05. Kurang sial apalagi?

813 Words
"Mama sengaja ya?" Tuduh El-Fatih langsung ketika Elena memintanya berhenti di sebuah toko bunga yang tampak tidak asing di matanya. El-Fatih menatap ibunya penuh curiga. Namun Elena tetaplah Elena, ibu satu anak itu tetap bersikap tenang meski tau anaknya sedang memendam kekesalan yang nyaris membuat ubun-ubunnya mengeluarkan asap. "Sengaja apa sih?" Tanyanya dengan tampang polos, seolah tidak ada yang salah dengan keinginannya untuk mampir ke toko bunga itu. El-Fatih menggerutu tertahan, "Ya, tapi kenapa harus disini sih? Kan bisa beli di tempat lain." Elena menyilangkan tangannya di d**a, menatap anaknya lurus-lurus. "Pertanyaan yang sama. Kenapa Mama nggak bisa beli bunga di toko itu?" El-Fatih mendesah frustasi, mengacak rambutnya kasar. "Okay fine, we go down." Elena tersenyum puas lalu menyusul anaknya. Begitu pintu itu di buka, pemandangan perempuan cantik yang sedang tersenyum langsung menyambut mereka, meski terlihat keterkejutan di mata perempuan itu ketika matanya menangkap keberadaan El-Fatih namun sikapnya tetap tenang. Perlahan senyum perempuan itu surut, berganti dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Entahlah! "Mau cari bunga apa, Kak?" Tanyanya ramah. Wait---Kak? Batin Elena. Elena mengulum senyumnya, melirik El-Fatih yang sedang menatapnya horor. Seperti tidak menyangka ibunya di panggil dengan sebutan 'Kak'. Meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja rasanya aneh ketika itu Niana. Sering kali teman-teman kampusnya mengira Elena adalah pacarnya ketika berpapasan di Mall, penampilan Elena yang jauh dari kesan glamor khas ibu-ibu sosialita sering kali membuat orang salah paham. Elena lebih suka mengenakan mini dres atau kadang kaos oversize dan celana ripped jeans jika Aby sedang melakukan business trip. See? Siapa yang akan berpikir jika ibu satu anak itu sudah hampir berkepala lima? Mengabaikan sosok di sampingnya, Elena kini fokus meneliti sosok perempuan manis di depannya. "Menurut kamu, bunga apa yang cocok untuk di kasih ke sahabat saya?" Niana terlihat berpikir, lalu bergerak ke arah bunga-bunganya dan kembali dengan dua jenis bunga dengan warna yang cukup kontras di tangannya. "Bunga lavender, artinya kesetiaan. Kalau lili putih ini, artinya persahabatan. Kalau keduanya di gabungin, selain warnanya yang cantik juga memiliki arti yang cukup dalam." Jelas Niana. Jelas sekali jika sekarang El-Fatih seperti orang t***l yang secara terang-terangan menunjukan tatapan kagumnya. Bagaimana tidak, sejak tadi laki-laki itu bahkan tidak berkedip sekalipun jika tidak segera di sadarkan oleh Elena. Elena sedikit berjinjit untuk berbisik di telinga El-Fatih, perbedaan tinggi badan membuatnya sedikit kesusahan meskipun sudah mengenakan hak setinggi 7cm. "You are really in love with her, I can see it." El-Fatih berdehem salah tingkah, sekilas melirik Niana yang menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca. Sebelum dia memutuskan untuk kembali menatap ibunya, "Not now, Mom. Please?" Ujarnya nyaris berbisik dengan tatapan penuh peringatan. Bukannya berhenti, Elena malah terkekeh santai sambil kembali menatap Niana. "Kamu bisa bungkus bunga itu untuk saya? Perpaduan warna dan artinya saya suka." Niana tersenyum lebar dan mengangguk, "Kakak mau berapa tangkai bunganya?" Hal yang tidak terduga terjadi di sampingnya, El-Fatih tiba-tiba mendengus kesal ketika mendengar ibunya di panggil 'kakak' lagi. Laki-laki itu secara terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya atas panggilan itu, meskipun Elena sendiri terlihat tidak keberatan. Seakan menyadari raut kebingungan di wajah Niana, Elena terkekeh kecil. "Maaf ya, El-Fatih emang ngeselin. Nggak bisa di ajak nyantai dikit, persis kayak Bapaknya." Jelas Elena sambil terkekeh anggun. Niana mengernyit bingung. Meski tetap mengulas senyumnya, dalam hatinya bertanya-tanya siapa perempuan anggun yang terlihat berkelas di depannya saat ini. Dan yang lebih mengganggu pikirannya lagi, ada hubungan apakah El-Fatih dan perempuan itu? Mereka terlihat akrab, seperti ada ikatan yang membuat dua orang itu seperti tidak mempunyai jarak. Dan ngomong-ngomong soal El-Fatih, apakah hubungan mereka memang sudah sejauh itu sampai saling tau tentang keluarga masing-masing? Ya Tuhaaan, ada apa sama pikiran kamu Niana? El-Fatih bukan siapa-siapa kamu, bebaslah kalau dia mau jalan sama perempuan cantik ini. Tapi kenapa, disini kok rasanya nyessek ya? Batin Niana, sambil menyentuh dadanya. *** "Lo apain si ganteng? Kok mukanya cemberut gitu?" Gita, salah satu sahabat Elena menyambut kedatangan mereka dengan tatapan penuh selidik begitu melihat wajah tampan El-Fatih. Elena lagi-lagi tertawa, kembali mengingat kejadian tadi. "Dia ngambek sama gue karena gebetannya manggil gue kakak." Kali ini Gita-pun ikut tertawa, bahkan sampai mengeluarkan air matanya. "Aku nggak ngambek. I just don't like you making Niana misunderstand, Mom. Dia pasti udah mikir yang enggak-enggak tadi." Serunya kesal lalu menghempaskan punggungnya kesandaran sofa. "Aaah! Jadi kamu takut siapa tadi namanya Nin---" "Niana, Tan." Ralat El-Fatih cepat. Meski tidak bisa menutupi nada kesalnya. Gita kini mengulum senyumnya dengan tatapan menggoda, "Kalau kamu takut dia mikir macem-macem, ya jelasin dong ke dia. Gampang kan?" El-Fatih lagi-lagi memberi tatapan frustasinya, "Masalahnya, aku bingung gimana cara jelasinnya, Tan. Kita nggak punya hubungan apa-apa, masa aku tiba-tiba datang dan langsung bilang 'hey, that's my Mom. Even though she looks young but she's the mother of one child.' Dan biarin Niana berpikir selain gembel, aku juga nggak waras. No, thanks Tan. Lebih baik aku diam." Jelasnya berapi-api. "Wait---tapi kenapa dia berpikir kalau kamu gembel?" Tanya Gita heran. "What? Siapa yang berani ngatain kamu gembel?" Tanya Elena histeris, tatapannya kali ini serius. El-Fatih menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, takut-takut menatap ibunya yang sedang dalam mode siap menerkam. El-Fatih berdehem pelan, "Jadi gini, Ma..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD