Flo masuk, betapa kagetnya dia ternyata orang satu kantornya tengah berpesta. Sungguh sebuah pemandangan yang entah kapan terakhir Flo ingat diadakan di sini. Makanan enak, dessert lezat dan sederet minuman penyegar disajikan di meja panjang.
Memang tidak ada musik jedang-jedung seperti di kelab. Tetapi, instrumen yang sering diputar di salah satu mall besar di ibukota untuk menciptakan positive vibes tersebut menjadi penggantinya. Sepertinya Flo tahu siapa yang menyarankan agar instrumen tersebut lah yang diputar.
Pak Andre kelihatan sedang meminta operator sound untuk terus memutar instrumen tersebut di belakang panggung. Flo menghembuskan udara dari mulutnya. Kalau begini ceritanya, keterlambatan dirinya mungkin tidak akan disadari juga oleh bosnya yang agak perhitungan itu.
Saat Flo sedang berpikir itu, seseorang mendekat dan menepuk bahunya. Flo segera menoleh dan bernapas dengan lega.
“Astaga, Maria,” ucapnya lega. “Gue pikir siapa?”
“Siapa? Lo ngira gue Lily Collins?” tanya Maria yang saat ini memakai topi santa dan menenteng dua minuman penyegar. “Buat lo,” ujarnya sambil menyodorkan gelas pada Flo. “Kayaknya muka lo kagak santai amat. Perlu sesuatu yang dingin dan segar nih.”
Flo pun menerima gelas yang disodorkan Maria. “Thanks, Mar.” Direguknya air jeruk dingin itu dengan satu kali tegukan. Maria sampai bengong karena minuman itu habis dalam satu kali kedipan. “Iya nih, gara-gara ban belakangnya Baby bocor. Gue udah senewen pagi-pagi.”
Maria kemudian tersenyum girang. “Aah, gue tahu. Kalau mobil kesayangan lo itu kenapa-kenapa lo emang gampang senewennya."
Gadis itu hanya tersenyum. "Tapi, tenang aja. Gue yakin habis ini senewen lo bakalan hilang deh.” Senyum tak biasa dan sorot mata senang membuat gadis itu penuh curiga.
Flo memandang Maria masih tak mengerti. “Kenapa gitu?”
“Soalnya pemilik saham yang baru…” kalimat Maria menggantung. Flo menantikan kelanjutannya namun Maria tak kunjung bicara. Flo akhirnya mendekatkan telinganya pada Maria. “Sexy and yummy,” ucapnya dengan nada menggoda.
Sepertinya Flo sedikit tidak asing dengan reaksi ini. Tapi di mana ya dia merasa demikian?
“Lo udah liat?” tanya Flo ikut penasaran.
Maria mengangguk lambat kemudian memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya dengan gemas.
“Ngeliat dia dari jauh aja gue rasanya nggak tahan, Flo. Baru lho kita dapet pemegang saham semenarik itu. Biasanya juga kalau nggak yang udah tua, ya yang kagak tahu caranya mempresentingkan diri di depan umum. Sepet mata ini ingin melihat hal-hal yang menyegarkan,” tuturnya jujur. Sepertinya suara Maria ini adalah suara semua perempuan single di satu kantor.
Maria menengadahkan kepalanya ke atas sambil memeluk gelas yang dipegangnya seakan sedang berdoa. “Sepertinya Bunda gue mendengar doa panjang yang gue panjatkan tiap malam.”
Dahi Flo mengerut melihat Maria tampak begitu percaya diri bahwa kehadiran pemilik saham baru adalah berkat doa dan hadiah spesial dari Tuhan. Namun, tentu saja Flo tidak boleh merusak kebahagiaan teman sejawatnya itu.
“Iya, amin. Lah terus kenapa hari ini kita malah pesta kayak gini? Pak Andre kagak sewot apa kita malah seneng-seneng gini?” Flo tidak bisa menahan diri untuk segera tahu informasi terkini.
“Justru itu.” Maria menjentikkan jarinya nyaring di depan wajah Flo persis. “Pak… siapa itu… duh… gue lupa, pokoknya Bapak Pemegang Saham yang wajahnya mirip V BTS tapi versi mature itu bilang, bahwa hari ini semua orang kantor dibebastugaskan. Hari ini pokoknya kita cuma diperkenankan untuk santai dan senang-senang. Karena bisa saja besok hari-hari sibuk dan penuh tekanan akan dijelang. Gitu lah dia bilang.”
Flo jelas saja terkejut dengan apa yang diucapkan Maria. Siapa sih orang kaya mampus yang seenaknya kasih kebebasan kayak gitu? Seharian full? Semua orang di kantor? Semua divisi… disuruh libur?
Ekspresi berpikir dan penuh curiga dari Flo rupanya membuat Maria sadar dan merasa harus menjelaskan lebih detail padanya.
“Soalnya kondisi perusahaan lagi sehat banget. Itu terbaca dari data yang diterima Bapak Pemegang Saham yang gemesin itu. Katanya, berkat usaha orang-orang yang kayaknya terus lembur dan dapet tuntutan target yang nggak manusiawi, makanya hari ini kita nggak perlu kerja. Bapak Pemegang Saham juga muji hasil laporan data itu. Katanya datanya beneran jelas menggambarkan kondisi yang dia dapat juga.”
Gadis itu tersenyum simpul. Data itu adalah hasil kerja kerasnya. Data valid yang dia kerjakan hingga lembur demi target dan promosi naik jabatan yang diupayakannya sejak tiga bulan lalu. Ternyata ada orang yang mengakui data tersebut.
“Oh, ya, gue juga denger tuh Pak Andre dicecar sama dia tadi. Makanya kemudian Pak Andre cuma bisa diem deh pas Bapak Pemegang Saham yang tatapannya kayak ujung pisau yang baru diasah itu bilang buat gelar pesta.”
Flo merasa hatinya hangat dan bangga pada usahanya sendiri. Data itu dibuat tidak instan. Ketelitian dan seluruh konsentrasinya dia curahkan untuk mempelajari situasi perusahaan yang samar.
Sungguh, kenaikan jabatan memang bukan satu-satunya yang dia inginkan sekarang. Tapi jika ada orang yang mengapresiasi pekerjaannya dan mengakui usahanya itulah yang tidak bisa Flo gambarkan seperti apa rasanya.
Saat Flo sedang menikmati perasaannya sendiri, suara di sekelilingnya perlahan senyap dan semuanya tertuju pada pintu masuk utama aula. Flo mengikuti arah pandang semua orang ke arah pintu. Saat pintu terbuka, seorang lelaki bertubuh tegap dengan garis wajah tegas namun jelas memancarkan karisma pemimpin berjalan memasuki aula.
Sesaat Flo merasa dia didera delusi bahwa pria bertubuh tegap itu adalah Bima. Saking delusinya, Flo sampai menggumamkan namanya.
“Bima.”
Maria yang sedang sama terpukaunya menoleh bingung pada Flo. Gadis itu seakan mengingat-ingat nama bosnya yang baru itu kemudian tersenyum lega.
“Ah, iya bener. Namanya Pak Bima.” Maria kemudian memandang curiga pada Flo. “Kok lo tahu namanya Pak Bima?”
Delusi itu kemudian mengabur dan mengantarkan Flo kembali pada realita. Tidak, ini adalah kenyataan. Lelaki bertubuh tegap yang memancarkan aura seorang alfa itu adalah Bimasena. Tidak salah lagi.