It's Time for Payback

1601 Words
Bima hanya menyalakan klakson saat berlalu dari kafe dan memantau dari kaca spionnya. Sepupunya itu masih berdiri mematung, entah mungkin menunggu sampai mobil mereka benar-benar menghilang dari pandangan. “Duh! Semoga Bima kagak ngapa-ngapain Flo deh, ya,” gumam Amanda dengan suara cemas. “Eh? Tapi kalau ngapa-ngapain pun bukannya mereka udah gede, ya? Pasti tahu konsekuensi dan risikonya dong?!” Saat Amanda sedang monolog seperti itu, tak disangka Mario menyusulnya. Cowok itu tampak bingung ketika melihat gadis itu bicara sendiri. “Amanda?!” panggilnya ragu-ragu. “Hah?” Amanda menoleh ke asal suara dan lega sebab yang memanggilnya adalah Mario. “Ngapain lo di sini?” “Lah, gue juga harusnya nanya gitu,” balas Mario tak mau kalah. “Lo ngapain di sini?” “Itu… si Flo, sahabat baik gue itu… gue terpaksa melepasnya balik dianter sama Bima.” “Bentar!” Mario tampak berpikir. “Flo di sini yang lo maksud adalah Florencia?” Amanda mengangguk. “Dan Bima yang lo sebut tadi adalah Bimasena Gilbert, sepupu lo?” Lagi-lagi Amanda mengangguk. “Wah, parah lo, Nda. Masak lo tega ngempanin Flo ke buaya macam Bima?” seru Mario dengan suara tak percaya. “Emang sepupu gue apaan?” sergah Amanda malah jadi tak terima. “Buaya,” balas Mario cepat. “Kan, tadi gue udah sebut." Wajah Amanda seketika ketus. Namun Mario tidak gentar. Karena dia merasa apa yang diucapkannya adalah sebuah fakta yang tidak bisa disangkal. Dia pun melanjutkan. "Lo, masak nggak tahu sih track-nya si Bima dulu. Ah, nama dia tuh dah populer banget lagi di KBRI. Apalagi kisahnya sama… duh, siapa itu yang terakhir kan bukannya sampai...” Mario tak bisa melanjutkan kalimatnya karena dia seperti tersadar untuk tidak bicara sembarangan. Terlebih di depan seseorang yang masih memiliki darah yang sama seperti ini. Amanda pun sudah menatap Mario dengan tegas dan serius.  “Sorry, Nda. Ni mulut emang suka kelepasan kalau lagi cerita,” pinta Mario sambil meringis malu. “Bener, kan. Lo tuh lebih sweet kalau pas main basket. Di luar lapangan, lo tuh nggak jauh beda sama ibu-ibu yang mengelilingi tukang sayur keliling di komplek rumah gue tahu nggak. Rumpi!” Amanda pun balik badan. “Untung masih gue pikir-pikir,” gumamnya sambil berlalu meninggalkan Mario. “Yah? Nda, maksud gue nggak begitu. Kan, apa yang gue omongin tadi ke lo tuh kenyataan. Bukan gosip murahan. Amanda! Tunggu dong!” Sementara itu, saat Jeep keluar dari jalan sempit itu dan hendak berbelok ke jalan besar, Bima melirik ke arah Flo yang ternyata sudah membuka matanya dan sedang menatap lurus ke depan. “Lo beneran mabok apa nggak sih?” tanya Bima bingung sambil tetap fokus pada kendali dan arah jalan. Flo tersenyum. Pipi yang bersemu merah bahkan terlihat meski hanya tersorot sedikit lampu jalan. “Hmm, gue mabok kok,” jawabnya singkat lalu menoleh pada Bima. “Makanya lo mesti pastiin gue sampai di rumah dengan selamat. Kalau nggak lo bakal diamuk sama sepupu lo.” Bima melirik lagi ke arah Flo dan kembali fokus pada kemudinya. “Iya kalau itu udah pasti. Gue lupa kalau anak itu bisa nakutin banget kalau ngamuk.” “Tadi itu belum ada apa-apanya lagi,” sahut Flo. “Kalau sampai dia tahu lo pake taktik murahan kayak tadi, lo malah nggak akan punya kesempatan lagi di kemudian hari.” “Oh, ya?!” Bima tidak melirik sama sekali dan tetap fokus pada kemudi. “Kalau gue bilang kita bakalan sering ketemu nanti, gimana?” tanyanya dengan percaya diri.  Flo memperbaiki posisi duduknya dan menatap Bima dengan pandangan sayu. “Gue yang nggak mau. Apa yang akan terjadi malam ini, ya terjadi di malam ini aja. Nggak boleh ada lanjutannya. Nggak boleh ada reunian pokoknya!” tandasnya keras.  Senyum tipis terulas di bibir Bima. “Oh, jadi bakal ada sesuatu yang terjadi nih malam ini?” Flo dan Bima berpandangan sesaat dan sama-sama tersenyum penuh arti. Hanya beberapa detik, Flo dan Bima kemudian melemparkan pandangan ke arah lain. Terus terang saja jantung Flo tadi berdebar agak kencang saat mendapat tatapan super lembut dari Bima. Sementara Bima merasa bahwa sepertinya Flo memberikan sebuah lampu hijau padanya.  Begitu sampai di apartemen Flo, Bima hanya mematung di ambang pintu. Flo menaruh sepatunya di rak dan melebarkan tangannya mengisyaratkan pertanyaan. “Gue nggak bakalan masuk sampai lo ngasih gue petunjuk ke mana gue harus masuk,” ucap cowok itu sambil memasukan kedua tangannya ke saku depan jinsnya. Tidak pernah Flo duga bahwa lelaki ini, sepupu dari sahabat baiknya, mampu membuatnya mabuk dua kali. Cara berdiri dan cara Bima memandangnya sekarang membuat sesuatu dalam diri Flo berdesir. Sensitivitas Flo rasanya lebih tajam daripada beberapa detik yang lalu.   Gadis itu kemudian mendekati Bima dan meraih tangan cowok itu. Bima membiarkan Flo melakukan apa yang menurutnya bisa dijadikan petunjuk. Flo perlahan mengajaknya masuk, seraya tangan kirinya menutup pintu apartemen. Pintu otomatis yang akan langsung mengunci sendiri begitu ditutup. Saat tidak memakai heels seperti sekarang, Flo baru sadar bahwa Bima ternyata tinggi juga. Oleh sebab itu dia harus berjinjit untuk bisa mensejajari wajah cowok itu yang masih terdiam, namun pandangannya tak lepas dari dirinya. Diberi tatapan seperti itu malah membuat Flo seperti menggila. Belum apa-apa Flo merasa seakan sudah tidak pakai apa-apa jika diberi pandangan macam ini. Tangan kanannya yang masih memegang pergelangan tangan Bima kemudian diletakkan di pinggangnya sendiri. Masih ditatapnya Bima dengan lekat dan pandangan sayu.  “Just be still, let your body talk to me, babe,” ucap Bima dengan suara rendah. “I’ll give you everything you want.” Flo mengangguk. “I do.” Bima kemudian mengulurkan tangan kirinya dan merangkul pinggang Flo. Seketika menempelkan tubuh yang terasa panas itu ke tubuhnya dengan lekat. Hal tersebut tentu saja membuat Flo kaget. Tangan kanan Bima yang masih digenggam Flo kemudian dilepaskan gadis itu perlahan. “Apa gue masih terdengar kepedean kalau bilang sepertinya lo sengaja membuat diri lo sendiri terperangkap padahal lo tahu gue bakal melakukan apa?” Sulit bagi Flo untuk mengaku. Namun karena tidak gamblang menjawab, maka dia hanya bisa tersenyum rikuh kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Bima untuk membisikan sesuatu. “Gue udah nggak bisa lebih lama lagi berdiri kayak gini. I’ll let you in!” Kalimat itulah yang sudah dinanti Bima sejak tadi. Flo mengizinkan dia, dengan kesadaran dan sukarela untuk membiarkannya masuk dan melakukan sesuatu. Dengan lemah lembut Bima mengusap wajah Flo yang memerah. Masih ditatapnya juga mata Flo yang sayu. Dengan gerakan cepat dan kokoh dipangkunya Flo seperti tengah membopong anak kecil yang ingin dimanjakan. Tanpa perlu diberitahu sepertinya Bima sudah tahu di mana letak tempat tidur. Direbahkannya Flo dengan hati-hati.  Saat Bima hendak bangun lagi, Flo langsung menarik baju Bima dan membuat Bima tidak bisa melarikan diri. Dari tindakan itu, Bima tahu harus melakukan apa untuk detik selanjutnya. * Keesokan harinya, Flo bangun dengan aroma kopi yang khas. Membuatnya tenang dan nyaman. Namun saat dia mengintip dari matanya yang masih mengantuk ada seseorang yang tampak sedang menatap ke arah dirinya. Perlahan Flo membuka matanya dan seketika terbelalak. “Oh, ngagetin aja!” Flo terperanjat dan sontak menjauh.  Dia pun tersadar kalau sepertinya dia tidak memakai sehelai benang pun di bawah selimut yang menutupinya. Semakin dirapatkannya selimut miliknya sampai ke d**a. Otaknya tidak bisa berpikir hal-hal positif kalau seperti ini situasinya. Apakah semalam dia benar-benar mabuk? Kenapa Flo sampai tidak ingat apa-apa? Sial! Setidaknya dia harus ingat tindakan bodoh macam apa yang dia perbuat semalam. Dengan begitu paling tidak Flo tahu harus bagaimana. Sementara cowok yang sudah memakai handuk dan menenteng cangkir di tepi tempat tidurnya tampak kebingungan. “Morning!” sapa Bima dengan suara lembut. “Kenapa lo sekaget itu, sih? Kayak habis ngeliat hantu,” komennya lalu menyesap kopi sampai bunyi seruputnya terdengar dan membuat Flo merinding sendiri. Jika boleh memilih sekarang, maka Flo lebih baik melihat hantu sungguhan daripada manusia ini. Tidak bisa dilupakannya peristiwa semalam saat Bima merebut parkirannya dan membuatnya gusar setengah mati. Lalu bagaimana bisa dia ada di kamarnya pagi-pagi? Sebentar. Kondisinya saat ini jauh dari kata wajar. Apa... jangan-jangan? “Gimana bisa lo ada di sini, hah?” tanya Flo setengah membentak. “Lo pasti macem-macemin gue semalam kan?! Ngaku nggak lo?!” Mata Flo sampai melotot maksimal saat mengatakan itu. Dimarahi seperti seakan hendak dimakan hidup-hidup begitu oleh Flo bukannya membuat Bima jiper. Sebaliknya, Bima hanya tersenyum geli dan memandangi wajah Flo yang galak. Bukan dengan tatapan ingin membalas amarah atau memangsa balik. Justru pandangan teduh yang membuat Flo bingung sendiri.  Bima meletakkan cangkirnya di atas meja lampu tidur dan menghampiri Flo yang langsung bersiaga tingkat satu. Meski dalam kondisi tanpa memakai apa-apa, tapi jangan sepelekan kekuatan perempuan yang sedang bersiaga untuk melindungi diri, ya. Begitulah pikir Flo menguatkan diri sendiri. Tanpa mengucap apa-apa, Bima kemudian mengusap kepala Flo dengan lembut. Flo tadinya ingin menghindar. Tapi, cara pandang Bima yang lembut dan melemahkan membuatnya hanya bisa bergeming. “Gue lebih suka cewek yang semalam tiba-tiba nge-lead gue untuk ngelakuin apa yang nyenengin dia sebenarnya.” Kalimat itu jelas kontan membuat Flo melotot maksimal. Kenapa perasaannya mendadak tidak enak dengan apa yang diucapkan Bima. Hal macam apa yang semalam dia lakukan? Pasti sangat gila. Pasti sesuatu yang akan segera disesalinya. Menyadari dia bangun tanpa busana dan melihat Bima dengan santainya berkeliaran di apartemennya hanya dengan memakai handuk saja sudah membuatnya kehilangan kata-kata. Ingatan Flo masih samar-samar soalnya. Sebelum Flo sempat bisa mengingat tindakan apa saja yang dia lakukan, Bima melanjutkan lagi kalimatnya. “Gue tahu seseorang akan jadi seseorang yang berbeda saat sedang dipengaruhi alkohol. Makanya gue nggak sabar buat nunggu pagi. Gue nggak sabar apakah gadis ini masih memiliki sisi manis seperti malam tadi atau nggak.” Bima tersenyum lagi. Senyum yang membuat ingatan Flo perlahan jelas. “Gue nggak sabar buat bilang kalau yang terjadi semalam sangatlah menyenangkan, dan…” Jantung Flo sudah tidak karuan lagi detaknya saat ini. “tak terlupakan. Gue juga nggak berencana ngelupain, sih.” Nggak boleh! Harus lupa bagaimanapun juga. Flo tidak siap menderita dengan terus menerus berurusan dengannya lagi.  Melihat gadis yang bersembunyi di balik selimut ini semakin panik dan takut, Bima tertawa girang dalam hati. Akhirnya dia bisa membalas perbuatan Flo semalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD