Definisi cantik buat Flo itu tidak sempit. Mungkin karena sejak kecil, dia jarang mendengar ada yang memujinya demikian atau memberikan komplimen soal penampilan. Maka bagi Flo, cantik, menarik, atraktif dan padanan lainnya tidak akan terlalu berpengaruh padanya.
Dari upaya sederet kencan buta yang pernah dilalui, belum ada satupun lelaki yang memuji mengenai penampilannya. Belum satupun.
Sampai kemudian berjumpa lah dia dengan seorang pria yang justru membuatnya geram dan naik pitam di perjumpaan pertama. Flo tentu saja tidak norak. Dia masih bisa menjaga tingkah dan sikapnya. Hanya saja reaksi tubuhnya tidak demikian.
Tanpa dia sadari, pipinya bersemu merah saat mendengar Bima berucap begitu padanya.
Kurang ajarnya, yang menyadari pertama kali hal tersebut bukanlah si pemilik tubuh melainkan si pemberi komplimen.
“Kayaknya lo flattered ya dengan kalimat gue tadi,” ucap Bima pelan. “Bagus dong. Jadi gue punya kesempatan gue antar lo balik nanti,” cowok itu tersenyum tipis sambil memberikan tatapan liar seakan sudah merasa mengungguli Flo.
Gadis itu segera mengatur reaksi tubuhnya dan kembali menjadi lebih judes. “Heh, nggak usah asal ngomong, ya. Siapa juga yang tersipu sama ucapan lo. Dan, nggak usah kepedean bisa nganter gue pulang.”
Bima kemudian menenggak minumannya sekali dan membiarkan Flo berlalu meninggalkannya. Melepaskan perempuan cantik yang kesepian di tengah pesta tentu saja haram hukumnya untuk Bima.
Maka, meskipun Flo nampak tidak tertarik padanya, tapi bukan berarti dirinya menyerah. Jangan panggil dirinya cowok kalau tidak bisa membuat gadis itu mau duduk dan ngobrol bersamanya.
Flo terlihat memperhatikan beberapa buku di rak tak jauh dari bar. Bima segera mendekatinya. Seperti anjing pelacak, Flo bisa dengan mudah menyadari jika ada bahaya di dekatnya. Seperti yang sedang terjadi saat ini. Bima tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya dan menyodorkan wajah sok rupawannya.
“Ngaku kalau lo tersipu juga nggak apa-apa lagi.” Flo masih tidak bereaksi. “Gue kenal banget dengan tipe-tipe cewek kayak lo ini.”
Flo mungkin tidak pernah ikut kejuaraan silat atau karate, tapi untuk memberitahu tentang sopan santun pada seorang cowok kurang ajar, rasanya Flo siap memberinya secara kontan.
“Tipe cewek kayak gue? Tipe cewek yang kayak gimana tuh maksud lo?!”
Mengetahui bahwa gadis di depannya sudah cukup emosi, Bima tetap masih tenang. Semula dia tidak pernah berniat mencari gara-gara. Hanya saja dari reaksi yang dia lihat tadi, Bima jadi tertantang untuk berpetualang lebih jauh lagi. Mungkin Flo bisa menjadi sebuah hiburan baru yang membuatnya semakin betah kembali ke Jakarta.
Bima tidak langsung menjawab. Ditatapnya lurus-lurus Flo dan dia semakin mengecilkan jaraknya dengan gadis itu. Lalu Flo? Tentu saja dia tidak gentar sama sekali.
“Cewek yang tahu apa yang dia mau, yang berani fight dan punya pertahanan cukup tinggi. Tapi, gue yakin sebenarnya dia cewek yang manis sekali. Apalagi saat bersama orang yang dia suka. Dan...”
Flo mencoba menyembunyikan keterperangahannya dengan apa yang baru saja dia dengar. Bima menikmati wajah Flo yang sempat tertegun dan masih melanjutkan usahanya. Untuk kalimat penutupnya, dia usahakan agar terdengar serendah dan selirih mungkin. Namun pasti tetap bisa dicerna Flo dengan sempurna.
“Saat dia bebas tertawa dan menjadi dirinya sendiri, dia jadi kelihatan sangat seksi.”
Whoa! Whoa! Whoa!
Apakah barusan ada seseorang yang menyuntikkan morfin dosis tinggi ke tubuhnya? Kenapa rasanya segala rasa sakit dan lelahnya bisa hilang, lenyap begitu saja. Dengan jarak sedekat itu, Flo bahkan merasa bisa mendengar suara napasnya dan napas Bima dengan jelas.
Cowok itu tidak tersenyum, namun juga tidak menunjukan wajah sengak nya seperti yang dia lihat di parkiran tadi.
Flo tidak ingin lemah. Dia masih menerapkan self defensenya. Pokoknya dia tidak boleh masuk perangkap lelaki yang baru dikenalnya beberapa menit ini.
“Perbanyak baca novel roman lagi, ya. Atau tambah frekuensi latihan ngegombalin ceweknya,” ucap Flo kemudian dengan suara normal. Dia sudah bisa kembali menguasai diri. “Karena gue bukan sasaran empuk yang bisa langsung lo dapet begitu saja.” Flo menepuk bahu Bima dua kali. “Cari korban lain, ya.”
Gadis itu melewati Bima dan berjalan menuju bar. Baru dua langkah Flo melewatinya, Bima kembali bicara.
“Yang bilang lo gampang di dapetin siapa, sih?”
Flo sudah merutuk dalam hati. Kenapa cowok ini masih berusaha, sih? Untuk ngomong seperti yang terakhir kali dan berjalan melewati Bima begitu saja dia butuh keberanian yang besar. Karena tidak berani menoleh lagi, dia hanya berdiri mematung.
Bima berjalan mendekati Flo dan kembali berdiri di depannya sambil memasukkan tangan kirinya yang bebas ke saku depan jinsnya.
“Gue bukan tipe yang bisa ngasih pujian ke sembarang orang. Tapi karena lo memang layak dapat pujian, makanya tadi gue bilang gitu.” Bima meletakan gelasnya ke bar dan kembali menatap Flo. “Lo bukan calon korban gue, karena gue nggak mungkin berani macem-macemin sahabatnya sodara gue sendiri. Tapi kalau lo mau melepaskan segala prasangka buruk lo ke gue, gue rasa kita bisa jadi temen ngobrol yang nyenengin.”
Flo nyaris putus asa untuk melarikan diri dari Bima. Sampai akhirnya dia tidak bisa berkata-kata.
“Don’t mess with me,” ucap Flo sungguh-sungguh.
“I won’t,” balas Bima cepat. “I promise no flirt, no hands. Except…” kalimat Bima menggantung. Dipandanginya dengan lekat wajah gadis itu. “You let me.”
“In your dreams,” sahut Flo sambil berlalu menuju bar dan menarik salah satu kursi tinggi.
Bima tersenyum menang. “We’ll see,” gumamnya pelan sekali. Dia menarik kursi tinggi persis di sebelah Flo dan memesan dua minuman pada bartender.
“Sorry, lo minum?” tanya Bima pada Flo sebelum memesan.
Sebenarnya Flo sudah puasa menenggak alkohol selama sebulan. Tapi malam ini rasanya dia ingin mabuk.
“Yeah, um, gue mau white merlot.”
Cowok itu langsung tersenyum kagum. “Good choice,” pujinya.
“Thank you.” Flo mengangguk sekali.
“White merlot and vodka, thank you.” Minuman pun dipesan.
Tak lama bartender perempuan itu menyodorkan dua gelas minuman sesuai pesanan Flo dan Bima. Flo sudah mau meminumnya namun Bima menyodorkan gelasnya untuk mengajak bersulang.
Gadis itu hanya terkekeh tak mengerti. Dia pun menerima ajakan tersebut dan barulah mereka menyesap minuman masing-masing.
Obrolan pun terjadi begitu saja. Akhirnya Bima membuka cerita dengan kepindahannya ke Amerika empat tahun lalu dan tidak pernah pulang semenjak saat itu. Tentang Amanda, sampai di mana dia bersekolah saat SMA.
Sementara Flo bercerita tentang persahabatannya dengan Amanda sejak SMP dan apa saja kejadian konyol yang telah mereka lalui bersama di masa itu.
“Jadi, lo sama Manda itu sama-sama anak tunggal, ya?!” tanya Flo setelah mendengar sedikit kejadian lucu bersama Amanda waktu kecil.
“Iya, mungkin itu juga yang bikin gue jadi deket banget sama tuh cewek. Sama-sama nggak punya temen di rumah soalnya.”
Flo manggut-manggut. Saat sedang menikmati minumannya, terdengar suara Amanda dari jauh.
“Flo, hei, bentar!” serunya sambil berlari kecil ke arah Flo dan Bima.
Kedua orang yang sedang duduk di bar itu menoleh bersamaan dan menantikan sampai Amanda tiba di depan mereka.
“Duh, sorry ya, Flo. Gue jadi tinggal lama,” ucapnya dengan suara terengah-engah. “Itu tadi temen gue waktu di Aussie, kenal pas spring break kemarin. Dia excited banget buat gue kenalin ke Mario. Lo inget Mario, kan?! Yang anak basket itu lho, yang pernah naksir gue.”
Flo mengangguk dengan cepat. “Iya, gue inget. Terus lo jodohin?”
“Siapa tahu aja kan jadi. Terus gue punya pondasi rumah di surga kayak yang dibilang Romo gue kemarin. Semakin banyak berbuat baik, maka kita sudah menaruh satu batu bata untuk kavling kita di surga. Begitu kata Romo Richard, Flo.” Amanda bercerita dengan penuh semangat.
“Iya, Nda. Selamat, ya. Lo udah menaruh semakin banyak batu bata untuk pondasi rumah lo di surga,” sahut Flo kalem.
Amanda kemudian menyadari sesuatu yang tidak biasa. “Ei, tunggu!” Amanda lalu memperhatikan Bima dan Flo dengan saksama secara bergantian. “Kalian udah duduk bareng aja.”
Flo jadi bingung menjelaskannya.
“Hati-hati lo, Flo. Di prospek sama dia entar,” ujar Manda memperingatkan. “Nih cowok emang sodara gue. Tapi gue nggak ridho kalau pacaran sama dia.” Amanda nampak serius dengan perkataannya.
Flo lega, sepertinya sahabatnya ini masih seperhatian dulu. Padahal mereka sudah cukup lama tidak keep in touch. “Tapi kalau sudah jodohnya mau digimanain lagi, kan?! Ya gue pasti dukung-dukung aja, sih.”
Seketika wajah Flo berubah masam. Cepat banget sih berubahnya.
Pandangan Amanda beralih pada Bima. “Hati-hati lo, Bim. Sohib gue nih. Kalau mau cuma one night stand, jangan sama dia. Cari cewek lain sana.”
Bima memandang Manda dengan kesal. Manda ini. Kenapa juga harus bicara seterbuka itu tentang petualangannya di depan gadis yang sedang diincar coba? Kalau saja bukan saudara sendiri. Pasti sudah ditendangnya sejak tadi agar berhenti bicara macam-macam yang bisa membuat Flo berubah pikiran.
Flo tentu saja bukan tidak mendengar dan menyadari informasi penting apa yang baru saja dia dapatkan dari mulut Amanda. Hanya saja dia cukup menikmati pukulan telak yang tidak perlu repot-repot dilemparkannya.
Tanpa perlu banyak petunjuk, dengan duduk bersama begini saja, itu sudah membuat Amanda membongkar info berharga seputar Bima. Setidaknya Flo jadi tahu bahwa Bima punya tujuan lain bukan sekadar mengajak minum dan ngobrol saja.
“Lo ngomong apaan sih, Nda? Pergi lagi aja sana!” usir Bima dengan jengkel. “Ganggu aja orang ngobrol.”
“Dih! Ini, kan, pesta gue. Yang harusnya gue usir ya elo lah kalau sampai bikin ulah.” Amanda membalas Bima tak kalah keras. “Lagian kita nggak satu KK, nggak jadi masalah kalau harus putus hubungan sodara. Daripada lo mainin perasaannya sahabat gue.”
Bima semakin kewalahan saja. “Berisik lah, Nda. Udah sana jamu tamu-tamu lo aja. Temen lo aman sama gue di sini.”
“Justru karena sama lo di sini, gue tahu temen gue nggak aman,” ujar Amanda telak. Kini dipandanginya Flo. “Lo jangan pergi gitu aja ya, Flo. Lo tahu gue nggak suka tiup lilin ulang tahun, jadi nggak ada ritual khusus apa-apa di pesta gue. Lo bisa balik kapan aja lo pengin. Cukup kabari gue aja. Oke?”
Flo mengangguk paham. “Iya, Nda. Sambut tamu-tamu lo dulu sana. Gue nggak apa-apa kok.”
Sebelum pergi, Manda sempat membisikan sesuatu pada Flo. “Jangan sampai dibawa pulang sama Bima. Lo nggak akan selamet.”
Mata Flo langsung terbelalak lebar.