Makhluk Menyebalkan Itu Punya Nama

1540 Words
Amanda Karen Gilbert adalah seorang perempuan paling ajaib yang pernah Flo kenal. Sejak menghabiskan tahun pertama bersama di SMP, siapa sangka Amanda justru menjadi sahabatnya yang paling awet sampai sekarang. Jika mau dihitung, sudah hampir sepuluh tahun lebih mereka saling kenal dan bersahabat.  Selain itu, Manda juga orang yang supel, ramah dan mudah bergaul dengan banyak orang. Kepiawaiannya membawa diri dan masuk dalam situasi baru membuatnya mudah sekali punya teman. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan Flo yang kaku, tidak pandai bergaul dan merasa bahwa beramah tamah dengan sekitar hanya membuang waktu. “Karena itulah lo nggak pernah punya hubungan yang serius,” komen Amanda di satu waktu menjelang kelulusannya di SMA. “Coba deh lebih luwes dalam berkomunikasi. Bukan sama cowok doang ya maksud gue. Tapi sama semua orang yang lo temuin.” Flo merasa kalau Amanda bawel sekali hari itu. Dan untuk menghindari omelannya yang bisa lebih panjang dari kamus Inggris-Indonesia versi revisi, Flo mengangguk cepat dan memberikan senyum manis ‘palsu’ terbaiknya. Namun, karena saat itu Amanda sudah mengenal Flo dengan baik, tentu saja dia tidak langsung percaya dengan senyum fiktif sahabatnya itu. “Lo ngangguk ngerti dan senyum begitu biar gue kagak ngoceh banyak-banyak, ya?!” “Ng, nggak gitu, Nda, jadi…” Flo mulai tergeragap. “I know you better, Florencia. You can’t lie to me,” ucap Amanda santai. “Oke, kali ini lo bisa lolos dari khotbah gue.” Dilipatnya tangan di depan d**a dengan air muka yang jumawa. Mirip sekali dengan tuan tanah yang sedang pamer kuasa. “Tapi lihat aja kalau sampai di masa depan lo masih punya kepribadian seburuk ini. Jangan salahin gue kalau gue push lo lagi buat ikut kencan buta. Paham lo?!” Flo tentu ingin protes dan Manda sudah hafal kebiasaannya tersebut. Jadi sebelum Flo melancarkan aksi interupsi, Manda bergegas memberinya sebuah kalimat tandas yang membuat Flo bungkam. “Tentunya lo lebih tahu akan sangat merepotkan yang mana, antara gue atau nyokap lo untuk urusan perjodohan.” Senyum tipis dan dingin Amanda sungguh bikin bergidik. “Jadi, silakan saja dipilih, ya.” Kalau jenis ancamannya semengerikan begitu, sih, siapa juga yang berani melawan? Flo akhirnya dengan pasrah hanya mengangguk pelan. Flo tidak ingin di masa depan Amanda benar-benar melancarkan rencana kencan buta untuknya. Makanya dia berusaha keras untuk mencari partner kencannya sendiri. Tentu saja tidak semua berhasil. Atau bisa dibilang, tidak banyak yang berjalan lancar. Seringkali para pria itu hanya tahan dengan Flo sampai di kencan atau pertemuan kedua. Di pertemuan selanjutnya, biasanya mereka menghilang begitu saja. Bahkan tak jarang ada juga yang langsung memblokir nomornya. Miris? Tentu saja. Padahal Flo sudah berusaha berpenampilan dan bersikap semanis mungkin. Flo juga sudah mengalah untuk lebih sabar dan menjadi pendengar yang baik bagi para cowok itu. Meskipun diantara mereka tidak ada satupun yang memberikan sebuah topik menarik saat mereka berbincang. Semuanya membosankan. Tidak ada cowok yang benar-benar membuat nalurinya haus akan rasa penasaran. Dari lima menit awal obrolan saja sudah bisa Flo tebak akan seperti apa ending dari percakapan. “Saya sudah cukup mapan untuk berumah tangga sekarang. Tapi itulah masalahnya. Saya belum menemukan gadis yang tepat,” ucap seorang cowok yang mari sebut dia Mr. X 1 untuk memudahkan. “Gadis yang tepat itu yang seperti apa, Mas?” Jelas itu bukan Flo banget untuk sopan memanggil lelaki yang bukan saudaranya dengan panggilan ‘Mas’. Andai Amanda mendengar ceritanya yang luar biasa inspiratif ini, Manda pasti bangga. “Cewek yang biasa diatur. Yang nggak perlu repot berkarir atau bekerja dan tinggal nurut aja sama suami dan mengurus rumah tangga.” Hmm, ini semakin menarik. Flo menahan senyum liciknya. “Kenapa memangnya kalau cewek bekerja atau berkarir, Mas? Bukannya bagus, ya?! Bisa membantu pasangannya dalam hal penghasilan?” Mr X. 1 menggeleng tegas. “Saya nggak butuh bantuan perempuan untuk mencari uang. Pangkat saya sekarang sudah tinggi dan penghasilan saya sudah dua digit.” Si Mr. X 1 itu kemudian memelankan suaranya. “Lagian cewek yang berkarir tinggi-tinggi itu biasanya sombong dan egois. Saya nggak suka kalau cewek terlalu mementingkan pekerjaan ketimbang keluarga.” Kini Flo tahu bahwa tidak akan ada pertemuan kedua dan seterusnya. Sudah cukup dari informasi yang dibeberkan Mr. X 1 ini. Pertemuan kedua, ketiga dan berikutnya Flo bertemu cowok-cowok dengan tipe dan model pikiran yang sama. Tapi karena hal tersebut jadi semacam hiburan untuknya, Flo menikmati setiap kalimat yang diutarakan mereka padanya. Sekarang paham bukan jika tidak ada satu cowok dari semua yang pernah terlibat kencan buta dengannya yang masih awet sampai sekarang? Namun hal tersebut bukanlah yang ingin disampaikan pertama kali saat berhadapan dengan Amanda. Sebab hari ini benar-benar kacau balau. Sejak siang tadi, kemudian kedatangan Mami sampai akhirnya berangkat ke kafe ini. Terlebih saat dirinya sedang hendak bercerita tentang peristiwa menyebalkan di parkiran tadi, Amanda malah memotong kalimatnya dan menyeretnya paksa entah ke mana kini. “Nda, gue tuh belum selesai ngomong loh,” keluh Flo putus asa.  “Hah? Lo ngomong apa?” sahutnya dengan suara tinggi. Flo hanya menggelengkan kepala. “Oke, terserah lo aja. Ini mau ke mana, sih?” tanyanya kemudian. “Kenalan sama sepupu gue,” jawabnya masih semangat. Amanda membawanya ke lantai dua kafe ini dan kemudian berhenti di dekat meja billiard dan memanggil seseorang. Flo sebenarnya tidak terlalu berminat mengenal salah satu keluarga Amanda. Cukup sekali saja dia berhubungan dengan keluarga Amanda, saat satu kali waktu, dengan terpaksa, Flo makan dan menginap di rumahnya. Sebuah pengalaman tak terlupakan itu masih sering membuat Flo merinding sampai sekarang. Mungkin karena merasa keluarganya adalah orang berpengaruh dan terpandang, ibu dan ayah Amanda sering menganggap jika Amanda tidak bisa sembarangan bergaul dan berteman. Sudah terbayang bukan di pertemuan pertama (dan Flo harap jadi yang terakhir juga) makan semeja dengan Tuan dan Nyonya Gilbert? Hidangan enak, mewah dan super lengkap di meja makan yang harusnya menggugah selera itu justru membuat Flo ingin melarikan diri secepatnya. Makan di bawah tatapan dingin dan wajah kaku seperti itu seakan berada di bawah todongan senapan. Jadi, jika saat ini Amanda ingin mengenalkan Flo dengan salah satu kerabatnya tentu saja tidak membuat Flo tertarik apalagi semangat. Flo juga heran kenapa Amanda bisa memiliki kepribadian yang lebih baik, hangat dan menyenangkan di antara keluarganya yang kaku seperti itu. Flo memperhatikan orang yang sedang main biliar dengan tatapan sedih. Dia sudah pasrah. Demi bisa menyenangkan Amanda, dia akan melakukan apapun hari ini. Termasuk menurut sahabatnya yang sedang berulang tahun itu. “Heh, sepupu. Sini, lo! Gue kenalin sama sahabat gue.” Terdengar suara Amanda memanggil seseorang di antara kerumunan orang. Flo mulai menoleh ke arah Amanda memanggil seseorang itu. Dengan gerakan lambat, seorang pria bertubuh tegap, dengan tinggi sekitar 178 cm dan memiliki wajah dingin, misterius dan sorot mata tajam perlahan mendekat.  Sesaat Flo terpaku. Sampai kemudian matanya menyipit dan mencoba memastikan. Tak lama kemudian matanya terbelalak. Kaget luar biasa. Cowok dengan kemeja flanel warna toska yang digulung sampai siku dan jins belel navy blue itu adalah... “Flo, kenalin ini sepupu gue yang beda umur cuma lima belas hari sama gue. Yang pernah gue ceritain ke lo waktu SMA,” ucap Amanda sambil menepuk baju cowok itu dengan wajah sumringah. “Namanya Bimasena. Dia baru balik dari Amerika lho.” Mustahil orang ini. Orang yang seenaknya menyerobot parkirannya tadi adalah sepupu dari sahabat terbaiknya?  “Kok lo bengong sih, Flo,” ujar Manda mengagetkan. “Ini lho Bima udah mengulurkan tangan, ngajak kenalan.” Flo pun tersadar. Dia kemudian menyadari juga bahwa cowok menyebalkan yang saat ini menyetel tampang sangat tenang tersebut memang sudah mengulurkan tangan. Mau tidak mau, Flo menyambut uluran tangan sepupu Amanda ini dan menyalaminya. “Bima!” ucapnya singkat dan tegas. Usai mengucapkan namanya sendiri, cowok itu tersenyum tipis. Senyum tipis seperti yang dia lihat di parkiran tadi.  Sudah jelas kalau cowok ini sepertinya memang mencari gara-gara dengannya. Fine. If you want to play the game. Let’s play the game, bisik Flo dalam hati.  “Flo,” balas Flo singkat. Tak lupa dia berikan senyum dingin yang agak menggoda. Dia sengaja menunjukkan senyumannya itu untuk membuat cowok ini masuk ke perangkapnya. “Gue seneng banget deh lo akhirnya bisa ketemu Bima. Dan, Bim, gue juga happy lo balik. Thank you udah dateng ke pesta gue,” ucapnya dengan riang lalu memeluk singkat leher Bima. “No problem, honey. Lagian gue udah lama juga kagak lihat wajah jelek lo. Jadi gue pasti sempetin dateng,” ujar Bima jahil lalu mencubit hidung Amanda dengan gemas. Eh! Kok cowok ini bisa bersikap manis begini. Flo diam-diam mulai mengamati. Sorot mata Bima menghangat ketika melihat Amanda. Tidak heran. Sepertinya hubungan kekeluargaan diantara mereka cukup baik. “Ih, resek lo!” Manda protes dan menyenggol bahu Bima dengan kesal. “Eh, Flo, Bima sekarang kerja di Jakarta lho. Di perusahaan… apa Bim, nama kantor baru lo?” Belum sempat Bima menjawab, seseorang datang mendekat dan menyapa Amanda dengan heboh.  “Amanda darling, oh my God!” Sudah disinggung di atas bahwa Amanda memiliki banyak sekali teman. Dari berbagai kalangan. Kali ini, seorang gadis dengan make up on point yang terlihat berlebihan untuk tema acara dan baju pesta dengan pernak pernik full satu gaun kemudian memeluk Amanda. “Oh, my God, Stella. Hi, how are you, babe?” “I’m fine, totally.” Stella kemudian memperhatikan penampilan anggun dan cantik Amanda malam ini. “Honey, you look so gorgeous tonight,” puji gadis bernama Stella tersebut dengan suara manjanya. Manda langsung tersipu. “I know,” balasnya. “Eh, lo udah ketemu Mario? Yuk, sini! Dia lagi di bawah sama Aldi. Eh, Bim titip Flo sebentar. Flo, gue ke bawah sebentar, ya. Yuk, babe.” Dan, begitulah. Ini bukan kali pertamanya Amanda harus bersosialisasi ke sana kemari dan menyapa semua orang yang mau hadir di hari bahagianya. Flo sudah maklum. Tapi kenapa harus ditinggalkan bersama cowok menyebalkan ini? Pakai ada kalimat dititipkan segala pula. Emangnya gue tas pake dititipin, keluhnya kesal. “So, Flo…” suara berat Bima membuatnya mau tak mau harus menoleh ke arah cowok itu. “Kalau dilihat dari dekat, lo menarik juga,” ucapnya sambil memandang lurus ke arah mata Flo. Flo bergeming.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD