Widi berlari menghampiri mobil Papanya, disana ada Wida, Papa, dan Mamanya yang sedang menunggu Widi sambil mengobrol dan tertawa bersama. Mereka tidak menyadari bahwa Widi baru saja mengalami patah hati yang sangat menyakitkan. Widi pun melintas diantara ketiganya sambil berkata, “Ayok kita pergi sekarang!” dengan nada yang tergesa-gesa. Dia ingin segera meninggalkan tempat itu. Dia ingin segera melupakan semua kenangan buruknya dengan Abi.
Ketiganya pun heran dengan sikap Widi. Papa dan Mamanya pun saling menatap heran lalu memasuki mobil. Mereka tidak mengerti mengapa Widi terburu-buru. Mereka tidak tahu bahwa Widi sedang berusaha menahan tangisnya.
Wida menutup pintu mobilnya dengan bingung dan beberapa kali menatap Widi yang terlihat kesal. Dia merasa ada yang aneh dengan Widi. Wajah Widi terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Terlebih Wida adalah saudara kembar Widi, dia pasti bisa merasakan bagaimana suasana hati kembarannya itu.
“Baiklah, ayok kita berangkat. Da, Di, baca doa dulu jangan lupa.” kata Papa Widi yang sudah bersiap mengemudikan mobil. Dia mereka selamat sampai ke tempat tujuan.
“Iya Pa.” jawab Wida yang masih saja heran dengan Widi yang terdiam. Dia ingin tahu apa yang terjadi dengan kembarannya itu.
Mobil pun melaju. Di dalam perjalanan menuju Jakarta, Widi terlihat sibuk memblokir semua kontak dan akun sosial milik Abi. Dia tidak mau lagi berhubungan dengan Abi. Dia tidak mau lagi melihat foto-foto Abi. Dia juga tidak mau lagi mendengar suara Abi. Dia ingin menghapus semua tentang Abi dari hidupnya.
Widi juga terlihat mengeluarkan sim card dari ponselnya lalu dia sengaja mematahkannya hingga berkeping-keping. Dia melampiaskan kemarahannya pada sim card itu. Dia merasa sim card itu adalah saksi bisu dari hubungannya dengan Abi.
Wida yang melihat sikap Widi pun sedikit heran. Dia merasa khawatir dengan sikap Widi.
“Kok dipatahin sih Di, kenapa?” tanya Wida dengan nada penasaran. Dia ingin tahu alasan Widi mematahkan sim cardnya dan apa yang sebenarnya terjadi.
“Nggak apa-apa kok, kayaknya sim card aku ke blokir, Da.” jawab Widi dengan bohong.
“Kok bisa sih ke blokir?” tanya Wida dengan heran.
Widi hanya mengakat kedua bahunya dan kembali melanjutkan aktifitasnya. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Wida.
Widi benar-benar sangat kecewa dan memutuskan untuk memutuskan hubungannya sepihak dengan Abi. Dia merasa Abi sudah mati baginya.
Sementara itu, di rumah Abi, suasana pun tidak jauh berbeda. Abi juga merasa sangat sedih dan menyesal. Abi terduduk di lantai dengan wajah yang murung. Dia masih mendengar suara Okan yang mencoba menenangkannya.
“Bi, kamu harus tenang Bi. Ini semua cuma salah paham. Widi pasti bakal sadar kalau dia udah salah faham. Kamu harus sabar ya.” kata Okan yang berusaha menghibur Abi. Dia tahu Abi tidak bersalah. Dia juga yakin kalau Abi dan Widi bisa berbaikan lagi.
“Tapi Kan, Widi nggak mau dengerin aku. Widi udah nggak percaya lagi sama aku. Dia aja udah ninggalin aku sekarang.” kata Abi dengan suara yang parau. Dia merasa putus asa dan tidak ada harapan lagi.
“Jangan gitu Bi. Widi itu pasti kangen sama kamu. Nanti juga dia pasti balik lagi ke kamu.” kata Okan yang berusaha meyakinkan Abi.
“Kamu yakin Kan?” tanya Abi dengan nada yang lemah. Dia merasa tidak yakin.
“Yakin dong Bi. Aku kan temennya kamu sama Widi. Aku tau perasaan kalian berdua itu kaya gimana bucinnya.” kata Okan yang berusaha memberi semangat pada Abi.
Abi hanya terdiam mendengar perkataan Okan.
***
Enam bulan sejak kepindahan Widi ke Jakarta, Abi selalu mencoba untuk menghubungi Widi namun hasilnya selalu saja nihil. Nomor Widi selalu saja tidak dapat di hubungi. Di tambah juga akun sosial media milik Widi yang tiba-tiba menghilang dari daftar teman Abi membuat Abi frustasi dan bingung harus bagaimana lagi. Abi merasa mungkin Widi memang sudah melupakannya dan tidak menyayanginya lagi.
“Udah biarin aja dulu, mungkin Widi masih dalam keadaan labil makanya dia belom mau ngehubungin kamu, Bi.” kata Okan menepuk-nepuk Abi lembut. Dia juga cukup merasa sedih dengan perubahan temannya yang sedang patah hati.
Abi pun terdiam. Abi tidak bisa menyangkal kata-kata Okan. Tapi waktu enam bulan bukan waktu sebenetar untuk menunggu sebuah kabar.
Abi tahu Widi pasti masih marah padanya. Tapi walaupun Widi tidak mengatakan tentang kepindahannya ke Jakarta pada Abi, Abi masih sangat menyayangi Widi. Walaupun memang saat itu Abi meninggalkan Widi sendiri di sungai hingga Abi tidak mau merespon semua chat dan panggilan Widi. Tapi, itu semua hanya kesal sesaat.
“Inget! Kalo dia jodoh, dia pasti ngehubungin kamu dan dia juga pasti balik lagi sama kamu, Bi.” lanjut Okan mencoba menenangkan. Okan ingin memberi harapan dan semangat pada Abi. Dia juga ikut frustasi melihat sahabatnya ini seperti mayat hidup yang sudah tidak memiliki semangat untuk hidup.
“Harus sampai kapan, Kan? Ini udah enam bulan, dia sama sekali nggak ada ngehubungin aku.” kata Abi wajahnya pun mulai cemas. Abi merasa waktu terus berjalan dengan cepat, jarak yang terus memisahkannya dengan Widi, dan kesempatan yang terus berkurang. Abi takut Widi sudah memiliki cinta yang baru dan melupakan semuanya tentang Abi.
Okan hanya mendengus pelan. Dia merasa kasihan pada Abi. Okan pun berusaha mengalihkan perhatian Abi. Dia mencoba menghibur agar setidaknya bisa membuat Abi tersenyum kembali.
“Udah ah jangan galau-galauan! Maen PS yuk ah.” Ajak Okan menunjukan stick game konsol di tangannya pada Abi.
Okan tahu Abi sangat suka main game. Itu sebabnya dia mengajak Abi untuk bermain game agar Abi bisa sedikit mengurangi kesedihannya. Tapi sepertinya itu tidak membuahkan hasil yang bagus.
“Nggak ah males!” tolak Abi. Dia sedang tidak mau bermain game apapun. Abi hanya mau Widi, berbicara dengan Widi, dan hanya mau bersama Widi.
“Yeee, yaudah aku aja maen sendiri.” kata Okan sambil menggelengkan kepalanya. Okan tidak bisa memaksa Abi. Jadi, Okan memutuskan untuk bermain game sendiri.
Abi terus menatap ke arah jendela. Menatap langit yang biru dan awan yang putih. Abi juga melihat sinar matahari yang terang dan hangat. Dia merasa hidupnya tidak secerah langit, tidak seindah awan, dan tidak sehangat sinar matahari.
Abi lalu menatap nomor telepon Widi yang tertera di layar ponselnya. Nomor Widi yang saat ini sudah tidak aktif dan tidak bisa dihubungi lagi olehnya.
Dan mulai sejak saat itu Abi berjanji akan setia menunggu Widi sampai Widi mau bicara kembali dengannya. Abi tidak akan menyerah, dia akan terus menunggu Widi sampai Widi kembali menghubunginya lagi.
***