Grisel sudah bangun dari tidurnya, entah kapan dia terlelap setelah dia menangis lagi semalam.
Sprei yang terdapat darah kemarin sudah Grisel minta ganti dengan yang baru. ia bahkan meminta di antarkan makanan untuk nya ke kamarnya ini. Grisel benar tidak mau melakukan apapun dia mencoba memulihkan tubuhnya sendiri.
Pagi ini Grisel kembali berendam di bathtub, dia berendam di air hangat yang sudah dia sediakan sendiri saat dia bangun tadi. Ia tengah meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Seorang anak yang beranjak dewasa kini terpaksa memahami semua yang terjadi, harus memikirkan solusi sendiri tentang masalah yang terjadi kepada dirinya, dia tidak tahu tempat untuk menceritakan masalahnya ini, kalau pun ada pasti mereka menganggap aku ini bodoh.
"Mungkin benar ia dilahirkan di dunia ini untuk berdiri di kaki sendiri tanpa dukungan siapapun. Bahkan sahabat ku sendiri tega memberikan ide gila ini kepada ku atas solusi permasalahan yang aku hadapi dalam hidupku ini. Apakah dia benar pantas disebut sahabat ?"
"Sudahlah Grisel, menyesal pun tidak ada gunanya, semua sudah terjadi begitu kata-kata orang yang tidak memahami nasib mu. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi kepada mu dan bagaimana kamu bisa bertahan sejauh ini."
Grisel memejamkan matanya kejadian malam kemarin masih terngiang-ngiang di pikirannya walaupun dia sudah mencoba untuk menghalaukan pikiran itu, tapi kejadian itu muncul kembali. Perlahan-lahan dia mengatur napasnya kembali mencoba untuk lebih tenang.
Setelah berendam lama, Grisel keluar dari kamar mandi dia melihat satu set pakaian lengkap dengan pakaian dalam di dekat sofa bed. Grisel bergegas untuk memakainya. Pakaian ini sudah dari kemarin, tapi Grisel lebih memilih memakai bathdrobe untuk tidur. Dia tidak memperdulikan yang ada di sekelilingnya, dia saja tengah berjuang melawan sakit pada tubuhnya sendiri.
Raihan membelikan baju untuknya bahkan dalaman pun dia beli, sungguh bentuk perhatian yang luar biasa, Raihan benar-benar sangat memperihatinkan penampilan ku. Gumam Grisel sarkasme.
Baju gaun seksi yang dia pakai kemarin berakhir tragis, baju itu sudah Grisel gunting-gunting dan dia masukkan baju itu tersebut ke dalam tong sampah.
Ia kini tengah meringis saat dia terlalu cepat bergerak.
"Ya Tuhan kenapa masih sakit sekali."
***
Grisel sudah melakukan cek out dari hotel tersebut, ternyata Raihan sudah membayar kamar ini. dia ternyata tahu Grisel akan menambah menginap disini lagi makanya dia memperpanjang waktunya. "Uang jutaan tidak membuat dia bangkrut buktinya dia memberi ku cek dengan nominal 10 Miliar apakah dia benar sekaya itu..?"
"Lihat saja Grisel sekarang tiba-tiba menjadi kaya mendadak. Siapa sangka orang yang keluar dari hotel ini dia sudah menukarkan keperawanannya demi uang 10 Miliar."
Saat keluar dari lobi hotel, lagi-lagi Grisel menabrak seseorang. Dia benar tidak memperhatikan jalannya.
"Maaf.." ucap Grisel dengan menunduk merasa bersalah.
"Eh, Nona yang kemarin kan." Pria ini tersenyum kepada Grisel yang sempat berbincang dengan nya kemarin.
Grisel benar tidak mau berbasa-basi lagi sama siapa pun, dia pengen secepatnya pergi dari tempat ini.
"Nona apakah kamu baik-baik saja ?"
Pria ini seperti nya sangat antusias sekali mengajak Grisel untuk berbicara, tapi sayangnya Grisel tidak tertarik sama sekali, bahkan tidak ada senyum lagi di wajahnya Grisel dia mengabaikan ucapan pria tersebut.
Grisel memilih meminta maaf ulang dan langsung pergi meninggalkan pria yang sempat Grisel temui kemarin dengan insiden menabrak seperti ini juga. Kini ekspresi Grisel berubah total.
"Kenapa dengan dia ? apakah dia berantem dengan kakak nya."
"Apa yang terjadi kepada dirinya?"
"Hei kenapa dia mendadak murung ?"
"Aku bahkan bisa menangkap ekspresi wajahnya, dia dalam keadaan sedang tidak baik-baik saja."
"Aaarghh baru kali ini aku kepo dengan kehidupan orang lain. Tapi, bajunya berbeda kali ini apakah terjadi sesuatu sama dia ?" Gumam Pria tersebut yang melihat Grisel tanpa ekspresi tadi membuat dia khawatir.
Pria itu kembali mengejar wanita tersebut ke depan tapi sayangnya dia tidak melihatnya lagi, entah kemana dia pergi. Wanita ini sungguh bikin aku penasaran.
***
Grisel kembali menatap langit siang ini seperti biasanya langit yang dia tatap sudah tidak seperti biasanya. Dia baru saja selesai memasukkan uang 10 miliarnya itu ke dalam rekeningnya. Pihak bank sempat curiga dia mendapatkan uang dari mana sebanyak ini. Grisel sudah menduganya ini akan terjadi kecurigaan kepada dirinya.
"Gila aja kan, cek 10 Miliar ada di tangan ku sekarang, wajar mereka banyak bertanya aku mendapatkannya dari mana."
Dengan ekspresi Grisel menyakinkan mereka, kali ini Grisel kembali berbohong dia menceritakan dia mendapatkan uang dari Daddy nya toh mereka juga tidak tahu Raihan itu siapa. Kalau mereka scroll di media sosial mungkin beda cerita lagi aku akan mencari solusi untuk mengarang cerita lagi. Grisel menjelaskan bahwa mommy dan Daddy nya tinggal di Amerika, kemudian Grisel bercerita lagi bawah kedua orang tuanya sudah bercerai. Mereka ikut perihatin tentang keadaan keluarga ku, alasan kedua ku lagi memperlihatkan hasil rongsen Fezya kepada mereka dan menceritakan tentang penyakit Fezya alami dan uang ini aku jadikan untuk pengobatan Fezya.
"Udah beres, semua uang 10 miliar berhasil masuk ke rekening ku, walaupun harus melakukan kebohongan lagi. "
Kini Grisel memilih berjalan kaki hari ini, keputusan yang tepat yang dia ambil seolah langit pun mendukung tentang perasaan hatinya yang tengah dia alami. Langit yang begitu cerah tadi perlahan berubah warna.
Awan kelabu mulai menguasai, menutupi jejak matahari yang tadi siang begitu garang memamerkan sinarnya. Kini, matahari pun sudah tak tanpa lagi ia terlihat lelah menampakkan dirinya membiarkan mendung berkuasa penuh. Udara sejuk membelai kulit, menyapu sisa-sisa gerah yang menempel pada kulitnya. Setiap ayunan langkah Grisel membawa ia semakin larut dalam ketenangan yang tengah berpikir keras.
"Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan." Gumam Grisel.
Grisel kembali melangkah menyusuri jalan, dia tidak tahu kemana langkah kakinya ini membawanya berjalan. Dia sudah lama tidak melakukan kegiatan seperti ini mungkin ini akan menjadi aktivitas terakhirnya, yang dia akan lakukan di hidupnya.
Rintik-rintik hujan mulai turun menyapa, tapi tidak menghentikan langkah kaki Grisel seperti orang lain memilih untuk berteduh, tapi Grisel masih melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalan ini.
"Luka dibadan emang bisa sembuh tapi kenangan buruk dalam hidup tidak akan sembuh begitu saja. Justru dengan aku menghilang dari dunia ini, itu sebuah bentuk damai untuk ku lagian siapa yang peduli kan, sepertinya ini adalah jawaban yang tepat untuk solusi masalah yang aku hadapi sekarang."
Langkah kaki Grisel kini sudah berhenti di sebuah jembatan, dia melihat ke bawah, sungguh sungainya terlihat tenang sekali mereka mengalir mengikuti arusnya. Airnya begitu jernih tidak ada yang mengotorinya, tapi kini sungai ini sudah terusik dengan rintik-rintik hujan mulai turun deras. Grisel menarik napas, rasanya sesak sekali pada dadanya.
Ponsel Grisel berbunyi sejak dari tadi. Sepertinya si penelepon sangat ingin sekali berbicara dengannya.
Hujan masih menggantung di udara, membasahi tubuhnya. Setelah berulang-ulang ponsel itu berbunyi Grisel akhirnya merogohkan tas kecilnya. Pandangan nanar itu tak pernah lepas dari layar ponselnya yang kini berkilau basah oleh air hujan yang memburamkan layar ponselnya. dalam pandangan nanar yang tak berkesudahan ini, di mana dunia luar seolah tak lagi memiliki makna untuk Grisel.
Dia cuma menatap saja layar pada ponselnya tersebut. Tidak berniat untuk menjawabnya.
Kevin is Calling.. !
Grisel memejamkan matanya. "Kenapa kamu masih bersikukuh mengejar-ngejar ku Vin, aku sudah menolakmu, aku bukanlah wanita yang sempurna, bahkan aku sudah kotor sekarang Vin."
Bibir Grisel kini nampak pucat, sudah tidak ada lagi kebahagiaan di wajahnya, dia tidak bisa tersenyum lepas bahkan dia tidak tahu ketawa bahagia itu seperti apa semuanya sudah redup. Bahkan air mata pun enggan untuk keluar lagi sekarang, karena Grisel sudah menumpahkan semuanya kemarin.
Grisel kembali menarik napasnya, tatapannya kini kosong menatap ke arah sungai di depannya. Grisel tidak peduli dengan aktivitas di jalan raya dengan kebisingannya, lagian semua orang sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing tanpa sadar ada seseorang gadis keturunan Bule ini, akan mengakhiri hidupnya di jembatan ini, dia akan terjun bebas ke dasar sungai di bawah sana.
Kini kedua tangan Grisel sudah berpegangan dengan pembatasan jembatan ini dan kakinya perlahan-lahan sudah menginjak pembatas besi.
Grisel menutup matanya dan mengambil napas dalam-dalam. "Fezya, Nenek, Kakek, Mommy dan Daddy tolong maafkan Grisel ya. Selamat tinggal." Bisik Grisel pelan.
Grisel sudah siap untuk terjun ke bawa. Air sungai yang bergejolak semakin ganas, arusnya menderu-deru seolah ingin menelan segala yang dilewatinya. Grisel, dengan jantung berdebar kencang namun tekadnya tidak luntur, akhirnya dia perlahan melepaskan pegangan eratnya pada pembatas besi yang dingin itu. Tubuhnya terhuyung sesaat, lalu oleng ke depan, siap untuk diterjang derasnya aliran yang tak kenal ampun. Namun...
"GRISEL... !!"
Sebuah tangan kuat tiba-tiba menyambar pergelangan tangannya, menariknya kembali dengan sentakan cepat, menghentikan aksinya Grisel, tepat di ambang batas. Grisel langsung ditarik turun, semua terjadi begitu cepat.
***