07. Hari pertama kita

931 Words
"Kita ngapain disini?" Tanya Niana karena sejak tiga puluh menit yang lalu---mereka tidak kunjung bergerak dari parkiran, laki-laki itu hanya menyuruhnya menunggu dan sesekali mengotak-ngatik ponselnya. "Sebentar..." El-Fatih mengetikkan pesan di ponselnya, berharap seseorang yang sedang dia mintai bantuan itu bisa bergerak lebih cepat. Tidak lama kemudian dia memasukan ponselnya ke dalam saku celana lalu menatap Niana, "Sorry, kamu mau ngomong apa tadi?" "Kita ngapain disini?" Tanya Niana lagi, lama-lama dia juga bosan berdiam diri di dalam mobil sport ini. Pandangannya menyapu ke seluruh sudut mobil yang terlihat mewah, "Dan ini mobil siapa?" El-Fatih mengerjap beberapa kali, otaknya berpikir keras mencari alasan yang masuk akal untuk di terima oleh perempuan itu. El-Fatih terlalu takut jika harus jujur sekarang. Jangan sampai hari ini jadi hari pertama sekaligus hari terakhir kita. God! Gue masih pengen lebih lama lagi sama perempuan ini. Batin El-Fatih. El-Fatih berdehem pelan, "Ini mobil temen aku---" Tok! Tok! Seseorang mengetuk kaca mobil El-Fatih, menarik atensi keduanya. Dan jangan lupa ingatkan El-Fatih untuk berterimakasih kepada Rafa, si penyelamat yang saat ini berdiri di depannya dengan napas terengah-engah, sepertinya laki-laki itu benar-benar bergerak cepat sesuai dengan perintahnya. "Sialan lo! Permintaan lo nggak kira-kira anji---Eh! Siapa?" Rafa menatap penasaran sosok Niana yang baru saja turun dari mobil, lalu kembali menatap El-Fatih dengan pandangan menyelidik. Rafa maju beberapa langkah dan berbisik, "Jangan kayak orang susah ya, anjing. Lo bisa nyewa hotel ngapa---Setan! Sakit!" Rafa mengumpat kesal sambil mengusap belakang kepalanya, kali ini sepertinya El-Fatih benar-benar totalitas ingin menggeserkan otak Rafa. "Ngomong sembarangan lagi, gue hajar lo." Ancamnya lalu melemparkan kunci mobil yang langsung di tangkap Rafa, "Mana kuncinya?" Todongnya langsung. Rafa berdecak kesal, lalu menyerahkan kunci lain yang baru di ambilnya dari saku celana sebelah kanan. "Ini kunci kamarnya, nomor 17 ada di lantai dua, dan---" kembali dia menyerahkan satu kunci lagi, "Jagain Angel baik-baik, kalau sampai dia lecet gue jambak lo." Ancamnya balik. Lalu beralih menatap Niana dengan senyum menggoda, "Boleh kenalan nggak?" El-Fatih langsung melotot kesal, sebelum tangannya kembali di layangkan ke kepala Rafa seseorang sudah lebih dulu menyentuh lengan El-Fatih dengan usapan lembut. Dan El-Fatih tiba-tiba menegang begitu menyadari siapa pelakunya, perempuan yang saat ini menatapnya polos seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal dia baru saja membangunkan singa yang tertidur. Niana mengusap lengan kekar itu sambil tersenyum manis, seolah menenangkan El-Fatih yang sudah siap menerjang lawannya. Lalu tangannya terulur menyambut tangan Rafa, "Niana." Rafa terbelalak, matanya meneliti penampilan Niana dari atas sampai bawah. Sedetik kemudian, dia menggerling jahil ke arah El-Fatih. "Oh jadi ini..." Rafa mengangguk beberapa kali dengan tampang menyebalkan, "Gue Rafa. Salam kenal ya, Adik ipar." Sedetik kemudian tangan keduanya terlepas paksa, pelakunya berdiri dengan tampang kesal. "Heh! Sejak kapan gue jadi adik lo? Nggak ada ya, sana cabut." Usir El-Fatih tanpa perasaan. Bukannya tersinggung, Rafa malah terbahak puas sambil membuka pintu mobil El-Fatih lalu duduk di balik kemudi dan menurun kaca, "Have fun ya, Adik ipar. Jangan lupa pakai pengaman, El-Fatih bahaya soalnya." Ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan senyum menggoda. Dan sebelum otaknya benar-benar bergeser, Rafa langsung tancap gas meninggalkan pasangan baru itu dengan wajah memerah antara malu dan menahan kekesalan. Niana hanya bisa menunduk malu, tidak kuasa menatap El-Fatih yang saat ini tengah menggenggam tangannya, membawanya masuk ke dalam bangunan dua lantai itu. Begitu mereka sampai di lantai dua dan melewati beberapa pintu dengan masing-masing angka di pintunya, keduanya akhirnya berhenti di salah satu pintu kamar dan menunggu El-Fatih membuka pintu itu dengan kunci yang tadi di berikan oleh Rafa. Begitu pintu terbuka, Niana langsung menganga tidak percaya. Isi kamar ini lebih pantas di sebut mini apartemen di bandingkan kamar kos---seperti yang dia bayangkan. Bagaimana tidak, selain fasilitas mewah seperti tempat tidur yang cukup luas untuk ukuran satu orang, televisi, AC, kulkas mini, lemari dua pintu serta sofa mini yang menempel di ujung tempat tidur tepat menghadap ke arah televisi. Kamar ini juga di fasilitasi dengan kitchen set mini dan meja bar serta dua buah kursi kayu yang membatasinya dengan area tempat tidur. Wow! Niana tidak berhenti berdecak kagum, meski kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. El-Fatih menghentikan langkahnya memasuki kamar itu, berbalik menghampiri Niana yang mematung di depan pintu kamar. Seakan menyadari ketakutan perempuan itu, El-Fatih menatapnya tepat di manik matanya. "Kenapa nggak masuk?" Niana menunduk, jari-jarinya saling meremas gelisah. "Kamu ngapain ngajak aku kesini?" Tanyanya pelan, terdengar ragu. El-Fatih mengulum senyum, tangannya reflek menyentuh dagu perempuan itu dan mempertemukan mata mereka. "Kamu percaya sama aku?" Ragu-ragu Niana mengangguk, membiarkan El-Fatih kembali menggenggam tangannya memasuki kamar itu. *** "Aku nggak bermaksud untuk mengatur hidup kamu, tapi aku juga nggak bisa diam aja setelah apa yang aku liat tadi." El-Fatih menatap Niana serius, "Please Niana, hanya untuk sementara sampai aku rasa keadaan di sekitar tempat kerja kamu aman." Ada jeda beberapa saat, Niana tampak berpikir. "Terus, kamu gimana kalau aku tinggal disini?" Matanya kembali meneliti isi kamar, "Kita nggak mungkin tidur bareng kan?" Tanyanya was-was. Sedetik kemudian tawa El-Fatih pecah, dengan gemas dia mengacak-ngacak rambut Niana. "Ya enggaklah! Aku bisa tidur dimana aja, selama kamu aman disini." Ujarnya tulus. Deg! Niana memandang El-Fatih dalam, perhatian yang di berikan oleh laki-laki itu membuatnya bahagia sekaligus terharu. Perasaannya memang belum sampai ke tahap 'ingin memiliki dan takut kehilangan' tapi dia cukup yakin jika dia benar-benar sudah mencintai laki-laki ini. Perlahan sudut bibirnya terangkat, Niana tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sontak hal itu membuat El-Fatih bergerak panik, "Eh! Kamu kenapa? Kok nangis? Aku salah ngomong ya?" Niana terkekeh sambil mengusap pipinya yang basah, "Aku nggak pernah tau sebelumnya kalau ternyata, di sayang sama seseorang itu bisa sebahagia ini. Terimakasih, El." El-Fatih menghembuskan napasnya lega lalu menarik Niana ke dalam pelukannya. Entah kenapa pelukan ini terasa begitu hangat tanpa ada rasa canggung sama sekali, Niana tersenyum dan dengan berani mulai membalas pelukan itu. El-Fatih datang dan menawarkan kebahagiaan yang baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD