04. Berbagi rahasia

750 Words
Masih setengah mencerna kata-kata Niana, El-Fatih hanya bisa mengangguk sambil mengikuti kemana perempuan itu membawanya. Rasanya benar-benar lucu karena ada orang yang menghawatirkan uang bulanannya, sepertinya perempuan itu masih menganggapnya anak rantau yang datang jauh-jauh ke kota untuk kuliah. El-Fatih baru sadar dari lamunannya ketika sudah sampai di salah satu tenda pinggir jalan yang cukup ramai, bahkan ada beberapa mobil yang terparkir di sekitar tenda. Sepertinya tempat ini rumayan terkenal. Keduanya langsung menempati satu-satunya meja yang kosong, setelah Niana memesan dua piring nasi goreng spesial, menu andalan di tenda ini. "Kamu belum pernah makan disini?" El-Fatih menggeleng polos, lalu menumpuhkan kedua sikutnya di atas meja dan menatap Niana, "Lo biasa ngomong aku-kamu ke semua orang atau cuma ke gue doang?" El-Fatih balik bertanya, menuntaskan rasa penasarannya sejak pertemuan pertama mereka. Niana terkekeh kecil, "Aku asalnya dari daerah, kurang cocok aja kalau ngomong lo-gue ke orang. Kenapa ya... aku ngerasa kurang sopan aja, mungkin juga karena terbiasa dengan adat di daerahku. Jadi ebih nyaman pakai aku-kamu." El-Fatih mengangguk paham, "Emang lo---" El-Fatih berdehem, mendadak salah tingkah, "Maksud aku, kamu udah lama di jakarta?" Niana menggigit bibir bawahnya gemas, tiba-tiba merasa senang dengan alasan yang tidak jelas. Apa laki-laki itu sengaja merubah panggilannya karena dirinya? Niana memajukan tubuhnya seakan sedang berbisik, "Mau tau satu rahasiaku?" El-Fatih terlihat bingung, tapi tetap mendengarkan dengan senang hati. "Actually I ran away from home a year ago." Sebut saja dia gila karena Niana menikmati keterkejutan di wajah laki-laki itu. "Sekarang giliran kamu." Satu alisnya terangkat, menatap perempuan di depannya bingung. "I have to know your one secret in return." Jelas Niana pada akhirnya. El-Fatih terkekeh lalu ikut memajukan wajahnya dan berbisik, "My secret is... my money won't run out if I just pay for food." Niana memicingkan matanya, menatap lawan bicaranya dengan seksama. "Kamu---" "One meeting, one secret. Atau kalau kamu berniat buat ngasih tau semua rahasia kamu, aku nggak keberatan." Niana memicingkan matanya penuh minat, "Kayaknya kamu punya banyak rahasia deh!" Atta menganggkat bahunya acuh, "Everyone does have a secret, Niana." *** Seperti biasa, sabtu malam selalu menjadi family time yang paling berharga untuk di habiskan dengan orang-orang terdekat. Seperti saat ini, ketika El-Fatih selesai dengan kegiatan kampusnya, Aby yang enggan membawa pulang pekerjaan ke rumah memilih menghabiskan waktu dengan bermain game bersama putranya. Sementara Elena yang merasa hidupnya hampa setelah menikah, tidak bisa berbuat banyak selain menurut. El-Dream dan tiga cabangnya sudah di tangani oleh orang kepercayaannya, dia hanya menerima laporan dan hasilnya di akhir bulan. Jangan tanyakan apa yang bisa dia lakukan sebagai seorang ibu rumah tangga, karena Aby dengan lebay-nya mempekerjakan sejumlah orang untuk mengurusi rumah beserta isinya. Elena hanya bagian belanja karena itu memang hobby-nya. Sementara urusan dapur, kadang-kadang dia harus bersaing dengan Tri, koki di dapur. Karena menurut Aby, dia menikahi Elena untuk menjadi isteri dan ibu dari anak-anaknya, bukan menjadi pembantu yang mengurusi semua hal termasuk pekerjaan rumah. Jadi tugas seorang isteri menurut Aby adalah melayani suami dan mengurus anak. Tolong di garis bawahi. Saat keduanya tengah asik bermain game, Elena tiba-tiba berdiri di depan keduanya, menghalangi pandangan keduanya dari layar televisi. Sontak Ayah dan anak itu kelimpungan menengok ke kiri dan ke kanan dengan panik,  "Gosh! Mom, what are you doing?" "Why are you standing there? what---s**t! move aside, Elena." "Yes! I'm the winner." Seru El-Fatih bangga, di akhir permainan. Aby menatap Elena dengan wajah memelas, "Honey, why did you make me lose? Aku hampir aja menang kalau kamu nggak berdiri di situ." Elena menyilangkan kedua tangannya di d**a, menatap Aby dengan satu alis terangkat. "Oh! Jadi kamu nyalahin aku? Cuma karena kalah main game kamu marah? Really, Fabiyan?" Aby menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tiba-tiba merasa hawa di sekitarnya mulai panas. "Nggak kok sayang, kamu nggak salah. Yang salah itu game-nya." Aby tersenyum paksa, mencoba bersabar. "Jadi, sekarang tolong kasih tau aku... kenapa kamu tiba-tiba berdiri di depan tv?" Dan bikin aku kalah. Lanjut Aby dalam hati. Elena tiba-tiba meletakan beberapa foto di atas meja, tepat di depan El-Fatih. "Ada yang bisa kamu jelasin soal foto-foto ini?" deg! Itu adalah foto-fotonya bersama Niana. Dari insiden kotak makan di Cafe, saat dia menunggu Niana keluar dari toko bunga, saat keduanya makan di pinggir jalan dan beberapa foto lainnya saat keduanya sedang tertawa bersama dengan posisi yang cukup dekat. Siapapun yang melihatnya akan berpikir jika dua orang yang berada dalam foto tersebut adalah sepasang kekasih. Sial. Umpatnya dalam hati. El-Fatih lupa dengan keberadaan keempat Bodyguard-nya. "Temen, Ma." "Masa? Keliatannya lebih dari temen." El-Fatih berdehem canggung, wajahnya tiba-tiba memerah. "Enggak kayak gitu Ma, aku dan Niana..." "Oh! Jadi namanya, Niana. She's a beautiful girl." Elena menatap El-Fatih dengan senyum menggoda, lalu memilih duduk di samping Aby. "I think, you should prepare yourself to be a grandfather."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD