Kehilangan Akal

1542 Words
Agak terasa aneh jika harus bertanya secara blak-blakan apa yang kira-kira terjadi diantara mereka semalam? Tapi kalau tidak ditanyakan, Flo takut sehabis ini dia nekat mengakhiri hidupnya karena tak kuat menahan penasaran. Jadi karena ngeri dengan kemungkinan itu, Flo pun memberanikan diri untuk bertanya. “Ng, semalam… nggak ada apa-apa, kan?!” kalimat tersebut tentu masih tidak jelas maksudnya. Flo pun mengulangi. “Semalam nggak ada hal serius yang terjadi antara kita, kan?!” Bima merasa seharusnya Flo jangan bertanya. Sebab pertanyaan tersebut bisa menggiringnya pada sebuah kesimpulan dan pertanyaan-pertanyaan lain. Itu yang tidak dia suka. “Sebenarnya gue nggak suka banget ditanya-tanya sama hal yang jelas-jelas dilakukan bareng. Kesannya cuma gue yang mau gitu.” Bima menghela napas dalam. Wajahnya sungguh dia setel sedemikian serius untuk membuat batin Flo makin tersiksa. “Padahal semalam lo sendiri yang ngasih tahu enaknya pake posisi apa, di bawah atau…” “Aaaaa!” Flo sama sekali tidak sanggup mendengar lebih banyak lagi. Apa yang telanjur terjadi jelas adalah sebuah kesalahan. “Cukup! Stop! Jangan diterusin. Gue nggak bisa denger lagi.” “Makanya nggak usah ditanyain. Lo ngeyelan, sih. Lagi mabok atau nggak, ngeyelannya nggak ilang-ilang, heran gue.” Bima geleng-geleng kepala, tak habis pikir. Melihat Flo sudah hampir gila begitu, bukannya berhenti, Bima malah meneruskan godaannya dan membuat gadis itu semakin stres. “Lo tahu nggak? Kalau aktivitas semalam yang kita lakuin bisa lebih hebat kalau dilakuin lagi pagi hari. Menurut temen gue, itu tuh bisa membangun keintiman yang lebih dalam. Sementara kata dokter sih bisa bikin lo….” “Engggaaaaaaaaaak!” Flo terpekik sambil menutup matanya.  Bima nyaris terbahak-bahak. Tapi luar biasa ditahannya agar tawa kemenangan itu tidak meledak. Dalam hati, sebenarnya Bima tidak tega melihat ekspresi Flo tertindas seperti ini. Tapi permainan ini akan jadi semakin seru dilakukan jika pihak lawan sudah tidak berdaya. Ya, sama seperti Flo sekarang. Setelah melihat Flo sudah kewalahan karena rasa terguncang, Bima mendekatkan wajahnya sangat dekat pada gadis itu.  Flo terkesiap sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. “Semalam lo bilang apa yang terjadi saat itu, hanya boleh terjadi saat itu. Gue udah accept kok syarat dari lo itu.” Bima mengusap rambut Flo. Dipandanginya Flo dengan tatapan lembut. Tatapan yang membuat Flo merasa perasaannya campur aduk. “Waktu gue untuk bisa bersama lo cuma ada di ruangan ini. Begitu gue keluar dari sini, gue bisa jamin gue nggak akan bersikap kayak gini lagi ke lo. Kalau lo nggak mau ketemu gue lagi, akan gue usahakan juga. Kecuali takdir yang bikin kita harus terus ketemu.” Bima mengangkat kedua bahunya. “Kita bisa apa, kan?!” Flo terdiam dan mencerna apa yang diucapkan Bima barusan. “Jadi, kita beneran nggak akan ketemu lagi kan?!” tanyanya memastikan lagi.  Bima tersenyum kecil. “Kalau lo maunya begitu.” Sekarang ingatan Flo tidak samar-samar lagi. Dia sudah mulai ingat satu persatu apa saja yang mereka lakukan bersama malam tadi. Yang jelas tidak untuk dibicarakan secara gamblang dalam teks terbuka seperti ini. Karena tidak bisa menanggung malu, makanya Flo memilih untuk menyimpannya sendiri. “Berarti begitu lo keluar dari kamar ini, kita bakal jadi dua orang asing lagi, kan?!” Cowok itu mengangguk pelan. “Kalau lo maunya begitu. Semuanya tergantung keinginan lo. Selama bisa gue kabulin, akan gue coba untuk turutin.” Ada beberapa detik jeda tercipta di antara mereka. Sampai kemudian Flo kemudian bicara.  “Terus lo nggak pengin menyampaikan sesuatu atau ngomong apa kek setelah ini semua?”  “Ada, sih. Tapi karena gue cukup menghargai lo, sebaiknya nggak perlu gue ucapkan.” Mendengar itu malah bikin Flo jadi penasaran. “Ngomong aja.” Dahi Bima mengerut. “Kenapa pengin tahu?” tanyanya sambil menahan senyum. “Kenapa nggak boleh tahu?” Flo malah balik tanya. “Kalau lo emang punya sesuatu yang ingin disampaikan sama gue tentang… hal ini, ya diomongin aja langsung. Kan, mumpung masih ada di ruangan ini.” “Begitu?” Bima memastikan. Kedua sorot mata tajamnya masih mengarah ke Flo yang membuat sesuatu seolah bergejolak lagi di bawah sana. Flo berusaha untuk mengatasi gelisahnya.  “Iyalah,” jawabnya cepat. “Okay, kalau lo mengizinkan.” Ada beberapa orang yang piawai dalam hal berkomunikasi dan menyampaikan pendapatnya. Ada juga yang lebih ekspresif dengan memberitahukan maksudnya dengan tindakan. Keduanya memiliki maksud dan tujuan yang beragam. Sesungguhnya Flo lebih menyukai tipe yang pertama. Sebab baginya, sangatlah penting untuk mengetahui segala sesuatu dengan sejelas-jelasnya. Makanya, Flo sangat menjunjung tinggi demokrasi yang diutarakan via verbal. Tapi, masalahnya Bima bukanlah orang yang masuk golongan pertama. Dan Flo tidak tahu hal itu. Makanya saat Bima menyerangnya dengan ciuman tiba-tiba dan ikut masuk ke dalam selimut, Flo kaget bukan kepalang. Dia tidak sempat menolak atau mengeluarkan pertahanan diri. Sampai akhirnya, Flo hanya bisa pasrah. Otaknya kemudian memberitahukan apa yang sudah disepakati sebelumnya. Selepas Bima keluar dari ruangan ini, semuanya akan jadi kembali seperti semula. Meskipun tidak begitu yakin, tapi sepertinya Bima bisa memegang ucapannya untuk mengusahakan agar mereka tidak lagi berjumpa. Karena besarnya kemungkinan Bima tidak akan lagi muncul di kehidupannya, maka yang dilakukan Flo kemudian hanyalah menerima ‘hadiah perpisahan’ yang sedang dilakukan Bima saat ini padanya. Hidupnya akan kembali normal seperti sedia kala. Kesehariannya (meski monoton dan membosankan) akan tetap berjalan seperti sebelumnya. Jadi, sekarang Flo hanya melenguh dan mendesah saat menikmati sensasi luar biasa di bawah sana. Saat sesuatu tengah membasahi pleasure spot-nya dan membuat gerakan maju mundur, Flo sempat menjerit tertahan karena sensasi menakjubkan yang dirasakannya.  Ah, masak iya apa yang dikatakan Bima tadi benar? Melakukan aktivitas seperti semalam di pagi hari ternyata begini enaknya. Saat lidah Bima mulai merayap ke area lain di sekitar pleasure spot-nya, Flo makin menggila. Kepalanya tiba-tiba ringan dan semua beban yang pernah dirasakannya perlahan terangkat.  Saat gadis itu sudah mendekati puncak, Bima tiba-tiba menghentikan aktivitasnya dan beranjak ke atas tubuh Flo. Dipandanginya sesaat cowok yang membuatnya gila seperti sekarang. Dengan satu gerakan cepat, ditariknya Bima agar menindih tubuhnya dan memasukkan sesuatu ke dalam sana. Karena sudah menegak dan siap untuk menembakan amunisi, Flo merasa sudah tidak perlu lagi menunggu lama. Mengetahui bahwa gadis yang terbaring polos di bawahnya ini telah siap, Bima segera mengikuti naluri kelelakiannya. Setelah hanya menjilat dan menggesek-gesekan senjata perangnya ke pleasure spot Flo dan membuat gadis itu makin kehilangan akal sehat, Bima sudah tidak bisa menahan diri lagi.  * Satu jam setelah Bima pergi dari apartemennya, Flo bergegas bersiap untuk pergi ke kantor. Untunglah beberapa hari kemarin dia sudah lembur dan membereskan beberapa pekerjaan yang deadlinenya kemarin. Jadi hari ini dia bisa sedikit meluruskan punggung dan tidak terburu-buru. Namun saat dia baru saja selesai membuat kopi dan hendak menyesapnya, sebuah pesan masuk ke Telegram nya. Ternyata Maria.  Flo, lo dimana? Buruan ke kantor. Pemegang saham yang baru bakal datang beberapa menit lagi. Hampir saja kopinya menyembur. Berita yang dibawa Maria tersebut tentu saja mengagetkan. Sekarang boro-boro pengin menghabiskan kopinya dengan tenang. Berpikir bagaimana caranya datang on-time ke kantor saja sudah membuat Flo kelabakan.  Kenapa orang-orang yang punya kuasa itu selalu seenaknya, sih? Dikira orang yang bekerja di bawah itu tidak butuh istirahat dan chill sedikit apa, ya? Sambil menggerutu dalam hati, Flo langsung mencari sepatu hak tinggi yang senada dengan blousenya hari ini. “Oke, merah untuk semangat. Merdeka! Mari kerja rodi lagi, teman-teman!” serunya sebelum membuka pintu apartemen dan pergi ke kantornya. Karena harus memburu waktu, tentu saja Flo tidak berlari menggunakan hak tinggi untuk sampai ke bawah. Selain membahayakan bagi pergelangan kakinya, Flo juga belum terlalu berbakat menggunakan stiletto macam itu. Jadi, kalau bukan karena tuntutan pekerjaan serta kewajiban harus bayar sewa dan biaya kehidupan, Flo masa bodoh dengan segala peraturan. Tapi ini semua dia lakukan hanya demi bisa tetap bayar apartemen dan makan.  “Kalau Mami musingin soal jodoh, gue mah yang penting bisa makan, have fun, sama shopping aja udah syukuran. Pokoknya gue nggak boleh membuat penilaian gue bulan depan merosot gara-gara keterlambatan hari ini. Nggak boleh,” dengan tergesa-gesa berjalan ke parkiran mobilnya, Flo bicara sendiri. “Kok, gue udah kayak sinetron Indonesia, ya, ngomong sendiri. Bedanya kalau gue kagak ngomong dalam hati.” Begitu sampai di parkiran, Flo langsung mencari kunci mobilnya di dalam tas namun tidak ketemu. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dengan sambil mengingat. Kunci mobilnya hilang. Tapi yang lebih membingungkan lagi, mobilnya juga saat ini tidak terlihat di tempat dia biasa memarkirnya.  “Baby?” panggilnya pada SUV hitam kesayangannya itu. “Gue selalu parkir di sini, apa gue salah inget, ya?!” Flo membatin kemudian mengingat lagi. Saat dia melihat seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri sedang mengganti ban, barulah Flo tersadar. “Astaga, mobil gue masih di kafe dong.” Satu nama yang langsung dia ingat untuk segera dihubungi tentu saja… “Amanda! Baby dimana?” tanyanya dengan suara tergesa.  “Hmm? Hallo? Siapa ini?” tanya Manda dengan suara serak.  “Emma Watson!” suara Flo agak tinggi. “Nda, baby di mana? Masih di kafe dia? Kok lo nggak ngabarin gue, sih?” “Oh, iya masih di kafe semalam dia, Flo.” Kini suara Manda terdengar lebih jelas dari saat dia menjawab telepon Flo. “Kan, lo semalam dianter sama Bima pulang. Ban belakang nya si Baby bocor. Daripada lo kenapa-kenapa, sama Mario udah dibawa ke bengkel. Kan, abangnya punya bengkel mobil.” “Oke, nah terus keadaannya gimana Baby sekarang? Terus gue ke kantor sekarang pake apa dong? Mampus deh ini gue beneran telat.” “Hmm sebentar. Tadi kayaknya gue lihat ada chat deh. Barangkali ada kabar dari Mario. Jangan dimatiin dulu.” Flo menantikan kabar dari Manda selanjutnya. “Oh, katanya ban nya si Baby boncos dua-duanya. Jadi masih dibenerin. Tapi nanti siang katanya bisa di drop ke kantor lo. Gimana?” Gigi Flo menggeretak menahan emosi. Sepertinya dia tahu siapa yang membuat ban belakang Baby jadi seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD