Bukan tanpa alasan Amanda memberikan peringatan pada Flo tentang sepupunya ini. Amanda kenal betul siapa Bima (iyalah, orang sepupunya). Lelaki itu punya mantan lebih banyak daripada jumlah baju di lemarinya. Cewek yang tergila-gila terhadap pesonanya kalau dikumpulin bisa buat support TimNas Indonesia pas tanding bola.
Masih sangat dia ingat, selama SMA, ada berapa perempuan yang pernah mengirimkan SMS ancaman agar menjauhi Bima. Tentu saja diantara mereka tidak ada yang tahu jika Bima punya sepupu yang sebaya dengannya. Mereka mengira Manda adalah gebetan atau pacar barunya Bima.
Sementara cowok itu juga bukan orang yang terbuka dan mau bercerita seputar kehidupannya pada orang lain. Apalagi jika hubungan itu memang hanya main-main.
“Biar nggak repot kalau mau bubarin.” Begitulah pembelaan Bima saat Amanda protes tentang SMS mantannya yang sudah seminggu mengganggunya. “Lagian cewek tuh ribet bener. Hal-hal sederhana suka dibikin susah. Kalau memang sudah nggak ada kecocokan ya nggak perlu dilanjutin lagi, kan?!”
Mata Manda memicing. “Bukan karena lo punya gebetan baru yang bodynya lebih menarik hati lo, ya?” sindirnya sinis. “Cuma karena lo nggak bisa bilang seterbuka itu, makanya lo pake alesan sudah tidak ada kecocokan. Picik banget emang kalian ini.” Manda hanya geleng-geleng kepala.
Bima hanya mengangkat kedua bahunya. “Yang ini cakepnya nggak ketulungan, Nda. Nggak mungkin lah kalau gue lewatin gitu aja.”
“Jadi, buat lo gitu, ya?! Cewek tuh cuma buat dinikmati sebentar? Terus kalau lo udah puas atau bosen nggak apa-apa buat dibuang?”
“Tega banget sih lo menilainya, Nda,” sahut Bima dengan serius. “Bukan dibuang lah. Tapi gue memberikan kesempatan pada yang lain. Siapa tahu dia ketemu orang yang lebih baik dari gue, kan?!”
Begitulah pembelaan Bima. Meskipun saat dia didepak ke Amerika oleh orangtuanya, nampak ada beberapa perubahan pada dirinya yang bisa dilihat Manda. Tapi bagaimanapun, cowok tetaplah cowok. Mengejar kesempatan dan menaklukan tantangan sudah ada dalam naluri mereka semua.
Jadi jalan satu-satunya untuk bisa membentengi agar tidak termakan umpan buayanya ya dengan meningkatkan waspada. Dan yang barusan Manda ucapkan pada Flo adalah sebagai bentuk penjagaan terakhir yang bisa dia lakukan.
Toh mereka sudah sama-sama dewasa. Tentunya mereka bisa bertanggung jawab dan tahu betul apa yang mereka lakukan. Makanya, pengawasan Manda hanya cukup sampai disitu saja.
“Ngomong apaan sih lo? Siapa juga yang mau dibawa pulang sama dia? Nggak lah.” Flo langsung meyakinkan Manda. “Gue bawa mobil sendiri, Nda. Jangan lupa. Aman kok, tenang aja.”
Terasa berat sekali bibirnya untuk berucap bahwa Flo tidak bisa memandang remeh Bima. Cowok kalau sudah punya mau, otaknya bisa bekerja dengan cepat. Hanya saja agar Flo tidak panik, Manda hanya mengangguk.
“Syukur deh kalau begitu. Ya, udah. Gue ke bawah lagi dulu, ya. Pokoknya kabarin kalau lo mau balik. Okay?”
Flo mengangguk. Sebelum pergi Manda sempat melirik satu kali pada Bima yang tersenyum jahil padanya sambil memainkan kedua matanya. Manda langsung melengos sebal dan bergegas turun ke lantai satu.
“Lo percaya sama apa yang dibilang Manda tadi?” tanya Bima tanpa menoleh. Flo langsung menoleh pada Bima dan mendapati cowok itu tersenyum. Flo baru tahu kalau ada seseorang bisa tetap terlihat tampan meski hanya dilihat dari samping begini. “Jangan kelamaan ngeliatinnya. Kita nggak pernah tahu apa yang bisa terjadi kalau kita sama-sama nggak bisa nahan diri.”
Karena Bima mengeluarkan sifat menyebalkannya itu, Flo langsung tersadar dan memalingkan mukanya.
“Kenapa sih lo selalu sepede itu?” tanya Flo agak sinis.
“Karena modal cowok yang terbesar untuk bisa bertahan dan mengejar keinginannya hanya dengan percaya diri, Nona,” jawab Bima sambil memandang Flo.
Dibalasnya pandangan itu. Untuk beberapa detik, Flo membiarkan dirinya dilihat Bima dengan jelas. Begitupun sebaliknya.
Bima memajukan sedikit wajahnya kemudian berbisik. “Nggak bisa, ya, kalau gue bawa lo pulang sekarang?”
Flo terdiam sesaat kemudian tersenyum kecil dan menggeleng. “No,” jawabnya pelan.
“Tahu gitu gue tadi pakai taktik sekalian biar lo nggak bisa nolak,” ujar Bima kemudian ikut tersenyum.
Flo ikut memajukan wajahnya dan hanya tinggal sejengkal saja sampai bibir mereka bisa bersentuhan. “Bukannya dari tadi lo emang cuma ngeluarin taktik doang ya ke gue?” Mereka bertatapan tepat di manik mata. “Makanya, kalau lo memang sangat menginginkan sesuatu, jangan mau dong kalau nerima jawaban nggak.”
Bima takjub. “Tahu darimana lo prinsip hidup gue?”
Gadis itu melirik kepala Bima. “Gampang ditebak soalnya.”
Flo menegakan kembali duduknya dan meminum kembali merlotnya.
“Gue mau ke toilet sebentar, ya.”
Bima kemudian pamit sebentar. Flo mengikuti kepergian Bima. Saat melihat Bima malah turun ke lantai satu, dahi Flo mengernyit. Dia tersenyum curiga. Flo kembali melihat ke depan dan langsung menenggak sisa merlot yang ada dalam gelas. Sepertinya dia sudah kehilangan sebagian akal sehatnya sekarang.
Sekitar lima belas menit kemudian Bima kembali bersama Amanda. Flo sudah mengisi gelasnya lagi. Hal tersebut membuat Manda kaget.
“Lo lagi patah hati apa gimana? Tumben bener minum lo banyak,” komennya bingung.
Wajah Flo sudah agak merah dan memandang Manda. “Tadinya gue ke sini emang curhat sama lo panjang lebar.”
Manda kemudian duduk di tempat Bima semula. “Ya, curhat aja. Gue punya waktu kok.”
Gadis itu menggeleng. “Nggak lah. Ini kan party lo. Waktu nya lo happy, bergembira dan menghabiskan waktu bersama temen-temen lo yang segudang itu.”
“Lo udah mabok ya?!” Manda kemudian mengendus udara dekat sahabatnya itu.
“Nggak.” Flo menggeleng kuat-kuat. “Minum tiga gelas doang. Mabok dari mana?!”
“Fiks, mabok lo, Flo.” Manda langsung memandang Flo khawatir. “Kalau gini ceritanya gimana lo bisa balik dan nyetir sendiri coba?”
Amanda ogah menoleh pada sepupunya itu. Tapi ini adalah keadaan gawat darurat. Maka dengan pandangan galak yang sudah disetel sebelumnya, Manda terpaksa harus minta tolong pada Bima.
“Lo bisa jaga kepercayaan gue nggak, sih?” tanyanya galak.
Bima tidak mau langsung menjawab dan membiarkan Amanda menyelesaikan ucapannya.
“Sahabat gue mesti dianterin balik sekarang. Tapi gue pengin lo bener-bener jaga kepercayaan gue buat anterin dia ke apartemennya, bukan dibawa ke apartemen lo.”
“Okay. Lo bisa percaya sama gue.” Suara Bima terdengar tegas dan mantap. Suara yang biasa Manda dengar saat hendak menjalankan perintah kedua orangtuanya.
“Gue tenang kalau gitu.” Diliriknya Flo yang sudah menyandarkan kepalanya di atas meja bar. “Wah, gawat nih anak. Lupa juga gue dia kagak bisa minum banyak-banyak. Gue juga nggak tahu kalau dia nekat minum. Eh, tapi ulang tahun gue tahun sebelumnya dia juga begini, sih. Terus dianterin siapa ya waktu itu? Lupa lagi gue.”
Bima memandang Amanda dengan kesal. “Udah monolognya nanti lagi. Ini temen lo mau jadi gue anterin balik apa nggak?”
“Iya, iya. Jadi. Yuk, gue anterin ke bawah,” sahut Manda langsung membantu Bima menuntun Flo.
Setelah sampai di parkiran, Manda menyerahkan tas dan kunci mobilnya pada Bima. “Beneran dianterin ya, Bim. Apartemennya di Grand Graha IV lantai delapan nomor 1969. Paling pojok pokoknya. Hati-hati nyetirnya, ya. Habis nganter lo langsung balik aja pokoknya. Ngerti?”
“Iya, bawel. Lo tenang aja kenapa, sih?” Bima jadi gusar.
“Susah gue tenangnya kalau gini.”
“Ya, kalau gitu nggak usah lo minta tolong ke gue buat nganterin temen lo dong kalau lo nggak bisa tenang.”
Manda langsung berubah pikiran. “Iya udah deh, gih dianterin balik temen guenya. Tapi beneran hati-hati lho nyetirnya.”
“He-eh, Amanda, gue ngerti. Gue bukan belajar nyetir kemarin sore astaga.” Bima lalu menunggu Manda kembali ke dalam. “Udah sana lo balik ke dalem.”
“Gue mau lihat lo pergi dulu sama Flo.” Manda bersikeras.
Bima terlihat bingung. Dia langsung menuntut Flo masuk ke mobilnya sendiri dan langsung menutup pintunya.
“Udah sana masuk.” Kali ini Bima setengah mengusir.
“Udah sana jalan!” Amanda tentu saja tidak mudah diperintah.
Bima berdecak kemudian segera masuk ke mobil Flo dengan langkah gamang. Saat dia hendak menyalakan mobil Flo, dia kembali melirik Manda yang masih berdiri menanti kepergian mereka.
“Lo nggak bisa nyalain ini mobil karena lo nggak mau mencelakakan kita berdua kan?!” suara Flo terdengar tenang. Tidak seperti orang mabuk yang terdengar saat di bar tadi.
Bima menoleh pada Flo yang masih memejamkan matanya. Wajahnya masih terlihat memerah tapi apa benar gadis ini tidak mabuk?
“Gue tahu apa yang lo lakuin sama mobil gue.” Tubuh Bima langsung menegang.
“Oh, ya?!” Bima mencoba memastikan.
“Saat lo bilang mau ke toilet tadi, lo sebenernya nggak ke toilet kan?! Tapi lo ke sini buat sengaja bikin kempes dua ban belakang mobil. Tujuannya apa? Tentu kita berdua sama-sama tahu.”
Diliriknya Flo yang masih memejamkan matanya dengan tenang.
“Jadi kalau lo nggak mau dibantai sama sodara lo di sini, mending pake akal lo supaya kita bisa pulang pake mobil lo. Karena gue nggak mau kenapa-kenapa kalau maksain pake mobil yang dua ban belakangnya udah lo bocorin.”
Bima langsung menurut. Untuk mencari akal dengan cepat merupakan salah satu keahliannya selain menaklukan perempuan.
Di depan sana Amanda sudah kelihatan gelisah dan curiga. Didekatinya mobil Flo dan diketuknya kaca supir. Bima menurunkan kacanya.
“Kenapa mobilnya? Kok nggak pergi juga?” tanya Manda bingung.
“Ini gue mau jalan.” Bima menstarter mesinnya dan mencoba memundurkan mobilnya. Namun sebuah guncangan terdengar jelas.
“Eh apaan tuh, Bim? Turun, turun. Cek dulu,” seru Manda mulai panik.
Sesuai rencana, Bima segera turun dari mobil dan mencoba mengecek ban mobil Flo. “Wah ini mah bannya bocor, Nda,” ucapnya dengan keputusasaan yang terdengar sangat natural.
“Yah, Flo. Mobil lo.” Manda melirik Flo di dalam yang masih memejamkan matanya dengan rapat. “Terus gimana dong?”
Bima memandang Manda dan memberikannya kesempatan untuk memutuskan. “Lo lah yang mutusin. Kan, gue cuma nganter.”
“Ah, Bima. Lo tahu kalau gue panik gue nggak bisa mikir. Bantuin kek.”
Inilah yang ditunggu oleh Bima. Membuat Manda menyerahkan kuasa untuk mengambil keputusan.
“Ya gue anterin balik temen lo pake mobil gue aja kalau gitu.”
Mendengar itu Manda langsung melotot tapi Bima tidak mundur. “Kalau lo punya solusi lain yang lebih baik, kasih ke gue sekarang. Jangan makin ngerepotin lo.”
Pandangan Manda seketika melunak. Tidak lagi segalak tadi.
“Iya, gih anterin temen gue balik pake mobil lo aja. Buruan.”
Secepat mungkin Bima memindahkan Flo ke Jeepnya. Tanpa perlu ada ritual pamitan seperti tadi, Bima hanya menyalakan klaksonnya. Amanda melambaikan tangannya ke arah mobil Jeep sepupunya yang menjauh.