06. Penjelasan

859 Words
Lalu mengalirlah cerita El-Fatih, asal mula pertemuannya dengan perempuan bernama Niana Paramesti yang dengan polosnya mengira El-Fatih adalah anak rantau yang saat itu terlihat menyedihkan dengan kaos yang di sebut gembel dari salah satu brand terkenal. "Biarin aja Niana mikirnya kamu gembel, biar dia juga pikir-pikir kalau mau terima kamu jadi pacarnya." Ujar Elena ketus, sambil bersidekap menatap tajam anaknya. Di sampingnya Gita masih tidak bisa berhenti tertawa sejak tadi, "Sakit perut gue, lama-lama." Gita menatap El-Fatih sambil menahan perutnya, masih dengan sisa-sisa tawanya meski sudah tidak sekeras tadi. "Papa kamu itu tajirnya sampai di kepoin sama Forbes loh, El. Masa anaknya di kira gembel." Ujarnya tidak habis pikir. El-Fatih hanya bisa meringis, serba salah. Meskipun bukan keinginannya untuk terus menutupi kenyataan yang ada, namun El-Fatih tidak menampik kenyataan bahwa dia juga menikmati kebersamaan mereka. Lagipula kesalahan tidak sepenuhnya berada di tangan Niana, keterdiamannya selama ini juga secara tidak langsung ikut membenarkan segala asumsi perempuan itu. Meskipun dia punya banyak kesempatan untuk menjelaskan. Tanpa bisa di cegah, pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba datang mengusiknya. Apakah sikap Niana akan tetap sama jika tau bahwa El-Fatih bukanlah mahasiswa rantau yang terlihat menyedihkan seperti yang dia pikirkan? Apakah mereka tetap akan sedekat sekarang jika saat itu El-Fatih membantah tegas semua asumsi perempuan itu?  Dan El-Fatih hanya bisa berharap jika Niana tidak akan membangun tembok di antara mereka setelah tau kebenarannya. Gita menepuk puncak kepala El-Fatih dua kali lalu tersenyum menenangkan, "Jangan mengulangi kesalahan orangtua kamu, ganteng." Gita melirik Elena sebentar lalu kembali menatap El-Fatih. "Cukup Mama-Papa kamu aja yang drama percintaannya bikin pusing semua orang." Gita menggeleng pelan begitu teringat kisah cinta Aby dan Elena dulu. "Jelasin semuanya ke Niana. Nggak ada hubungan yang berakhir baik jika di mulai dengan kebohongan, El. Meskipun kedepannya nggak akan mudah but if you feel she is worth fighting for, fight to get it. Maju terus sampai titik darah penghabisan. Jangan ada drama-drama melepaskan lalu pura-pura berusaha mengikhlaskan, sama aja dengan menyiksa diri sendiri. Don't do it, it's the stupidest decision your parents ever made in the past." Titahnya tegas, penuh peringatan. *** Niana tersentak kaget ketika merasakan tangannya tiba-tiba di tarik paksa oleh seseorang. Saat matanya menangkap sosok yang saat ini menatapnya tajam, seluruh tubuhnya menegang. Sungguh, dari semua ketidakmungkinan yang dia pikirkan... bertemu dengan Raysaka Idrus adalah bencana. "Ka-kamu?" "Pulang!" "Nggak, Ray." "Gue bilang pulang, Niana." Bentak laki-laki itu. "Ak-aku nggak bisa. Tolong biarin aku pergi, Ray. Kamu nggak ngerti!" Tolak Niana dengan suara terbata-bata, dengan wajah memelas hampir menangis. Ray menggeram marah, mencengkeram kuat lengan Niana. Tidak peduli jika sikapnya akan melukai tangan perempuan itu. "Gue nggak mau tau, pokoknya lo ikut gue sekarang. Lo harus pulang sama gue dan---" Ray menunjuk wajah Niana penuh amarah. "Berhenti kabur dari rumah dan bikin semua orang susah nyariin lo kemana-mana, sialan!" "Awh! Sakit, Ray. Lep-pas!" Niana terisak sambil mencoba membebaskan diri dari cengkeraman laki-laki itu---yang sialnya tidak berguna sama sekali karena jelas kekuatan Ray jauh lebih kuat dan mampu menyeretnya ke sebuah mobil, namun sebelum tubuhnya terdorong paksa ke dalam mobil, Ray tiba-tiba jatuh tersungkur di belakangnya dengan seseorang yang kini tengah berada di atas dan menghajar Ray dengan membabi buta. Sekilas Niana memang tidak mengenalnya, namun ketika laki-laki itu menghampirinya lalu mengusap pipinya yang basah dan menatapnya hawatir, Niana tau jika seluruh hatinya sudah di miliki oleh laki-laki itu. Sebelum El-Fatih menarik Niana pergi meninggalkan Ray yang tengah sibuk mengusap hidung serta sudut bibirnya yang tengah berdarah, El-Fatih sedikit membungkuk mendekatkan mulutnya ke telinga Ray. "Touch her, then I make sure you will lose both of your hands." Ancamnya tidak main-main. Ray sendiri bisa merasakan tatapan tajam laki-laki itu, terlihat berbahaya dan tidak tersentuh. El-Fatih menepuk pipi Ray beberapa kali sebelum melenggang pergi bersama Niana. Tangan keduanya masih saling bertaut, saling berbagi kehangatan yang mampu memberi rasa aman bagi Niana. "Kita mau kemana?" Tanya Niana ketika mobil yang di kendarai El-Fatih berhenti di depan gedung dua lantai yang sepertinya adalah kos-kosan yang cukup elit karena hampir seluruh isi parkiran ini di penuhi oleh kendaraan roda empat. El-Fatih mematikan mesin mobilnya tanpa berniat untuk turun, hanya melepas seatbelt dan memutar tubuhnya menghadap Niana. Menatap perempuan itu dengan intens. "Kamu nggak pa-apa?" "Ha? Oh iya, aku nggak pa-apa kok. Untung ada kamu." Niana kini menunduk, memainkan jari-jarinya. "Aku nggak tau apa yang akan terjadi kalau sampai kamu nggak dateng." Sebenarnya ada yang lebih membuatnya penasaran, laki-laki itu jelas mengenal Niana. "Kamu kenal sama orangnya?" Tanyanya datar, berusaha terlihat tenang meski sebenarnya rasa ingin taunya nyaris membuatnya gila sejak tadi. Niana menggigit bibir bawahnya gelisah, ragu-ragu dia menatap El-Fatih. "Ray itu sepupu jauh aku, alasan kenapa dia sekasar tadi juga mungkin karena dia tau aku kabur dari rumah." Niana mendesah frustasi, "Padahal aku udah berhati-hati nyari tempat tinggal yang paling jauh jaraknya dari rumah mereka. Kenapa tuh anak bisa tiba-tiba---" "Sedekat apa hubungan kalian?" "Hah?" Niana melongo, mengerjap beberapa kali. "Ini pertama kalinya aku ketemu dia lagi setelah bertahun-tahun. Kenapa?" El-Fatih menutup matanya rapat-rapat, menghembuskan napasnya panjang lalu kembali menatap Niana tepat di manik matanya. "If I say I'm in love with you, do you believe?" Niana membuka mulutnya lalu menutupnya kembali, mendadak tidak bisa berkata-kata. "Kamu nggak harus jawab seka---" "Aku percaya sama kamu." Jawab Niana cepat. Perlahan senyum di wajah El-Fatih terbit, laki-laki itu mengalihkan pandangannya dengan senyum tertahan. Berharap Niana tidak akan menyadari wajah merahnya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD