Beberapa hari setelah Abi mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa Widi akan pindah dan melanjutkan kuliahnya di Jakarta, komunikasi mereka berdua semakin memburuk. Abi tidak pernah mau menghubungi Widi lagi padahal hari ini adalah hari dimana Widi akan berangkat ke Jakarta. Abi merasa sakit hati dan kecewa dengan keputusan Widi yang tidak pernah dia bicarakan dengannya. Dia merasa Widi tidak menghargai hubungan mereka yang sudah berjalan selama dua tahun.
Hingga akhirnya, Widi yang memutuskan untuk mencari Abi lebih dulu sebelum dia pergi dan pamit. Lagi pula dia masih merasa kalau Abi masih pacarnya. Dia tidak mau meninggalkan Abi tanpa penjelasan dan permintaan maaf. Dia berharap Abi bisa memahami alasan dia harus pindah ke Jakarta.
“Pa, aku mau pamit dulu sama temen aku sebentar, boleh ya Pa?” kata Widi meminta izin pada Papanya yang sedang memanaskan mobil. Dia melihat jam tangannya dan menyadari bahwa dia hanya punya waktu kurang dari setengah jam sebelum dia harus berangkat.
“Yaudah, jangan lama-lama ya Di. Bentar lagi kita berangkat.” jawab Papa Widi menatap ke arah jam tangannya.
“Iya, sebentar kok Pa.” kata Widi yang langsung pergi. Dia berlari secepat mungkin menuju ke arah perkebunan.
Wida yang baru saja keluar sambil membawa tas dan beberapa barang miliknya ke dalam mobil pun melihat heran ke arah Widi yang pergi berlari. Dia tidak tahu Widi mau kemana.
“Pa… Widi mau kemana?” tanya Wida.
“Katanya mau pamitan dulu sama temennya.” jawab Papa Widi sambil mengecek barang-barangnya.
Wida hanya ber-oh ria dan setelah itu dia pun masuk ke dalam mobil untuk merapihkan barang-barangnya.
Sementara itu, Widi bertemu dengan Okan di dekat perkebunan. Dia melihat Okan sedang memetik tomat di kebun milik keluarganya. Dia langsung memanggil nama Okan dengan suara keras.
“Okan! Okan!” teriak Widi.
Okan pun menoleh dan melihat Widi yang berlari ke arahnya. Dia terkejut melihat Widi yang terlihat buru-buru dan cemas.
“Widi? Ada apa Di? Kok buru-buru banget?” tanya Okan.
“Tolong anterin aku ke rumah Abi dong. Aku mau pamit sama dia. Aku mau berangkat ke Jakarta, Kan.” kata Widi dengan napas terengah-engah.
“Berangkat ke Jakarta? Sekarang?” tanya Okan bingung.
“Iya, sekarang.” jawab Widi.
“Iya, iya. Tapi Abi gimana?” tanya Okan.
“Aku belum sempet ngomong sama dia kalau aku mau berangkat hari ini. Aku udah coba hubungin dia beberapa kali, tapi dia nggak angkat telepon aku. Chat aku juga enggak ada yang dia bales satu pun.” kata Widi.
“Iya waktu itu Abi tau semua dari Wida Di, dan dia keliatannya kaget banget pas tau kalau kamu mau pindah ke Jakarta.” kata Okan menjelaskan sambil memakan tomat yang dia petik di hadapannya.
Widi pun terdiam sejenak. Dia merasa bersalah karena tidak memberitahu Abi sendiri. Dia juga merasa sedih karena Abi tidak mau bicara dengannya.
“Yaudah, mendingan sekarang bantuin aku buat ketemu dia, Kan. Soalnya bentar lagi aku mau berangkat. Nih, pleeaaasseee!!” kata Widi memohon pada Okan. Dia menatap Okan dengan mata memelas.
Karena tidak tega melihat wajah memelas Widi, akhirnya Okan pun mengiyakan apa kata Widi untuk mengantarkannya ke rumah Abi. “Yaudah deh!” kata Okan sambil mengambil sepeda motornya. Dia mengajak Widi untuk naik ke belakangnya. “Ayo, cepetan.”
Widi dan Okan berjalan menuju ke rumah Abi. Mereka berharap Abi ada di rumah dan mau mendengarkan penjelasan Widi. Namun, saat sampai di halaman rumah Abi, Widi sangat terkejut karena melihat Abi sedang menuntun seorang perempuan dengan sangat mesra. Perempuan itu berambut panjang dan berkulit putih. Dia mengenakan baju yang modis dan tas yang terlihat mahal. Dia terlihat seperti orang dari perkotaan. Widi yang melihat kejadian itu pun terlihat sangat kesal. Dia juga merasa Abi sudah selingkuh di belakangnya.
Saat Okan akan mencoba menjelaskan pada Widi siapa perempuan itu sebenarnya, Widi malah berteriak dan membuat Okan gagal untuk menjelaskan.
“ABIIII!!!” teriak Widi dengan suara lantang.
Abi pun menoleh ke arah Widi. Dia terkejut melihat Widi yang datang dengan Okan.
“Widi?” kata Abi dengan nada ragu.
Widi terlihat sangat kecewa. Dia bahkan mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Abi dan perempuan yang sedang Abi tuntun.
Okan hanya meringis sambil menepuk keningnya sendiri beberapa kali, karena Okan sangat tau jika kali ini Widi pasti akan sangat marah pada Abi. Dia juga tahu kalau Widi pasti sudah salah faham, dan tidak tau kalau perempuan yang Abi tuntun adalah saudara sepupu Abi dari jakarta bernama Tia. Tia baru datang kemarin untuk mengunjungi Abi dan keluarganya. Dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Abi selain saudara sepupu. Okan ingin menjelaskan semuanya pada Widi, tapi terlambat.
“Jadi, ini kerjaan kamu selama nggak ngehubungin aku?!” teriak Widi yang terlihat sangat kesal dengan mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca. Dia menatap Abi dengan tatapan sinis. Dia tidak mau mendengar alasan apapun dari Abi.
“Hebat banget ya! Aku nggak pernah nyangka loh, kalo kamu bakal ngekhianatin aku kaya gini, dan di saat aku mau pergi.” lanjut Widi sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dia merasa sakit hati dan merasa Abi tidak peduli dengan perasaannya.
Dan, Abi pun mulai sadar kalau Widi datang untuk pamit dengannya. Dia merasa bersalah karena tidak pernah menghubungi Widi setelah tahu kalau Widi akan pindah. Dia juga merasa bingung karena tidak tahu harus bagaimana.
“Di, dengerin aku dulu Di, ini…” kata Abi mencoba menjelaskan. Dia ingin memberitahu Widi kalau perempuan yang dia tuntun itu adalah saudara sepupunya, bukan pacar barunya.
Perkataan Abi pun menggantung karena Widi yang tidak mau mendengar penjelasan dari Abi. Widi merasa Abi hanya mencari alasan untuk menutupi kesalahannya.
“Udah Bi, ini udah cukup. Nggak ada yang perlu di jelasin lagi. AKU KECEWA SAMA KAMU!” kata Widi yang di akhiri dengan nada yang meninggi lalu pergi meninggalkan Abi sambil menangis. Dia tidak mau melihat wajah Abi lagi. Dia merasa Abi sudah tidak pantas untuk dicintai.
“Widi, dengerin aku dulu!” Abi pun berlari dan menarik sebelah tangan Widi. Dia tidak mau Widi pergi begitu saja. Dia masih mencintai Widi. Dia ingin Widi mengerti posisinya. “Ini nggak seperti yang kamu bayangin Di. Dia itu teh Tia. Dia…” kata Abi mencoba menjelaskan lagi. Dia berharap Widi mau mendengarkannya.
Namun, Widi malah mendorong Abi sampai terjatuh. Dia tidak mau diganggu oleh Abi. Dia merasa Abi sudah tidak berhak menyentuhnya lagi karena Abi sudah menghancurkan hatinya.
“Di…!!! WIDI!!!” teriak Abi yang terjatuh. Dia merasa sedih dan putus asa. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuat Widi percaya padanya.
Teriakan Abi ternyata tidak bisa merubah Widi. Widi bahkan dengan sangat cepat hilang dari sana. Dia berlari sekuat tenaga menuju ke arah mobil Papanya dan ingin segera pergi dari tempat itu secepatnya. Dia ingin melupakan Abi.
Okan pun menghampiri Abi. Dia merasa kasihan pada Abi. Dia tahu kalau Abi tidak bersalah.
“Padahal tadi aku mau jelasin sama Widi, kalo teh Tia itu kakak sepupu kamu Bi, tapi dia langsung marah-marah gitu.” kata Okan mengulurkan tangannya untuk membantu Abi bangun. Dia ingin membantu Abi untuk menenangkan diri.
Tia berjalan menghampiri Abi dengan berjalan jinjit karena kakinya yang sakit akibat terjatuh di tangga. Dia merasa tidak enak pada Abi. Dia merasa dia menjadi penyebab masalah antara Abi dan Widi. Dia tidak bermaksud untuk membuat Widi salah paham.
“Kayaknya ini semua salah teteh deh, Bi. Teteh minta maaf ya? Gara-gara teteh, pacar kamu jadi marah gitu sama kamu.” kata Tia yang merasa bersalah.
“Nggak kok teh, ini bukan salah teteh. Ini salah Abi, Abi enggak ngehubungin dia setelah tahu kalo sebenernya dia itu mau pindah ke Jakarta. Dan Abi juga baru tau kalau hari ini, dia berangkat.” lanjut Abi menjelaskan. Dia merasa bersalah karena tidak mengucapkan selamat tinggal pada Widi.
“Terus kenapa nggak di susul jelasin yang sebenernya sama dia atuh Bi.” kata Tia yang memberikan saran. Dia ingin Abi mengejar Widi dan menjelaskan semuanya. Dia tidak mau Abi dan Widi putus begitu saja karena dirinya.
“Udah biarin aja. Nanti biar Abi aja yang jelasin sama Widi di telfon teh.” kata Abi yang menolak saran Tia. Dia merasa Widi tidak akan mau mendengarnya sekarang.
“Tapi kan dia nggak tau kalo teteh itu kakak kamu. Dia itu pasti mikir kamu selingkuh Bi. Teteh jadi nggak enak tau.” kata Tia yang masih merasa bersalah.
“Udah teh tenang aja. Mendingan kita masuk yuk. Kan, bantuin teteh kan.” kata Abi yang langsung menuntun Tia dan meminta bantuan pada Okan. Dia ingin masuk ke rumah dan beristirahat. Dia merasa lelah dan pusing.
“Siap!! Ayok teh.” kata Okan yang langsung membantu menuntun Tia.
Okan pun ikut membantu menuntun Tia. Sementara Abi, dia sedikit terdiam karena menyesal tidak sempat mengucapkan kata perpisahan pada Widi. Dia merasa dia sudah kehilangan Widi. Dia merasa dia sudah kehilangan cintanya.
***