Setelah berendam lama di bathtub di kamar mandi hotel. Grisel mencoba menghilang remuk pada tubuhnya. Grisel terlihat menghela napasnya entah berapa kali dia menghela napasnya dari tadi, agar rasa sesak ini bisa berkurang agar dia bisa berpikir kembali langkah selanjutnya bagaimana sayang otaknya tidak berfungsi untuk sekarang.
Bagian Inti dibawahnya terasa sangat sakit sekali entah berapa kali mereka melakukan penyatuan itu tadi malam, sepertinya Raihan menghajarnya habis-habisan. Membuat dia merasakan
Setiap jengkal tubuhnya terasa remuk. Raihan sepertinya sengaja menghantamnya berulang kali saat Raihan menggerakkan badannya di bawah sana saat dia sudah merasakan kenikmatan itu. Seingat Grisel dia sempat protes sakit, tapi Raihan bilang 'dia akan menyesuaikannya, kamu tentang saja kamu akan merasakan nikmat juga nanti.' Ucap Raihan semalam seperti itu kepadanya. Aku benar sudah terpengaruh oleh minuman alkohol.
Untuk seterusnya aku tidak akan menyentuh minuman alkohol itu lagi, "sungguh bodoh sekali kamu Grisel kamu kira itu tidak ada efeknya justru minuman itu membawa petaka. " Dia kembali meruntuki dirinya.
Grisel jadi tidak bisa membedakan lagi mana ketulusan dan palsu pada ekspresi wajah Raihan saat seperti awal mereka ngobrol tadi malam yang cukup nyaman seolah dia benar laki-laki yang baik, berpegangan dengan ucapannya tersebut. Entah kenapa mereka berdua bisa terhanyut dalam gairah yang menggebu-gebu. Grisel pun heran biasa-biasa dia bisa kemakan rayuan Raihan
Setelah Kevin dulu memohon kepadanya kini Raihan lagi. Tadi, Raihan terdengar memohon kepada Grisel atas kesalahan yang dia perbuat dan mengajaknya untuk berbicara baik-baik soal kejadian malam tadi. "Sekarang aku benar tidak peduli sama sekali sama dia. Aku merasa kehancuran pada diri ku sendiri. Untuk apa lagi di bicarakan kita tidak bisa lagi kembali ke belakang. Ini bukan salah Raihan saja tapi ini juga salah dirinya, kenapa dia harus melemparkan dirinya sendiri kepada dirinya malam tadi hanya untuk uang. menyedihkan diri Grisel cuma gara-gara uang." Air mata ini mengalir lagi, entah kenapa sulit sekali di kendalikan.
Terdengar pintu kamar tertutup itu berarti Raihan sudah pergi, "dia benar mendengarkan apa yang aku ucapkan tadi kepada dirinya, aku tidak mau keluar dari kamar mandi ini sebelum dia pergi meninggalkan kamar ini terlebih dahulu."
"Ternyata pria sama saja br*ngseknya, padahal aku cuma pengen mengetesnya dengan cara mengertakkannya saja tadi, tapi sepertinya dia benar meninggalkan aku sendiri di kamar ini. Sudah jelaskan dia cuma menikmati tubuh ku saja semalam. Ucapan tadi hanya pemanis untuk menenangkan aku saja tapi yang jelas aku benar sudah hancur sekarang. "
Grisel menguyur tubuhnya dibawa shower yang mengalir deras dia menggosok tubuhnya secara kasar. "Aku sudah tidak perawan lagi Mommy, Daddy. Anak mu benar sudah hancur."
"Ah kenapa aku menyebutkan mereka di suasana begini, lagian mereka sudah tidak peduli dengan ku, aku mau hancur bahkan aku mati pun mereka sudah tidak peduli lagi kan?"
Mereka membuang ku sedang merayakan kebahagiaan mereka, sedangkan yang terbuang sedang mati-matian menerima kenyataan dan menanggung semua beban hidup ini.
Grisel menangis meraung. Grisel menjambak rambutnya sendiri, cengkeraman tangannya memutih saking kuatnya menggenggam tangannya itu dia menusuk telapak tangannya sendiri. Amarah yang mengamuk di dalam dadanya yang tidak bisa terkendalikan. Grisel benar sedang marah pada dirinya sendiri atas perbuatan yang dia lakukan.
Dengan tarikan napas pendek ia mengangkat tangannya, lalu menampar pipi kiri-kanannya sendiri. Namun Grisel bahkan tak bergeming. Ini adalah sebagai pengingat akan kebodohan yang telah ia perbuat. Wajahnya memerah, bukan hanya karena tamparan, melainkan karena malu yang membakar habis sisa-sisa harga dirinya.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" bisiknya parau, mengulangi kata itu berulang kali, menusuk dirinya sendiri. Penyesalan itu terasa seperti racun yang menggerogoti tubuh nya sendiri.
Tubuh Grisel meluruh ke lantai, air shower masih menyala kini Grisel meringkuk memeluk lututnya.
"Grisel bodoh, kini kamu sama seperti Mommy mu, layaknya seperti p*****r, p*****r. Kamu sudah hancur !!" bisikan-bisikan itu menghantam pikiran Grisel.
"CUKUP... !! DIAM.. !! "
"Aku tidak seperti Mommy. "Dia menutupi telinganya dengan kedua tangannya menghalau bisikan memprovokasi dirinya sendiri.
"Kamu sudah tidak perawan, kamu menghancurkan hidup sendiri..!"
Grisel kembali menutup kedua kupingnya.
"Cukup... Cukup... aKu bukan p*****r !!"
Grisel kembali menangis dia sangat menyedihkan. Tubuhnya sudah merah-merah di sekujur badannya ini, bukan karena Kissmark yang diberikan oleh Raihan tapi, dia menggosok tubuhnya terlalu kuat karena jijik pada dirinya sendiri.
"Kamu sudah hancur Grisel, sangat menyedihkan." Ucap Grisel dengan kelu. Dibawa dinginnya air Shower ia kembali menangis meratapi nasibnya.
Setelah berjam-jam di kamar mandi Grisel akhirnya keluar dia merasakan kedinginan namun, Dia tidak melihat Raihan berapa di kamar ini lagi.
Dan ternyata benar penyesalannya Raihan tadi cuma sesaat saja buktinya dia meninggalkan ku dalam kehancuran.Ucap Grisel dengan kelu.
Grisel maafkan, aku terpaksa harus meninggalkan mu sendiri, aku harus kembali ke kota ku ada hal yang mendesak. Kalau kamu hamil kamu boleh mencari ku dan hubungi aku ke no ini dan kalau kamu tidak mau hamil silahkan kamu minum pil kontrasepsi ini. Aku menunggu kabar dari mu Grisel. Ini cek aku titipkan untuk mu dan aku sangat menghargai mu Grisel.
Seketika kertas itu Grisel robek-robek menjadi kecil kemudian dia membuangnya ke tong sampah.
"Bangsat..! itu cuma omong kosong belaka, aku sangat membenci mu."
Grisel segera meminum pil yang di tinggalkan Raihan untuknya ini yang dia takutkan dia tidak mau hamil, sudah cukup orang tuanya membenci dirinya dan tidak akan ada anak-anak di hidup Grisel, lagi pula dia tidak mau menikah atau pun hamil. Dia takut bernasib sama dengan Mommy nya bercerai dari Daddy nya.
Grisel kini meringkuk di dalam selimut dia tidak peduli dia akan di usir dari kamar ini toh dia juga bisa membayarnya dengan cek yang di berikan Raihan
"10 miliar, akhirnya aku mendapatkannya dengan sangat mudah tidak perlu lagi aku banting tulang untuk kerja sana, sini lagi. "
Tangan Grisel kini memukul pelan dadanya, seolah mencoba mengusir sesak yang menyesakkan di dalam dadanya.
***
Grisel bangun dari tidurnya pagi ini. Dia Masih dalam kondisi lelah dia tidak sadar sudah tidur di kamar mewah ini.
Grisel sandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan dia melihat sekelilingnya. Hotel yang dia tempati sekarang sungguh hotel yang sangat mewah. Meskipun Grisel sudah terlihat tenang, nyatanya isi kepalanya masih dalam kondisi acak-acakan.
Banyak masalah yang terjadi pada dirinya membuat Grisel sedikit demi sedikit mulai membenci dunia ini. Dunia sungguh tidak adil pada dirinya. Pikirnya.
Dia mengambil ponselnya, dia mulai khawatir sama Fezya dari kemarin dia menonaktifkan nada ponselnya.
Ternyata benar ada beberapa panggilan tak terjawab dari Fezya, ada panggilan dari Cindy dan dari Kevin juga.
"Kenapa Kevin menelepon ku, aku sudah bilang aku tidak suka pada dirinya. Kenapa dia mengejar ku seperti orang gila saja, seperti tidak ada perempuan lain aja di dunia ini. Dan kamu akan menyesal sudah menyukai ku Vin, setelah kamu tahu kebenaran ini. Aku sudah tidak perawan lagi Vin.
Grisel memeluk lututnya dia kembali menangis.
Setelah beberapa menit dia merasakan tenang kembali, dia menghubungi adiknya terlebih dahulu.
Panggilan pertama langsung diangkat berarti Fezya mengkhawatirkan dirinya dan ponsel selalu dalam genggamannya.
"Hallo.. Kakak lagi dimana ? Zya khawatir, dari kemarin Zya telpon tapi kakak tidak angkat telepon dari Zya."
"Maaf.. kakak harus ke luar kota." Bohong Grisel.
"Hah ? K—keluar kota, Ngapain kak, kok kakak nggak bilang sama Fezya?
"Maaf kemarin itu mendadak jadi Kakak terpaksa pergi ke kota untuk persiapan kuliahnya Kakak bersama teman kakak, jadi harus konfirmasi secara langsung. Makanya mendadak kemarin. Maaf ya bikin khawatir mungkin besok Kakak akan pulang ke rumah." Bohong Grisel.
"Kakak yakin nggak papa kan ? Perasaan Fezya nggak enak dari kemarin.
Air mata Grisel yang tergenang tertahan di pelupuk matanya tiba-tiba langsung menetes lagi mendengarkan tutur kata dari adiknya.
"Hm, Kakak nggak papa Dek. Ya udah kakak tutup teleponnya dulu ya soalnya Kakak mau balik ke kampus lagi ada yang belum selesai nih."
"Bentar kak, Kakak nginap dimana ?"
"Hah, Oh ini rumah teman Kakak yang kebetulan dia juga di kampus yang sama dengan kakak."
"Oh syukurlah ada temen kakak Fezya kira Kakak sendiri tadi, ya udah Kakak hati-hati ya."
"Hm, bilang sama nenek dan kakek juga ya."
"Oke kak."
Panggilan itu berakhir begitu saja. Dia kembali mengedarkan pandangannya pada kamar ini entah berapa tarif semalam untuk menginapnya, yang pasti kamar ini adalah saksi mahkotanya direnggut.
Dia tidak tahu harus bagaimana, ini pengalaman pertamanya. Grisel sudah meminum pil kontrasepsi tadi, ia sangat berharap tidak ada kehidupan yang berkembang di rahimnya.
***